Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Bukti


__ADS_3

" Hyuk! Apa Perdana Menteri bisa dipercaya?" tanya Luther memecah keheningan di dalam mobil.


" Tentu, Tuan Howland. Beliau adalah adik ketiga dari Tuan Besar Kim. Beliau sangat menyayangi Tuan Muda karena beliau tak memiliki putra," ujar Jung Hyuk


" Hah?! Kerabat?"


Jung Hyuk mengangguk dan sedikit menoleh ke arah Luther.


" Kenapa, Tuan?" tanya Jung Hyuk yang melihat kekhawatiran di wajah Luther


" Kita tidak bisa meminta bantuannya," ucap Pengacara Oh.


Ciiittt ...


Jung Hyuk tiba-tiba menginjak rem karena terkejut.


" Ke-kenapa tidak bisa?" tanya Jung Hyuk bingung


" Jika Perdana Menteri membantu Tae Yang, maka kedudukannya akan terancam dan Jaksa juga Hakim tak jujur itu akan menambah tuduhan terhadap Tae Yang. Mereka akan menuduh Tae Yang berkolusi dengan Perdana Menteri dan itu akan membuat Kimtae semakin hancur," jelas Pengacara Oh. Luther memandang keluar dan memejamkan matanya.


" Lalu, lalu bagaimana, Tuan?" tanya Jung Hyuk panik


" Kita gunakan Media," ucap Luther. Pengacara Oh dan Jung Hyuk terperangah.


" Tuan Howland, apa Anda yakin? Anda tahu kalau saat ini posisi Kimtae sangat tak menguntungkan. Publik sudah mengklaim Kimtae sebagai perusahaan kotor dan tak bertanggung jawab, jika ..."


" Cari dan temukan pelapor pertama yang melaporkan masalah tanah itu juga yang di Jeju. Aku yakin keduanya adalah orang bayaran. Kita akan mulai dari sana dulu dan berikan ikan itu pada kucing diluar sana. Aku yakin, mereka akan melahapnya habis. Kita hanya perlu memberi mereka sedikit potongan ikannya, dan kita akan lihat hasilnya," kata Luther memotong perkataan Pengacara Oh dan tersenyum seringai.


" Hmm ... Ide Anda luar biasa, Tuan," ucap Pengacara Oh tertawa. Jung Hyuk yang tak mengerti kiasan yang Luther gunakan, terus berpikir keras


' Ikan? Ikan apa? Kucing? Ish .... mereka ini bicara apa sih?' batin Jung Hyuk sambil kembali menginjak gas mobilnya dan kembali melaju.


Siang itu, lagi-lagi Evan seperti biasa memasak untuk si kembar dan Emy. Walau ada pelayan, ia tetap ingin memasak sendiri untuk putri baptis dan cucu-cucunya. Lienda jug turut membantu Evan. Awalnya lelaki itu menolak, tapi Lienda terus mendesaknya, lama kelamaan kedua orang itu menjadi kompak.


Evan mulai sedikit menerima Lienda. Sebelumnya, ia memang tak merasa sakit hati dengan Lienda tapi ia hanya kecewa karena wanita itu tak bersikap tegas melindungi putrinya.


Emy yang melihat kekompakkan Evan dan Maminya dalam memasak, tersenyum lebar.


" Mam! Paman!" panggil Emy dengan baby Migu dalam gendongannya.


" Nak!" seru keduanya kompak dan akhirnya mereka bertiga tertawa. Lienda mendekati Emy dan meminta baby Migu. Emy dengan senang hati menyerahkannya


" Migu sudah minum?" tanya Lienda pada Emy


" Jangan ditanya, Mam. Dari pagi tadi dia sudah 4 kali minum," kata Emy tertawa


" Namanya juga laki-laki. Eh ... iya, dari kemarin Mami tidak lihat suamimu, kemana dia?" tanya Lienda


" Perusahaan lagi ada masalah, Mam. Dia sedang di interogasi Kejaksaan dan tak diijinkan pulang," jawab Emy jujur dan tak menutupi kesedihannya.


" Ya, ampun, Nak," seru Lienda lalu memeluk putrinya dari samping karena baby Migu dalam gendongannya


" Siapa yang di interogasi Kejaksaan, Em?" tanya Dennis yang baru saja turun bersama dengan si kembar dan Yason


" Ah, kakak. Ehm ... itu ..." Emy melihat ke arah si kembar. Akhirnya Dennis mengerti dan mengangguk lalu menuntun Mikha dan Micko untuk duduk di meja makan.

__ADS_1


Emy, Lienda dan Evan menyusul mereka. Yason diminta Emy duduk di kepala meja, walau harus dipaksa lebih dulu oleh Emy. Evan tak bersuara sedikitpun. Lelaki itu mengambil makanan untuk si kembar dan juga Emy barulah ia duduk.


" Baiklah, mari kita makan," ucap Yason setelah semuanya menunduk bersyukur buat makanan mereka hari itu.


" Paman, aku mau titip Anak-anak dulu. Sore nanti Papi akan operasi," kata Emy


" Hmm, baiklah. Ingat, jangan terlalu lelah. Ada bayimu yang masih membutuhkanmu," tutur Evan tanpa melihat Emy atau siapapun dan terus melahap makanannya.


Mikha dan Micko disuapi Dennis dan Yason, jadi tugas Evan sedikit banyak telah diganti. Itu juga menambah kekasalan Evan. Karena ia masih tak bisa memaafkan kedua laki-laki yang berhubungan darah dengan putri baptisnya itu dan ia merasa tersingkir


"Iya, Paman. Aku janji," ucap Emy dan bergelayut manja di lengan kekar Evan. Tangan besar Evan mengacak rambut Emy. Senyumnya mulai merekah, karena putrinya ternyata masih mau bermanja dengannya walau sudah ada orangtua kandungnya.


Selesai makan siang, Mikha dan Micko membawa Yason ke ruang bermain, bersama dengan Lienda dan baby Migu


Evan dan Emy masih di ruang makan bersama Dennis. Keduanya tahu, bahwa Dennis ingin berbicara dengan mereka.


" Emilia, sekarang katakan. Siapa yang di interogasi Kejaksaan?" selidik Dennis


" Kita ke ruang kerjaku saja," ucap Emy.


Di dalam ruang kerja


" Sekarang jelaskan padaku," kata Dennis. Setelah mereka duduk di sofa


Evan melihat Emy dan mengangguk, " Ehm, suamiku, Kak. Dia dituduh melakukan penipuan laporan Agraria dan penyuapan," jawab Emy


" Apa dia melakukannya?" tanya Dennis dengan alis bertaut


" Emy sudah selidiki, Kak. Semuanya tidak benar. Sertifikat yang Tae Yang miliki, sudah dikaji oleh tim pemerintah sebelum di sahkan. Tapi, mereka mengatakan surat itu palsu dan catatan di kantor pemerintah musnah," jelas Emy


" Kami sudah dapat bukti bahwa ada kerjasama antara Jaksa, Kepala Agraria Busan dan beberapa Menteri termasuk Menteri Agraria dan Kehakiman. Bahkan seorang Mahkamah Agung juga terlibat. Tapi, semua bukti itu ditolak Hakim Ketua dengan alasan cara mendapatkannya ilegal," sambung Evan


" Aku akan membantumu, Emilia," kata Dennis


Emy dan Evan mengerutkan alis mereka dan menatap Dennis


" Semua bukti itu, berikan copynya padaku,"


" Aku tak mengerti bagaimana bisa itu menolong Tae Yang," ucap Evan dingin


" Aku dan timku saat ini sedang menyelidiki seorang Jaksa yang terlibat dengan penjualan senjata ilegal pada pihak pemberontak di Filipina. Aku juga menduga bahwa bukan hanya Jaksa itu yang terlibat," kata Dennis


" Kau dan timmu?" tanya Evan. Dennis mengangguk


" Aku ... adalah anggota Interpol. Saat ini aku sedang menyelidiki kasus penyelundupan senjata dan amunisi kepada pemberontak di Fillipina dan mendapat petunjuk kalau semuanya berasal dari Thailand, China dan Korea. Dan semuanya melibatkan beberapa pejabat dari negara-negara itu." jelas Dennis


Emy dan Evan saling berpandangan. Keduanya terkejut mendengarnya.


" Bisa kau katakan siapa Jaksa itu?" tanya Evan


Dennis menatap Evan lekat. Ia tahu Evan meragukannya


" Jaksa Ketua Yong Il Kook, dan ada kemungkinan kalau Jaksa wanita Yang Eun Nae dan Hakim Im Sok Jin juga terlibat," jawab Dennis


Evan dan Emy kembali saling menatap. Nama-nama yang disebutkan Dennis adalah nama Jaksa dan Hakim yang juga menangani kasus Tae Yang.

__ADS_1


" Baiklah. Aku akan memberikannya padamu. Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Evan


" Aku akan kirim ke pusat dan menjadikannya sebagai alasan untuk mendakwa mereka. Setelah itu, kalian bisa melanjutkan,"


Evan dan Emy mengangguk. Tapi, jika demikian, suaminya harus bersabar mendekam di tahanan Kejaksaan dalam beberapa hari


" Kak, berapa lama kira-kira? ... Aku kasihan Tae Yang, dia harus ditahan lama di sana," ucap Emy sedih


" Kau bisa menjaminnya keluar," jawab Dennis


" Aku sudah meminta Pengacara Oh melakukannya tapi ditolak, Kak," jawab Emy lesu


" Alasannya?"


" Mereka mengatakan ada kemungkinan Tae Yang akan melarikan diri dan bukti-bukti mereka sangat kuat,"


Dennis mengusap kasar wajahnya. Seandainya ia dan timnya bisa lebih cepat, maka adik iparnya tidak akan mengalami kesulitan seperti ini


" Baiklah, aku akan menelepon atasanku. Aku harap ia segera memprosesnya. Bukti apa saja yang kau miliki?" tanya Dennis


" Bukti percakapan Il Kook dan Menteri Kehakiman untuk tak meloloskan Tae Yang dan menyuruh memusnahkan data sertifikasi tanah untuk Apartemen di Busan, lalu rekaman perintah dari Il Kook pada Kepala Agraria, Rekening Il Kook yang membengkak.


Foto Menteri Kehakiman dan Kepala keluarga Shin saat ini, Shin Mae Dong ( adik dari Ayah Shin Dae Ho), foto Il Kook dan Menteri Kehakiman juga Menteri Agraria. Foto seorang Mahkamah Agung dengan simpanannya yang tak lain adalah cucu keluarga Shin, Shin Yu Ri ( putri kakak tertua Shin Dae Ho), Rekaman percakapan Menteri Kehakiman dan Perpajakan tentang rencana tuduhan tambahan untuk Tae Yang.


Rekaman Ajudan Menteri Agraria dan Trasportasi yang mengancam kontraktor untuk tidak menerima kerjasama Kimtae dan foto-foto saat Menteri Kehakiman, Mahkamah Agung dan beberapa Jaksa dalam restoran di sebuah ruangan VIP," jawab Evan


Dennis mengangguk, semua bukti itu belum cukup jika ia yang harus maju.


" Bukti kalian belum cukup jika kugunakan. Aku butuh bukti yang mengarah ke penyelidikanku,"


Emy dan Evan menghembuskan nafasnya.


" Aku ada," jawab Evan. Emy reflek melihat ke arah Evan


" Aku pikir aku tidak akan membutuhkannya, karena tidak berhubungan dengan kasus Tae Yang. .... beberapa waktu lalu, Mikha dan Micko mengunduh Video Menteri Kehakiman dan Il Kook sedang berada di dermaga. Walau mereka menggunakan masker, tapi plat mobil ajudan Menteri Moon (Menteri Kehakiman) dan Ajudannya sendiri sangat terlihat di video itu,"


Emy tertegun. Mikha dan Micko? belum sempat Emy bertanya, Dennis mendahuluinya


" Dermaga? apa kau tahu dermaga mana?" tanya Dennis bersemangat


" Dermaga Sokcho," kata Evan


" Dimana Videonya?"


" Akan kuambilkan,"


Evan berjalan mengambil sesuatu dari dalam laci meja Emy dan memberikannya pada Dennis


" Di dalamnya juga ada foto-foto mereka bertemu seseorang, sepertinya orang Asia Tenggara," lanjut Evan


" Hmm ... akan kukirim secepatnya. Aku pinjam komputermu, Em," kata Dennis dan diangguki Emy


" Paman, kau bilang Mikha dan Micko?" selidik Emy dan menatap tajam Evan.


Glek

__ADS_1


Keringat dingin membasahi punggung Evan


' Kenapa mulutku tak bisa di rem, sih! selalu saja blong,' gerutu Evan dalam hati


__ADS_2