
Selamat Membaca, sayyy...
****
Paman Ji, yang sedari tadi berdiri dan menyimak pembicaraan atasannya dan Jung Hyuk, ikut berbicara.
" Ehm..Tuan. Apa...saya bisa bantu?" Tanyanya dengan senyum pada lelaki muda yang sudah ia asuh sejak bayi.
Tae Sang melihat paman Ji tak mengerti dan menautkan alisnya.
" Ah..ehm...tidak usah. Terima kasih, paman." Jawab Tae Sang
Paman Ji mengangguk dan mengundurkan diri keluar dari ruangan majikannya.
Krrriiiinggg...kriiiinggg
" Nomor siapa ini?" Gumam Byun Hyuk. Ia melihat atasannya. Seakan mengerti tatapan Byun Hyuk padanya, Tae Sang mengangguk lalu berjalan dan berdiri di depan jendela.
" Dr.Lee? Ada apa, dok?" Suara Byun Hyuk terdengar saat menjawab ponselnya
"........"
" Apa?! Baiklah. Terima kasih. Kami kesana. Terima kasih."
Byun Hyuk melihat atasannya yang sudah berbalik menatapnya.
Byun
" Tuan! Nona Sie..." Jung Hyuk seakan sulit berkata.
" Ada apa? Ada apa dengan istriku?!" Teriak Tae Sang panik dan memegang bahu asistennya. Hatinya kalut, takut sesuatu yang buruk menimpa belahan jiwanya.
" Nona Sie sekarang bersama dr. Lee, Tuan. Dia sudah memberiku alamatnya.." Lanjut Byun Hyuk dengan senyumnya. Bibir Tae Sang pun perlahan terangkat.
" Be-benar yang kau bilang?!" Tanya Tae Sang dan menggoyang-goyang tubuh kurus asisten pribadinya itu.
" Iya, Tuan! Iya!" Jawab Byun Hyuk. Kepalanya mengangguk-angguk memantapkan jawabannya.
" Antar aku kesana!" Titah Tae Sang
" Mari, Tuan!"
Keduanya sudah berada di mobil sport Tae Sang. Atasan Byun Hyuk itu membawa sendiri mobilnya sedang si malang Byun Hyuk duduk di sebelahnya. Dengan cepat badan kurus Byun Hyuk mengikat badannya sendiri dengan sabuk pengaman. Ia juga memegang pegangan tangan di atas kepalanya.
Dan, benar saja! Tae Sang membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, seakan melayang. Keringat sudah bercucuran di sekujur tubuh Byun Hyuk. Bibirnya sudah komat-kamit membaca mantra.
15 menit seorang Tae Sang berhasil sampai di kediaman Lee Kyong yang harusnya ditempuh dalam waktu 40 menit. Untung jalanan tidak macet, karena hari ini bertepatan dengan Suneung yaitu Ujian Nasional untuk masuk Universitas.
Dengan adanya Suneung, seluruh aktivitas negeri terhenti. Ketika ujian ini digelar, keheningan dapat dirasakan di seluruh Ibu Kota, Seoul. Seketika, toko-toko tutup, bank tutup. Bahkan, pasar saham dibuka pada larut malam. Selain itu, sebagian besar pekerjaan konstruksi juga ikut terhenti, pesawat di-grounded, dan pelatihan militer dihentikan.
Jalanan menjadi lenggang karena banyak kendaraan tidak beroperasi agar para siswa tidak terganggu dengan suara kendaraan.
Sampai di depan rumah dr. Lee, Tae Sang segera menghentikam mobilnya dan segera keluar tanpa berpikir untuk memarkirkannya dengan benar.
" EMYYYY...EMYYY-AAA!!!" Teriak Tae Sang
Dokkk...dokkk...dokkk..
__ADS_1
" SEBENTAR!!!" Balas seseorang dari dalam
Ceklek
Brakk!!
Tae Sang mendorong pintu yang baru saja setengah dibuka.
" EMYY! EMYYY-AAA!!" Teriak Tae Sang lagi. Seseorang yang berada dibalik pintu meringis kesakitan
" Awwwww...awwww!!!"
Tapi si tersangka malah masuk dan setengah berlari memeriksa setiap ruangan.
" KYAAAA!!!"
Tae Sang berhenti dan menoleh ke asal suara. Byun Hyuk yang baru saja sampai di ambang pintu, terjingkat kaget.
" Kkamjagiya!!" Desis Byun Hyuk
Seakan tak peduli dengan suasana hati para korban, Tae Sang berjalan cepat mendekati dr. Lee dan menarik kerah lehernya.
" Mana istriku?! Mana Emy!!"
" Lepas! Lepas!" Dr. Lee memegang tangan Tae Sang dan menariknya agar terlepas.
" Mana Emy!!!"
" Lepas dulu tanganmu!"
Tangan Tae Sang seketika melepas kerah dr. Lee dan berbalik ke arah suara. Ia menatap sosok di depannya yang begitu ia rindu. Tatapan mata penuh kekhawatiran, kerinduan terpancar dari bola mata coklat laki-laki berbadan atletis itu.
" E-Emy-a...Emyykuu.." Tae Sang berlari dan memeluk Emy erat. Bulir air mata lolos dari pelupuk matanya.
" Emy-a...Emy-a..." Lirihnya. Ia terus menciumi ceruk leher, rambut dan seluruh wajah cantik Emy. Melihat itu, Emy terharu dan merasa bersalah.
' Tak kusangka, cintamu sebesar ini, Tae Sang-ssi,' lirih Emy dalam hatinya.
Ia membalas pelukan Tae Sang dan tersenyum.
" Hei! Baru aja terpisah sehari sudah kayak bertahun-tahun aja...ck.." Decak dr. Lee kesal sambil mengelus hidungnya yang memerah karena dicium pintu akibat ulah Tae Sang.
Tae Sang tak peduli dengan perkataan dr. Lee dan terus memeluk Emy yang wajahnya sudah memerah. Dengan sekuat tenaga Emy berusaha melepas pelukan Tae Sang. Tapi, laki-laki itu semakin mempererat pelukannya. Seakan takut wanitanya itu akan kembali menghilang.
" Tae..Sang-ssi...akuu...gaakkk...bisaaa...na..faass.."
Seketika Tae Sang melepas pelukannya. Matanya terus meneliti setiap inci tubuh Emy.
" Tae Sang-ssi...aku baik-baik saja," kata Emy sambil tersenyum.
" Hei! Dia itu cuma tergores dikit aja. Tapi, semuanya....baik-ba..ik.." Ujar dr. Lee. Kata-katanya menjadi pelan dan terputus-putus seperti sinyal yang lemah di ujung kalimatnya. Ia juga mengatup mulutnya kesal melihat sikap berlebihan bos Kimtae itu.
Bagaimana tidak, dia baru saja berkata kalau Emy hanya tergores. Tapi, reaksi Tae Sang diluar dugaanya dan mulai heboh. Ia memeriksa tangan, kaki Emy dan menyingkap celana training dan kaos oblong entah milik siapa, yang kini dipakai Emy.
" Mana? Katakan mana yang sakit? Siapa yang membuatmu terluka?" Oceh Tae Sang seraya tangannya masih berusaha memeriksa sekujur tubuh Emy.
" STOP, MIKHA MICKO APPA!!!" Teriak Emy karena risih dengan tangan Tae Sang yang terus berusaha mengangkat celana training dan kaos Emy.
__ADS_1
" Emy-a..." Tae Sang menatap kaget wanita didepannya. Emy menghela nafas.
" Dengar, aku hanya sedikit tergores dan itu juga sudah diobati Kyong oppa. Aku baik-baik saja. Tapi, Micko. Dia saat ini demam. Aku menduga dia keracunan makanan." Jelas Emy
" Maafkan aku. Bagaimana Micko sekarang? Dimana putra kita?"
" Micko tidur. Ae Rim sudah pasang infus. Tapi, aku masih tidak bisa bawa ke rumah sakit."
" Kenapa tidak bisa ke rumah sakit?"
" Aku hanya takut sesuatu terjadi di sana kalau aku sedikit saja lengah."
" Apa maksudmu?"
Tae Sang menautkan alisnya menatap Emy tak mengerti.
Flashback on
Emy membawa Micko yang pingsan dan berlari ke halaman depan mansion. Disana, ia melihat seorang laki-laki berpakaian seperti pelayan dan berteriak padanya.
" Pelayan! Antar aku ke rumah sakit! Sekarang!"
Pelayan itu seperti kebingungan lalu menujuk dirinya.
" Iya, kamu cepat!" Jawab Emy
Pelayan itu segera berlari dan mengambil mobil. Emy tak memperhatikan mobil yang ia naiki dan segera masuk.
" RS Emerald, cepatlah!"
" Baik, nona."
Emy mengambil tissue yang ada di mobil dan mulai membersihkan wajah Micko.
" Sayang, anakku. Bangunlah, nak." Lirih Emy sedih. Mata Micko masih tertutup. Emy masih tidak memperhatikan sekelilingnya dan sibuk membersihkan wajah dan tangan Micko seraya memanggil putranya lembut.
" Tolong cepat! Anakku harus segera ditangani," pinta Emy. Kepanikan yang selama ini tak pernah menderanya, kini mulai ia rasakan. Mungkin, karena saat ini ia adalah seorang ibu.
" Baik, nona," jawab orang itu.
***
Yuhuuu...maaf baru bisa update sayangku semuanya. Saya baru saja baikan, trus dihadapkan dengan tugas lain juga.
Sebagai kompensasi buat pembaca setia SHCS season 2 yang setia, saya kasi crazy up ya...
semoga suka...
terus dukung kasi VOTE, LIKE, RATE n KOMEN. oiya...ada beberapa temen-temen yang belum sempat Rie balas komennya.
Rie usahakan besok Rie jawab semuanya, ya...maaaafff banget kalo selalu telat balas.
Terima kasih banyak...
Rie
😘😘😘🤗🤗🤗
__ADS_1