
Deringan telepon terus saja menggema di lobby rumah sakit yang luas itu. Beberapa wartawan sudah siap berdiri menunggu mangsanya. Para dokter, suster dan pasien mulai resah dibuat mereka.
Kriiinggg....kriiinggg....
Deringan telepon di kamar Emy juga tak berhenti. Sementara sang pemilik masih berada di dapur, menyiapkan bahan untuk makan siang sebelum ia berangkat. Hari ini Emy akan ke rumah sakit. Karena sudah waktunya untuk kakek Kim, cek lab dan CT Scan.
Selesai beberes dapur dan meja makan, Emy segera ke kamarnya lalu mengganti pakaiannya, seperti biasa Emy memakai kemeja longgar dan mengikat rambutnya menjadi kuncir kuda dan menyiapkan barang barang yang ia harus bawa. Emy terkejut mendapati ponselnya penuh dengan panggilan tak terjawab dan sms. Lebih terkejut lagi ketika ia membuka link dari salah satu sms Hannah padanya.
Foto foto saat di pesta, bagaimana ia dipeluk Yu Zhen, foto saat ia bernyanyi bahkan sampai foto saat ia dan Hannah mengajak Yu Zhen berjalan jalan hingga mengantar ke bandara. Hanya saja foto Hannah dipotong dan tidak ditampilkan.
Emy begitu geram dengan judul artikel yang ditampilkan. Disana ditulis bahwa Emy seorang dokter muda juga adalah seorang wanita murahan. Banyak komentar pedas yang ditujukan padanya, walaupun ada beberapa komentar yang menyangsikan kebenaran itu.
" Ya Tuhan, apalagi ini? kenapa sih mereka seperti ini? apa salahku?" Kembali air mata itu menetes membasahi pipi mulusnya.
" Ya sudahlah, terserah mereka mau bilang apa. Yang penting, aku dan Hannah tahu kebenarannya seperti apa."
krriiiingg....kriiiinggg...
" Hannah" Emy melihat nama pemanggil di ponselnya. Ia segera menggeser tombol hijau setelah menetralkan suara dan menghapus air matanya.
" iya Han?" sapa Emy dengan senyum yang dipaksakan.
" Chagi... apa kau tak apa? apa kau mau aku menjemputmu?"
" gak usah, aku gak apa apa. Ini aku sudah siap berangkat. jangan khawatir, oke?"
" beneran?"
" iya... ini sih biasa aja kok. Kan aku terkenal jadinya, hahaha..."
" iya baiklah, kalo butuh bantuan, kamu teleon aku ya?!"
" Hahaha... iya iya...ok aku tutup teleponnya. bye!"
Emy segera menutup teleponnya. Ia tak ingin Hannah mendengarnya menangis. Emy berlari ke kamar mandi, mencuci mukanya dan menatap wajahnya yang sembab kemerahan di kaca.
" Emy, kamu itu kuat! Jangan cengeng! kamu gak boleh cengeng! hmm! aku bisa dan harus bisa!" Ucap Emy menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
Emy memulas pelembab dan bedaknya lagi, memoles sedikit lip gloss pada bibirnya, memakai frame kacamata hitam yang sedikit besar, lalu berangkat.
Sampai di rumah sakit, banyak wartawan telah menunggunya.
" pak, bisakah tolong turunkan ke parkiran belakang saja?" pinta Emy pada sopir taksi.
" tentu, Nona!" Taksi membawa Emy ke parkiran belakang rumah sakit. Disana tampak lengang. Emy memberikan ongkos taksinya dan melangkah keluar. Ia segera masuk kedalam rumah sakit dan menuju ruangannya.
Dalam perjalanannya menuju ruangan, banyak mata dokter dan suster melihatnya. Tanpa mempedulikan mereka, Emy berjalan dengan percaya diri, walaupun sebenarnya jantung Emy terus berdegup dengan kencang.
" fiuhh... akhirnya aku sampai juga!" Emy meletakkan tas ransel di atas bufet disebelah meja kerjanya. Saat akan duduk, Emy merasa tak memiliki keseimbangan. Ia terjatuh dengan keras di lantai. Tak ada suara yang berani ia keluarkan, ia tak mau siapapun mengetahui keadaannya saat ini. Beberapa menit ia rela duduk bersandar pada kaki meja.
***
Kemarahan Tae Sang hari ini semakin menjadi. Bahkan saat rapat, banyak karyawan yang terkena amukannya, padahal jika dilihat, itu hanyalah kesalahan kecil yang dapat diperbaiki dan tak berakibat fatal. Byun Hyuk hanya mampu menunduk tanpa bisa menatap wajah singa atasannya itu.
Kakek Kim terus saja menelepon ponsel Byun Hyuk, karena Tae Sang tak bersedia mengangkat ponselnya.
Saat sudah berada di ruangan Tae Sang, kembali ponselnya berbunyi dengan nama pemanggil yang sama.
" Mm..Tuan Besar.." sapa Byun Hyuk ragu dan takut.
" Tu..Tuan Mu..muda masih ra..rapat, Tu..Tuan besar."
" Suruh dia telepon aku segera selesai rapat! mengerti?!"
" Ba..baik Tuan..." Jawab Byun Hyuk namun yang ia dengar adalah suara telepon yang sudah diputus.
Byun Hyuk mendongak pelan melihat wajah Tae Sang yang memerah menatap monitor di sebelahnya.
" Tu... Tuan...itu...Tu..Tuan Bes..." belum selesai Byun Hyuk berbicara, mata Tae Sang menatapnya tajam, dan membuat Byun Hyuk menunduk dan meninggalkan ruangan Tae Sang.
***
Di kediaman kakek Kim, Man Ho juga mendapat perlakuan sama seperti keponakannya, Byun Hyuk. Tatapan tajam laki laki tua yang sudah lama menjadi majikannya itu, masih sama, tetap tatapan mematikan.
" Aku tidak mau tahu, Man Ho, kau harus segera hapus dan cari siapa yang berani beraninya menulis berita bohong tentang menantuku! Kau mengerti! kalau perlu, tutup perusahaanya! Seenaknya saja menulis berita seperti itu!" geram kakek Kim.
__ADS_1
Sudah lebih setengah jam kakek Kim, terus mengomel dan memarahinya. Man Ho sebenarnya juga sudah menghapus berita tentang Emy dari malam kemarin, tapi entah kenapa, berita itu muncul dalam waktu hanya sejam dan menjadi viral ditonton ribuan orang.
' sepertinya, ada yang sengaja menjatuhkan nona Sie. tapi siapa?' batin Man Ho.
" Kenapa kau diam saja, Man Ho!!" teriak Kakek Kim membuat pak Man Ho berjingkat kaget.
" ah, maaf Tuan, saya hanya berpikir kenapa bisa secepat itu tersebar, seperti ada yang sengaja melakukannya." jawab Man Ho jujur.
Kakek Kim membelalakan matanya dan mulai berpikir kemungkinan itu. Kakek melihat pak Man Ho dan mengerutkan alisnya.
" tapi siapa?"
***
Seorang laki laki disuatu tempat yang jauh, yang selalu memantau keadaan Emy, mengeraskan rahangnya, melihat berita yang lagi lagi menyudutkan dan mencoreng nama Emy.
Dengan jarinya, ia mulai mengetik kode kode entahlah apa itu, dan membuat banyak website dan GIF pelukan Emy dengan Yu Zhen, serta video Emy saat bergandeng tangan dengan Yu Zhen berjalan jalan dan saat di banndara, terhapus. Menyisakan video saat Emy tampil cantik dan bernyanyi.
" Emy, kenapa kau membiarkan ini? apa tak ada yang bisa melindungimu disana? siapa laki laki itu? aaargghhh..."
" Emy, jika tak ada yang bisa menjagamu disana, aku yang akan melakukannya. Aku tahu kau belum memaafkanku. Tapi, aku tak bisa membiarkanmu terus tersiksa."
Laki laki itu menghembuskan asap rokok terakhirnya, menyesap wine dan memandang langit yang begitu hitam, gelap dan kelam, sehitam dan sekelam hari harinya tanpa dia yang menjadi pujaannya.
" Irene, Siapkan tiket ke Seoul untuk besok pagi. One way tiket ( tiket satu kali jalan)!" Laki laki itu langsung menutup ponselnya dan berbaring.
hai...ini dia penampakan Yu Zhen...
biodata:
dr. Yan Yu Zhen
Umur : 23 tahun
Residen di RS Jiuzhaigou, Provinsi Sichuan, China.
__ADS_1
Dia adalah sepupu Xiao Heng dan Xiao Lan, yang ditolong Emy. Ia meneruskan kuliahnya di kedokteran tanpa mengetahui kalau Beasiswa yang ia dapatkan sebenarnya dari Emy melalui perusahaan L'amour.