Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Ultimatum Emy - Season 2


__ADS_3

" Bagaimana jika situasinya terbalik?"


" Apa maksudmu, sayang?" tanya Tae Yang, Emy berbalik dan menepis kasar tangan suaminya itu yang masih memegang pinggangnya


" Kau tahu ... aku berhutang budi pada Keanan, adik Luther. Karena aku, Keanan kehilangan nyawanya. Seandainya karena alasan itu, Luther memaksaku menikahinya, bagaimana perasaanmu? Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan mengijinkanku menikahi Luther dan meninggalkanmu?" tanya Emy menatap tajam suaminya


" Kau harus secepatnya mengambil keputusan, Tae Yang-ssi! Aku beri kamu waktu untuk memikirkan keputusan yang akan kau ambil." Setelah memberi ultimatum, Emy pergi meninggalkan Tae Yang sendiri di balkon kamarnya.


Tae Yang menatap punggung istrinya yang menjauh. Ia berbalik dan menatap langit. Tak ada maksud dirinya menduakan wanitanya. Tapi, dengan keadaan Lucia dan kondisi kesehatannya, ia tak mampu meninggalkan wanita itu.


Emy kembali ke kamar kedua putranya. Sudah 3 hari ini, ia tak tidur di kamar utama. Sejak ia mendapat foto dari seseorang saat ia tengah mengontrol pasien. Hatinya menolak untuk percaya, tapi saat matanya melihat sendiri, mau tak mau ia mempercayai semua informasi itu. Hatinya hancur. Yang lebih miris, ia menemukan tagihan kartu kredit atas nama suaminya, tapi dengan daftar toko dan hotel yang tak pernah ia masuki.


" Nak, apa yang harus Mommy lakukan? Keputusan apa yang Daddymu ambil nantinya?" kata Emy seraya memperhatikan kedua wajah polos yang tengah terlelap dan mengusap perutnya.


Tae Yang mengambil benda pipih di atas meja yang terus memanggilnya. Melihat nomor si pemanggil, membuatnya jengah.


" Ada apa?!" jawab Tae Yang ketus


" ......."


" Tunggu saja di apartemenmu!"


Tae Yang segera memutus panggilan itu dan menelepon Asistennya.


" Hyuk!"


" ....."


" Kirim makanan dari Green Caffe ke apartemen Lucia, sekarang. Katakan padanya, ini kali terakhir aku menolerir perbuatannya. Jika ia berani berbuat macam-macam, aku pastikan dia akan menyesal telah mengusik kehidupan rumah tanggaku!"


Mata Tae Yang berubah tajam. Rahangnya mengeras. Ia mengingat perkataan istrinya tadi.


Tae Yang menyisir rambutnya kasar dengan jari-jarinya. Ia tak bisa bayangkan, jika Emy akan melakukan itu.


Ia tak bisa begitu saja meninggalkan Lucia, tapi ia juga tak mau menyakiti istrinya.


Drrt ... Drrtt ....

__ADS_1


Lamunannya buyar dengan getaran ponsel di atas meja.


" Hmm,"


" ......"


" Apa?! Aku kesana!" Tae Yang menutup ponselnya lalu berlari dan menyambar jaket tebalnya. Langkahnya terhenti ketika ia bertemu Emy di depan tangga. Mata wanita itu menatapnya dan beralih ke jaket yang ia bawa.


" Ah ... Emy-a, itu ..."


Tak mau mendengar penjelasan Tae Yang, Emy membalikkan badannya dan berjalan kembali ke kamar kedua putranya.


" Sayang, maafkan aku. Aku janji, aku akan menyelesaikannya. Tunggu aku, sayang," lirih Tae Yang dengan mata terus menatap punggung istrinya. Ia segera berlari menuruni tangga setelah sang istri menghilang di balik pintu.


Senyum kemenangan tersungging di wajah seseorang yang sedari tadi berdiri di balik dinding yang tak jauh dari mereka.


" Huh ... akhirnya sebentar lagi, kau akan merasakan bagaimana rasanya hidup dalam tekanan karena kehilangan, Tae Yang!" Gumamnya dengan mata tajam mengikuti langkah Ayah si kembar.


Laki-laki itu meraih ponselnya. Tak lama, setelah ia mendengar panggilannya terjawab, " Kau sudah siap?"


" ......."


Senyum mengembang di wajah keriputnya. Ia berjalan dengan begitu santai dan berdendang. Tak menyadari, sepasang mata juga memperhatikannya.


***


" A Zhen, apa rencanamu selanjutnya?" tanya dr. Lee seraya memberikan botol minuman kesehatan pada temannya itu.


" Aku tak tahu ..." kata Yu Zhen menunduk, "ah, apa kau sudah tahu siapa yang menolongku?" tanyanya seraya kembali mendongakkan wajahnya dan melihat Bapak 1 anak disebelahnya


Dokter Lee menggeleng, " aku sudah mencari tahu di rumah sakit Hwangi, tapi ... mereka juga tak memiliki datanya,"


Yu Zhen mengangguk-anggukkan kepalanya," Hmm, aku mengerti. Tidak apa-apa. Jangan dipikirkan," kata Yu Zhen dengan senyum khasnya.


Cling


Keduanya mengadukan botol minuman ginseng mereka dan menegaknya.

__ADS_1


" Ah, A Zhen-a, Emy ... sepertinya dia mulai curiga dengan tangannya. Besok dia mau tes MRI" kata dr. Lee dengan wajah gusar


" Hehhh ... kita tak bisa selamanya menyembunyikannya. Lalu bagaimana dengan Amnesianya?" tanggapan Yu Zhen tak sesuai prediksi dr. Lee. Ia pikir Yu Zhen akan memberinya solusi untuk menunda Emy mengetahui kondisi tangannya, ternyata ...


" Tak ada yang berubah. Ia masih belum pulih. Hanya sebagian memorinya yang kembali. Tapi, aku berharap ia tak mengingat kembali ... aku tak sanggup jika ... Emy ..."


" Aku mengerti Yeol, tapi ... itu adalah bagian hidupnya ..."


" Apa kau tahu kehidupan yang ia jalani selama di sini, Yu Zhen?! Dia menderita! Dia di hina, dilecehkan! bahkan ... bahkan ia harus mengalami depresi. Ia mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder atau gangguan stres pascatrauma adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan). Dan semua karena Kim Tae Yang!" ujar dr. Lee geram. Ia sudah tak dapat menahan emosinya.


Yu Zhen tercengang mendengar penuturan dr. Lee. Selama ini, ia tak pernah tahu bagaimana keadaan Emy di sini. Karena wanita itu sangat pintar menyembunyikan masalahnya.


" K-kau bilang apa? De-depresi? Emy ... Depresi???"


Dokter Lee mengangguk pelan. Air matanya menetes kala mengingat bagaimana Emy saat ia temukan di kamar kecil nan dingin di Villa Tae Yang, saat Emy dilecehkan dan dihina di pesta Perusahaan Kimtae.


Yu Zhen meremas rambutnya tak percaya, "Kenapa ... kenapa kau tak memberitahuku? kenapa kau ijinkan Emy kembali padanya?!! Yeol-a !!!" teriak Yu Zhen


" Heh ... aku ijinkan Emy kembali pada si brengsek itu? ... Mikha ... Micko! Hanya karena mereka, aku ijinkan Emy kembali pada orang itu!" jawab dr. Lee dengan suara meninggi.


Na Ae Rim berlari menuju halaman belakang rumahnya, ketika ia mendengar teriakan Yu Zhen


" A Zhen-a, ada apa?" tanya Ae Rim memandang keduanya bingung.


" Ae Rim-a, katakan ... katakan padaku, kenapa. Emy. De. Pre. Si?" tanya Yu Zhen mengeratkan giginya menatap tajam Ae Rim dan menekan setiap kata terakhirnya.


Na Ae Rim menelan salivanya dengan berat, ia melihat ke arah suaminya. Wajahnya menyiratkan rasa takut melihat Yu Zhen.


" Emy ... dia ..."


" Ae Rim!!" Bentak dr. Lee memotong penjelasan Ae Rim. Na Ae Rim terkejut dan sedikit melompat mendengar bentakan suaminya. Air mata mengumpul di sudut matanya. Ia mengerti kenapa suaminya bersikap seperti itu, tapi hatinya terasa sakit.


" Kenapa Yeol? Aku juga berhak tahu!"


Dokter Lee tak menghiraukan teriakan Yu Zhen dan masuk ke dalam rumah seraya menarik tangan istrinya.


" Aaaarrgghhhh...." Teriak Yu Zhen frustasi.

__ADS_1


Didalam rumah, dr. Lee melihat bagaimana Yu Zhen bereaksi. Hatinya juga sama seperti Yu Zhen, sakit, saat tahu Emy mengalami depresi. Tapi, ia harus menutup rapat-rapat rahasia ini demi Emy.


Jika Yu Zhen tahu, dr. Lee yakin, pria itu akan nekad menghadapi Tae Yang. Kekuatan Yu Zhen tak seberapa dibanding Kim Tae Yang yang notabene seorang penguasa dunia bisnis.


__ADS_2