Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Aksi Si Kembar


__ADS_3

Jung Hyuk melakukan yang diminta Evan, memanggil Hawk untuk datang ke Mansion. 2 jam kemudian, laki-laki dengan gaya Punk masuk ke dalam Mansion Kim.


" Tuan Hawk?" tanya seorang pelayan. Hawk mengangguk. Pelayan pria itu segera mengantar Hawk ke ruang kerja Tae Yang.


Tok ... tok ...


" Masuk!" seru seseorang dari balik pintu


ceklek


" Tuan, Tuan Hawk sudah datang," lapor si pelayan


" Hmm, suruh masuk dan tolong siapkan teh juga camilan," pinta Evan


" Baik, Tuan," jawab pelayan itu dan mempersilahlakan Hawk masuk


" Anda ..." Hawk berhenti di depan pintu ketika ia melihat lelaki kaukasia yang tak ia kenal.


" Duduklah. Aku Pamannya Emy," jelas Tae Yang. Ia mengerti bahwa lelaki didepannya tak mengenalnya


" Oh, baiklah," Hawk segera duduk diikuti Evan


" Langsung saja. Aku yakin kau tahu saat ini bosmu dipanggil Kejaksaan (Evan melihat Hawk dan lelaki itu mrngangguk), aku mau kau selidiki Jaksa-jaksa ini. Mulai dari keluarganya, rekening dalam dan luar negeri juga asalnya semua. Apa kau bisa?"


" Hah?! Tapi ... itu ilegal, Tuan," sahut Hawk


" Hahaha ... mengintip wanita lewat kamera laptop dan hpnya apakah tindakan legal?" sindir Evan


Hawk terkesiap. Ia tak menyangka Evan tahu kebiasaannya. Evan tersenyum melihatnya.


" Jadi, apa kau bisa?" tanya Evan lagi namun kini dengan sorot mata yang tajam


" Bi-bisa, Tuan," jawab Hawk


" Good! mulailah bekerja. Kau bisa gunakan punya Emy," kata Evan seraya berjalan ke arah sisi ruang kerja Tae Yang dan membuka tirai.


Mulut lelaki bermata sipit itu terbuka lebar melihat pemandangam di depannya. Berbagai monitor juga CPU dan alat-alat canggih ada lengkap disitu.


" Wowww! Heavennn!!!" seru Hawk dengan mata berbinar dan mulai melangkah dan mengusap setiap peralatan yang ada di sana dengan senyum yang tak luntur.


" Bekerjalah dari sini. Dan kau bisa gunakan interkom untuk memanggilku di no.3, dapur no.7 dan untuk Emy no. 1. Kau mengerti?"


" Mengerti, Tuan. Baik, saya akan mulai bekerja,"


Evan mengangguk dan meninggalkan Hawk sendiri di ruang kerja Tae Yang dan Emy.


Sementara itu, Emy mendapat telepon dari dr. Lee dan memintanya datang segera. Setelah berganti baju, Emy segera turun. Di ruang tengah, ia bertemu Evan yang baru saja turun untuk menjemput si kembar dari sekolah.


" Paman! mau kemana?" panggil Emy


" Aku ingin menjemput Mikha dsn Micko," jawab Evan dengan senyum


" Kalau begitu, bisakah Paman antar dulu aku ke rumah sakit. Sekolah Anak-anak selesai 45 menit lagi,"


" Baiklah, ayo naik," jawab Evan.


30 menit kemudian, Emy sudah berada di rumah sakit. Setelah berpamitan dengan Evan, Emy melangkahkan kakinya menuju lobby rumah sakit dan menekan tombol lift


" Emy-a!" panggil seseorang dari belakang. Emy menoleh dan tersenyum


" Yu Zhen-a, bukannya kau masih harus istirahat?" tanya Emy ketika Yu Zhen sudah berada didekatnya.


Ting


Keduanya segera masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.

__ADS_1


" Hmm ... tapi, Yeol memintaku datang," ucap Yu Zhen dengan senyum kecilnya," Bukannya kau sedang di Indonesia?"


Emy tersenyum dan mengangguk," Iya. Tapi kemarin malam aku kembali. Ada masalah dengan perusahaan Tae Yang,"


" Hmm ... aku lihat tadi di TV,"


" Sebenarnya ada apa Oppa memanggil kita berdua kesini?" tanya Emy. Yu Zhen menggeleng. Ia juga tak tahu


Ting


Lift yang membawa mereka ke lantai 3 dimana kantor Lee Yeol berada, sudah sampai dan terbuka.


Keduanya berjalan bersama dengan pikiran masing-masing.


Tok ... tok ...


" Masuk!"


Emy segera membuka pintu kantor dr. Lee dan segera masuk disusul Yu Zhen


" Ada apa, Oppa? tak biasanya kau memanggil kami bersama?" tanya Emy dengan senyumannya


" Kemarilah, ada yang ingin aku katakan pada kalian terutama Emy," kata dr. Lee


Emy mengeryitkan dahinya tak mengerti


" Aku? ada apa?" tanya Emy.


" Em ... bisa kau lihat hasil CT ini?" kata dr. Lee dan memasang hasil CT di kotak putih dengan penerang di dalamnya.


Emy menatap dr. Lee dan mengangkat alisnya. Kakinya melangkah mendekati papan penerang. Emy menatap hasil CT didepannya dan memajukan bibirnya


"Chondrosarcoma ekstraskeletal (tumor jaringan lunak kanker yang langka. Ini adalah tumor sel spindel penghasil tulang rawan (sarkoma)) stadium akhir," ucap Emy


" Hmm, Tumor 8cm di distal (tepat di atas sendi lutut) tulang paha kiri," kata dr. Lee, " Bagaimana menurutmu,"


" Kalau menurutmu, Em?" tanya dr. Lee


" Usia? Jenis kelamin? Pekerjaan?" tanya Emy balik dengan mata masih menatap lekat hasil CT di depannya.


" 60 tahun, laki-laki, pensiun. Keluarganya membawanya kesini, karena ia mendengar tentangmu," ungkap dr. Lee


Emy menoleh dan menatap dr. Lee dengan ekspresi yang susah diartikan, lalu berjalan menuju meja kerja dr. Lee. Mengambil gunting dan memasukkan kedua jarinya kedalam pegangan. Tak berapa lama, gunting itu terjatuh


" Apa dengan keadaanku yang begini aku bisa, dr. Lee?" ucap Emy dan tertawa getir, " Kau tahu aku sudah cacat, dan kenapa kau mengatakan semua ini padaku?" sinis Emy lalu melangkah pergi.


Ceklek


Brakk ...


Emy membuka pintu kantor dr. Lee dengan kasar.


" Em, Tunggu!!" dr. Lee menahan tangan Emy dan menariknya.


" Hei! Yeol! mau apa kau?" seru Yu Zhen dan memegang tangan dr. Lee serta menatapnya sengit


" Lepaskan! kau akan tahu nanti," kata dr. Lee dengan mata yang kembali menatap tajam Yu Zhen. Lelaki tampan blasteran Korea-China itu akhirnya melepaskan tangannya dan mengikuti dr. Lee


" Kita mau kemana?!" tanya Emy kasar


" Diamlah! ikut saja!" ucap dr. Lee.


Ketiganya terus melangkah dan masuk ke dalam lift. Sampai di lantai dasar, kembali dr. Lee menarik Emy melintasi beberapa koridor. Hingga diujung koridor terakhir, dr. Lee berbelok. Tempat bangsal umum berlokasi


Srekkk ... (suara pintu digeser)

__ADS_1


" Masuklah," kata dr. Lee


Emy dan Yu Zhen masuk, dr. Lee berjalan lalu berdiri di depan sebuah bed yang ada di paling ujung bangsal. Emy melangkah mendekatinya. Beberapa langkah sebelum ia mendekat, ia mendengar suara yang sangat ia rindukan


" Ah, dr. Lee ... Anda sudah datang?"


Emy menahan nafasnya dan matanya membulat ketika ia melihat seorang wanita yang melewatinya dengan senyum hangat menatap dr. Lee. Wanita itu menggunakan bahasa Inggris dan berbincang tentang keadaan suaminya yang terbaring di atas brankar.


Emy perlahan mendekati keduanya. Air mata sudah menetes di kedua pipinya.


' Be-benarkah di-dia ... A-aku tak bermimpi, kan?' gumam Emy dalam hatinya.


Dokter Lee yang berbicara dengan wanita paruh baya itu mengalihkan perhatiannya dan melihat Emy lalu tersenyum manis. Wanita paruh baya itu juga menoleh mengikuti arah pandangan dr. Lee


Seketika netra wanita itu berkaca-kaca. Entah bagaimana, kedua matanya sudah terkumpul buliran-buliran bening yang siap meluncur.


" E-emilia," lirih wanita itu dengan bibir bergetar. Air matapun tak terbendung lagi. Wanita itu segera berlari dan memeluk Emy yang terdiam membeku dan menatap dr. Lee kosong


Di Kantor Kejaksaan Distrik Seoul, Tae Yang masih dicecar berbagai pertanyaan berulang-ulang. Permintaan penangguhan penahanan tak dikabulkan. Karenanya, malam ini Tae Yang harus bermalam di Kejaksaan.


" Apa kau sudah dapat kabar dari Evan?" tanya Tae Yang pada pengacaranya. Lelaki setengah baya itu menggeleng lalu menunduk.


Tae Yang menepuk bahu lelaki itu dan tersenyum


" Tidak apa-apa, kau tunggu saja kabar darinya atau istriku," kata Tae Yang. Pengacara itu mengangguk dan berpamitan.


Evan mendapat laporan-laporan dari Hawk tentang para Jaksa yang menangani Tae Yang. Dengan gemas lelaki berbadan tegap itu meremas kertas laporan di tangannya.


" Salin semua ke dalam flashdisk dan kirimkan copynya pada pengacara Oh dan Luther," titah Evan pada Hawk. Lelaki itu mengangguk dan segera melakukan tugasnya.


" Grandpa!!" panggil Mikha dan Micko dari ambang pintu


" Ah, masuklah, sayang," kata Evan dengan senyumnya. Mikha dan Micko segera berlari dan duduk di samping Evan di sofa yang ada di dalam ruangan Tae Yang


" Grandpa, mana Daddy?" tanya bocah itu


" Daddy masih sibuk, sayang,"


" Kata teman Mikha, Daddy orang jahat, benarkah itu, Grandpa?" tanya Mikha dengan sedih


" Benar, Grandpa. Kata teman Micko, Daddy juga suka bikin orang lain sakit dan terluka," timpal Micko


" Sayang, dengarkan Grandpa. Daddymu orang baik, hanya karena dia terlalu baik, jadi ada orang yang tak suka dengan Daddymu," kata Evan


" Grandpa, katakan pada Mikha, siapa orang jahat itu?" tanya Mikha tanpa melepas tatapannya pada Evan, persis sama seperti Tae Yang saat berbicara


" Benar, Grandpa,"


" Tenanglah, sayang. Grandpa dan paman Hawk sedang mencari penjahatnya," kata Evan


Mikha segera turun dari sofa dan berlari ke arah Hawk. Matanya menatap satu per satu wajah yang terpampang di monitor dan apa yang dilakukan Hawk.


Micko segera menyusul kakak kembarnya. Keduanya saling menatap lalu mendorong Hawk dari tempat duduknya


" Hei! apa yang kalian lakukan? Paman mau bekerja bantu Daddymu!" seru Hawk


" Nak, jangan ganggu Paman Hawk!" seru Evan dan berusaha menarik si kembar. Hawk pun akhirnya mengalah


" Baiklah, baiklah. Paman berdiri," ucap Hawk sambil berdiri dan mengangkat tangannya menyerah.


" Grandpa! lepaskan!" kata Mikha dengan tegas dan mata yang melirik Evan tajam. Evan menghembuskan nafasnya kasar dan melepaskan si kembar


" Mulai!" seru Mikha


Tangan Mikha mulai bergerak cepat di atas keyboard komputer. Sementara, Micko juga melakukan hal yang sama di sebelah Mikha

__ADS_1


Evan dan Hawk melongo melihatnya. Mulut mereka terbuka, hingga jika ada lalat masuk, mereka tak akan menyadarinya.


__ADS_2