
Selama Tae Sang pergi, Emy selalu kembali kerumahnya atau bahkan tinggal di ruang istirahat dokter dan staff di Rumah Sakit. Namun terkadang, walaupun Tae Sang ada, ia tak menginap di Villa. Ia hanya berbelanja roti dan beberapa bahan untuk sarapan Tae Sang dan Helena. Seperti keju, sereal, susu dan telur yang ia taruh rapi di dalam kulkas.
Ia juga memasak makan malam dan menyiapkan beberapa lauk siap makan dan ia simpan didalam kulkas, lalu kembali kerumahnya, karena ia tak ingin menggangu pasangan tersebut. Sikap Tae Sang sangat kasar padanya jika ia ada dalam rumah itu.
Bahkan tak segan, Tae Sang memperlakukannya layaknya seorang pembantu. Dan, Helena selalu saja menjebak Emy dengan permainan liciknya, agar Tae Sang memarahi atau menghukum Emy. Emy hanya bisa menahannya. Ia tak tahu apakah ia bisa membuka hati untuk laki-laki seperti itu. Sepertinya tidak akan bisa.
Sekarang, saat Tae Sang dan Helena masih berlibur, dan tugas Rumah Sakit sedikit longgar, Emy mengambil ransel bututnya dan pergi ke sebuah toko kue. Disana, ia membeli 1 cupcake setelah melihat isi dompetnya yang menyedihkan. Ia juga pergi ke sebuah swalayan dan membeli mie instan mangkok. Setelah membayar, emy berjalan membawa belanjaannya menuju sungai Han.
Di sana terdapat kursi yang biasa digunakan orang-orang untuk bersantai menikmati keindahan Sungai Han. Setelah menempatkan diri di salah satu kursi, Emy menata cupcakenya dan menaruh susu kotak kecil kesukaannya dan mie instannya diatas kursi. Ia juga mengeluarkan lilin dari dalam tasnya.
“ Ah..sudah siap!” Emy menepuk tangannya, tersenyum dan mulai bernyanyi dengan pelan
*Happy Birthday to me
Happy Birthday to me
Happy Birthday
Happy Birthday
Happy Birthday to me*
Fuhh...
“ Ahh...umurku sudah bertambah lagi. Mami, papi, kak Denis, Eomma...apa kalian juga ingat kalau sekarang aku berulang tahun?” Ucap Emy lirih dan menengadah ke langit.
__ADS_1
“ Hehh...baiklah, sekarang waktunya makan mie ulang tahunku,” kata Emy kemudian dengan semangat. Ia menambahkan air panas dalam mangkok mie instannya, menunggu sebentar lalu menyantapnya dengan senang, walau tanpa ia rasakan setetes air telah jatuh ke pipinya.
“ Ah...kok keluar lagi sih...hahh..dasar cengeng aku ini!” Kata Emy sambil menghapus air matanya dan terus menyantap mienya.
Desa Meranti
3 orang sedang duduk bersantai di ruang TV. Mereka asyik bercanda dan bermain halma.
“ Mi, pi...besok aku harus balik kampus. Aku mau ke perpustakaan. Minta duitnya, ya...” kata seorang laki-laki muda pada orang tuanya yang juga duduk bersamanya bermain di atas karpet, di raung tv.
“ Kok cepet? Kan masih libur.” Kata maminya
“ Iya, tapi aku mau belajar mi, persiapan buat semester bulan depan. Aku mau cepet selesai.”
“ Ya, sudahlah, mi. Biarin aja...” Jawab sang papi.
Seoul
Trringgg....
Emy meraih ponselnya dan melihat pesan singkat disana. Ia kembali menangis dan kemudian tersenyum, “ mami...terima kasih. “ Ia membalas pesan singkat itu dan menghapus air matanya.
Emy masih duduk dan menikmati lampu-lampu yang indah yang menghiasi jembatan diatas Sungai Han. Tengah malam, baru Emy berdiri dan pulang kerumahnya.
Emy tak menyadari jepretan kamera yang membidiknya sedari tadi. Sang juru foto melihat hasil jepretannya dan menghela nafas, “ kasihan sekali gadis ini, dia merayakan ulang tahunnya sendiri.” Dan berlalu dari sana.
__ADS_1
Namun, ternyata bukan hanya sang juru foto yang ada disana. Seorang laki laki dengan tubuh tegap dan gagah, memperhatikan Emy sejak ia keluar dari Rumah Sakit hingga saat ini.
Ia berusaha mendekat agar bisa melihat wajah yang dirindukannya itu sedikit lebih dekat. Alhasil disinilah ia. Berdiri dibalik pohon rindang, tersenyum dan menitikkan air matanya. Ia juga menyanyikan lagu happy birthday untuk Emy tanpa bersuara. Ia hanya pergi, setelah Emy menaiki taksi dan meninggalkan tempat itu. Ia keluar dari persembunyiannya dan duduk ditempat dimana Emy tadi duduk dan memainkan syal merah yang selalu dibawanya dan membenamkan wajahnya disana.
Emy POV
Pagi ini aku merasa berat untuk membuka mataku. aku merasa kedinginan padahal aku sudah memakai selimut tebal dan sweater.
“ ada apa denganku” gumamku. Aku paksakan diriku untuk bangun, karena alarmku sudah berbunyi.
Hidungku tersumbat dan tenggorokanku sakit. ‘ Aduh, sepertinya aku flu. Tidak aku tak boleh sakit. Lebih baik aku mandi air hangat dan minum jahe.’ Aku menggigil setelah aku keluar dari shower.
Kubungkus tubuhku dengan kimono mandi tapi tetap terasa dingin menusuk tulang. Aku secepatnya kembali ke kamar dan mengganti bajuku dengan pakaian yang lebih tebal, menyisir rambutku dan mengikatnya lalu berjalan ke dapur.
Aku membuat minuman jahe dan meminumnya. Aku sengaja meletakkan kedua telapakku untuk memegang gelas, karena sensasi hangat dari air panas yang didalamnya. Mataku terasa berat, mataku mulai berkunang-kunang. Kupaksakan langkahku kembali ke kamar dan menutup kembali pintu kamarku. Tak lama aku sudah berada dalam dunia mimpi.
Aku merasa ada seseorang yang meraba dahiku. Tapi, aku tak tahu itu mimpi atau nyata. Tangan itu juga membantuku duduk dan membuatku memakan sesuatu. Aku juga merasakan ketika rasa pahit menyentuh lidahku diikuti cairan hambar, ‘Ah...ini mimpi atau apa ya? Siapa yang memegangku?’
Langit sudah gelap saat aku mulai membuka mataku, aku merasa ada sesuatu yang dingin di dahiku. Perlahan, kuangkat tanganku dan mengambil benda itu dari dahiku, ‘ ah sepertinya ada yang menolongku mengompres. Tapi, siapa ya?’
Ku jelajahi setiap sudut kamarku tapi tak ada seorangpun. Kupaksakan diriku untuk duduk, walau kepala masih terasa pusing dan mata berkunang-kunang. Aku ingin tahu siapa yang sudah merawatku. Setelah kupakai sandal handuk pooh milikku, aku keluar dan memeriksa setiap ruangan dengan perlahan dan berjalan berpegangan pada tembok. Tapi, aku tak melihat siapapun. Kuputuskan untuk kembali ke kamarku. Tapi, belum sampai aku menutup pintu, aku terjatuh, pandangan gelap.
Emy POV end
Melihat tubuh Emy yang tergeletak, seorang laki-laki yang bersembunyi dibalik pintu gudang dan memperhatikan Emy sedari tadi, langsung berlari dan menggendong tubuh Emy.
__ADS_1
“ Ya, Tuhan. Kenapa kamu ringan sekali?” Kata laki-laki itu lalu menaiki tangga menuju lantai 2. Dimana, kamar Emy berada. Diletakkannya tubuh mungil Emy diatas ranjang dengan berhati-hati.
“ Demammu naik lagi. Lebih baik aku panggil dokter.” Gumamnya. Setelah menelepon seseorang dan menyuruh mengirim dokter ke kediaman Emy, laki-laki itu segera kembali dan duduk di sisi tempat tidur Emy.