
Selama resepsi, Mikha dan Micko terus duduk di meja dekat meja kue dan pastry. Pengasuhnya harus memakai berbagai macam trik, agar keduanya bersedia mengisi perut kecil mereka dengan karbo dan mengurangi konsumsi coklat.
" Be An, anto Mikho como Micko bobok como Mommo, ( Bi An, nanti Mikha sama Micko bobok sama Mommy)," kata Mikha dengan mulut kecilnya yang penuh makanan. Coklat sudah belepotan di mulut dan pipi gembuknya. Ji An, sang pengasuh harus terus mengelapnya bersih.
" Iya, baik. Tuan," jawab Ji An lembut.
Mikha dan Micko terus mengisi mulutnya dengan pastry buatan Chef Brandon. Emy tak memakai jasa Chef lain karena ia menyukai masakan dan kue buatan Chef Brandon dan Sous Chef-nya.
Mereka diijinkan Emy merekrut sendiri karyawan untuk membantu mereka menyiapkan catering untuk pernikahannya. Tae Yang tak dapat menolak semua kemauan Emy. Bersedia menikah dengannya saja, sudah merupakan anugerah untuknya.
Emy tersenyum ramah kepada setiap tamu yang hadir. Tae Yang hanya sesekali menyunggingkan senyumnya.
" Tae Yang-ssi, aku lelah," kata Emy
" Baiklah, ayo istirahat dulu. Kau juga belum makan, sayang." kata Tae Yang seraya menuntun istrinya ke meja utama. Tae Yang mengambilkan makan untuk Emy. Beberapa menu adalah menu favorit Emy. Jadi, pria itu tak mengalami kesulitan untuk memilih.
" Ini, makanlah dulu, sayang." Tae Yang menyodorkan makanan di depan Emy. Wanitanya itu tersenyum dan mengangguk.
" Hmm ... terima kasih. Kau juga harus makan. Ayo, sini." kata Emy
Tae Yang tersenyum dan duduk dekat dengan istrinya. Emy memberi suapan pertama pada Tae Yang dan membuat lelaki itu berbinar dan membuka mulutnya. Suapan pertama Emy secara sukarela.
" Sayang, apapun yang terjadi, berjanjilah padaku, kau tak akan meragukan cintaku dan meninggalkanku, hmm? " Tae Yang menatap lekat bola mata hitam Emy yang begitu indah.
" Hmm ... iya, asal kau selalu jujur dan setia padaku." ucap Emy seraya memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
" Pasti ... aku akan selalu setia dan jujur padamu, sayang." janji Tae Yang. Janji yang nanti membawanya berdiri di persimpangan jalan.
Resepsi pernikahan telah usai, tapi hari itu sepertinya belum berakhir. Dengan kepergian satu per satu tamunya, membawa celah beberapa wartawan untuk berani menerobos masuk ke dalam mansion.
" Tuan Kim! Tuan!" panggilan seseorang membuat para tamu yang masih belum meninggalkan tempat resepsi melihat ke sumber suara.
Dengan Mic dan kamera yang Live, Tae Yang tak dapat menghindar.
__ADS_1
" Tuan, apa benar jika Anda menikahi selingkuhan Anda?
" Tuan, apa benar wanita di samping Anda adalah penyebab Anda dan Nona Helena berpisah?
" Tuan, alasan apa yang menyebabkan Anda lebih memilih dokter Emy Sie?"
Pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Tae Yang dan Emy terlontar dari mulut pedas para wartawan itu.
" Saya tidak pernah mengijinkan wartawan masuk ke mansion. Atas ijin siapa kalian berani menerobos masuk kesini, hah?!" geram Tae Yang.
" Tuan, apa alasan Anda menolak kami meliput hari bahagia Anda?" seorang wartawan dengan berani bertanya pada penguasa perhotelan Korea itu.
" Apa kau juga mau privasimu dilanggar? pernikahanku bukan untuk konsumsi umum!!" sentak Tae Yang
" Anda adalah seorang publik figure, tentu Anda juga harus siap dengan publikasi, bukan?"
" Apa seorang publik figure tidak punya privasi? apa seorang publik figure harus mengumbar semua tentang kehidupannya? apa seorang publik figure bukan manusia yang tak butuh ketenangan bersama teman-teman dan keluarganya?" Emy menyerobot menjawab pertanyaan wartawan itu dengan tegas dan penuh amarah.
Sudah sejak awal mereka meneriakkan pertanyaan, telinga Emy menjadi sangat panas dibuat mereka.
Emy menyeringai pertanyaan bodoh wartawan itu.
" Takut? apa aku berbuat salah? bukankah kalian sendiri yang membuat rumor dengan mengatakan bahwa saya adalah seorang pelakor? Kenapa? apa aku salah bicara?" jawab Emy lantang. Tae Yang menatap istrinya dengan bangga. Sementara, wartawan tersebut kebingungan memberikan pertanyaan.
" Selama ini hanya diam, bukankah itu menjelaskan semuanya?" seorang wartawan menimpali
" Jadi, kalau diam berarti salah, begitu? bagaimana kalau aku mengadakan klarifikasi, apa kalian akan mempercayainya? Hah? Cukup! Selama ini saya sudah bersabar dengan berita omong kosong yang kalian buat tentang saya dan istri saya. Kalian akan mendapat jawabannya di pengadilan! permisi!"
Semua wartawan terkejut mendengar pernyataan Tae Yang. Mereka tak menyangka bahwa bos Kimtae Grup itu akan menuntut mereka. Selama ini, berita yang mereka tulis memang tak didasari bukti kuat. Hanya kesaksian dari seseorang saja.
Tak ada api tak ada asap. Begitulah menurut para wartawan. Tak kan ada rumor tanpa ada yang menyulutnya. Mereka tak menyelidiki kebenaran, dan hanya menulis demi mengais rejeki tanpa peduli akan menyakiti orang lain.
Media publikasi di Korea Selatan sangatlah kejam bagi para publik figure. Mereka akan menyerang tanpa ampun tapi mereka juga akan membantu meningkatkan pamor seseorang.
__ADS_1
Yang membuat mereka tak disukai adalah, mereka akan menulis berita tanpa konfirmasi lebih dahulu. Menganggap rumor adalah sebuah kebenaran
Banyak sudah yang menjadi korban para awak media. Dari kalangan selebritas hingga politisi. Tapi, seperti tanpa kapok, mereka terus saja meneruskan tradisi itu.
Hanya segelintir saja yang memiliki hati nurani dan memilih mencari bukti dan saksi lebih dahulu baru memberitakannya.
Emy begitu gemas dengan tingkah para wartawan. Saat Tae Yang menariknya masuk ke dalam mansion, Emy dengan senang hati mengikuti suaminya. Hingga ...
" Lalu bagaimana dengan Nona Lucia, yang dulu Anda sudah memberinya janji untuk menikahinya?" seru seorang wartawan. Emy menghentikan langkahnya, demikian pula Tae Yang. Satu tangannya mengepal dan rahangnya mengeras. Ia melihat ke samping belakangnya, Emy terdiam dengan wajah penuh tanya ke arahnya.
Tae Yang menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Ia tak menyangka akan terjadi secepat ini.
" Aku akan menjelaskannya di kamar, sayang," kata Tae Yang lembut. Emy mengangguk dan mengikuti Tae Yang, tak memperdulikan teriakan para wartawan lagi.
Sampai di kamar, Mikha dan Micko sudah tertidur di ranjang kingsize orang tuanya. Tae Yang menunduk lesu. Emy segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
" Aa ... aduh, susah sekali sih! designernya bodoh banget!" gerutu Emy. Ia lupa bahwa dirinyalah sang designer.
Tok ... tok ...
" Sayang, mau kubantu?" tanya Tae Yang dari luar kamar. Pria itu tahu, bahwa Emy pasti akan kesulitan melepasnya, karena saat fitting, dialah yang membantu menaikkan dan menurunkan retsletingnya.
ceklek
" Tolong ini," kata Emy dengan cemberut. Tae Yang tersenyum penuh arti
" Baiklah, sebentar," Tae Yang mendorong istrinya masuk ke dalam kamar mandi, dan
klik
Tae Yang mengunci pintu kamar mandi. Seringai muncul di bibirnya. Emy berbalik dan melihat Tae Yang
" Oh, boy ... matilah aku," celetuk Emy tanpa sadar.
__ADS_1
" Kok mati, sayang? yang ada ... kau ... akan ... mati ... kutu ... dibawahku ..." kata Tae Yang dengan suara menggoda seraya membalikkan tubuh istrinya. Perlahan ia menurunkan restleting gaun putih Emy. Aroma mint masuk ke lubang hidung Emy, aroma yang membuatnya merasa tenang.