
Berlin, Jerman
" Apa kau sudah gila?" Seorang laki laki dengan jas dokternya mengusap wajahnya frustasi.
" Kalev, anakku gak bersalah. Dia berhak hidup. Tuhan sudah memberinya kehidupan di dalam sini. Aku gak mau merampas kehidupannya. Mengertilah." Jawab seorang wanita dengan wajahnya yang pucat.
" Tapi, kau juga lagi sakit, Emy! janinmu masih 1 bulan... nanti kalau kamu sudah sembuh, kamu masih bisa..."
"Cukup! Kalev, keputusanku tetap sama. Aku permisi dulu." Emy memotong perkataan Kalev temannya dan beranjak dari kantor dokter berkebangsaan Rusia itu. Sudah menjadi keputusannya untuk mempertahankan janin yang tumbuh di dalam rahimnya, walau harus mempertaruhkan nyawa.
" Emy...aku mohon... " Kalev menarik pergelangan tangan Emy dan memohon. Tak bisa dipungkiri dia sangat bahagia, ketika wanita yang selalu mengisi hatinya itu, menghubunginya dan mengatakan bahwa akan tinggal di Berlin, dan memohon bantuannya. Namun ia tak menyangka kedatangan Emy juga membawa kabar yang membuatnya shock. Dan belum lagi kabar itu ia terima sepenuhnya, kini Emy mengatakan bahwa ia tak akan kemo, radioterapi maupun menjalani bedah kraniotomi (proses pembedahan otak yang dilakukan dengan membuka tulang tengkorak sebagai langkah untuk mengangkat tumor yang menyebabkan gangguan fungsi otak.)
Hatinya terasa perih. Ia tak ingin kehilangan satu satunya wanita yang berhasil mencuri hatinya itu.
" Maafkan aku Kalev. Itu keputusanku. Aku mohon jangan paksa aku lagi." perlahan Emy melepas tangan Kalev dan melangkah pergi.
Tubuh atletis Kalev luruh lemas. Terduduk di lantai ruangannya, ia melirik foto hasil PET-Scan (*pemeriksaan medis yang dilakukan untuk mendeteksi suatu penyakit tertentu di dalam tubuh. PET membantu dokter Anda untuk mengetahui apa yang terjadi pada jaringan serta organ di dalam tubuh.
Pemeriksaan ini menggunakan sinar radiasi yang ditangkap oleh organ yang ada di dalam tubuh dengan bantuan zat radioaktif yang telah disuntikkan pada awal pemeriksaan*.)
Kalev lebih memilih memakai PET-Scan untuk lebih memastikan hasil yang ia terima, ketika ia melihat hasil CT-Scan Emy. Tak seperti CT- Scan dan MRI, pemeriksaan ini bisa dibilang lebih canggih, sebab dapat memperlihatkan aktivitas pada tingkat sel, sehingga PET scan digunakan untuk melihat perkembangan penyakit kronis, seperti penyakit Emy.
" Emy... kenapa kau lebih memilih janinmu daripada nyawamu? apa kau tak memikirkan perasaanku?" Kalev menundukkan kepalanya dan menaruhnya diantara kedua lututnya.
__ADS_1
Sementara itu, wanita yang membuat dr. Kalev, dokter bedah syaraf ternama di Jerman dan beberapa negara di Eropa itu, melangkah gontai menikmati senja di seputaran RS Universitas Charite, Berlin. Bangunan tua dengan bata merah yang menjadi ciri khas Unversitas itu, menjadi daya tarik tersendiri buat Emy. Memang RS Kedokteran Charite, tempat Emy mengecek kesehatannya adalah sebuah bangunan modern, tapi sekeliling RS itu, masih mempertahankan model dan struktur bangunan abad 17.
Emy memilih RS ini karena ini adalah rumah sakit pendidikan di Berlin, berafiliasi dengan Universitas Humboldt Berlin dan Universitas Bebas Berlin. Dengan sejumlah Pusat Penelitian Kolaboratif, Deutsche Forschungsgemeinschaft, Charité adalah salah satu institusi medis dengan riset paling intensif.
Selain itu, ia tak ingin orang orang yang ia sayangi melihatnya menderita karena sakit. Ia juga ingin memberikan tubuhnya untuk penelitian, jika memang nantinya, Yang Kuasa memanggilnya.
" Nak, mama akan menjagamu sampai kau lahir. Walaupun nantinya mama tidak bisa melihatmu tumbuh, mama harap, nantinya kau akan menjadi anak yang berguna bagi semua orang... ya? maafkan mama, karena kau tak bisa bertemu papamu... maafkan mama sayang..." lirih Emy. Perkataan Tae Yang tergiang di kepalanya.
" gugurkan bayi itu..." Matanya kembali berembun setiap kali ia mengingat kata kata kejam ayah dari bayi yang ada dalam kandungannya.
" Tuhan, kenapa jalan hidupku begitu pahit? apa aku memang tak pantas untuk bahagia? kenapa kebahagiaan sepertinya jauh dari jangkauanku?... hiks hiks..." Emy menunduk dan menangis, hingga sepasang sepatu pantofel tertangkap kedua bola matanya. Ia mendongak dan melihat laki laki yang membantunya selama di sini.
" Ka...lev..." panggilnya lirih.
" Berdirilah, ingat kau lagi hamil, jangan terlalu stress. Aku akan selalu ada buatmu. Aku akan membantu... hmm? sudah, jangan menangis ya... maafkan aku.." ucap Kalev setelah membantu Emy berdiri. Ia memeluk erat tubuh kecil Emy. Emy mengangguk dan berterima kasih dalam pelukan laki laki berrahang tegas itu.
Kalev berjalan mengantar Emy ke apartemen yang ia sewa untuk Emy. Ia membantu membuatkan makanan sehat dan memberi susu hamil serta mengantarnya untuk tidur.
Bukan hanya sehari dua hari, tapi setiap hari itulah yang Kalev lakukan. Sebelum berangkat ke RS, ia akan ke apartemen Emy dan memasak, lalu menyediakan semua keperluan Emy. Ia bahkan melarang Emy mencuci baju atau memasak.
2 bulan berlalu, sejak Emy tinggal di Berlin. Ia merasa bahagia dan sedih karena Kalev. Emy bahagia karena perhatian dan kasih sayang yang Kalev tunjukkan, tapi ia juga sedih karena tak dapat membalas perasaan laki laki itu.
Karena bosan, Emy membawa tubuh lemahnya untuk berjalan keluar dari apartemen. Ia ingin memakan Kartoffelsalat. Makanan khas jerman mirip dengan salad sayur, isi makanan ini adalah kentang, tomat, cuka, mayonnaise, bawang bombay, susu, telur, dan daging sapi. Ia tak mau merecoki pekerjaan Kalev, dan memutuskan membelinya sendiri.
__ADS_1
Dengan lahap ia menikmati makanan yang terkenal di eropa itu. Saat akan membayar, kepalanya tiba tiba saja pusing. Pandangannya kabur dan menggelap.
totet...totet...
Suara Ambulance begitu nyaring di jalan yang tak begitu ramai, menuju RS Charite. Sebuah brankar dilarikan dengan tubuh seorang wanita dengan perut yang sedikit membuncit. Wajahnya pasi. Dokter dan perawat terus berusaha memberikan pertolongan.
Kalev yang sedang ada di dalam ruang operasi mendapat panggilan.
" Baiklah. Segera lakukan CT- Scan dulu." perintah Kalev.
" tapi dokter, dia sedang hamil."
" Baiklah, panggil dr. Alfred dulu untuk memeriksanya." jawabnya.
" baik dokter. oya, sepertinya wanita itu wanita cantik yang pernah datang kesini mencari anda."
deg
Kegiatan Kalev berhenti, membuat asisten dan perawat memandang ke arahnya. Ia melihat objek di depan kepalanya. Ia sedang melakukan bedah kraniotomi, tak mungkin ia tinggalkan begitu saja. Tangannya bergetar dan tak luput dari mata asistennya.
" suster, panggil dr. Alfred sekarang untuk menggantikan dr.Kalev." kata asisten Kalev. Kalev reflek memandang asistennya itu.
" Dokter, Anda tidak akan bisa menyelesaikannya, jika pikiran anda terganggu. Biarkan dr. Alfred menggantikan anda. Ini terlalu berbahaya." saran asisten dokternya itu.
__ADS_1
" Baiklah, terima kasih. Aku akan teruskan hingga dr. Alfred tiba. Ini tak boleh berhenti." sahutnya.
" Apa anda yakin, dok?" tanya asisten itu menatap lekat mata hitam dokter itu.