Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Mikha dan Micko


__ADS_3

" Kau tahu, pamannya Emy... Emy...sedang..hik...merajuk padaku. Tapi...hik...setelah dia gak marah lagi... dia pasti kesini...hehehe... jadi, aku tunggu aja di rumah...hik..." Bualan Tae Sang yang mabuk, membuat semua yang mendengarnya merasa sedih.


" Kau mencintai Emy, kan? sekarang bersihkan dirimu!" kata Evan dengan nada sedikit meninggi, setelah ia berhasil memasukkan Evan dalam bilik shower.


Sprassss.....


Evan membuka kran shower air dingin dan membuat Tae Sang berjingkat kaget, lalu mengusap wajahnya cepat, menghilangkan jejak air yang mengguyurnya.


" Aaa... apa yang kau lakukan?" sergah Tae Sang, dan mematikan kran shower. Evan memandang tajam Tae Sang.


" Apa kau benar benar mencintai Emy? Apa dengan mabuk kau bisa bertemu dengannya? hah?!" Tae Sang tak menggubris perkataan Evan. Ia berjalan hendak keluar dari kamar mandi megah itu, ketika Evan dengan cepat menghadang dan menatapnya tajam.


" Apa kau selalu bersikap tak bertanggung jawab begini? hah?!" sentak Evan. Tae Sang menatap balik Evan. Ia mengeraskan rahangnya namun tak berkata apapun.


" Kembali ke sana dan bersihkan dirimu! Jangan buat anak anakmu malu melihatmu seperti ini!" Evan menunjuk arah shower dan berkata dengan geram. Tae Sang terhenyak mendengar ucapan Evan.


" Apa kau bilang? anak? apa maksudmu?... Jawab?!" Sergah Tae Yang.


" Ya, anak kembarmu! kalau kau mau bertemu mereka, bersihkan dirimu itu! kalau kau berlama lama, aku akan membawa mereka lagi!" Dengan nada kasar dan tinggi, Evan mengakhiri kata katanya lalu berbalik dan keluar. Ia menutup pintu kamar mandi Tae Sang dengan keras. Menghela nafas dan menutup matanya. Sebenarnya, ia tak mau menyerahkan kedua buah hati Emy pada Tae Sang, tapi ketika ia mendapat kabar tentang kondisi Tae Sang, Hannah membujuknya berulang ulang. Butuh 2 bulan bagi Hannah untuk membujuk calon suaminya itu.


Evan mengajak semuanya untuk turun dan menunggu Tae Sang.

__ADS_1


Sementara itu Tae Sang yang masih di dalam kamar mandi, memandang pintu kamar mandi yang tertutup dengan pandangan yang tak bisa diartikan.


" A..aku punya anak? Emy... dia tak mengugurkannya? benarkah? ahhaha...Emy..Emy...benarkah sayang? aku..aku punya anak kembar?" Tae Sang memegang sendiri pipinya dan membelalakan matanya.


Ia melihat penampilannya dicermin. Basah kuyup dengan jenggot lebat yang sudah memenuhi rahang dan dagunya.


" Ya Tuhan, aku seperti orang gila. Aku harus bersihkan ini. Aku harus ketemu anakku..." Mata Tae Sang bersinar kembali. Dengan semangat ia mencukur habis jenggot dan kumisnya lalu membersihkan tubuhnya. Selesai dengan ritual mandinya, ia segera keluar dengan memakai jubah mandinya lalu masuk ke kamar ganti. Ia memperhatikan penampilannya terakhir kali dicermin dalam kamar gantinya.


"Perfect! Anakku, Daddy datang!" Tae Sang berlari keluar kamarnya dan menuruni tangga. Di sana, di ruang keluarganya, ia mendengar celotehan lucu anak bayi. Perlahan Tae Sang menapakkan kakinya pada anak tetangga terakhir dan mendekat ke ruang keluarga. Evan, Luther dan Byun Hyuk yang menyadari kehadiran Tae Sang, menatapnya.


Tae Sang melihat 2 bayi lucu sedang bermain di atas karpet ruang keluarga. Matanya mulai meneteskan air bening. Tangannya yang besar menutup mulutnya yang terbuka.



" Ka..kalian tidak bohong, kan? me..mereka buah hatiku, kan?" Tanya Tae Sang lagi. Air matanya semakin deras mengalir, menatap ketiga orang terdekat Emy itu.


" Ya... mereka anak anakmu. Emy memintaku dan Evan merahasiakanya darimu. Karena...karena kau dulu sempat... " Hannah ragu meneruskan kata katanya.


" eh..iya..iya... aku... maafkan Daddy nak.. maafkan Daddy..." Tae Sang mengangkat dan mencium bayinya satu per satu lalu menaruhnya kembali ke karpet dan mencium seluruh tubuh bayi kembarnya.


" Terima kasih... terima kasih kalian sudah hadir dihidup Daddy... terima kasih... Kalian hadiah terindah yang Daddy punya. Kalian semangat hidupku sayang." Tae Sang tersenyum dan menangis bersamaan. Ia terus mencium bayi kembarnya itu.

__ADS_1


" Oeeekkk....Oeeekkk..."


" Oeeekk...Oeeekkk..."


Kedua bayi itu serempak menangis, Tae Sang ketakutan. Ia melihat Hannah dan Evan bergantian meminta tolong. Hannah segera menghampiri dan menggendong bayi Mikha sementara Evan menggendong bayi Micko.


" Shushh...Shusshh... sayang...sayang...cup..cup..." Tae Sang memperhatikan kedua orang itu menimang dan berusaha membuat kedua bayinya diam. Tangannya terulur ragu untuk menggendong salah satu bayi itu. Hannah yang melihat itu, langsung merespon.


" Sayang, Mikha... ini Daddy, jangan nangis ya... gendong sama Daddy ya sayang....aduh...anak pintar..." Hannah memberikan Mikha pada Tae Sang, yang menyambutnya kaku dan sedikit ketakutan.


" Ha...Hannah, aku..aku takut menyakitinya... Hannah..." Ujar Tae Sang. Ia berdiam diri dan tak bergerak, memandang bayi dalam gendongannya serta menelan salivanya kasar.


" Bergeraklah... jika dia merasa gak nyaman, dia akan nangis lagi. Ayo coba gerak kayak aku gini.." Hannah memberi contoh Tae Sang menimang bayinya. Evan dan Luther tersenyum satu sama lain. Sedang Byun Hyuk, ia begitu terharu melihat Tuannya.


' Semoga kau terus berbahagia, Tuan Muda... Terima kasih Nona Sie, bahkan hingga saat ini, kau masih saja menolong Tuan Muda. Nona Sie, sebenarnya hatimu terbuat dari apa?' lagi... air mata haru menetes di pipi asisten setia Tae Sang.


Tae Sang sudah mulai terbiasa, ia berganti menggendong baby Micko. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.


" Tae Sang, duduklah. Aku mau bicara." Kata Evan tiba tiba. Tae Sang mengangguk dan duduk di sofa sambil menggendong baby Micko. Sedang Mikha kini dalam gendongan Byun Hyuk. Karena Byun Hyuk juga memiliki seorang putra yang kini berumur 1 tahun, jadi ia tak merasa canggung, saat Hannah menyerahkan Mikha padanya.


" Sebenarnya Mikha dan Micko, Emy percayakan padaku dan Hannah untuk menjaga. Tapi, kau adalah ayahnya. Dan aku tahu kau bukan lagi Tae Sang yang dulu. Karena itu, aku mohon jaga dan sayangi anak anakmu. Karena kalau aku tahu kamu sedikit saja menelantarkan mereka, aku akan mengambil mereka lagi. Apa kau mengerti?" Evan menatap lekat mata Tae Sang.

__ADS_1


" Iya paman Evan. Aku janji. Mereka adalah cahaya hidupku. Jika paman terus menyembunyikan mereka, mungkin... mungkin aku akan terus terpuruk. Emy pergi meninggalkanku adalah hukuman yang sangat berat buat aku, Paman. Tapi waktu aku lihat mereka... seperti... Emy sudah memaafkan aku." Jawab Tae Sang jujur. Ketulusan terpancar dari matanya. Dan Evan menjadi yakin akan keputusannya, menuruti perkataan tunangannya.


" Baiklah. Yang dalam gendonganmu itu, Micko. Dan yang di gendong asistenmu, Mikha. Nama itu... pemberian kami. Nama Mikha dan Micko artinya orang yang berani, cerdas, dan pekerja keras. Kami ingin, mereka nantinya seperti Emy yang berani berkorban demi siapa saja, ia juga cerdas dan seorang pekerja keras...Tapi, kalo kau mau menggantinya, itu terserah sama kamu aja." Timpal Evan.


__ADS_2