Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
2 Wanita Berwajah Sama


__ADS_3

" Tuan, saya mendapat foto ini dari Asisten Byun Hyuk." Han mengulurkan ponselnya pada Tae Sang. Tae Sang yang baru saja menghempaskan tubuhnya ke sofa melonjak kaget.


" Telpon Byun Hyuk!" perintahnya. Tak lama Han memberikan ponselnya pada Tae Sang, karena panggilannya telah terhubung.


" Hyuk! Jelaskan!" tegas Tae Sang.


" Tuan Muda, saya mendapat foto itu dari Nona Kang. Beliau mengatakan kalau Nona Sie masih hidup, hanya ia lupa dengan masa lalunya. Ia hanya mengingat namanya saja. Tapi Tuan...."


" Katakan!"


" Jika yang saat ini bersama dengan Tuan Taylor dan Nona Kang adalah Nona Sie, lalu Nona Eva? Nona Kang sempat ragu dengan Nona itu, karena beberapa kebiasaan yang sangat berbeda dengan Nona Sie. Tapi dokter beralasan beberapa orang akan mengalami perubahan perilaku jika seseorang pernah mengalami trauma psikologis, dan karenanya ... Nona itu menurut dokter, mengalami Amnesia Psikogenik, dan ia juga menderita Anterograde Amnesia, dimana... Nona itu tetap akan lupa walau hal tersebut dilakukan berulang-ulang. Tapi Tuan, menurut Nona Kang, sorot mata Nona itu tidak sama dengan Nona Sie."


" Baiklah. Ada banyak yang aneh di sini. Tidak mungkin ada 2 orang berwajah sama persis, sedang Emy sama sekali tidak punya saudara kembar atau keturunan kembar. Kau cari info sebanyak-banyaknya dan bekerjasamalah dengan Hannah." Tae Sang menutup panggilannya dan memijat pelipisnya. Kepalanya terasa sakit. Semuanya tidak semudah yang ia pikirkan.


" Siapa wanita itu? Siapa Eva? Apa aku salah mengira?" gumamnya.


" Tuan Muda! Sebaiknya Anda menemui dokter yang menangani Nona Sie. Jika memang benar Nona Sie masih hidup, kenapa dokter itu tidak memberitahu pihak keluarga? Saya rasa sebaiknya kita mencari tahu dari dokternya, Tuan." Saran Han, salah satu Bodyguard Tae Sang yang memang terkenal pintar.


Tae Sang perlahan melihat Bodyguardnya lalu tersenyum dan mengangguk. Tae Sang mendekat dan menepuk bahu Han.


" Kau benar, terima kasih sudah mengingatkanku. Ambillah bonusmu setelah kembali ke Korea." Tae Sang berlalu meninggalkan Han dengan mata dan mulutnya terbuka tak percaya. Lim melihat temannya dan cemberut, karena tak mendapat bonus.


" Hehehe... maaf ya..." Ucap Han sambil menepuk bahu Lim dan berlalu meninggalkan Lim.


3 hari setelah Eva pingsan, ia sudah merasa sehat dan kembali pulang ke rumahnya bersama Mahendra dan bibi Sofia. Beberapa hari ia tak lagi melihat Tae Sang. Ada rasa kecewa terbersit di hatinya tapi segera ia tepis.

__ADS_1


" Eva, aku harus kembali ke Indonesia. Aku sudah terlalu lama di sini. Apa kamu gak apa apa aku tinggal?" tanya Mahendra malam itu.


" Iya, aku gak apa apa. Kamu kan harus kerja" sahut Eva tersenyum.


" Baiklah. Aku akan menjemputmu bulan depan. Kita ke Indonesia dan mengatur pernikahan kita bagaimana?"


" Baiklah." Mahendra memeluk dan mengecup pucuk kepala Eva.


Beberapa hari setelah kepergian Mahendra, Tae Sang datang dan mengunjunginya. Tak ingin dibilang tak sopan, Eva selalu menerima ajakan Tae Sang dengan baik dan berbicara dengannya serta bermain bersama anak-anak laki-laki itu.


Bibi Sofia tersenyum bahagia setiap kali si kembar datang dan merecokinya dengan berbagai macam pertanyaan. Sudah lama ia tak merasakan kebahagiaan dengan adanya anak-anak kecil. Anak satu-satunya meninggal saat masih berumur 6 tahun karena Leukemia (Kanker Darah).


Kalev yang mengetahui kedekatan Tae Sang dan Eva, tak bisa berbuat banyak. 2 tahun lalu ia bermaksud melamar Eva, tapi takdir berkata lain. Mantan wanita satu malamnya datang dan membawa seorang putra yang ternyata adalah anak kandungnya. Demi sang putra, ia menikahi wanita itu walaupun ia tak mencintainya.


" Eva, maukah kau ikut denganku ke Amerika?" tanya Tae Sang saat mereka sedang bercengkerama di depan perapian di ruang keluarga, rumah Eva.


" Iya, di sana ada butik terkenal namanya L'amour, mereka punya design..." Tae Sang menghentikan kata-katanya ketika ia melihat perubahan raut wajah Emy.


" Kamu gak apa apa? mau obat?" Tanya Tae Sang panik, sementara si kembar dan bibi Sofia sedang asyik membuat pizza.


" Tidak kok, tidak apa-apa... kepala saya cuma pusing dikit." ucap Eva sambil memijat pelipisnya.


" Bagaimana? Apa kau mau ikut?" Tanya Tae Sang lagi.


" Ehm, saya tidak tahu. saya harus ijin Mahendra. Dia tunangan saya. saya tidak enak kalo nanti dia tahu." Jawab Eva tersenyum kecut.

__ADS_1


" Ehm... baiklah. Bagaimana kalo kita ke Jakarta dulu supaya kamu bisa ijin Mahendra. Sekalian kasih kejutan, gimana?"


" Ehmm... Baiklah. saya nanti bicara dengan bibi. oh, ya... apa saya boleh ajak bibi Sofia?" Mata Eva berbinar dan sangat indah. Tubuh Tae Sang membeku.


' Tatapan itu.' lirihnya dalam hati.


" Daddy!" Panggil si kembar. Lamunan Tae Sang buyar dengan suara dahsyat kedua putranya.


" Daddy, daddy tatuh tinta cama Mommy, ya? ( Daddy, daddy jatuh cinta sama Mommy, ya?)" Tanya Micko polos. Muka Eva dan Tae Sang merona membuat kedua anak kembarnya dan bibi Sofia terkekeh geli.


Di tempat lain, Hannah Kang merasa pusing dengan tingkah Emy. Setiap hari dia selalu melakukan tindakan yang sama. Selain itu, ia juga jengah dengan kebiasaan Emy meminta makan di restoran. Setiap kali ia menolaknya ia akan bertingkah seperti anak kecil dan mengadu pada Evan. Akibatnya Hannah dan Evan kini sering bertengkar.


Dan yang membuat Hannah semakin marah dan kesal, karena permintaan Emy untuk bekerja di L'amour. Bukannya ia tak mau Emy kembali ke L'amour, tapi kondisi psikologis Emy yang tak memungkinkannya bekerja. Tapi sepertinya Emy tak peduli akan hal itu. Ia selalu menangis dan ingin ikut bekerja. Awalnya ia mengijinkan, tapi 2 hari ia berada di L'amour, pegawai L'amour mengeluh karena Emy yang suka mengambil baju tanpa ijin dan memecat karyawan tanpa sepengetahuannya dan Evan.


" Evan, dia bukan Emy! Aku yakin itu.." ujar Hannah di sela-sela kegiatannya melayani suaminya mengambil makanan.


" Hannah, dia lupa siapa dirinya. Dia pasti berubah kalo ingatannya pulih. Sabar ya, sayang," bujuk Evan pada istrinya. Hannah menghembuskan nafasnya kasar. Ia tak lagi berselera makan. Setelah melayani suami dan anak-anaknya makan siang, ia kembali ke L'amour.


" Ah, Madam! Maaf, tapi saya tidak bisa jika harus terus bekerja dengan pimpinan seperti Nona Sie. Saya tidak mampu, Madam...hiks hisk.." Keluh seorang karyawan saat Hannah menginspeksi gudang.


" Mandy, katakan ada apa lagi dengan Emy?" tanya Hannah lembut dan mengajak wanita itu duduk.


" Madam, tadi dia mengambil lagi beberapa baju, tapi dia melarang saya mencatatnya di sini. Dia mengancam saya, Madam. Tapi, saya tidak mau kalau saya nanti disuruh tanggung jawab. Saya tidak punya uang, Madam. Saya ini mahasiswi. Saya membiayai kuliah saya sendiri, karena itu saya bekerja di sini." Jelas wanita berambut pirang itu.


" Baiklah, kamu catat saja apa saja yang dia ambil. Jangan kuatir. Aku yang tangani." Ucap Hannah. Ia berdiri dan segera pergi ke kantor Evan.

__ADS_1


Ceklek


" EMY!"


__ADS_2