Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Kembali ke Rumah Tae Sang


__ADS_3

Semegah megahnya rumah orang, lebih baik di gubuk sendiri. Itulah yang dirasakan Emy sepulang dari rumah sakit, berdiam dirumah sendiri, lebih baik daripada tinggal dengan seseorang yang jelas jelas membencinya. Merenungi semua yang telah terjadi dalam hidupnya, Emy tersenyum miris. Jalan kehidupan yang ia jalani selalu pahit. Ingin rasanya ia pergi dan berlari, menjerit dan memprotes takdir. Tapi ia tahu, semuanya percuma. Hidup harus dijalani bukan dihindari, ia harus terus melangkah dan tak menoleh ke belakang. 


Emy tertidur setelah meminum obatnya. Seorang wanita yang tegar, itulah yang dapat dideskripsikan pada wanita bertubuh kecil itu.


Cahaya sang mentari berangsur angsur menghilang, giliran sang malam menampakkan senyumnya. Dr. Lee dan Hannah sudah lama kembali setelah mereka melihat Emy tertidur dengan begitu pulas. 


Suara deringan ponsel yang nyaring akhirnya menyerah, setelah beberapa kali berteriak, sang empunya masih saja pulas dan tak ada gerakan untuk menyapa. Hanya gerakan kecil karena merasa sedikit terganggu.


Lagi lagi suara ketokan pintu dan bel rumah, membuat Emy menggeliat di tempat tidurnya. Ia membuka matanya yang terasa berat, karena baru 3 jam ia tertidur, efek dari obat anti nyeri yang ia konsumsi tadi. Dengan langkah gontai, Emy berjalan turun untuk membuka pintu, tak payah untuk mengganti baju. Tetap dengan baju rumahan, kaos oblong dan celana pendek, Emy mendekati pintu kayu yang terus saja digedor.


Ceklek


Manusia yang saat ini tak  ingin dilihatnya sudah berdiri didepan pintu rumahnya, dengan ekspresi yang tak terbaca.


“ Presdir?” Tae Sang masuk kedalam rumah Emy tanpa permisi dan tanpa mengganti sepatunya dengan sandal rumah. Emy memandang heran pada laki laki dengan postur 26cm lebih tinggi darinya itu. 


“ Presdir, kenapa anda kesini?” Tae Sang yang sedari tadi mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang tamu Emy, akhirnya melihat wanita yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


“ sekarang cepat bereskan bajumu, dan ikut aku kembali ke Villa.” Ucap Tae Sang dingin lalu kembali melangkah keluar meninggalkan Emy.


“ maaf Presdir, saya akan tetap disini!” seru Emy, karena lawan bicaranya kini telah berada di pekarangan rumahnya.


Tae Sang berhenti, menghela nafas, mengeraskan rahangnya lalu kembali mendekati Emy. Tatapan tajam ia tujukan pada Emy. 


“ dengar baik baik ya, wanita murahan, cepat bereskan bajumu, lalu ikut aku ke Villa. Jangan tunggu kesabaranku habis. Kau mengerti?!” 


“ maaf, Presdir. Sekali lagi saya katakan, saya akan tetap tinggal disini. Ini rumah saya dan ini tempat saya. “ protes Emy dengan nada tak kalah dinginnya.


“ lalu, untuk apa anda menjemput saya, Presdir?” 


“ hahaha... kau pikir kau siapa, aku menjemputmu, huh? Kalo saja kakek tak menyuruhku, mau kau tidur di kolong jembatan atau di jalanan kek, aku tak peduli! Mau kau mati, mau kau sakit, aku gak peduli! Tapi demi kakekku, aku melakukannya. Entah apa yang sudah kau katakan pada kakekku. Tapi, aku, Kim Tae Sang, akan mengakhiri ini semua, dan membuka kedokmu di hadapan kakek! Ingat itu!!” sakit rasanya hati Emy mendengar perkataan itu keluar langsung dari mulut pria yang dulu sempat membuat hatinya berbunga. Ia sadar setelah kejadian malam itu, ia tak lebih dari sekedar pelampiasan saja. Tapi mendengar itu secara langsung, hatinya bagai tertusuk ribuan pisau. 


Dengan mata berkaca kaca, Emy terpaksa masuk kedalam rumah, menata baju bajunya kedalam koper lalu ikut kembali ke Villa bersama dengan Tae Sang. Sepanjang perjalanan, tak ada suara, hening dan senyap. Hanya suara deru kendaraan yang terdengar. Duduk berdua dengan Tae Sang di kursi penumpang, membuat Emy tegang.


Seakan wanita disebelahnya hanya angin belaka, Tae Sang asyik bercanda dengan Helena di udara. Kekhawatiran dan pikiran negatifnya yang sempat terlintas di benak karena mendengar percakapan di toilet bar tadi malam, menghilang setelah ia mendengar suara manja nan seksi milik pujaannya walau hanya melalui ponsel.

__ADS_1


Emy mengeluarkan ponselnya dan memeriksa chat dan panggilan masuk di ponselnya. Setelah beberapa hari tak masuk kerja, ternyata ada begitu banyak chat dan panggilan yang masuk. Satu per satu Emy membalas chat dan sesekali membuka email dengan akun L’amour yang sudah begitu lama tak ia buka.


“ Presdir, kita sudah sampai!” kata sopir pribadi Tae Sang tiba tiba. Tae Sang mengangguk dan segera membuka pintu mobil, lalu beranjak masuk ke dalam Villa, meninggalkan Emy yang masih didalam mobil dan mengemas tas ranselnya. Emy mengeluarkan koper dengan dibantu sopir pribadi Tae Sang, yang sudah berumur itu.


“ makasih, ahjussi...” Emy membungkuk dan mengambil kopernya dari tangan paman Im.


“ sama sama... saya permisi dulu ya...” jawab paman Im lalu kembali masuk kedalam mobil dan membawa mobil masuk kedalam garasi. 


Emy menyeret koper kecilnya dan masuk kedalam rumah. Ia tak melihat Tae Sang baik di ruang tamu maupun ruang TV, di dapur juga tak ada, Emy mengeluarkan benda berbentuk segitiga dari dalam tas ranselnya, dan menyimpan didalam kulkas. Emy segera masuk kedalam kamarnya, melepas jaket dan celana panjang lalu berbaring. Tak membutuhkan waktu lama, Emy sudah berada di alam mimpi.


Tae Sang kembali bergelut dengan komputernya, ia terus berusaha mencari informasi tentang informan yang telah membantunya mengatasi permasalahan di kantornya. Ia juga telah memperkerjakan hacker handal, tapi belum berhasil. Bukan ia ingin mengorek keterangan tentang pribadi sang informan, tapi ia ingin merekrutnya dan menjadikan sang informan sebagai karyawan di Perusahaan IT Kimtae Tech, yang ia dirikan 4 tahun lalu. 


Tae Sang juga sudah menyuruh Byun Hyuk mencari informasi tentang hacker misterius itu, tapi hasilnya selalu nihil. Lewat tengah malam, Tae Sang akhirnya memutuskan menghentikan pencariannya hari ini dan beristirahat. Besok Ia harus memfokuskan diri, untuk mencari dokter yang dapat menangani adik sepupunya, Kim So Nam, yang kian hari kondisinya kian parah. Padahal adik sepupunya itu, harus menjaga keponakannya yang masih balita, karena ibunya yaitu kakak So Nam, So Yin, masih terbaring koma, di rumah sakit, sedang ayah sang balita sudah pergi entah kemana, setelah Tae Sang menghancurkan perusahaannya.


Sementara itu, Hannah Kang hari ini merasa begitu bahagia, karena pria yang sudah merajai hatinya, menelepon, ya walaupun bukan untuk menanyakan kabar tentang dirinya, tapi ia masih merasa bahagia karena bisa mendengar suara yang sangat ia rindukan.


Sudah beberapa bulan dan ia masih belum mendapat waktu untuk bisa berkunjung dan bertemu pemilik hatinya. Rindu yang ia rasakan sungguh tak terbendung, saat pria pujaannya itu menelepon, ingin sekali ia berlari dan segera berada disisi pria asing itu, tapi ia tahu, ia juga masih harus menjaga sahabat yang juga sudah ia anggap adik.

__ADS_1


__ADS_2