
Tae Yang yang berhasil menyusul mereka keluar dan menembaki keduanya.
Dorr ... Dorr
" Aaahhh ..."
Brukk...
Tubuh si sekretaris terjatuh. Tae Yang dibantu dengan anak buahnya terus mengejar "sahabat" nya itu.
Dorrr ... Dorr ...
Dari kejauhan Tae Yang melihat Presiden Chasung Industries itu tersungkur tak berdaya dengan darah mulai mengalir keluar dari mulut dan punggungnya.
" Bawa dia, ke markas!!" titah Tae Yang
Drrtt ... Drrrt ...
" Bagaimana?!"
" ......."
" Apa kau bilang? Kenapa sampai istriku terluka??!!" geram Tae Yang dan menutup kasar panggilannya.
" Ke Emerald, sekarang!!" titahnya pada seorang anak buah yang berdiri di dekatnya.
Dorrr ....
Belum sempat Tae Yang masuk ke dalam mobilnya, suara tembakan membuatnya terkapar bersimbah darah
" Tuan Mudaaaa..." pekik bodyguard Tae Yang.
Di dalam mobil Ambulan, Emy meminta Paramedik menghangatkan Salin (cairan infus). Ia juga melepas semua baju Mikha dan Micko. Lalu menutupi badan kedua putranya dengan selimut dan jaket. Evan juga memberikan jaketnya untuk menutupi tubuh cucunya itu.
" Dok, ini Hand Warmer (kantung berisi penghangat biasanya dijual di negara-negara sub tropis)" ucap seorang Paramedik.
Emy segera menyambarnya lalu mengambil isinya dan menaruhnya di leher, ketiak dan ************ Anak-anaknya.
Setelah Salin siap, Emy meminta Paramedik untuk memasang infus di lengan kedua Putranya.
Evan merasa heran karenanya. Tapi, ia hanya berpikir bahwa mungkin karena yang ia tangani adalah puteranya sendiri, jadi Emy tak mau melakukannya.
Emy terus menangis menatap kedua buah hatinya. Hidung kecil itu tertutup dengan masker oksigen (ventilator) dan dada yang terpasang kabel Bed Monitor.
" Sayang, berdoalah semoga mereka baik-baik saja, hmm? Mereka adalah cucu-cucuku yang tangguh. Sama sepertimu, Nak," hibur Evan. Ia sendiripun tak kuasa menahan rasa sesak didadanya, tapi demi Putri kesayangannya, ia harus mampu dan kuat.
Emt terisak dalam pelukan Evan. Tiba-tiba suara alarm bed monitor mengejutkannya.
Tit .... Tit ....
" Oh, tidak ..." Emy melihat detak jantung dan nadi Micko melambat.
" No ... no ... no ... Mickoooo ..."
" AMBU, SIAPKAN AMBU SEKARAAANGG!" jerit Emy
Paramedik segera memberikan Ambu. Emy menatap alat bantu nafas untuk Resusitator (alat untuk membantu jalan nafas) tanpa bergerak.
__ADS_1
" Emy! Emyy!!" panggil Evan. Emy terkejut dan menyerahkan Ambu Bag pada Paramedis.
" Kau lakukan!" titahnya.
Paramedik dan Evan keheranan dibuatnya. Tapi, kesadaran Paramedik segera kembali ketika ia mendengar alarm Bed Monitor semakin berteriak.
" Hati-hati dengan giginya!" kata Emy
Emy menangis dan menatap tangan kanannya. Ia merasa tak berguna di saat kedua Putranya membutuhkannya.
Micko berhasil ditangani. Level oksigennya juga naik. Evan dan Emy bernafas lega. Emy menatap Paramedik dan meraih tangannya. Paramedik itu terkejut dan melihat Emy yang tersenyum dengan air mata membanjiri pipi mulusnya.
" Terima kasih .... terima kasih ..." lirih Emy
" Eh ... eh ... iya, Bu. Sudah tugas saya, hehe ..." kata Paramedik itu dengan wajah memerah karena Emy yang terus memandangnya.
Emy menarik kembali tangannya dan meraih tangan kedua putranya yang tidur saling bertentangan, dengan kepala mereka di tengah-tengah brankar.
" Nak, sekarang, biarkan dia mengobati lukamu," tutur Evan.
Emy mengangguk. Petugas Paramedik itu segera mengambil gunting dan menggunting lengan baju Emy setelah melepas balutan sobekan kaosnya pada lukanya.
Emy mendesis perih ketika Paramedik mengoles alkohol pada lukanya.
Bibir Emy mulai berubah warna, bahkan pandangannya kian rabun. Wanita itu berusaha mengembalikan kesadarannya.
"Emy ... Emy ... kamu kenapa, Nak? Emy ..." panggil Evan.
" Dia kenapa?" tanya Evan pada Paramedik dengan bahasa Korea yang sangat kaku dan aneh.
" Bu ... Bu ..." panggil Paramedik. Ia segera menyandarkan Emy dan memeriksa dadanya menggunakan sretoskop. Ia juga menyinari mata Emy.
" Ehm ... saya tidak mengerti." kata Evan dalam bahasa Korea yang amburadul
Paramedik akhirnya mengambil ponselnya dan membuka Google Translate. Barulah Evan mengerti. Ia mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Tae Yang. Tapi tak ada jawaban
Akhirnya Evan menghubungi dr. Lee.
" Lee, Emy hilang kesadaran. Dia tertembak. Mikha dan Micko juga mengalami Hipotermia,"
" ..............."
" Kami sudah dalam perjalanan ke Emerald,"
" ............"
" Entahlah aku tak bisa bahasa Korea, kau periksa GPSku saja" kata Evan dan menutup ponselnya.
Di Rumah Sakit Emerald, dr. Lee segera berlari ke ruang IGD dan berteriak meminta semuanya berkumpul.
" Cepat hubungi dr. Ma, dr. Han, dr. Jeong dan dr. Yin. Sebentar lagi akan ada pasien VVIP yang membutuhkan penanganan cepat. Luka tembak untuk dewasa dan Hipotermia pada 2 anak umur 5 tahun...
Perawat Min, siapkan Hemodialisis untuk berjaga-jaga dan kompresan air hangat.
Perawat Yun, siapkan ruang OPE 1 dan minta dr. Ma untuk membantuku nanti. Lalu ..."
Krriiiinggg .... kriiingg...
__ADS_1
" Hallo, IGD ..."
" ........."
" Baik, Baik ..."
Perawat Jung segera berteriak pada dr. Lee
" Dokter Lee! Tuan Kim akan datang dalam 5 menit. Kondisi luka tembak!" serunya.
" Apa?!"
Dokter Lee mengusap kasar wajahnya.
" Baiklah, perawat Min siapkan ruang OPE 1 dan minta dr. Ma memimpin dan dr. Jeong sebagai asisten. Aku dan dr. Yin di OPE 2."
" Maaf, dr. Lee. OPE 1 masih aktif."
Dokter Lee memejamkan matanya. Ruang OPE 1 dan 2 adalah ruang OPE yang sudah lengkap untuk bedah seperti ini. Sedang OPE 3 biasanya hanya untuk Operasi Caesar dan operasi ringan lainnya.
" Baiklah, tapi coba cek peralatannya. Jika ada yang kurang lengkap, minta di bagian peralatan, mengerti?!"
Jung Hyuk begitu gelisah selama penerbangan. Sejak ia menerima kabar si kembar diculik, hatinya berkecamuk. Ia sangat menyayangi si kembar, seperti ia menyayangi Su Yong, Putri kandungnya.
" Apa masih lama?" tanya Jung Hyuk untuk kesekian kalinya pada seorang bodyguard yang mengikutinya pulang ke Korea
Bodyguard itu menghela nafas dan melihat superiornya itu jengah.
" Pak, ini sudah yang ke-15 kali Anda bertanya. Jawaban masih sama, 5 jam lagi baru sampai,"
" Urrgghh ... suruh si Pilot tancap gasnya!"
" Pak, ini bukan mobil!" jawab Bodyguard itu dan menatap Jung Hyuk horor. Ia takut bahwa superiornya itu akan benar-benar menyuruh Pilot untuk menancap gas.
" Si kembar diculik! aku harus cepat kembali!"
" Pak, jangan lebay. Walaupun Bapak kembali, Bapak mau apa? Tuan Muda saja belum dapat informasinya,"
" Hei! Kurang ajar kamu! Jelek-jelek gini, Bos kita itu selalu mengandalkan aku untuk semuanya. Otakku beda sama kamu punya .."
" Bapak sadar kalau Bapak jelek? Otak saya jelas beda dengan Bapak karena saya orangnya realistis. Tunggu perintah," jawab si Bodyguard enteng.
" Kyaaa!! kau berani mengataiku?!" sentak Jung Hyuk kesal
" Saya tidak mengatai, Bapak. Kan, Bapak sendiri yang bilang Bapak jelek ..." kata si Bodyguaed dengan wajah tanpa dosa
Bugh ...
" Aahh! Bapak! Ish ... sakit, Pak!" ringis Bodyguard itu setelah mendapat hantaman sepatu Jung Hyuk
" Salah kamu sendiri, enak saja kamu mengataiku, huh ..."
" Pak! Kan memang Bapak sendiri yang bilang, gimana sih?" protes Bodyguard itu lagi.
" Belum pernah makan cuka, ya? aku sumpal mulutmu pakai kaos kaki, kalau bawel terus kamu kerjaannya ..."
" Kalau itu sih bukan cuka, Pak. Kotoran **** yang iya ..."
__ADS_1
Bodyguard itu segera berlari dan berpindah tempat duduk jauh di belakang Jung Hyuk.