
" Katakan padaku, Paman. Apa yang terjadi? kenapa Paman bilang Mikha dan Micko yang mendownload video itu?!" selidik Emy.
Evan memijat tengkuknya dan meringis. Salivanya terasa berat untuk ditelan.
" Paman!" teriak Emy
Dennis dan Evan tersentak kaget.
" Em! apa-apaan sih teriak-teriak?!" sergah Dennis.
" Ini, aku bertanya, tapi Paman Evan belum jawab," adu Emy
" Iya, tapi jangan teriak-teriak begitu, biar bagaimanapun dia lebih tua darimu," tutur Dennis
" Hei! aku tidak tua!" bantah Evan. Dennis terkikik mendengarnya
" Ya, ya ... hanya saaaangat dewasa dan saaangat matang ..." ledek Dennis
" Dennis!" seru Evan
" Ya, Paman! aku disini?" jawab Dennis dengan cengirannya
" Hei! aku bukan Pamanmu!"
" Paman adalah Paman Emy, jadi ya .. Paman juga Pamanku, heheheh ..."
" Enak saja! kau lebih cocok jadi adikku. Usiamu tak berbeda jauh dariku!" kilah Evan
" Hohoho ... benarkah, Paman? baiklah ... asal Paman suka ... hahaha ..." goda Dennis lagi.
" Ck ... hei! Paman! ayo jawab aku!" kekeh Emy
" Ehm ... itu, Mikha dan Micko tanya soal Daddynya dan melihat Hawk memakai komputermu ... lalu ... mereka menyingkirkan Hawk dan ... melakukannya (memperagakan gerakan mengetik),"
Emy mendelik mendengarnya, " Katakan, siapa lagi yang tahu?" tanya Emy
" Ehm ... hanya aku, Hawk dan Luther .." jawab Evan lalu melipat bibirnya.
Emy memegang kepalanya yang terasa sakit. Kini yang tahu kemampuan Mikha dan Micko bukan hanya dirinya dan Tae Yang tapi juga 3 orang lainnya
" Paman Evan, maksudmu ... keponakanku bisa ..." kata Dennis sambil menunjuk komputer.
Evan mengangguk dan menunjuk flashdisk di tangan Dennis
" Itu ... semua Mikha dan Micko yang menemukan dengan ... ya ... itu ... ( memperagakan gerakan mengetik)"
Mata Dennis mengerjap dan perlahan melihat ke arah Emy yang terlihat gelisah dan mengigit kukunya
" Hei! kenapa kamu malah seperti ketakutan begitu, bukannya senang Anak-anakmu sangat pintar," ucap Dennis
" Kak, mereka masih 5 tahun dan baru 6 tahun bulan depan. Aku tak mau mereka menjadi incaran banyak orang. Aku mau mereka dapat menikmati masa kanak-kanaknya seperti Anak-anak lain, dan tidak dikejar-kejar orang-orang untuk menjadikan mereka robot pencari uang," jelas Emy panjang lebar
" Hei! hei! tenanglah. Tidak akan ada yang berani menyentuh Anak-anakmu, Em. Tenanglah," ucap Dennis dan memeluk Emy memberi ketenangan.
Evan juga berdiri dan mengusap kepala Emy.
" Iya, sayang. Tenanglah. Tak akan ada yang bisa menyentuh mereka, aku yang akan bertindak dulu jika ada yang berani," ucap Evan
" Hei! aku yang duluan!" kata Dennis tak mau kalah
" Hei! aku Kakeknya dan aku juga Mantan Komandan Seal!" seru Evan
" Aku Pamannya! aku juga seorang tentara!" seru Dennis
" Tapi aku lebih berpengalaman darimu!" kata Evan
" Aku juga sering di medan tempur!"
Emy menjadi sakit kepala mendengar perdebatan dua orang besar tapi berotak Anak kecil itu, dan memutuskan untuk pergi dari sana dan mencari Anak-anaknya.
__ADS_1
Luther baru saja memasuki ruang tengah Mansion Kim. Langkahnya terhenti ketika ia melihat Mikha dan Micko sedang bercanda dengan 2 orang yang tak ia kenal.
" Mikha! Micko! Paman pulang!" seru Luther. Mendengar namanya dipanggil, si kembar berbalik dan tersenyum lebar melihat Paman kesayangan mereka datang.
" Pamaaaannn!!!" seru keduanya dan segera berlari ke arah Luther. Lelaki dengan bulu-bulu halus disekitar rahang dan bibirnya itu tersenyum dan segera berjongkok menyambut pelukan 2 bocah yang sangat ia sayangi
" Hallo, sobat! apa kabar? lagi main apa?" tanya Luther
" Ehm itu ... Mikha mau buat Istana buat Eun Ha, tapi selalu dirobohin Micko," adu Mikha cemberut
" Karna Eun Ha memang hanya suka Paman Luther. Mikha gak boleh sama Eun Ha," cerocos Micko.
Luther mendelik mendengar ucapan keduanya.
" Hahaha ... Eun Ha juga keponakan Paman jadi Eun Ha juga suka sama Paman, seperti Mikha sama Micko suka sama Paman," ujar Luther
" Tidak! Eun Ha bilang kalau besar dia maunya menikah sama Paman, bukan sama Mikha," ucap Micko membuat Mikha tertunduk sedih
" Hahaha ... ada-ada saja kalian ini. Ayo, Mikha Micko kita buat Istana buat Mikha, Micko, Eun Ha juga Paman. Bagaimana?" saran Luther
" Hmm .. baiklah, Paman. Kalau Paman memaksa," ucap Mikha lalu berbalik dan berjalan
Luther mengangkat alisnya dan tersenyum geli.
" Hallo, maafkan kami, tapi ... Anda siapa, ya? sepertinya Anda sangat dengan cucu-cucu kami," tanya Lienda sopan dalam bahasa Inggris
" Cucu kalian?" tanya Luther balik dan menatap pasangan suami istri di depannya bingung
" Iya, kami ... orangtua kandung Emilia. Saya Lienda dan ini suami saya, Yason," jawab Lienda dengan senyumnya
" Oh, kalian orangtua kandung Emy Sie? saya kakaknya Emy. Saya Luther Howland," jawab Luther datar dan menekan kata Emy Sie.
Lienda dan Yason menjadi salah tingkah. Keduanya tersenyum canggung
" Apa Emy tahu kalian berdua disini?" tanya Luther sinis
" Aku yang membawa mereka kemari, Luther," potong Emy. Saat ia menuruni tangga ia melihat Luther menatap tak suka pada kedua orangtuanya. Ia sangat memaklumi itu.
Luther menoleh dan melihat Emy yang tersenyum melihatnya. Luther menghela nafas dan menghampiri Emy
" Kau masih menerima orang yang sudah membuangmu, menolakmu, menghinamu, dan menjualmu, di rumah ini?" geram Luther dengan bahasa Perancis agar orangtua Emy tak mengerti.
" Luther, biar bagaimanapun mereka adalah orangtuaku. Yang melahirkanku. Mereka juga sudah menyesali perbuatan mereka, aku mohon. Jangan seperti ini," ucap Emy dalam bahasa Perancis pula.
" Entahlah, aku lelah. Aku naik dulu" Lelaki bertubuh jangkung dan atletis itu segera naik ke atas dimana kamar yang ia tempati di Mansion Kim berada.
Emy memejamkan mata dan menghela nafas lalu mendekati kedua orangtuanya.
" Mi, Pi, maafin Luther, ya? dia orangnya memang begitu, sangat sensitif," ucap Emy memelas.
" Sayang, kami mengerti. Mereka kecewa pada kami, karena mereka sangat menyayangimu. Kami tak apa. Kami malah bersyukur, karena banyak yang menyayangimu," kata Yason tulus
" Terima kasih pengertiannya, Pi," ucap Emy.
Sore hari, Emy membawa Yason ke rumah sakit. Emy menyuruh Lienda tinggal dan membantunya menjaga Anak-anak. Dennis juga tak ikut, karena Evan mengajaknya berdiskusi dengan Luther, Jung Hyuk dan Pengacara Oh.
Di rumah sakit, Yu Zhen dan dr. Lee sudah menunggu dan menyiapkan semuanya.
" Oppa! apa sudah siap semuanya?" tanya Emy.
" Hmm!"
" Baiklah, Papi juga lagi premedikasi. Aku akan scrubbing dulu," kata Emy dan segera pergi diikuti Yu Zhen dan dr. Lee
" Apa kau yakin akan berhasil?" tanya dr. Lee.
Emy menoleh menatap dr. Lee dan mendesah.
" Kita lihat saja saat sudah dibuka nanti," ucap Emy dan berlalu masuk ke dalam ruang operasi yang sangat ia rindukan. Sungguh, ia tak menyangka bahwa ia akan berani lagi masuk ke ruangan ini, setelah beberapa tahun ia tak memasukinya.
__ADS_1
" Tuan Yason Lumanauw sudah siap!" seru seorang perawat yang mendorong masuk brankar Yason.
Emy mendekati Papinya yang sudah terpejam dan tersenyum.
" Papi, bertahanlah untukku," lirihnya. Dokter Lee mengusap bahunya dan menepuknya lembut.
" Kita mulai," ucapnya
Emy mengangguk. Dokter Anestasi mulai melakukan tugasnya.
" Vital normal, BP (tekanan darah) Normal, HR ( detak jantung) Normal," kata dokter Anestesi.
Yu Zhen yang memimpin pembedahan mengangguk mengerti.
" Scapel!" pinta Yu Zhen. Si perawat memberikannya pada Yu Zhen
" Tunggu dulu!" seru Emy
" Ada apa?" tanya dr. Lee. Emy menatap lekat hasil MRI
" Kita sepertinya tidak bisa menggunakan pendekatan AO. Tumor sudah menginfiltrasi Tulang (masuk ke dalam tulang), tidak akan ada jaminan sembuh total jika seperti ini. Pasti akan kembali tumbuh di waktu dekat," ucap Emy
" Lalu, apa yang akan kita lakukan?" tanya dr. Lee
" Inoperable (tidak bisa dioperasi)!" kata Yu Zhen dari belakang. Emy menatap tajam Yu Zhen
" Ganti prosedur!" seru Emy, " Perawat! bawa cairan Nitrogen kemari! cepat!"
" Apa maksudmu? untuk apa cairan Nitrogen? kenapa ganti prosedur?" kata Yu Zhen
" Saya punya ijin pasien dan saya adalah keluarganya. Saya mengijinkannya!" kata Emy dingin
" Tapi ... kenapa cairan Nitrogen?" tanya dr. Lee
" Lakukan saja sesuai arahanku," ucap Emy. Semua menghela nafas tak mengerti apa yang Emy lakukan
" Buat irisan vertikal disamping lutut," ujar Emy
" Baiklah, Scalpel (pisau bedah)" pinta Yu Zhen pada perawat
" Metzen (gunting bedah yang dirancang untuk memotong jaringan halus dan diseksi tumpul.)" lanjut Yu Zhen
" Kocher ( alat bedah seperti gunting bergigi tajam pada salah satu sisi ujungnya. Berfungsi menjepit dan menahan agar jaringan tidak mudah lepas)!" pinta dr. Lee dan mulai membantu Yu Zhen
" Status, 80/100/15," kata dokter Anestasi. Emy mengangguk dan kembali memperhatikan Yu Zhen
" Bipolar!" pinta Yu Zhen, dengan cepat perawat memberikan padanya
" Lanjutkan bagian tumor di bagian Femur (tulang paha). Keluarkan Condylus (bagian sendi dari tulang yang membesar dan berbentuk bulat) Femur," ucap Emy
Semua syok mendengar Emy. Dengan tenang Emy melihat mereka
" Lakukan!"
Dengan berat hati, Yu Zhen melakukan permintaan Emy
" MCL ( Medial Colateral Ligament). Pean (klem/gunting arteri)!"pinta Yu Zhen
" Isolasi Ligamen!" ucap Emy
" Mosquito ( Klem arteri bengkok/ bentuk seperti gunting)" pinta Yu Zhen
" Ekspos femur sepenuhnya!" kata Emy
Semua melihat ke arah Emy lagi. Dan dengan terpaksa mereka melakukannya
__ADS_1