Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Pemindahan Aset


__ADS_3

Di Lobby rumah sakit, Hannah sudah menunggu. Ia sengaja datang menjemput Emy. Bukan tanpa alasan, tapi ia khawatir dengan perkataan Emy tadi pagi.


Ia tak mau terjadi sesuatu yang akan membuatnya menyesal karna tak bisa menjaga Emy sahabatnya.


Flashback on


Pagi itu Hannah baru selesai dengan ritual mandinya. Masih dengan Bathrobe dan rambut yang setengah basah, Hannah keluar dari kamar untuk mengambil masker kesukaannya di kulkas.


Langkahnya terhenti, ketika ia melihat Emy yang sudah begitu cantik dan rapi. Tak seperti dulu yang hanya memakai kemeja longgar dan celana jeans, serta tak lupa kacamata yang membuat wajah cantik Emy seperti cupu.


Saat ini Emy, memakai atasan peplum hitam tanpa lengan dan celana kulot panjang semata kaki berwarna krem dan sepatu heels 7cm. Sangat cantik.


" Emy-a, masih pagi mau kemana?" tanya Hannah mendudukan bokongnya di kursi yang ada disebelah Emy.


Tak ada jawaban dari Emy. Ia masih mengoles selai kacang ke rotinya dan melahapnya.


" Aku harus ke rumah sakit. Ada yang harus kukerjakan." jawab Emy lalu menyesap jus yang ada di depannya.


" Oh .. mau kuantar?" tanya Hannah lagi.


Ia masih belum yakin melepas Emy. Adik angkatnya itu baru saja pulih. Baru hari ini Emy mengatakan akan bekerja.


" Tidak usah. Aku naik taksi online ... oh, ya nanti aku pulang telat. Tidak usah menunggu aku. Bye!"


Selesai mengatakan itu, Emy meraih tasnya dan pergi. Hannah hanya bisa menghembuskan nafas berat.


Emy sudah berubah. Tak ada lagi sorot kehangatan dimatanya. Kata-katanya pun tak lagi seramah dulu. Ia hanya akan mengucapkan yang perlu. Tak ada candaan. Hannah sedih melihat adiknya itu.


Flashback off


" Hannah, kenapa kamu ada disini?" tanya Emy datar, ketika ia melihat Hannah sudah berdiri beberapa meter di depannya.


" Hehehe ... chagi ... aku menjemputmu.." jawab Hannah dengan cengiran.


Emy berjalan melewati Hannah, dan segera  diikuti oleh sahabatnya itu


" Emy-a aku ikut, ya...?" rengek Hannah. Melihat ekspresi Hannah dan gelayutan manjanya, akhirnya Emy luluh juga.


Hannah, sahabatnya yang selalu ada baik suka maupun duka, tak ada hati untuknya menolak wanita berpipi chubby itu.

__ADS_1


" Baiklah, tapi nanti tunggulah di mobil." jawab Emy. Hannah mengangguk senang. Tanpa melepas gandengannya di lengan Emy, mereka berdua berjalan menuju parkiran mobil.


" Oke, kita kemana, tuan putri?" tanya Hannah, saat keduanya sudah berada di dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman.


" Green Cloud Caffe. Aku akan beri  rutenya." Emy menyetel lokasi tujuannya pada monitor GPS Navigator di mobil Hannah


25 menit kemudian, mobil merah Hannah telah terparkir rapi di sebuah cafe dengan design minimalis.


" Han, aku masuk dulu," kata Emy. Hannah mengangguk mengiyakan.


Emy melangkah anggun masuk ke dalam cafe yang juga beberapa kali di pakai sebagai tempat syuting drama korea. Dan drama yang paling terkenal yang memakai tempat ini adalah "Kill me Heal me"


Emy memilih meja yang berada di dekat pilar besar. Seorang pelayan datang dan menawarkan menu. Emy mengangguk dan melihat menu itu.



" Americano 1 dan Honey Bread 1... ah tambah 1 Lemonade. Terima kasih."


Pelayan itu segera mencatat pesanan Emy dan berlalu. Emy tetap duduk dengan anggun. Ia sesekali terlihat melihat jam di ponselnya.


Tak beberapa lama, seseorang yang ia tunggu datang juga. Laki-laki itu tersenyum dan duduk di depan Emy.


" Emy, akhirnya kau bersedia menemuiku. Aku... aku..."


Emy hanya memperhatikan laki-laki itu. Tak ada kata yang keluar dari bibir wanita cantik yang sedari tadi duduk dengan begitu anggunnya.


" Emy, aku tahu ... kau masih belum bisa memaafkanku. Tapi bisakah kau katakan padaku, apa yang dapat aku lakukan untuk menebusnya?" tanya laki-laki itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Ketulusan penuh penyesalan terlihat jelas dari sorot mata hijau laki laki itu.


" Aku hanya butuh sesuatu darimu," jawab Emy tanpa melepas tatapannya.


" Katakan ... katakanlah Emy, aku akan melakukannya. Kau meminta nyawaku sekalipun, aku akan memberikannya untukmu," Jawab laki-laki itu semangat.


" Luther. Aku tidak pernah meminta nyawamu. Aku hanya mau kau membantuku 2 hal...." Kata Emy.


"Pertama, untuk mengurus pemindahan nama asetku, dan yang kedua aku akan katakan padamu nanti. Apa kau bisa?" lanjutnya.


" Pemindahan aset?" tanya Luther bingung melihat Emy dan mendapat anggukan sebagai jawaban.

__ADS_1


Pembicaraan mereka terhenti ketika pelayan membawa pesanan Emy.


" Ehm ... baiklah, katakan"


" Aku akan mengirimnya ke E-mailmu."


" Iya, tapi ..i kenapa kau mau..." tanya Luther menggantung.


Emy menyesap Lemonade yang ia pesan tadi lalu kembali menatap Luther.


" Tolong kerjakan saja yang aku minta dan jangan tanyakan apapun. Terlebih  memberitahu kepada siapapun tentang ini, sebelum aku mengijinkanmu. Apa kau paham?"


" Baiklah ... aku akan lakukan apapun untukmu Emy." kata Luther dan tersenyum.


" Baiklah. Itu saja. Aku pergi dulu. Americano dan Honey Bread ... kesukaanmu, kan? Makanlah. Aku pergi." Emy beranjak pergi meninggalkan Luther yang masih termangu melihat kue dan kopi di atas meja.


Air matanya menetes. Matanya menutup dan tersenyum. Ia membuka matanya, meraih kopi itu, menyesap dan menaruhnya kembali. Buliaran air mata kembali keluar ketika ia memakan roti madu.


" Kau masih mengingatnya..."


Flashback on


" Luther, kalau nanti aku dapat uang, kau mau aku belikan apa?" tanya Emy kecil yang saat itu sedang duduk bersama Luther di sebuah taman, menunggu Keanan yang mendaftarkan produk software Emy di kompetisi kampus.


" Hahaha ... sepertinya kau yakin akan menang?" goda Luther. Mendengar itu Emy menjadi kesal dan cemberut.


" Hei ... jangan marah, sayang. Nanti cantiknya hilang lho..."


Wajah Emy kian memanjang karna kesal dengan perkataan Luther. Segera Emy berdiri dan berpindah tempat duduk. Luther menggeleng melihat tingkah Emy.


" Kau tahu Emy, aku dulu ingin sekali makan Honey Bread dan minum Americano, tapi ... uangku tak cukup. Jadi, kalau kau menang, apa kau mau membelikanku itu?" kata Luther tiba-tiba dan duduk di samping Emy.


Emy tersenyum ceria dan memperlihatkan lesung pipitnya. Ia mengangguk-angguk senang dan berjanji akan membelikan keinginan Luther itu.


Tapi belum sempat ia membelikan keinginan Luther, mereka harus segera ke rumah sakit, karena mendapat kabar Eomma harus dirawat.


Ketika eomma sudah kembali pulih, Luther dan Keanan di sibukkan tugas kuliah, Emy dan Evan dengan pencariannya mendapatkan rumah untuk para gelandangan, serta membuat lebih banyak produk untuk di jual, untuk memenuhi kebutuhan para gelandangan. Hingga akhirnya mereka terpisah-pisah dan tak bersatu lagi.


Falshback off

__ADS_1


" Aku rindu kebersaman kita semua, Emy, Appa, Eomma, Keanan...." lagi-lagi, Luther menitikkan air mata mengingat masa-masa indah keluarga mereka walau tak terikat hubungan darah.


__ADS_2