
“ Presiden! Maaf, tapi akan lebih sopan jika Anda mengetuk terlebih dahulu.” Kata Emy dengan wajah sebal menarik bibir bawahnya.
Tak ada respon dari Tae Sang, yang ada laki-laki itu segera duduk dan menyilangkan kakinya lalu melihat Emy tanpa ekspresi.
“ Apa yang bisa saya bantu, Presiden Kim yang terhormat? “ kata Emy sarkas.
“ Ada apa dengan So Yin, kenapa dia koma?”
“ Saya rasa, saya sudah jelaskan pada Tuan...”
“ Ada apa dengan So Yin?!” suara Tae Sang meninggi, Emy memutar matanya dan menghela nafas. Ia sungguh mulai kesal dengan sikap laki-laki es itu.
“ Dia mengalami pendarahan dalam yang hebat.”
“ Mengapa dia mengalami pendarahan?” Selidik Tae Sang dengan mata elangnya. Emy mengeraskan rahangnya, ia tak tahu harus bagaimana menjawabnya.
“ Aku punya banyak waktu untuk menunggu penjelasanmu!”
“ Dokter Cha melakukan kesalahan saat operasi pertama kali...” Emy menghentikan kata-katanya, namun ketika melihat mata
Tae Sang yang seakan berkata, “ lanjutkan!” Emy menelan ludahnya dan membuka mulutnya.
“ Dokter Cha salah memilih benang yang mengakibatkan jahitan pecah dan merobek jaringan lebih parah, ditambah aktifitas Nona Kim yang mungkin menguras pikiran dan mengangkat benda berat, akhirnya ... menyebabkan kerusakan paru dan pendarahan yang hebat.
Nona Kim kehilangan 57% Volume darahnya. Dan, saat tiba di IGD, jantung Nona Kim sudah tak mampu memompa darah ke otak beberapa waktu. Jadi, Nona Kim saya perkirakan sudah tak sadar kurang lebih 2-3 jam sebelum tiba di IGD.” Jelas Emy.
Tae Sang mengepalkan tangannya lalu berdiri dan meninggalkan ruangan Emy tanpa pamit. Emy menghempaskan bokongnya dikursi kebesarannya dengan kesal. Tae Sang mengambil ponselnya dan menghubungi Byun Hyuk, yang tadi ia tinggalkan di ICU.
“ Cepat kau panggil pengacara Oh In Su. Ajukan tuntutan terhadap dr. Cha Hu Sok. Sekarang!” Tae Sang menutup panggilannya dan menuju ke lobby. Disana sopir sudah menunggunya dengan pintu mobil sudah terbuka untuknya. Setelah masuk, ia melihat Byun Hyuk berlari dan ikut masuk kedalam mobil.
__ADS_1
“ Ke Baeksang Group!” Perintah Tae Sang yang membuat sopir dan asistennya saling berpandangan, namun tetap mematuhinya.
20 menit kemudian, mobil mewah Tae Sang telah memasuki area parkir Baekang Group. Sampai di pintu utama, Byun Hyuk membukakan pintu Tae Sang dan membungkuk. Dengan langkah pasti dan gagahnya, Tae Sang memasuki gedung diiringi banyak pasang mata dan decakan kagum dari lawan jenis.
Tanpa basa-basi, Tae Sang menuju lift dengan Byun Hyuk sebagai penunjuk jalan. Mereka tak mempedulikan security yang menghalangi mereka, security akhirnya menyingkir dengan sendirinya setelah melihat ID yang ditunjukkan Byun Hyuk dan tatapan tajam Tae Sang.
Byun Hyuk menekan tombol 27, tempat dimana pimpinan tertinggi Baekang berada. Sampai di lantai 27, Tae Sang disambut senyuman dan tangan seorang lelaki tua yang terbuka lebar.
“ Hahaha ... Presiden Kim Tae Sang, suatu kehormatan menerima Anda ditempat kami yang sederhana ini.” Tae Sang menatap laki-laki itu dengan alis tertaut menjadi satu.
Ia melihat orang yang ia cari ada disebelah laki-laki tua itu. Berdiri dengan senyuman dan satu tangan yang ia masukkan dalam kantong celananya. Tanpa banyak bicara, Tae Sang berjalan kearah laki-laki yang sudah membuat sepupunya itu menderita, lalu...
Buk..buk..pak...buk...
Pyarrr....
Byun Hyuk dan sekretaris wanita yang juga ada disitu tersadar dari rasa kaget mereka, lalu menarik Tae Sang. Sedang sekretaris wanita itu membantu suami So Yin itu berdiri. Komisaris Baek Dae Jung tertegun melihat aksi Tae Sang yang diluar dugaannya.
“ Tanyakan pada Anak kesayangan Anda yang brengsek ini. Apa yang sudah ia lakukan terhadap So Yin. Dan sekretaris Anda yang murahan ini juga!” sergah Tae Sang lalu berlalu pergi menuju lift. Namun, belum sampai masuk ke lift yang tadi segera terbuka saat Byun Hyuk menekan tombolnya, Tae Yang menghentikan langkahnya.
“ Kalian akan merasakan akibatnya karena sudah macam-macam dengan keluarga Kim!”
Ayah dan anak serta sekretaris itu lemas seketika. Baek Dae Jung melihat anaknya yang masih dalam pelukan sekretarisnya dengan geram.
“ Baek Do Yun! Mulai saat ini kau bukan lagi Direktur Perencanaan, dan kau! Sekretaris Joo, kau dipecat!” Dengan tarikan nafas kasar dan wajah geram, Baek Dae Jung meninggalkan keduanya dan masuk ke kantornya.
Sekretaris Joo membelalak kaget, sedang Baek Do Min mengatupkan bibirnya marah dan melempar vas bunga di meja sekretaris Joo, membuat sekretarisnya itu menangis.
Selang beberapa hari, dr. Cha harus merelakan lisensinya dicabut. Mendapat tuntutan penyuapan, penyalahgunaan kekuasaan, pelecehan seksual dan yang membuat dr. Cha terpukul adalah gugatan perceraian dari istrinya. Sebenarnya, ia sangat mencintai istrinya itu. Tapi, karena penyakit yang dideritanya, membuat dr. Cha tak mendapatkan haknya sebagai suami.
__ADS_1
Di pihak Baeksang sendiri, tiba-tiba harga saham mereka anjlok dan membuat perusahaan real estate terbesar ke 4 di Korea itu mengalami kebangkrutan. Kim Myung Suk menelepon Tae Sang berterima kasih. Sedang kakek Kim, ia hanya bisa menyaksikan drama yang melibatkan anak bungsunya itu melalui televisi dikamarnya.
Sementara Emy, dalam beberapa hari ini harus membuat waktu untuk memilih tas, parfum, perhiasan, sepatu dan lain-lain, untuk dikirimkannya pada Helena. Kali ini, tagihan untuk hadiah itu, ia masukkan atas nama Kim Tae Sang.
Kriiingg...kriingg...
Emy tersenyum melihat nama yang tertera di ponselnya. Setelah menggeser tombol hijau dan mendekatkan di telinga, Emy mendengar suara yang ia rindukan.
“ Emyyyyyy...kamu benar-benar tega tidak menelepon aku ya???...” suara diseberang telepon itu terdengar bahkan sebelum Emy menyapanya.
“ Hahaha... Aku tahu. Kamu bukan kangen sama aku, tapi produkku, kan?” Goda Emy
“ hahaha ... kamu memang jenius”
Emy memutar bola matanya mendengar pujian temannya itu,“ Hei, orang bodohpun tahu kalo soal itu, tidak perlu jadi jenius.” Sindir Emy.
“ Aaahh ... dasar Emy! ... sudah ... sudah ... bagaimana apa sudah selesai?”
“ Sudah selesai. Nanti aku kerumahmu ya.”
“ Oke, nanti aku jemput...”
“ Ya, baiklah... Bye”
“ Bye..chagiya,” setelah panggilan itu ditutup, Emy masih terus tertawa, “ Hannah Kang ... Hannah Kang...”
Emy meletakkan ponselnya diatas meja kerjanya dan meneruskan kegiatannya beberapa waktu. Ia menyambar ponselnya, menaruh dalam kantong jas dokternya dan berjalan untuk menjalankan tugasnya memeriksa keadaan pasiennya hingga matahari tak lagi bersinar diluar sana.
Jam 19.30, Emy sudah berada didalam mobil Range Rover milik Hannah. Mereka berdua bercanda dan tertawa selama dalam perjalanan.
__ADS_1
“ Ah, Emy-a, kau masih ingat Kakak tiriku, Mahendra, kan?” Tanya Hannah tiba-tiba, Emy mengangguk