
Pemandangan Pulau Ulleungdo sangatkah luar biasa. Udaranya sangat sejuk. Air terjun yang indah dan suara burung yang merdu, akan membuat setiap orang yang datang ke pulau itu terbuai.
Terletak 120 kilometer di lepas pantai timur Korea Selatan, Pulau Ulleungdo dikenal dengan ombak biru yang damai, pemandangan gunung yang merevitalisasi, dan pemandangan matahari terbenam yang menakjubkan. Sering disebut sebagai "Pulau Misterius," tujuan liburan populer ini adalah perikanan utama di pantai timur dan menarik wisatawan dengan makanan lautnya yang menggiurkan. Ini juga merupakan tempat favorit untuk menyerap keindahan alam Korea, yang paling terkenal adalah di Haengnam Coastal Walking Path, yang membentang di sepanjang pinggiran pulau.
Tapi Tae Sang, tak datang ke pulau cantik ini untuk berlibur. Ia mendapat telepon dari asisten kakeknya, pak Man Ho, untuk segera datang ke pulau ini.
Setelah menginjakkan kakinya di pulau, kampung halaman neneknya, Tae Sang langsung berjalan dengan langkah lebarnya, menuju mobil yang telah menunggunya di ujung dermaga.
Sopir kakek Kim yang sedari tadi menunggu menunggu kedatangan cucu Tuannya itu, segera keluar dari mobil setelah melihat orang yang ditunggunya datang. Dengan segera, ia membuka pintu mobil dan Tae Sang langsung masukd dan duduk didalamnya, tak memperdulikan banyak mata yang memandangnya kagum.
Sampai di rumah sederhana bergaya tradisonal Korea, Tae Sang langsung masuk kedalam dan disambut seorang pelayan paruh baya dengan celemek yang menempel ditubuhnya.
" Tuan Muda, Tuan Besar sudah menunggu anda di kamar," kata wanita paruh baya itu sambil menunduk.
"Hmm.." Tae Sang melangkahkan kakinya menuju kamar kakeknya.
***
Boston
Suasana hangat didalam apartemen Emy sepertinya tak sehangat hati Emy. Masih dengan wajah dinginnya dan tanpa suara, menikmati makan malam buatan Paman Evan. Jeff dan Luther serta Evan tampak begitu asik mengobrol dan sesekali mereka melirik Emy.
" Paman Evan, Tuan tuan pengacara, saya permisi untuk istirahat." Tiba tiba Emy mengelap mulutnya dengan kain lap mulut yang ada di depannya, dan tanpa memandang lawan bicaranya ia berdiri lalu meninggalkan mereka setelah berpamitan.
Evan mengunyah kasar steak buatannya, menghela nafasnya kasar lalu bersandar. Jeff yang merasa tak enak hati dengan suasana itu, berpamitan dengan sopan pada Evan dan Luther, mengambil tas dan jaketnya, lalu pergi.
Tinggallah Evan dan Luther di maja makan. Keduanya sudah kehilangan selera makannya.
" Paman, aku... sebaiknya aku pergi. Maafkan aku, dan terima kasih makan malamnya. Masih sama, sangat enak!" ucap Luther seraya berdiri dan memaksakan senyumnya.
__ADS_1
" Duduk!" perintah Evan tiba tiba.
" Pa..paman?" Luther yang tak mengerti akan perubahan Evan, masih tetap berdiri menatap Evan dengan bingung.
Evan mendongak dan menatap Luther lekat.
" Aku bilang, Duduk!" perintahnya lagi dan akhirnya Lutherpun menurut.
" Sekarang, katakan padaku. Ada apa sebenarnya sampai kalian berdua seperti ini? aku hanya tahu, Emy selalu diam dan kehilangan senyumnya kalau bertemu dan mendengar namamu." Evan masih dengan matanya yang tajam menyelidik, ia sungguh ingin tahu yang sebenarnya terjadi diantara Emy dan Luther.
” Aku... aku yang salah Paman..." jawab Luther sambil menunduk
" Dan kesalahan itu adalah?"
Luther manatap Evan dengan sendu lalu mengalihkan pandangannya ke pintu kamar Emy yang tertutup.
" Aku masih menunggu, Luther!" kata-kata Evan membuat Luther kembali mengarahkan pandangannya pada Evan yang kembali menatapnya dengan lekat.
Evan mengeraskan rahangnya. Ia kesal dengan sikap Luther dan Emy yang seperti kucing kucingan. Ia yakin, kesalahan Luther fatal, karena menyebabkan Emy, yang ia tahu begitu pemaaf, bahkan tak mau memaafkan atau menatap Luther.
" Jangan kau berani keluar dari pintu itu, Tuan Luther Howland! sebelum kau mengatakan semuanya padaku, apa yang telah kau lakukan pada anakku!" seru Evan sembari tetap duduk membelakangi Luther yang saat ini sedang mengambil jaketnya.
Tangan Luther terhenti. Jantungnya berdetak kencang, dengan menelan salivanya, ia hendak menjawab Evan. Tapi, suara manis yang ia rindukan itu membuatnya lega.
" Paman Evan, biarkan Tuan pengacara pergi. Sekarang, paman sebaiknya tidur. Kau sudah lelah seharian."
Evan terdiam dan menghentikan Luther yang pergi. Dengan berat hati, ia membereskan meja makan, mencuci piring dan gelas lalu kembali ke kamarnya. Ia begitu gusar dan perasaannya berkecamuk. Ia tak mau anak babtisnya itu terluka lagi. Ia akan membalas semua orang yang menyakiti anaknya itu.
Krrriiinggg.....kriiingg...
Evan mengambil ponsel yang tadi ia biarkan diatas bufet di kamarnya. Dengan berat ia mengangkat panggilan itu.
" Ada apa?" jawabnya datar dan dingin
__ADS_1
" Ya ampun, Evan, tak bisakah kau menjawabku sedikit lebih lembut?”
" katakan ada apa, atau kututup teleponnya."
" baiklah... baiklah... aku... aku merindukanmu Evan... sangat...sangat merindukanmu."
Evan menghembuskan nafasnya kasar. Entah berapa kali hari ini ia menghembuskan nafasnya seperti itu.
" Baiklah, sekarang kau sudah mendengar suaraku, selamat malam...bye..."
" Tungguuu..."
Evan yang hendak mematikan panggilan itu, terpaksa menaruh kembali benda pipih berwarna hitam itu di telinganya.
" Ada apa lagi?"
" Evan, aku sungguh-sungguh mencintaimu. tak bisakah kau memberiku kesempatan? aku akan selalu menunggumu, Evan. Sampai kapanpun!" dan panggilan itupun terputus.
Evan menatap ponsel ditangannya. Mengelap wajahnya kasar, dan melemparkan kembali ponselnya itu ke atas bufet lalu berbaring.
Ia memejamkan matanya. Tak habis pikir, kenapa wanita belia cantik dan lucu, jatuh cinta padanya yang seharusnya cocok jadi ayahnya. Apa kata teman-temannya nanti, jika ia benar bersama anak ingusan? Sebenarnya, ia menyukainya juga tapi tidak dalam arti cinta laki-laki kepada wanita.
Ia tahu siapa dirinya dan siapa wanita belia yang hanya terpaut hanya 3 tahun diatas usia anak babtisnya. Ia merasa tak pantas berpasangan dengan wanita yang memiliki perbedaan usia 26 tahun dengan dirinya.
tak mau semakin larut dalam pikirannya, Evan melepas kaosnya seperti kebiasaanya setiap malam akan tidur, lalu berbaring kembali dan terlelap.
Sementara Emy, ia masih bergelut dengan laptop. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya disini, sebelum kembali ke Korea. Untunglah Angela melakukan pekerjaannya dengan baik di Milan, dan beberapa cabangnya, sehingga sedikit banyak ia sangat terbantu.
Keesokan harinnya, Permintaan maaf Mike dan Marie dihadapan pers hari ini, membuat de Ma Vie kehilangan beberapa investor dan pelanggan. Sedangkan L'amour, sedikit demi sedikit kembali mendapat kejayaannya. Banyak investor dan pelanggan yang dulunya meninggalkan L'amour, kembali.
Masih sebatas pegawai L'amour dan beberapa orang saja yang mengetahui kalau Emy adalah pemilik dan designer L'amour sebenarnya. Emy tak mau menambah sensasi. Ia memerintahkan anak buahnya untuk tutup mulut tentang dirinya.
Saat Emy telah bersiap untuk berangkat kembali ke Korea pada sore hari, bel di pintu apartemennya menghentikan kegiatannya.
__ADS_1