
Emy dengan sabar mengobati suaminya. Sementara Tae Yang, ia terus menatap istrinya.
" Jangan terus menatapku. Aku memang cantik, dan aku istrimu," ucap Emy dengan tangan terus hati-hati mengobati luka suaminya.
Tae Yang tersenyum dan mencubit hidung istrinya.
" Ya, istriku memang cantik dan sangat narsis,"
" Bukan narsis tapi kenyataan,"
" Hahaha ... Eshhh (suara desis kesakitan) ... ah .." Tae Yang merasa sakit saat ia membuka mulutnya untuk tertawa
" Makanya jangan menertawakan istrimu, karma itu ada," ucap Emy enteng
" Ha .. ehmm ... uh ..." rasa perih kembali dirasakan lelaki itu ketika ia reflek akan tertawa.
Emy tersenyum tanpa menatap suaminya dan merapikan kotak P3Knya.
" Uhh ... senang sekali suaminya terluka," rajuk Tae Yang
" Lho ... hahaha ... kan aku cuma bicara fakta ... hahaha ..." kilah Emy lalu berdiri. Tapi tangannya ditarik oleh tangan yang besar dan
Bukk
Bokongnya mendarat tepat di pangkuan suaminya. Tae Yang memainkan alisnya. Emy membulatkan matanya
" Bukankah tadi ada yang bilang ... kalau ... aku boleh ... sepuasnya, hmm?" bisik Tae Yang di telinga Emy dan menjilatnya. Emy begidik geli.
" Hihihi ... geli!"
Tangan Tae Yang menelusup ke dalam kaos istrinya. Tapi, tangan itu dihentikan oleh Emy
" Kunci dulu pintunya. Aku takut Anak-anak datang kesini dan melihat kita sedang ..." Emy tak melanjutkan kalimatnya dan tertunduk karena ternyata tangan suaminya sudah berhasil masuk ke dalam kacamata kudanya dan bermain disana.
" Egh ... Oh, sa ... yang ... pin ..tu ... nya..." desah Emy, matanya mulai terpejam menikmati cumbuan dan belaian suaminya
" Pintu kita takkan bisa dibuka kalau sudah kututup, sayang. Itu otomatis terkunci dari dalam," kata Tae Yang lembut.
Tiba-tiba Emy menghentikan tangan suaminya lalu menjauhkan kepala Tae Yang dari ceruk lehernya. Wanita itu berdiri dan duduk di samping Tae Yang yang membuat suaminya menautkan alis.
" Lalu, darimana Mikha dan Micko tahu kalau ... kalau kau selalu min-minta jatah su-susu padaku?" kata Emy kemudian dan dengan malu-malu diujung kalimat.
Tae Yang ikut duduk dengan tegak pada akhirnya.
" Apa maksudmu, sayang?"
" Iya, itu. Awalnya aku hanya berpikiran mungkin saat kita melakukannya, kau lupa mengunci pintu. Karena, Mikha dan Micko beberapa kali menyebut soal ehm ... kau menyusu padaku, bahkan ... didepan Evan dan Luther," kata Emy. Mengingat itu wajahnya kembali memerah karena malu
Tae Yang membulatkan matanya.
" Tapi ... itu tak mungkin, sayang. Pintu itu tak akan terbuka kalau sudah tertutup. Kecuali aku mengijinkannya masuk," kata Tae Yang yang membuat keduanya larut dalam pikirannya
" Lalu, bagaimana bisa, ya?" gumam Emy
" Apa Anak-anak lihat CCTV?" ucap Tae Yang kemudian dengan menatap CCTV yang memang ia pasang di kamarnya.
__ADS_1
Karena kamarnya kedap suara dan terdapat beberapa dokumen penting di kamar gantinya, jadi ia butuh CCTV untuk menghindari yang tidak diinginkan
" Tapi, bukannya hanya kamu yang bisa mengakses? Anak-anak tak mungkin bisa, sayang," ucap Emy
Tae Yang mengangguk. Itu memang sangat tidak mungkin.
" Ah, sudahlah. Nanti kita tanyakan pada mereka. Sekarang, waktunya aku menagih janjimu, sayang," ucap Tae Yang dengan nada sensual dan wajah berubah mesum
Emy menelan kasar ludahnya, "A-aku mandi dulu," kata Emy
" Nanti saja, hmm? biar sekalian, sayang," ucap Tae Yang seraya menarik tangan istrinya ke lehernya dan hendak menggendong Emy
"Tunggu! Kau sedang terluka, sayang, bagaimana kalau kau sudah sembuh saja, hmm?" dalih Emy.
" Aku pasti sembuh kalau sudah kau sentuh. Sini, sentuh aku, ya?" jawab Tae Yang dan mulai menarik tangan Emy kembali ke lehernya.
" Tunggu! Aku tak mau kalau aku tak mandi dulu!" ancam Emy. Tae Yang membuang kasar nafasnya lalu mengangguk. Emy tersenyum dan mengecup pipi suaminya lalu masuk ke dalam kamar mandi
Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Emy. Semalaman ia harus meladeni suaminya, hingga suaranya menjadi serak.
Hari berikutnya, Emy masih tertidur karena kelelahan. Keberangkatan Evan dan Luther ke bandara hanya diantar Tae Yang dan si kembar.
" Ingat Tae Yang, kejadian kemarin adalah yang terakhir. Kalau terjadi lagi, aku tak peduli walau aku harus memaksa Emy untuk berpisah denganmu! Kau dengar?!" ucap Evan tegas saat keduanya selesai berpelukan secara jantan, dengan mata Evan menatap tajam pada Tae Yang.
" Iya, Paman! Aku janji. Kau boleh membunuhku jika perlu," janji Tae Yang
" Good! Aku pegang janjimu!" ucap Evan
Luther hanya memberi pelukan dan menepuk bahu Tae Yang. Namun, tatapannya bukan lagi tatapan bersahabat. Tae Yang mengerti kenapa Luther menatapnya tak ramah. Dengan sedikit senyuman dan anggukan, Tae Yang membalasnya.
" Hai, jagoan! Grandpa pergi dulu, ya? Jaga Mommy, ya?" tutur Evan lembut pada si kembar
" Baik, Grandpa,"
Jawab keduanya serentak. Evan memeluk mereka satu per satu dan mencium pipi gembul keduanya.
Luther dan Evan naik ke pesawat pribadi Tae Yang. Setelah pintu tertutup, Tae Yang menggandeng kedua putranya ke mobil, tapi si kembar dengan cepat menghindar dan berlalu
Tae Yang terkejut melihatnya dan membiarkan si kembar berjalan dan masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Mikha dan Micko tak mengucap sepatah katapun. Tae Yang terus mencoba menggoda dan berbicara tapi tetap mulut mereka terkunci.
3 hari berturut-turut Mikha dan Micko selalu
dingin pada Daddynya. Walau sudah meminta maaf, tapi kedua bocah itu hanya acuh setiap kali Daddynya menyapa mereka.
Emy bahkan sudah mencoba membujuk kedua putranya, tapi tak ada respon. Mereka hanya diam dan terus memeluk bahkan menciumi Mommynya.
Malam ketiga, saat mereka sedang makan malam, Tae Yang berusaha mengambil hati Anak-anaknya dengan mengambilkan mereka makan. Tapi, tetap ada ucapan terima kasih atau senyuman seperti biasanya.
Karena merasa terus diabaikan, Tae Yang akhirnya mulai berbicara dengan serius.
" Mikha, Micko! Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian tak mau memaafkan dan berbicara dengan Daddy?" tanya Tae Yang lembut namun terbersit ketegasan dalam ucapannya.
Mikha menoleh dan menatap tajam Daddynya, demikian pula Micko.
__ADS_1
" Karna Daddy sudah bikin Mommy sakit!" seru Mikha sengit.
" Ya! Daddy jahat!" timpal Micko.
Mata keduanya sudah mulai berkaca-kaca. Emy dan Tae Yang saling menatap tak mengerti.
" Daddy bikin Mommy sakit?" ulang Tae Yang
" Ya! Daddy bikin Mommy selalu menangis!" seru Mikha dan mulai menarik bibirnya ke bawah.
" Gawat ..." gumam Tae Yang dan Emy
1
2
3
Huaaaaaa .... huaaaaa....
Lalu
Huaaaaaa .... huaaaaa ....
Tae Yang dan Emy memejamkan matanya dan menutup telinga mereka. Segera Tae Yang berdiri lalu menggendong Mikha dan Micko. Keduanya memberi penolakan dan memukul-mukul Daddynya, tapi lelaki itu hanya diam saja dan terus mengayun dan bernyanyi dengan suara yang seperti kaset rusak
" Sayang, aku di ruang kerja, ya," kata Emy dan diangguki suaminya.
Setelah selesai 1 lagu. Si kembar mulai berhenti menangis.
" Kita susul Mommy, ya?" ucap Tae Yang dengan lembut. Kedua bocah itu hanya mengangguk namun tetap cemberut
Tae Yang berlari dan sesekali mundur lalu berlari lagi dengan cepat. Si kembar terkikik geli dan terus tertawa
Sampai di ruang kerja, peluh sudah memenuhi tubuh bos Kimtae itu.
" Nah, jagoan Daddy duduk di sini, ya." kata Tae Yang dan menempatkan Anak-anaknya di sofa. Emy berjalan juga ke arah mereka lalu duduk di samping Mikha, dan Tae Yang duduk di bawah melihat kedua putranya dan tersenyum
" Sekarang, bisa kalian bilang apa maksud Daddy membuat Mommy menangis?" tanya Tae Yang dengan senyum dan mata yang penuh kehangatan
Mikha dan Micko saling menatap
" Aku lihat Mommy menahan sakit sambil meremas seprei, tapi Daddy tak mau turun dari atas Mommy," ucap Mikha dengan cemberut
Mata Tae Yang dan Emy seketika membulat dan saling menatap.
Glek
" Mommy juga gini ... ( meragakan Emy meringis dan mengigit bibirnya)," timpal Micko
Emy mengerjapkan matanya. Dunia seakan berputar. Tae Yang melipat bibir dan menahan nafas.
" Daddy juga tidak peduli waktu kasurnya gerak sendiri. Daddy terus di atasnya Mommy. Mommy sudah teriak, tapi Daddy terus di atasnya Mommy. Daddy jahat! Mikha gak suka sama Daddy! Huaaaaa ...." lanjut Mikha
" Huaaaa ..."
__ADS_1
Mata kedua orang dewasa itu mengerjap. Jantungnya seakan berhenti. Mulut Emy dan Tae Yang terbuka lebar
Emy berdiri dan memegang kepalanya yang terasa sakit. Tae Yang juga kesulitan menelan salivanya