Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Maafkan Aku, Sayang - Season 2


__ADS_3

Tae Yang segera mengangkat tubuh Micko dan keluar mobil. Lelaki itu melangkah lebar menuju lantai 2 kamar si kembar dan membaringkannya di sana.


Netranya menangkap Emy dan sopir yang menggendong Mikha di belakang istrinya sedang menaiki tangga, ketika ia keluar dari kamar si kembar.


Tae Yang menuruni tangga dan mengambil putranya dari gendongan Sopir. Emy hanya melihatnya sekilas lalu berjalan naik dan masuk ke dalam kamarnya.


Emy melempar begitu saja tas yang setia berada di pundaknya ke sofa dan masuk kamar mandi.



Emy merendam tubuhnya di dalam Jacuzzi (bathtub dengan lubang-lubang mengeluarkan air hangat) . Pipinya kembali basah dengan air mata. Ia tak menyangka, secepat itu semuanya berakhir.



" Kenapa aku harus mengalami semuanya, Tuhan? Apa salahku? Kenapa serempak datang badai ini menerpaku?"


Emy tergugu di dalam Jacuzzi. Entah berapa lama ia berendam dan menangis. Hingga ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka


" Emy-a ... sayang ..." Tae Yang melangkah mendekati istrinya. Wajahnya begitu sendu.  Sudah 1 jam ia menunggu, tapi Emy tak kunjung keluar kamar mandi. Karena itu, ia mendekati pintu kamar mandi dan mencoba mengetok. Tapi, Ia mendengar sayup-sayup suara tangisan saat ia menempelkan telinganya pada daun pintu.


Emy mendongak dengan wajah sembabnya. Dengan cepat Emy membalikkan badannya membelakangi Tae Yang dan membasuh wajahnya.


" Sayang ... maafkan aku. Aku tadi marah, karena kau begitu mudahnya berkata seperti itu. Aku sangat mencintaimu dan tak ada sekalipun dalam pikiranku untuk menduakanmu. Aku sangat amat mencintaimu dan hanya kamu yang aku mau, sayang. Percayalah. Aku tak pernah berselingkuh darimu. Aku ke apartemen Lucia karena dia tiba-tiba pingsan dan demam. Tapi, aku selalu bersama Jung Hyuk kalau ke sana. Karna aku tak mau nantinya kau salah paham. Sayang ..." jelas Tae Yang lembut. Air matanya juga telah menetes. Hatinya sakit melihat wanita yang ia sangat cintai itu menangis.


" Maafkan aku, kalau aku tak menjelaskan semuanya padamu lebih awal. Aku hanya mau mengecek semua kebenarannya lebih dulu," lanjut Tae Yang. Tapi, Emy masih tetap dalam posisinya, membelakanginya dengan kepala ia sandarkan diatas tangannya yang ia taruh di pinggiran Jacuzzi.


" Emy-a ... sayang ... aku mohon, jangan seperti ini ..." Air mata Tae Yang tak terkontrol lagi meluncur dengan bebas.


Emy tak bergeming. Pikirannya masih kacau dengan semua yang terjadi. Ia tak tahu bagaimana harus bersikap. Tak bisa ia pungkiri ia memang cemburu karena sikap suaminya sebulan terakhir. Ia takut kehilangan cintanya.


Dan, saat ini ditambah pula ia harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak bisa lagi memegang pisau bedah dan berdiri di ruang OPE membanru menyelamatkan nyawa. Jiwanya terasa hilang melayang.

__ADS_1


Dunia bedah adalah segala-galanya untuknya. Dunia yang menjadikannya bangga akan dirinya sendiri karena dapat membantu orang lain. Menjadi dokter bedah bukan lagi untuk memenuhi harapan orangtua angkatnya, tapi lebih kepada passionnya. Dimana, dalam dunia itu, ia bisa menemukan jati dirinya.


Tapi kini, semuanya hancur. Tangannya tak akan dapat kembali seperti semula. Air mata kembali deras mengalir. Bahunya bergetar. Tae Yang melepas sandal rumahnya dan ikut masuk ke dalam Jacuzzi lalu memeluk erat istrinya.


" Maafkan aku ... maafkan aku, sayang ... kumohon, kumohon jangan menangis lagi ... sayang ..." Ucap Tae Yang memohon. Ia terus mengecup kepala istrinya. Emy terus menangis hingga tak sadarkan diri.


Tae Yang  segera melepas bajunya yang basah dan menggantinya dengan bathrobe dan perlahan membalikkan tubuh Emy lalu mengangkat dan mengelapnya kering. Ia menggendong tubuh kecil istrinya dan membaringkannya di atas ranjang.



Tae Yang mengecup lembut kening Emy dan mengelus pipi istrinya itu. Ia berjalan ke kamar ganti dan memakai baju. Tak lupa ia mengambil baju Emy dan memakaikan baju pada istrinya dengan telaten.


" Sayang, apapun yang terjadi, aku tak akan sanggup mencintai dan mencari wanita lain. Hanya kau yang boleh dan bisa menjadi istriku. Wanitaku. Ratuku. Segala-galanya untukku," lirih Tae Yang lalu kembali mengecup setiap inci wajah Emy.


Tae Yang kembali naik ke atas ranjang lalu menarik Emy dalam pelukannya dan menyusul ke alam mimpi.


Lucia terbangun dan mendapati dirinya di kamar asing. Ia melihat sekeliling. Nyatalah bagi dirinya, bahwa ia kini berada di bangsal rumah sakit.


" Oh, kau sudah bangun rupanya," seseorang tiba-tiba saja datang dan mendekatinya.


" Kau?! Kenapa kau membawaku kesini, hah?! Mana calon suamiku?!" ketus Lucia


" Calon suami? Hahaha ... apa Anda sudah tidak waras Nona Lucia Allington?" sinis lelaki itu


" Kau hanya Asisten, jangan berani kau berkata tak sopan padaku!"


" Hahaha ... saya memang Asisten, tapi kedudukan Anda tidak lebih hanya seorang wanita murahan yang tak tahu malu, yang berusaha merebut suami orang. Dan lagi ... jelas-jelas si lelaki tak menyukaimu dan menganggapmu sebagai wanita memalukan yang menggunakan balas budi sebagai tameng kelakuan bobrok Anda," cibir Jung Hyuk.


" Kurang ajar kau!!"


Jung Hyuk tersenyum sinis mendengar teriakan Lucia. Tangannya menkode anak buahnya untuk bergerak

__ADS_1


" Bawa dia!" titahnya.


" Apa yang kau lakukan? Mau kau bawa kemana aku?!!" Lucia memberontak saat para bodyguard berbadan besar melepas kasar jarum infus di tangannya dan mengangkatnya di bagian ketiaknya begitu saja, sehingga ia seakan berdiri melayang.


Semua perawat dan dokter yang berjaga, melihat mereka dan menatap heran.


" Tolooongg!!! Siapa saja tolongg sayaa ... Saya diculikk ..." teriak Lucia. Jung Hyuk tetap dengan tenang berjalan di depan mereka dengan raut wajah dingin tak bersahabat.


Tak ada satupun yang bereaksi membantu wanita itu. Mereka tahu siapa Jung Hyuk dan tak mungkin mereka berani melawannya


Lucia dilempar begitu saja masuk ke dalam van dan disusul kedua bodyguard.


" Mau kau bawa kemana akuuu!!! Dimana Tae Yang??!!! Dimana!!!" teriak Lucia histeris


Tak ada jawaban. Bodyguard hanya melihatnya tajam dan mengikis perlawanannya.


1 jam kemudian, Lucia kembali diangkat dan dibawa naik sebuah pesawat pribadi. Tubuhnya kembali dilemparkan ke atas tempat duduk di dalam jet itu. Lucia mengedarkan matanya melihat seisi jet yang begitu mewah menurutnya.


' Jet Tae Yang ... tak salah lagi, aku harus bisa memilikinya,' pikir Lucia.


Jung Hyuk mengeluarkan smirk / seringainya. Ia tahu isi pikiran wanita pelakor macam dia.


" Kau suka jet ini?"


" Tentu saja. Calon suamiku memang orang kaya ... hehe .." jawab Lucia percaya diri


" Hahaha ... dengar Lucia, jangan terlalu tinggi kau berharap! Supaya tak sakit saat kau terjatuh nantinya!"


" Tae Yang pasti akan menikahiku, dia harus menikahiku. Dia sudah berjanji padaku!"


" Oh, ya? Benarkah Tuan Kim sudah berjanji? Kapan itu? Kemarin? Minggu lalu? Bulan lalu? atauuu ... 12 tahun yang lalu? Hmm?" cibir Jung Hyuk

__ADS_1


__ADS_2