
Emy POV
"ahhh...hari ini aku masuk malam. hmm... aku ngapain ya?" Bangun pagi ini aku begitu bersemangat dan penuh energi. Ya walaupun harus dengan obat, tapi aku bersyukur bisa tidur nyenyak semalam.
Hari ini aku putuskan membantu bibi Nam. Aku tahu Tuan manja itu, tak akan pernah menyentuh apa yang ku masak seperti biasa. Karna itu, aku kali ini membantu bibi Nam membersihkan rumput di taman. Karna kalau Orang sadis itu melihatku tak bekerja, dia pasti akan menghinaku lagi.
2 minggu lalu adalah sidang pertama, tuntutan Hannah terhadap media yang membuat berita bohong. Aku sudah tahu, tak ada yang namanya kemenangan dipihakku. Karna siapalah aku yang harus melawan Tycoon negara ini? Jaksa langsung saja menolak bukti yang aku ajukan tentang pemilik rekening. Dan mau bagaimana lagi, aku harus membujuk Hannah menghentikannya. Aku tak mau terjadi sesuatu pada Hannah dan keluarganya. Lebih baik aku yang mengalah dan mundur.
Aku menyadari sikap orang itu. Ia bukanlah orang yang mau begitu saja diusik. Dengan segala kekayaannya, ia pasti sanggup membeli keadilan. Bahkan dia sendiri yang mengkonfirmasinya.
" wanita sepertimu, mau melawanku? jangan bermimpi, ******!" itulah ucapannya padaku. Aku tak kan pernah lupa itu. Jika bukan karena kakek Kim, aku sudah pergi sejak lama. Segala hinaan terus ia cecarkan padaku. Entah apa salahku padanya. Kebencian itu juga semakin menjadi, saat bukti itu kubawa padanya.
Hannah akhirnya menerima keputusanku, walau aku tahu dia berat melakukannya. Akhirnya, hukuman hanya bagi wartawan Park dan aku juga mendapat permintaan maaf secara publik oleh pihak TV dan media massa. Walau sebenarnya tak ada pemikiran di dalam benakku untuk memperkarakan masalah itu, tapi tak bisa di pungkiri, aku sedikit terhibur dengan hasil yang kuterima.
" agassi, bisakah menolong bibi?" tanya bibi yang membuyarkan lamunanku.
" ah, ya bi?" sahutku, aku melihat wajah keibuan yang sudah dipenuhi gurat usia, yang saat ini memandangku dengan mata minimalisnya. Ya aku bisa bilang minimalis, karena saat ia tersenyum matanya hilang dan menjadi garis lurus saja, karena matanya begitu kecil dan sipit.
" agassi... bibi harus kembali lagi ke pulau, menantuku melahirkan, sedang dia sudah tidak punya ibu. Jadi, bibi mau menolong menjaga bayinya. Bisakah agassi menggantikan bibi menyiapkan sarapan Tuan Muda?" kata bibi.
Menjadi dilema buatku. Karena itu artinya, aku akan sendirian lagi disini. Aku harus memasak lagi untuk orang manja itu. Tapi aku tak bisa menolak permintaan bibi.
__ADS_1
" baiklah bi, tapi apa bibi sudah memberitahu Presdir?" tanyaku. Karena biar bagaimanapun aku sadar, aku tak punya kuasa di rumah ini.
"iya, nanti saya akan memberitahu Tuan Muda, kalo sudah pulang. Terima kasih, agassi..." Aku hanya tersenyum membalas bibi Nam.
Dan malam ini, aku ada di dapur lagi, membantu bibi Nam, aku juga belajar membuat masakan Korea, kesukaan Presdir. Tak lama, suara langkah kaki terdengar memasuki rumah, saat aku sedang mencuci peralatan masak. Aku melirik bibi Nam yang berlari kecil mendekati Presdir.
" Tuan Muda!" sapa bibi Nam
" hmm!" Orang kasar itu hanya melihat sebentar ke arah bibi dan sedikit melirik padaku.
" Eh..Tuan Muda." Ketika akan beranjak, bibi memanggilanya lagi. Presdir menghentikan langkahnya tepat sebelum naik tangga.
" ada apa, bibi Nam?" tanyanya datar.
'1 bulan?' batinku. Ya ampun selama sebulan aku harus mengurus Orang manja itu lagi. Apa Presdir akan mengganti password seperti beberapa bulan lalu lagi, saat bibi juga cuti seminggu? Apa dia akan membuang masakanku lagi?
" baiklah, bi. Selamat jalan dan hati hati ya. Segeralah kembali kalau menantumu sudah bisa mandiri." Presdir berkata begitu ramah pada bibi Nam, ia juga mengambil sesuatu dari tasnya.
" ini gaji bibi bulan ini dan bonus untuk bibi. Belikan keperluan bayi dan ibunya juga belilah suplemen untuk bibi, ya? aku naik dulu bi." Presdir langsung naik tangga meninggalkan bibi Nam
" Terima kasih Tuan Muda!" seru bibi Nam kegirangan. Bibi Nam menghampiriku dengan senyumnya. Aku juga ikut bahagia, karna Presdir memperhatikan bibi Nam.
__ADS_1
" Agassi... jaga diri baik baik ya. Presdir sebenarnya orang baik, hanya kaku orangnya. agassi sudah lihat sendiri kan? sabar ya, agassi..." kata bibi Nam sambil menepuk bahuku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Dengan berat hati aku berangkat ke rumah sakit. Aku begitu takut dengan apa yang akan terjadi padaku, jika bibi Nam tak ada. Untunglah tak ada pasien darurat malam ini, jadi aku bisa sedikit bersantai. Setelah meminum obatku, aku tertidur di atas brankar didalam ruanganku.
Saat pagi aku kembali, aku tahu bibi Nam, sudah berangkat. Dengan cepat kubersihkan diriku di kamar mandi. Mulai hari ini aku memulai tugasku sebagai pengurus rumah ini. Aku segera memasak untuk sarapan, dan menyalakan robot vacuum (robot untuk menyapu + mengepel).
Selesai memasak, aku siapkan semuanya di meja makan dengan ragu. Aku tak yakin, ia akan memakan masakanku. Setelah siap semuanya, aku segera kembali ke kamar. Aku tak mau membuat Tuan Manja itu marah karena melihatku. ya, setiap kali ia melihatku, entah mengapa ia selalu memarahiku.
Sudah 1 jam aku berada di kamar. Kulihat jam di dinding kamarku sudah menunjuk pukul 8.30. Dia pasti sudah selesai sarapan dan berangkat. Dengan perlahan aku keluar kamar dan benar saja, tak satupun yang tersentuh. Aku memastikan Tuan manja berangkat dengan melihat ke jendela, disana aku melihat mobil mewahnya baru saja melewati gerbang.
Aku membereskan meja makan dan menyimpan makanan yang kubuat dalam sebuah kotak
" akan kumakan aja nanti." gumamku.
Sore hari aku kembali berangkat ke rumah sakit. Setelah mengajar Yoo Joon dan temannya di kafe rumah sakit, aku kembali ke ruanganku, tapi belum sampai aku melangkah ke dalam lift, panggilan ke IGD mengubah arah jalanku.
Dan terjadilah, malam ini aku harus bergadang karena harus mengoperasi selama 4 jam seorang pasien yang mengalami cidera otak.
Berikutnya aku mengoperasi seorang pasien yang memiliki dua tumor parah di otaknya. Dan perlu mengangkat tumor tersebut dengan enam prosedur bedah yang berbeda agar pasien bisa selamat.
Dengan 2 dokter bedah lainnya, Aku dan 2 teman seprofesiku harus sangat hati-hati dan teliti saat melakukan operasi. Ini adalah operasi yang sangat sulit dan berisiko dan sangat memakan waktu. Jika kami lengah sebentar saja, nyawa pasien bisa melayang. Karena itu, operasi ini menghabiskan waktu 32 jam!
__ADS_1
Aku merasa pandanganku menggelap dan aku tak tahu apapun setelahnya.
Emy POV end