
Kriiingg....kriiing...
"uufffghh..." seorang laki laki terus menggeliat merasa terusik dengan suara telepon di atas nakas, di sebelah tempat tidur kingsize yang saat ini ia gunakan. Ia terus berusaha memindahkan posisi kepalanya untuk meneruskan tidurnya. Matanya terasa berat untuk dibuka, bagaimana tidak, baru jam 5 pagi tadi ia tertidur.
Kriiing....kriiiing....
" Aaarrrrgghhh..." Laki laki itu akhirnya bangun dan duduk di ranjangnya, mengacak rambutnya frustasi. Dengan geram ia meraih ponselnya dan menjawab panggilannya.
" ada apa?!" Bentak laki laki itu, tanpa melihat siapa yang meneleponnya.
"........."
" oh...Helena...maafkan aku sayang. Aku kira Hyuk." jawab Tae Sang santai mengusap wajahnya.
"......."
" Iya, aku akan menjemputmu. Sekarang aku mau tidur dulu."
"......."
" Daa sayang..." Tae Sang melempar benda pipih berwarna hitam silver itu, ke atas nakas dan kembali tidur.
Beberapa menit mencoba tertidur, tapi tetap saja, pikirannya membuat ia tak dapat terlelap. Sudah 3 hari ia tak melihat istri kontraknya, ia merasa kesal, marah, rindu dan entahlah apa lagi yang ia rasakan. Ia begitu frustasi dengan perasaannya.
" kemana sih wanita itu? apa akhirnya dia akan menyerah? cih...kalo benar, nyalinya ternyata kecil." Ada rasa kehilangan di lubuk hatinya, tapi ego yang terlalu tinggi mengalahkan rasa itu.
Sebuah lorong dengan ujung cahaya yang terang, menjadi tujuan kaki Emy melangkah. Ketika mulai mendekat, sesosok laki laki yang begitu ia rindukan, berdiri dan tersenyum padanya.
__ADS_1
" Appa...Appa!" Emy tersenyum bahagia, berlari dan terus berlari, tapi seakan appa nya itu masih jauh dari jangkauannya.
" Emy, jangan berlari lagi nak. Kembalilah sayang. Belum waktunya kamu bersama appa disini. Masih banyak yang harus kamu lakukan sayang." Suara itu, suara yang selalu membuatnya merasa disayang. Emy berhenti dan memandang sosok ayah yang telah lama meninggalkannya.
" Appa, aku ingin bersama appa. Aku rindu Appa.... ijinkan aku bersamamu, appa..." Dengan berlutut dan memohon, Emy meneteskan air mata.
" Anakku, appa juga rindu padamu, nak. Tapi ini belum saatnya sayang. Kembalilah, banyak yang masih membutuhkanmu. Bersabarlah sayang." Mendengar itu Emy tertunduk sedih, air matanya turun dengan deras. Sosok berbaju putih itu beringsut menghilang.
" Tapi Appa...appa...APPAAAAAAAA!" Jerit tangis Emy kembali pecah, kala sosok itu tak lagi di lihatnya, saat ia mengangkat kepalanya lagi. Emy berlari dan terus berlari mencari appa yang ia rindu. Namun walau telah lama ia berlari, sosok itu tak lagi ia temukan.
Dalam sebuah ruangan VIP, seorang wanita masih betah memejamkan matanya dan selang infus menancap lekat di tangannya yang pucat dan kecil.
Seorang perawat dengan lembut dan sabar menyeka tubuh wanita yang telah terbaring selama 2 hari, namun tetap tak ada tanda tanda untuk membuka matanya. Mata perawat itu masih saja menetes, menatap wanita yang ia rawat.
" Yeobo, sudahlah sayang. Jangan menangis terus. Aku yakin, Emy sebentar lagi akan bangun...hmmm?" hibur dr.Lee seraya mendekap erat tubuh istrinya. Sebenarnya, ia sendiri tak begitu yakin kapan Emy akan terbangun.
" kita pulang bersama. Aku akan pulang setelah Hannah datang. " sahut perawat Na dalam pelukan dr.Lee dengan mata tetap menatap Emy sendu.
Bulir air mata menetes di pipi Emy, walau mata indahnya masih terpejam. Dr.Lee dan perawat Na terkejut dan menghampiri Emy. Perawat Na menggenggam tangan Emy dan dr.Lee di sisi yang lain.
" Emy...Emy...bangunlah...bangun Emy..." panggil dr.Lee. Demikian juga perawat Na, sambil sedikit mengguncang bahu Emy.
" dokter sie...dokter....bangun...tolong bangunlah...dokter..." pinta perawat Na sedih.
dr.Lee dan perawat Na saling memandang sedih. Dr.Lee menyuntikkan obat ********** pada selang infus Emy\, berharap Emy akan segera bangun.
Emy yang telah lelah berlari, mendengar suara yang memanggilnya.
__ADS_1
" Sunbae, nona Na...mereka memanggilku, tapi..."
Emy tetap duduk dan menangis, berharap appa nya mau kembali dan mengajaknya pergi. Emy sudah putus asa menjalani hidupnya. Bohong jika ia tidak sakit hati dengan Kim Tae Sang, suami kontraknya itu. Tanpa sadar, hati yang dulu sempat ia buka, ternyata belum bisa ia tutup kembali.
Tapi ia juga sadar, tak mungkin ia akan memiliki kebahagiaan itu, karena hati laki laki itu telah memiliki pemilik. Beberapa bulan lagi, tugasnya selesai dan harus segera pergi. Kalaupun cintanya berbalas, tak kan mungkin egonya membuat laki laki itu bertahan.
Tae Sang memutuskan turun dan mengambil minuman dingin di dapur. Matanya memandang pintu kamar Emy, saat akan kembali ke kamarnya. Entah dorongan apa yang membuatnya melangkah menuju kamar Emy.
Pintu kamar itu terbuka, saat ia mendorong masuk. ' ternyata tak dikunci' batinnya. Perlahan ia masuk dan melihat sekeliling kamar kecil, yang sedianya ia gunakan sebagai gudang, tapi ia menyuruh asistennya mengubahnya menjadi kamar Emy.
Kamar itu terlihat bersih dan rapi. Tak banyak barang yang Emy simpan disana. Baju bajunya pun hanya sedikit di dalam laci laci lemari.
" mungkin, ia menyimpan bajunya di rumahnya itu." Ia melihat koleksi baju Emy yang tak banyak itu.
" semua barang murahan, dia pakai untuk apa uang dari kakek?" Tae Sang terus melihat meneliti baju dan barang barang Emy yang semuanya ia tahu adalah barang murah.
" wanita ini, dia pasti sengaja, supaya kakek kasihan padanya! Licik!" dibantingnya baju Emy dan melangkah keluar, tak lupa ia membanting pintu kamar Emy dan kembali ke kamarnya.
" Perempuan itu, dia pasti sengaja menyimpan uangnya, untuk nanti setelah ia berpisah denganku. Supaya kakek mau terus memberinya uang. cih...Licik!" Saat memikirkan ia akan berpisah dengan Emy, hatinya terasa tertusuk. Ia abaikan perasaan itu dan membersihkan diri. Perasaan yang tanpa ia tahu, suatu saat akan membuatnya tersiksa.
Hannah berlari dan menuju ruang Emy dirawat dengan wajah penuh kekhawatiran. Tak peduli rasa lelah yang mendera, ia paksakan dirinya berlari untuk segera bertemu adik angkatnya itu. Seorang laki laki dengan perawakan yang tinggi dan wajah yang tegas dan tampan, ikut berlari kecil di belakang Hannah. Langkahnya yang besar adalah 2 langkah kaki Ha Na.
" Kamar 310!" Hannah terburu buru membuka pintu itu tanpa mengetok. Ia melihat Emy yang masih terkulai lemah dengan wajahnya yang begitu pucat.
" Emy! Emy! kau kenapa lagi? hiks...hiks..." isak Hannah.
Seorang laki laki yang mengikuti Hannah, berjalan perlahan mendekati Emy. Tetes air matanya mulai membasahi pipinya yang ditumbuhi bulu halus, karena tak sempat bercukur.
__ADS_1