Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Aku Antar


__ADS_3

“ Dia datang lagi tadi siang. Dia ada simposium di Jepang dari hari senin kemarin. Jadi, sekarang dia kesini.” Emy hanya mengangguk mendengar ocehan Hannah. Ia merasa kalau itu bukan urusannya.


Atap rumah khas Korea dengan pagar tinggi dan 2 penjaga, ada dalam pandangan Emy setelah sekitar 25 menit berkendara. Emy dan Hannah turun dari mobil dan bergandengan tangan masuk kedalam rumah bernuansa klasik tersebut.


Setelah membungkuk dan memberi hormat pada seorang laki-laki tua yang memakai jeogori  (atasan) dan baji (celana), pakaian khas Korea untuk laki-laki, Emy dan Hannah langsung menuju ke ruang santai. Dimana, perpaduan peradaban modern dan tradisonal tertata dengan begitu apik.


Emy memberi salam pada seorang wanita setengah baya yang anggun dan disambut pelukan dan senyuman hangat oleh wanita itu. Melupakan putri kandungnya sendiri yang berdiri dekat dengan Emy. Hannah mengerucutkan bibirnya dan menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang tamu yang besar dan terlihat kokoh itu.


“ Eomma ... sebenarnya, aku atau Emy sih yang anak kandung?” Protes Hannah dengan wajah yang dibuatnya terlihat menyedihkan. Ibu Hannah dengan cepat langsung menarik dan mendudukan Emy disebelahnya lalu tersenyum melihat Hannah


“ Maaf Nak, sepertinya kau sudah tahu jawabannya.” Sahut ibu Hannah dengan senyum dan mengangkat kedua alisnya. Hannah melotot mendengar itu.


“ Ayah, aku rela tak punya Ibu, asal aku punya Ayah ... hehe ...” Hannah tersenyum dan memeluk laki-laki yang duduk dengan gagah di kursi kepala. Lelaki itu tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kelakuan istri dan anak tirinya itu. 


“ Ah, Emy –a, kenalkan...ini Abeoji, dia dari Indonesia juga.” Kata Ibu Hannah memperkenalkan suami barunya. Tampak binar dan senyum kebahagiaan menghias wajah manis ibu Hannah


“ Halo Paman, saya Emy Sie...” Sapa Emy dengan mengangguk dan memakai bahasa Indonesia. 


“ Hahaha ... iya ... iya, aku sudah tahu. Mahendra banyak bercerita soal kamu, sampai aku bosan dengarnya ... hahaha...” Mahendra melotot pada ayahnya. Wajahnya memerah karena malu. Ia tak menyangka Ayahnya akan bercerita pada Emy dihadapan semua orang.


Semua tertawa melihat Mahendra. Sedang Mahendra, dia akhirnya tak berani lagi melihat Emy langsung. Ia hanya bisa melirik dari ujung matanya. Sementara Emy, ia hanya tersenyum dan menatap setiap wajah ceria dihadapannya dengan iri. Ia ingin memiliki keluarga seperti ini. Sebuah keluarga dimana ada Ayah, Ibu, Kakak yang saling menggoda dan bercanda bersama, tertawa dengan riang tanpa beban. Tapi...


“ Emy-a ... hei!” Panggil Hannah, karena kerasnya suara Ha Na, membuat semua melihat kearah Emy.


“ A .. ahh ... kenapa?” Tanya Emy gelagapan karena ia sempat terbawa pikiran dan bengong.

__ADS_1


“ Hei! ... kok melamun? Apa kamu sudah mulai tertarik pada Kakakku, hah? Hehehe...” Goda Hannah. Mahendra tampak menatap Emy dengan penuh harap.


“ Hahaha ... ada-ada saja kamu. Masih jauh untuk berpikir kesana, Nona.” 


“ Ceh ... kamu, tetap saja!” Ujar Hannah 


Kekecewaan terpancar jelas di wajah Mahendra. Ayah Mahendra, Chandra Gunawan menghela nafas dan berdiri lalu menepuk bahu anak laki-laki satu-satunya itu sebelum beranjak dari ruang santai dan pergi ke ruang kerjanya.              


Emy dan Hannah menghabiskan waktu untuk berdiskusi tentang program yang Emy buat. Ibu Hannah telah lama menyusul suaminya ke ruang kerja. Sedangkan Mahendra, ia memilih ke teras belakang untuk menenangkan pikirannya dengan bir non alkohol ditangannya.


Mahendra tahu, Alkohol bukan jawaban atau solusi untuk menenangkan suasana hati dan pikiran yang kalut. Ia tak pernah menyentuh minuman beralkohol ataupun merokok seperti teman-teman seprofesinya. Ia ingin menjaga hidup sehat dirinya dan keluarga yang disayanginya.


Tengah malam, Emy dan Hannah baru menyelesaikan diskusi mereka. Emy sekaligus memperbaiki beberapa program yang ia buat sesuai keinginan investornya yaitu Hannah


" Na, aku pulang dulu." Kata Emy sambil memakai jaket tebalnya dan menata syal rajut buatan Eommanya dulu.


" Menginap saja, sudah malam. Eomma sudah siapkan kamarmu. Atau tidur denganku, bagaimana?"


" Aku tak bisa, Han. Besok aku harus siapkan si monster sarapan." Jawab Emy setelah menegak susu yang Hannah sodorkan padanya.


" Monster? Hahaha ... heh ... okelah, sebentar, aku antar!"


" Tak usah. Aku naik taksi aja!" jawab Emy, tapi Hannah sudah terlanjur berlari masuk kedalam kamarnya mengambil jaket dan kunci mobil.


" Ayo!" ajak Hannah. Mahendra melihat adik tirinya itu sudah rapi ketika ia kembali dari halaman belakang.

__ADS_1


" Hannah, mau kemana?" Mahendra berjalan mendekati Emy dan Hannah yang sudah siap memakai boot mereka.


" Ah ... aku mau antar Emy. Dia tak bisa menginap katanya." Rajuk Hannah mengerucutkan bibirnya melihat Emy yang masih memakai bootnya.


" Hmm ... aku saja yang antar! Sudah malam, kau tidur saja!" kata Mahendra dan meminta kunci mobil Hannah yang dengan senang hati diberikan padanya oleh Hannah, dengan pandangan dan senyuman menyeringai.


Emy melihat Hannah lalu ke Mahendra. Ia tak ambil pusing tentang siapa yang mengantarnya dan beranjak dari depan penyimpanan sepatu itu.


Hannah menggandeng Emy dan membuatnya duduk di kursi depan mobil berwarna merah kesayangannya itu.


" Kakakku pasti akan mengantarmu dengan selamat dan penuh kasih sayang ... hehehe ..." Goda Hannah


Emy yang tak mengerti maksud Hannag, hanya mengangguk dan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Kelelahan mulai menderanya. Hingga tak menyadari kapan Mahendra masuk dan melajukan mobil.


Dalam perjalanan, Mahendra menggunakan kesempatan untuk melirik Emy yang tertidur pulas. Bahkan, saat di lampu merah, ia sengaja mendekatkan wajahnya melihat wajah cantik Emy dan tersenyum. Tak pernah ia merasakan begitu senang berada dekat wanita.


Ia bukan laki-laki dingin dan bukan juga seorang playboy. Ia adalah seorang yang menjalani hidupnya dengan santai tapi serius. Dulu, ia pernah berpacaran dan serius ingin menikahi pacarnya itu. Tapi ternyata, rencananya itu hanya tinggal rencana. Kekasihnya meninggalkannya dan menikah dengan laki-laki yang lebih kaya darinya, Walau 7 tahun sudah mereka bersama. Ia tak menaruh sakit hati pada mantannya itu. Karena, ia tahu jodoh adalah dari Tuhan.


Emy terbangun, ketika tanpa sengaja Mahendra mengerem mendadak karena ada anjing yang lewat tiba-tiba.


" Kau tidak apa-apa?" Tanya Mahendra cemas dalam Bahasa Indonesia. Emy menggelengkan kepalanya dan mengatur posisi duduknya lagi, " Hmm ... tidak apa-apa kak." Jawab Emy tersenyum yang membuat Mahendra membeku.


Emy yang tak mengerti akibat dari senyuman itu, meraih tabletnya dan mulai berselancar. Pikirannya masih pada pasiennya, Kim So Yin


                                                                                                      

__ADS_1


__ADS_2