Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Foto


__ADS_3

Pagi itu, di sebuah ruangan luas dengan meja oval besar, duduk petinggi dan supervisor Kimtae Group. Wajah tegang, kepala menunduk, menekuk bibir karena seseorang yang duduk di ujung meja, di kursi kebesarannya. 2 jam sudah mereka duduk di sana. Mendengar banyak proposal dari berbagai divisi, namun tak satupun yang lolos. Malah amukan yang mereka dapat.


" Kalian bisa kerja apa tidak, hah?!" Bentak seorang laki laki berjas mahal, yang tak lain adalah bos besar mereka.


" Divisi keuangan dan perencanaan, apa apaan kalian? Apa kalian pikir aku tidak tahu kalau kalian sudah merencanakan sesuatu di belakangku?" Mata tajam Tae Sang menatap Kepala Divisi Keuangan dan Kepala Divisi Perencanaan. Keringat dingin dan kepalan tangan mereka, tak mampu menepiskan rasa takut yang menyeruak di dalam hati keduanya.


" Dan kau!... " Tae Sang menunjuk pada seorang wanita dengan pakaian kekurangan bahan. " Apa kau kira ini diskotik sampai kau pakai baju seperti perempuan malam?". Wanita berlipstik merah itu membelalakan matanya. Wajahnya seketika berubah seperti kepiting rebus. Bukan karena tersipu, tapi karena marah atas perlakuan Tae Sang, laki laki pujaannya, yang mempermalukannya di depan semua orang. Tapi ia harus menahan emosinya, jika tak mau di depak dari perusahaan raksasa Korea itu.


" Hyuk, proposal berikutnya!" perintah Tae Sang setelah ia kembali duduk dengan tenang seakan tanpa dosa. Byun Hyuk mengangguk dan memanggil wakil dari divisi lainnya untuk presentasi. Selesai dengan presentasinya, tampak ia menunggu untuk menjawab pertanyaan yang pastinya dari bos besar.


1 menit


2 menit


Hening


Semua menjadi gelisah, terlebih presentator yang masih berdiri di podium. Peluhnya sudah membasahi kemeja di balik jas yang ia pakai.


Drrrt...drrrttt...


Ponsel di dalam jas Byun Hyuk bergetar. Ia meraih benda pipih milik atasannya itu. Ya Setiap kali Tae Sang menghadiri rapat, maka Tae Sang akan memberikan ponselnya pada Byun Hyuk, karena hal yang paling Tae Sang benci adalah menerima telepon saat rapat. Byun Hyuk melihat sebuah pesan masuk dari seseorang yang ia kenal.


Karena takut itu adalah pesan penting, Byun Hyuk segera membukanya. Foto. Mata Byun Hyuk melekat pada foto itu. Tubuhnya membeku.


Klotak


Ponsel yang hanya ada dua unit di dunia, dibekali dengan kotak penyimpanan bermaterial platinum dengan tambahan tulang T-Rex, opal, sunstone, dan permata lainnya serta dibubuhi dengan 500 butir berlian, 500 butir berlian di logo Apple, lapisan emas 24 karat, dan tombol Home dengan berlin 8.6 karat. Memiliki harga setara dengan membeli rumah mewah itu terjatuh bebas di lantai ruangan yang saat itu begitu hening, membuat semua orang menatap ke arahnya.


Tae Sang menatap aneh asistennya yang duduk di dekat pintu masuk. Byun Hyuk perlahan memutar kepalanya melihat Tuannya. Mulutnya seakan terkunci tak dapat berkata kata. Tae Sang menautkan alisnya dan melihat arah jari Byun Hyuk menunjuk. Ponselnya.


" Asisten Byun Hyuk??" Panggil Tae Sang dengan nada tinggi dan diangguki perlahan oleh sang pemilik nama. Seorang wanita tiba tiba berdiri dan mengambil ponsel berwarna hitam-emas dengan logo apel tergigit itu.

__ADS_1


" Foto?". Wanita itu bertanya dan menoleh ke arah Byun Hyuk. Tae Sang yang mendengar itu, segera bangkit dan menyambar ponselnya.


" Saya sudah bilang, tidak ada yang boleh lihat ponsel saat..." Kata kata Tae Sang terhenti saat kepalanya menunduk dan melihat foto pada ponsel di tangannya. Matanya membulat sempurna. Hening. Diam.


Beberapa saat kemudian,


" Rapat ditunda!". Seru Tae Sang lalu memutar tubuhnya dan keluar, diikuti Byun Hyuk yang mengekor di belakangnya dengan pikiran yang berkecamuk. Semua yang jadir bernafas lega. Kecuali wanita bertubuh sintal dengan lipstik merah yang tebal.


Sampai di dalam kantornya, Tae Sang tak segera duduk. Ia berdiri dan terus menatap foto pada ponselnya.


" Hyu...Hyuk-a, apa di dunia ini memang ada du..dua orang dengan wajah sama?" Tanya Tae Sang terbata seraya membalikkan badannya dan melihat asistennya.


" Tu.. Tuan, apa mungkin kalo...", Byun Hyuk tak berani meneruskan kata katanya. Keduanya saling bertatapan.


" Coba Tuan Muda hubungi pengirimnya". Saran Byun Hyuk kemudian.


Tuttt...tuttt...


" Kau di mana?".


" Lauterbrunnen, Swiss. Segera ke sini. Aku tunggu!"


Tuuttt..


Sambungan telepon terputus.


" Hyuk, siapkan jetku. Kita berangkat 1 jam lagi!". Tae Sang segera mengambil paspor dan 2 kotak yang selalu ia simpan di dalam laci kantornya dan beranjak pergi.


" Nona Seo, kau tangani sementara di kantor". perintah Tae Sang ketika ia melewati meja sekretarisnya.


" Baik Tuan Muda". Jawab sekretaris itu sambil menunduk, walaupun atasannya telah berlalu.

__ADS_1


" Hyuk, telepon bibi Nam. Suruh dia menyiapkan kebutuhan anak anak sekarang". kata Tae Sang lagi ketika mereka sudah di mobil.


1 jam kemudian, Tae Sang dengan kedua putranya dan Byun Hyuk telah berada di dalam jet.


" Daddy! kita kemana?" tanya Micko dengan suara cadelnya yang lucu. Tae Sang yang melamun tersadar, ketika putranya menggoyang goyang lengannya. Sementara Mikha, yang memiliki sifat sang Daddy, duduk diam tanpa ekspresi dengan sebuah buku di tangannya.


" Kita akan berlibur. Kalian suka?"


" Yeayyy... Thanks Daddy. You are the best!". Micko bersorak kegirangan dan memeluk Daddynya. Tae Sang tersenyum dan menciumi Micko.


" Oo.. yang suka liburan ternyata cuma Micko, ya? Mikha kayaknya gak suka..." Goda Tae Sang dan mendapat tatapan tajam dari Mikha.


" hahaha... Tuan Muda mini!" celetuk Byun Hyuk tanpa sadar. Lalu menutup mulutnya ketika melihat picingan mata sang atasan.


' ih..nih mulut, lancang amat sih!' gumamnya sambil menepuk nepuk mulutnya sendiri. Tae Sang tersenyum simpul dan menggeleng, melihat asistennya. Ya, walaupun kedua putranya itu kembar, tapi sifat mereka benar benar berbeda. Micko adalah anak ceria, suka tersenyum dan suka menolong siapa saja seperti Emy. Sedang Mikha selalu berwajah tanpa ekspresi dan cuek. Terkadang Tae Sang dibuat pusing dengan sikap sok dewasa putra sulungnya yang berjarak hanya 2 menit dengan putra keduanya.


" Dad, apa kita mau beltemu Mommy?" tanya Mikha tiba tiba. Menghentikan candaannya bersama Micko, Tae Sang hanya menatap putranya tanpa berkata apapun.


" Sudahlah Dad, aku hanya beltanya..". Mikha kembali fokus pada bukunya. Tae Sang memalingkan wajahnya dan melihat keluar jendela.


" Dad, apa benar seperti Mikha bilang? apa Mommy sudah gak malah lagi cama Micko dan Mikha? Mommy cudah mau ketemu Micko cama Mikha?" Tanya Micko polos. Butiran air mata menetes di pipi hot Daddy itu. Ia berusaha tersenyum dan mengangkat putranya ke pangkuannya.


" Mikha, Micko... Mommy gak pernah marah sama Mikha dan Micko. Karena Mikha dan Micko anak baik". Ucap Tae Sang.


" Tapi Mommy kok gak pelnah pulang tengokin Mikha cama Micko?" ganti Mikha bertanya pada Daddynya. Lidah Tae Sang tercekat. Dengan menggendong Micko ia mendekati Mikha dan memeluknya.


****


Jangan lupa VOTE, LIKE, RATE, KOMEN ya say....


Thank youuuuu 🤗😘

__ADS_1


__ADS_2