Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Evan dan Hannah


__ADS_3

" Kami... kami sudah bertunangan, aku sudah melamar Evan, kemarin malam...hehehe" kata Hannah tersipu malu. Evan yang juga terlihat malu pun hanya mampu mengalihkan matanya ke arah lain.


glek...ehemm...kehmm..


Emy tersedak salivanya sendiri mendengar pengakuan Hannah. Matanya membulat dan mulutnya menganga tak percaya...


" hmm.. Emy... kau... kau merestui kami berdua kan?" Hannah yang melihat ekspresi Emy, mulai merasa takut kalau Emy tak akan merestui hubungannya dengan ayah babtisnya itu.


Emy yang masih saja melongo, hanya mengangguk seperti orang bodoh. Bibir Hannah terangkat dan tersenyum sumrigah. Dengan cepat Hannah melepas tangan Evan, membuat laki laki bertubuh kekar itu kaget karena tangannya dihempaskan begitu saja, sementara Hannah menghambur memeluk Emy erat.


" makasih Emy... makasih..." ucap Hannah di ceruk leher Emy. Hannah melepas pelukannya dan


cup


Hannah mencium pipi Emy, dan lagi lagi Emy kaget dibuatnya. Mata Emy melotot dan tangan yang masih tertancap infus memegang pipinya. Hannah dengan wajah tak berdosanya tersenyum lalu berdiri kemudian duduk di pangkuan Evan.


cup


Dengan berani, Hannah mencium Evan di bibirnya. Seperti ABG, Hannah tersipu dan menunduk. Sementara Evan, ia mengusap wajahnya dengan satu tangannya menahan malu, sedang satu tangannya berada dalam genggaman Hannah.


Emy menahan tawanya, lalu berdiri dan masuk dalam kamar mandi. Ia sudah tak dapat lagi menahan tawanya. Setelah membuka kran, Emy tertawa hingga perutnya terasa sakit.


Wajah Hannah dan Evan semakin memerah seperti kepiting rebus, mendengar tawa Emy dari dalam kamar mandi.


" mm... Hannah, duduklah disini, ini rumah sakit!" kata Evan, ia merasa malu dengan tingkah Hannah.


" kenapa? kenapa harus malu? kau kan...kekasihku..." kata Hannah dengan malu malu. Ia merasa nyaman berada di pangkuan Evan. Ia juga ingin semuanya tahu, kalau Evan adalah miliknya.


" iya, tapi... "


" apa kau malu mengakuiku sebagai kekasihmu?" kata Hannah dengan kesal, lalu turun dari pangkuan Evan menuju ke jendela kaca. Evan gemas dengan wajah cemberut Hannah. Segera ia berdiri dan memeluk tunangan kecilnya dari belakang.

__ADS_1


" Jangan marah, aku cuma gak percaya diri, karena kekasihku terlalu sempurna buat aku. Kamu itu masih muda, imut, lucu,baik, kaya lagi. Sedang aku, aku sudah tua dan tak punya apa..." ucap Evan dengan dagu yang ia letakkan di bahu Hannah.


" Evan, aku sudah bilang, kan. aku sangat sangat mencintaimu, bukan kantongmu. Aku juga tak peduli usiamu. Asal kau mencintaiku, itu sudah cukup buat aku." Hannah membalikkan badannya, memegang kedua pipi Evan dan menatap lekat calon suaminya itu. Evan tersenyum dan memeluk erat Hannah dan mencium pucuk kepalanya.


" Terima kasih, sayang...terima kasih..." Mata coklat Evan berkaca kaca. Sungguh tak percaya, di usianya yang menginjak kepala 5, ia mendapat calon istri yang usianya terpaut sangat jauh, dan menerimanya apa adanya.


Emy tersenyum bahagia melihat Hannah dan Evan.


" Semoga kalian selalu bahagia. Aku berharap, aku bisa menyaksikan kalian menikah dan memiliki anak. Tapi sepertinya, waktuku... " gumam Emy sedih.


***


Kesuksesan Emy memimpin operasi bedah beberapa hari lalu, menjadi bahan perbincangan di media massa. Kakek Kim dan pak Man Ho mendapat kabar bahwa Emy sedang dirawat karena kelelahan. Akhirnya Kakek Kim menyuruh Direktur Kang, memberi Emy libur beberapa hari, bukan hanya Emy tapi seluruh kru tim bedah.


Dr.Lee datang dan memeriksa keadaan Emy. Ia membolehkan Emy pulang. Hannah dengan sigap membantu Emy berganti pakaian. Dr. Lee dan Evan duduk di sofa menunggu kedua wanita itu.


" mm..aku minta maaf karena membentakmu kemarin." ucap Evan memecah kecanggungan diantar mereka.


" Entah berapa lama aku di sini. Karena itu, tolong jaga Emy." pinta Evan tulus menatap dr.Lee


" pasti! dia adalah adikku, jadi aku pasti akan menjaganya. Jangan khawatir."


Evan tersenyum dan mengangguk. Sebenarnya ia ingin menjaga Emy di sini, tapi tanggung jawabnya di rumah singgah dan L' amour begitu besar, tak mungkin ia tinggalkan begitu saja. L'amour dan rumah singgah juga sangat berarti buat Emy, ia sudah berjanji menjaganya untuk Emy.


" Kapan kalian akan menikah?" tanya Dr.Lee. Ia sudah tahu kalau Hannah ke Amerika bukan hanya untuk perjalanan bisnis, tapi untuk melamar laki laki di depannya ini. Dan ini kali pertama ia melihat pria yang sudah merebut hati sepupunya itu.


" mm... 6 bulan lagi, kami menunggu Emy menyelesaikan kontraknya di sini, jadi ia tak kan kesulitan mengambil cuti." jawab Evan, matanya memancarkan kebahagiaan dan dr.Lee bersyukur karena cinta sepupunya tak bertepuk sebelah tangan.


***


Emy memutuskan kembali ke rumahnya untuk sementara. Ia tak mau Evan mengetahui tentang pernikahan kontraknya dengan Tae Sang. Emy juga sudah meminta ijin kakek, untuk bisa bersama dengan Evan dan Hannah.

__ADS_1


Hari kedua setelah kepulangannya di rumah sakit\, Emy sudah kembali bekerja. Bahkan ia mendapat giliran di IGD. Beberapa kali Emy harus ke kamar mandi karena darah yang menetes dari hidungnya. Emy menyuntikkan obat ******* agar tenaganya tidak drop. Ia tak ingin kembali terbaring di ranjang pasien.


Evan akhirnya kembali ke Amerika, setelah 3 hari ia menemani Emy. Hannah mengantarkan Evan ke bandara, karena Emy harus bekerja.


' berarti, malam ini aku harus kembali ke villa itu...fiuhh..' keluh Emy dalam hati.


***


Walau Tae Sang mengetahui Emy dirawat, Ia sama sekali tak memperdulikannya. Bahkan sampai Emy sudah kembali bekerja, tak pernah ia berkunjung atau sekedar menelepon dan mengirim pesan. Ia masih menganggap, semua yang Emy lakukan hanya untuk mengambil hati kakeknya.


Dengan paksaan kakek Kim untuk Tae Sang segera melangsungkan pernikahan dengan Emy secara terbuka, membuat kebencian itu semakin subur bertumbuh di hati Tae Sang.


Kriiingg.... Kriinggg...


" hai, bro!" teriak seseorang di balik telepon, ketika Tae Sang sudah mengangkatnya.


" haduh, jangan teriak!" Tae Sang menggosok telinganya karena terasa pekak.


" hehehe...hei, kita dah lama gak nongkrong dirumahmu. Kamu ada waktu kan?"


" Kenapa kok harus dirumahku, sih?"


" hei, cuma rumahmu yang enak, besar plus bebas...hahaha... kamu juga banyak Wine sama Scotch, kan? hahaha..."


" uh..dasar kau! ya sudah, call yang lain juga. jam 7 dirumah. ok?"


tanpa menunggu jawaban, Tae Sang mematikan panggilannya dan kembali tidur.


Sebelum pulang, Emy pergi ke rumah kakek untuk memberikan terapi kemo. Emy sengaja memajukan harinya karena ia sudah berencana ke sanatorium besok. Sudah sebulan ia belum mengunjungi eomma.


" kakek, ada kabar baik buat kakek." kata Emy saat menyelesaikan sesi terapinya.

__ADS_1


__ADS_2