Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Kesempatan Mengejarmu


__ADS_3

Eva dan Mahendra berjalan mesra sepanjang jalan. Mereka menikmati indahnya pemandangan yang tersaji.


Mereka membeli tiket ke air terjun Trummelbach di tempat penjualan oleh-oleh. Dari sana, Eva dan Mahendra melanjutkan langkah mereka ke lokasi air terjun lewat jalan raya. Jika lewat jalan utama, maka dari kota Lauterbrunnen hanya akan menghabiskan waktu 20-30 menit menuju air terjun. Biasanya Eva mengambil rute menyusuri sungai untuk ke air terjun terindah di Pegunungan Alpen itu, tapi itu akan memakan waktu 15 menit lebih lama.


Sampai di Trummelbach, mereka disambut indahnya padang rumput dan bunga-bunga indah yang mengarahkan mereka ke sebuah lift. Air Terjun Trummelbach, adalah air terjun yang terdapat di bagian dalam pegunungan Alpen. Dan lift itu terdapat di dalamnya.


Beberapa wisatawan, terpaksa tidak diijinkan masuk karena mereka memakai sandal (seperti model sandal Carvil/sandal bertali), sepatu dengan hak, dan sandal jepit. Untunglah Eva sudah beberapa kali ke tempat ini, jadi ia dan Mahendra sudah memakai sepatu gunung dengan sol karet. Karena jalanan di dalam basah dan licin, jadi akan sangat berbahaya, jika tidak memakai alas kaki yang sesuai.


Eva dan Mahendra akhirnya mendapat giliran masuk lift kaca dengan 2 orang lainnya. Mereka dapat melihat arah lift yang bukan vertical tapi diagonal yang membawa mereka naik hingga separo perjalanan. Sampai di ujing lift, mereka harus melewati jembatan lagi dan naik 204 anak tangga untuk bisa mencapai air terjun. Mereka melewati indahnya jalan setapak didalam goa dengan pembatas di sisi kiri sebagai pengaman karena adanya jurang sempit dan sangat dalam di sisi itu, serta lampu berwarna kuning yang menambah keindahan goa.


" Kamu capek, Va?" tanya Mahendra lembut sambil merapikan anak rambut Eva yang terjatuh acak di wajahnya.


" Nggak, ayo kita keatas. Rasanya seger kalo dah di dalam trus bisa liat air terjun 12 susun," sahut Eva semangat.


" Hahaha...iya. Lauterbrunnen ini beneran amazing banget!"


Dengan semangat mereka menaiki lagi tangga di dalam goa menuju ke puncak gunung. Di sana ada air terjun spiral 12 susun yang luar biasa. Air deras yang tak pernah berhenti mengalir dan segar. Cipratan air menambah keceriaan di wajah Eva dan Mahendra. Banyak foto yang mereka ambil sepanjang perjalanan. Bahkan Eva juga berfoto bersama para wisatawan dari berbagai negara di platform yang tersedia di atas air terjun.


Puas menikmati kesegaran air terjun, kini mereka berjalan kembali menyusuri jalanan sempit di dalam goa dan banyaknya anak tangga. Mereka tak lagi memakai lift, tapi menggunakan anak tangga yang, wow, sangat banyak untuk mencapai dasar. Tapi perjuangan mereka terbayar dengan hamparan lembah Lauterbrunnen yang sangat indah tepat di depan mata, walau harus menuruni anak tangga yang lebarnya hanya cukup untuk 1 orang dewasa saja.


Sepanjang perjalanan, Eva terus tertawa. Tak menyadari adanya sepasang mata yang mengikuti sejak mereka masuk ke dalam kota.


" Va, apa kau keberatan jika... aku memajukan tanggal pernikahan kita?" tanya Mahendra ragu, ketika mereka sampai di jalan setapak dengan pembatas bambu di mana hamparan luas padang rumput yang hijau, rumah penduduk dan tebing-tebing dengan air terjunnya yang indah, menjadi sajian mata keduanya. Eva menoleh dan tersenyum pada Mahendra. Perlahan Eva membalikkan badannya dan menatap laki laki berlesung pipit di depannya.


" A..."


" Eva, bisakah kau memberiku juga kesempatan untuk mengerjarmu?"


Eva membalikkan badan dan Mahendra mendongak, mereka terkejut. Eva tak menyangka yang memotong kata-katanya adalah laki laki yang sama, yang salah meamanggil namanya.

__ADS_1


" Tu... Tuan Kim Tae Sang? " Eva memiringkan kepalanya dan menautkan alis.


" Iya, aku Tae Sang. Bisakah kau juga memberiku kesempatan untuk mengejarmu? Aku percaya, aku punya hak yang sama dengan laki-laki di sebelahmu itu untuk mengejarmu, aku mohon," Tae Sang berucap dan perlahan mendekati Eva. Mahendra memandang geram Tae Yang. Tangannya sudah terkepal menahan emosi.


" Maaf, Tuan Kim, tapi Eva adalah tunangan saya, dan kami sedang membicarakan pernikahan kami." Mahendra memeluk posesif bahu Eva san menatap tajam Tae Sang.


" Maaf, saya hanya menunggu jawaban dari Eva." Tandas Tae Sang tanpa melihat Mahendra karena matanya masih terfokus pada wanita cantik dengan rambut sebahu yang sedang mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


Di pusat kota Boston, Evan, Hannah, Luther menatap seorang wanita yang membuat mereka terdiam membeku. Mereka tak percaya dengan mata mereka sendiri.


Hannah mencubit lengan yang ada di sebelah kirinya.


" Aaww...!" jerit suara laki-laki membuyarkan lamunan ketiganya.


" Hannah! Ngapain kamu cubit aku?!" geram Luther.


" Sudah!... Apa... apa kalian juga lihat? Aku gak sedang mimpi, kan? Iya, kan? " Kata Evan menatap istrinya dan Luther bergantian. Hannah dan Luther mengangguk pasti.


" Kalau begitu, kita ikuti dia, Ayo!" Evan segera berdiri, diikuti Hannah, dan Luther meletakkan beberapa lembar dollar di atas meja untuk makanan yang baru sempat mereka makan sedikit.


Evan sudah siap di balik kemudi ketika Hannah dan Luther masuk ke dalam mobil. Evan segera melajukan mobilnya, membuat Luther dan Hannah terantuk jendela, karena mereka belum siap dan sedang belum memasang sabuk pengaman.


" Aauwww...!"


" Aahhh...!"


Jeritan keduanya tak dipedulikan Evan. Ia terus menancapkan gasnya menyusul mobil wanita itu. Luther dan Hannah tak sedikitpun protes dengan cara Evan menyetir. Mereka juga ingin memastikan penglihatan mereka.


Perlahan Evan mengurangi kecepatan mobilnya. Mereka tiba di sebuah kompleks perumahan kumuh. Wanita ber-dress putih sederhana sebatas lutut keluar dari mobilnya dan membuka bagasi. Banyak sekali kotak makanan didalam tas plastik. Gerombolan anak-anak, tua, muda berkumpul mengerumuni wanita itu. Senyuman mereka merekah mendapat makanan gratis. Tak terkecuali Evan dan lainnya yang melihat aksi sosial dadakan wanita cantik itu.

__ADS_1


Tak mau lagi menunggu, Luther dan Evan segera keluar dari mobil. Kedua laki-laki itu berlari dan menghampiri wanita berbaju putih yang masih setia tersenyum dan membagi makanan kotak. Menerobos beberapa orang yang mengantri, Evan berlari dan memeluk erat wanita itu.


Hannah pun perlahan telah berjalan mendekati mereka. Air mata terus berderai membasahi pipinya. " Benarkah? Benarkah dia..." lirihnya... " Kumohon, aku mohon..."


***


Hmm?? Apa ya jawaban Eva atas permintaan Tae Sang? Lalu siapa yang dikejar Evan, Luther dan Hannah? Siapa wanita itu? Benarkah Eva adalah Emy?


Ayo, dong say kasi VOTE, RATE, LIKE n KOMEN ya?


VOTE aku perluin agar bisa terus berkarya di sini. Jangan pelit dong say, kan nge-Vote gak bayar tapi pake poin.


Menulis cerita tidaklah mudah. Kami harus mengorbankan waktu, tenaga, dan memeras otak untuk membuat line cerita menarik dan layak baca.


Vote memungkinkan kita untuk naik level dalam menulis. Dan tentunya kita berharap kerja keras kita dapat diterima dengan baik.


Please, say jangan hanya baca saja, tapi luangkan waktu untuk Vote, Rate, Like dan Komen.


Dengan memberi Vote, akan menjadi semangat aku, bahwa ternyata banyak yang menyukai karya aku buat.


Bukan hanya pada Novel aku ya guys. Tiap novel yang kalian baca, please kasi dukungan kalian. Karna itu adalah semangat para Author dalam menulis cerita.


Terima kasih


😘😘🤗🤗


Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.


🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2