
Malam saat Emy kembali dari kediaman kakek, Tae Sang sudah berada dirumah. Ia tak sendiri melainkan bersama teman-temannya. Mereka bercanda di ruang TV. Tak ada yang mempedulikan Emy atau bahkan menyapanya.
Mereka hanya sedikit melirik kearah Emy lalu kembali mengobrol dan menikmati minuman haram yang tersedia di meja. Emy kembali ke kamarnya dan membersihkan diri.
" Hei ... dia cantik juga ..." kata Shin Dae Jung putra kedua keluarga Shin.
" Hahaha ... dasar playboy. Kalau kau mau, ambil saja," kata Tae Sang enteng.
" Wah ... gila kamu! Walau begitu dia istrimu, Tae Sang!"
" Istri? hahaha ... aku saja malas melihat wajahnya."
" Kalau kamu memang tak menyukainya, cerai saja, kasihan dia."
" Hei! kamu pikir aku tak mau? Kalau bukan karena kakek, sudah lama aku usir dia dari sini!"
Ketiga teman Tae Sang geleng-geleng kepala melihat Tae Sang yang begitu kekanakan. Mereka juga tak menyukai Emy, karena penjelasan Tae Sang soal siapa Emy, walau mereka sedikit meragukan itu.
" Hei, bro! terus bagaimanabkamu dengan Helena?" tanya Willy Joo sambil menuangkan botol Scotch ke dalam gelasnya.
Semua memandang Tae Sang, Tae Sang hanya manggut-manggut dan mencebikkan bibirnya.
" Dia ... katanya ada pekerjaan lagi di Amerika. Hahaha ... sepertinya pekerjaan dia lebih penting dari aku," jawab Tae Sang lesu.
" Hei ... sudah ... sudah, jangan bicara soal Helena. Sekarang bagaimana kau dan Emy?"
tanya Shin Dae Jung mengalihkan pembicaraan.
" Huh? Apa maksudmu bagaimana? Ya, bagaimana lagi, mau tak mau aku harus menunggu sampe kakek lebih baik atau kalau tidak ya, beberapa bulan lagi ... setelah itu aku bebas ... hahaha ... Aku tidak akan lagi melihat wajahnya yang menyebalkan itu," kata Tae Sang bersemangat, walau saat ia mengatakan itu, hatinya terasa sedikit sakit, tapi tak ia hiraukan.
__ADS_1
Ketiga teman Tae Sang menyadari, bahwa Emy sedang menguping pembicaraan mereka secara tak sengaja, tapi mereka membiarkannya.
Ketika mulai terdiam, Emy melangkah keluar dari balik dinding tangga. Tae Sang yang menyadari ada langkah kaki dibelakangnya, menoleh sebentar kearah Emy dan kembali mengambil botol wine didepannya.
' Apa dia mendengarnya? ah ... sudahlah, biarkan saja ..' batin Tae Sang, ia terus menyesap gelas wine di tangannya.
Emy pergi ke dapur dan mengambil minuman lalu kembali ke kamarnya. Ia berusaha cuek, tapi tetap hatinya terasa sakit. Dengan malas ia melangkah ke depan kaca dan memandang wajahnya.
Ia tersenyum dan terus tersenyum. Menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menenangkan diri agar dadanya tak lagi merasa sesak.
" Jangan menangis Emy, kamu tidak apa-apa ... jangan menangis!" kata Emy menyemangati dirinya.
" Ufftt ... perutku sakit!" tiba-tiba saja perut Emy terasa melilit. Dengan cepat ia berlari ke kamar mandi di balik tangga. Selesai dengan panggilan alam, Emy segera keluar dari kamar mandi.
Saat akan melangkah ke kamarnya, seseorang menarik tangannya dengan kasar dan membuatnya terjatuh dalam sebuah pelukan.
" Ohohoho ... sepertinya kamu sudah tak sabar, ya..." Emy berontak dan berusaha melepaskan pelukan laki-laki itu.
" Pres ... presdir... tolong ... lepaskan ... sa .. saya..." Emy berusaha mendorong tubuh Tae Sang, tapi apalah kekuatan seorang wanita dengan bobot hanya 45 kg dibanding seorang laki laki dengan bobot 85kg.
Tae Sang semakin merapatkan tubuh Emy padanya tanpa melepas pagutannya. Emy terus meronta tapi laki-laki itu seperti tak peduli.
Akhirnya Tae Sang merasa terusik, karena penolakan Emy.
Plaakk
Tamparan keras mendarat di pipi Emy. Air mata semakin mengalir dengan deras.
" Kau sudah dibeli kakekku, sayang bukan kalau tidak terpakai ... sini!" seringai Tae Sang, matanya memancarkan nafsu yang begitu besar.
__ADS_1
Tae Sang menarik paksa Emy. Jeritan dan permohonan Emy tak ia dengarkan. Karena tak sabar dengan Emy yang menahan badannya agar tak terseret, Tae Sang akhirnya memanggul Emy layaknya beras dan membanting badan kecil itu ke kasur single yang ada di kamar Emy dan menindihnya.
Tae Sang kembali ******* bibir Emy. Emy mengatupkan bibirnya, menolak ciuman Tae Sang. Melihat itu, Tae Sang menggigit bibir Emy dan membuat Emy membuka bibirnya.
Tangannya mengunci tangan kecil Emy diatas kepala. Pagutan liar itu turun ke leher jenjang dan mulus itu dan membuat tanda disana. Emy terus menangis dan meronta, ia menutup matanya dan mengarahkan kepalanya ke kanan dan kekiri, saat pagutan itu menyentuh lehernya. Berharap laki-laki itu akan berhenti.
Plakk..
Kembali tamparan mendarat di pipi mulus Emy. Kemudian tangan itu merobek dan membuang pakaian Emy entah kemana.
Melihat mangsanya sudah bertelanjang dada, Tae Sang semakin bergairah. Tubuh putih dan mulus itu begitu menggoda. Ia segera melepas pakaiannya tanpa beranjak dari atas tubuh Emy.
Ia menghimpit tubuh Emy dengan pahanya yang kokoh. Tangan Emy terus berusaha mendorong agar terlepas dari kungkungan laki laki itu, tapi sayang, ia tak berhasil.
Tae Sang telah berhasil melepas pakaiannya. Tangannya segera menarik dan merobek pengaman terakhir dari tubuh Emy, yang menutupi bagian sensitifnya. Tanpa aba-aba, Tae Sang memasuki daerah terlarang Emy dan membuat wanita itu menjerit kesakitan. Emy berharap semuanya hanya mimpi buruk.
Tae Sang tersenyum setelah melampiaskan hasratnya. Ia melihat Emy yang tak sadarkan diri, lalu tertidur disamping wanita yang telah ia rampas mahkotanya secara paksa itu.
Dini hari Emy terbangun. Ia menatap sekeliling dan terkejut melihat Tae Sang disampingnya. Emy bangkit dan terduduk. Terisak meratapi apa yang telah menimpanya. Semuanya nyata dan bukan hanya mimpi.
Emy melangkah perlahan menuju kamar mandi sambil menahan rasa perih di area kewanitaannya. Emy membuka kran shower dan berdiri sambil menggosok tubuhnya tanpa henti.
" Aku kotor ... aku kotor ... hiks hiks ... appa ... aku kotor .... huuaaaaa ..... appaaa...."
Suara burung menyambut pagi begitu nyaring bak alarm di telinga Tae Sang pagi itu.
" Ugghh ... aghhh..." Tae Sang memegang kepalanya yang terasa pusing. Ia melihat tubuhnya yang tak berbalut sehelai benang.
" Ah ... apa yang terjadi, kenapa aku di kamar wanita murahan itu?" Tae Sang berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Hanya bayangan sekilas yang dapat ia ingat. Saat ia berusaha mengingat, ia melihat noda darah diatas seprei berwarna krem itu.
__ADS_1
" Ya, Tuhan... apa yang aku lakukan?! aarrggghh ... aduhhh ... wanita itu, dia menggodaku ... pasti dia sudah menaruh sesuatu dalam minumanku. Aku tak pernah seperti ini kalau mabuk. Iya ... pasti dia sudah menaruh sesuatu pada minumanku. Dasar kurang ajar!!!" Tae Sang terus menolak ingatan yang berputar di pikirannya.
" Helena ... Helena ... maafkan aku, Helena.... aarghh ..." Tae Sang berdiri dan memakai pakaiannya. Ia segera keluar dari kamar Emy. Saat melewati kamar mandi, ia mendengar suara air terus mengalir.