Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Persidangan Tae Yang


__ADS_3

" EMYYYY!!"


Suara teriakan kembali terdengar di seluruh Mansion. Lienda, Dennis dan Luther menutup telinga mereka mendengar teriakan Evan sedari tadi.


" Paman! Sudahlah, jangan teriak lagi. Nanti juga turun," kata Luther kesal


" Adikmu itu entah apa yang dia lakukan. Hanya ganti baju lama sekali. Biasanya juga pakai kaos sama jeans saja kalau keluar," omel Evan


" Paman, itu dulu waktu Emy masih kuliah. Sekarang dia sudah istri, sudah ibu. Ya, jelas bedalah ..." Sahut Luther


" Maaf ... lama menunggu ... hehe ..."



Semua menoleh


Glodak ...


Ponsel di tangan Luther terjatuh bebas


Kedip


Kedip


" Em-emy ... kau tahu kan, kita mau menghadiri sidang, bukan pesta," kata Luther sambil menatap Emy. Seperti sudah berlatih sebelumnya, yang lainnya mengangguk spontan


" Aku salah kostum, ya?" tanya Emy dengan polosnya sambil melihat ke arah orang-orang di depannya. Semuanya mengangguk bersama dengan mata tetap menatap aneh Emy


" Baiklah, sebentar," kata Emy dan kembali naik ke atas


" Luther ... apa itu tadi adikmu?" tanya Evan dengan wajah bengong


" Ehem ... sepertinya iya ..." jawab Luther dengan wajah bengong pula dan mengerjapkan mata.


Dennis dan Lienda saling menatap dan sama-sama menggelengkan kepalanya.


Tak lama mereka kembali menoleh melihat Emy yang sudah kembali dengan baju berbeda dan bergaya di depan lift di sisi kiri mereka



" Bagaimana?" tanya Emy sambil berputar dan tersenyum


Evan dan Luther menggeleng. Dennis dan Lienda menaikkan alis. Emy cemberut dan kembali lagi ke atas.


" Oh ... Ya ampun. Ada apa dengan anak itu?" ucap Evan dan mengusap kasar wajahnya


" Itu karena sudah lama tak dapat vitamin dari suaminya, Paman," sahut Dennis.


Plak


" Aufff ... Mami! Sakit!" rengek Dennis. Karena Lienda memukul lengannya sangat keras


" Luther, kita turun saja dan tunggu di ruang tamu," kata Evan dan beranjak dari sana. Diikuti Dennis dan Lienda tanpa bersuara


Sampai di ruang tamu, Pak Jang datang


" Nyonya, mari saya antar," kata Pak Jang dalam bahasa Korea. Lienda yang tak mengerti bahasa Negeri Ginseng, diterjemahkan Evan

__ADS_1


" Oh, baiklah. Ayo," kata Lienda. Hari ini Lienda tidak mengantar Emy, karena hari ini adalah saatnya untuk Yason check up terakhir sebelum diijinkan pulang


" Haduh, jam berapa ini? Lama sekali dia," gerutu Luther


Tak ... Tak ..


" Haii ... bagaimana kalau ini?"


Emy berjalan turun dari tangga seperti peragawati lalu memutar tubuhnya dan tersenyum manis



Mata Evan, Dennis dan Luther membulat. Mulut mereka menganga.


" Bagaimana, apa ... aku sudah cantik?" tanya Emy dengan suara yang ia lembutkan dan sedikit mendesah


Ketiga lelaki itu mengangguk-angguk seperti orang bodoh


" Apa ... cocok denganku?"


Lagi, ketiganya mengangguk.


" Baiklah, mari kita pergi," ucap Emy kemudian dengan cepat dan suara yang kembali normal.


" Aarghhh ... EMYYYY!!!" seru Luther dan kedua pria lainnya. Mereka mengejar Emy yang sudah berlari dan tertawa keras, karena berhasil mengerjai tiga pria itu.


Setelah mobil yang membawa Evan, Emy dan Luther pergi, Dennis yang tak ikut karena menjaga ketiga keponakannya, segera berlari masuk ketika seorang pelayan melapor kalau si kembar sudah bangun dan mencari Mommynya


Kejaksaan


Jung Hyuk membawakan pakaian ganti untuk Tae Yang. Lelaki itu hanya bisa membersihkan diri dengan tisu basah. Karena tak ada kamar mandi. Hanya ada toilet dan washtafel yang tersedia di ruangan kecil itu.


" Hyuk, apa ada kabar baru dari rumah? Bagaimana keadaan istri dan anak-anakku?" tanya Tae Yang seraya mengganti bajunya


" Nona dan Tuan-tuan kecil semua baik, Tuan Muda. Nona juga berhasil membantu operasi Ayah kandung Nona yang terkena tumor di lututnya," lapor Jung Hyuk dengan tangan membereskan baju Tae Yang


Tangan Tae Yang terhenti. Alisnya bartaut.


" Ayah kandung Emy?" ulang Tae Yang. Jung Hyuk menoleh dan mengangguk


" Benar, Tuan Muda. Ayah Nona Muda tiba-tiba saja datang ke Emerald dan bertemu dr. Lee. Sepertinya, Ayah Nona Muda memberitahu kalau dia adalah Ayah kandung Nona. Jadi, dr. Lee memanggil Nona Muda dan memberitahu kalau Ayahnya terkena tumor ganas di lututnya. Lalu dibantu dr. Yu Zhen dan dr. Lee, Nona mengoperasi Ayahnya," jelas Jung Hyuk


Tae Yang mengangguk dan perlahan tangannya terus merapikan pakaiannya


" Apa ... Emy sudah memaafkan mereka?"


Jung Hyuk menatap sebentar majikannya, menghela nafas dan menggeleng.


" Saya tidak tahu, Tuan. Karena Nona tak pernah mengatakan apapun. Tapi, keberhasilan penangkapan penyelundup itu juga atas bantuan kakak Nona, dan Nona terlihat akrab dengannya. Nona juga sering ke rumah sakit," kata Jung Hyuk


" Kakak Emy?" tanya Tae Yang. Jung Hyuk mengangguk


" Jadi, mereka semua disini?"


Lagi Jung Hyuk mengangguk. Tae Yang tersenyum. Jika memang benar Emy sudah memaafkan keluarga kandungnya, itu berarti istrinya bisa kembali menerima mereka. Kesempatan untuk kembali bersatu dengan keluarganya sangat besar. Dan selama ini, Tae Yang menantikan itu. Ia tahu, Emy sangat merindukan keluarganya.


Rencana Tae Yang adalah memboyong orangtua Emy untuk bisa tinggal bersama, sehingga Emy bisa bahagia.

__ADS_1


" Baiklah, Hyuk. Aku sudah selesai. Kita berangkat sekarang," kata Tae Yang. Jung Hyuk mengangguk. Di depan, sudah ada petugas kepolisian yang akan mengawal Tae Yang ke pengadilan


Jung Hyuk menunduk hormat dan kembali ke mobilnya. Sementara, Tae Yang masuk ke dalam mobil kepolisian.


Pengadilan Negeri Seoul


Emy dan Evan duduk di bangku tepat di sisi kiri Luther. Evan terus memegang tangan Emy yang gemetar. Evan paham, bahwa putri babtisnya itu punya pengalaman buruk dengan Pengadilan. Setiap ke pengadilan, tangannya akan menjadi dingin dan gemetar


" Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Setelah ini, suamimu akan kembali padamu. Percayalah, hmm?" hibur Evan


" Iya, Paman. Tapi ... apa Shin Dae Ho sudah tertangkap? kenapa tidak ada beritanya?" tanya Emy


" Kepala keluarga Shin yang baru, mengakui semua tuduhan dilakukannya sendiri. Dan Shin Yuri ikut terseret karena diadukan oleh ajudan Mahkamah Agung, sebagai dalang terjerumusnya tuannya dalam penyuapan oleh Il Kook. Shin Dae Ho ... bebas tanpa dakwaan," kata Evan


" Tapi ... apa benar Shin Dae Ho otak dari semuanya, Paman?" tanya Emy


" Aku yakin begitu. Tae Yang sama sekali tak pernah punya urusan dengan Shin Mae Dong (kepala keluarga Shin yang baru, adik ayah Shin Dae Ho) yang menjadi alasan bagi pria tua itu untuk menjebak Tae Yang,"


" Mungkin karena dendam, kakaknya meninggal karena Tae Yang membuat bangkrut perusahaannya," kata Emy


Evan terkekeh, " Tapi, yang membantu membangun perusahaan Shin Mae Dong adalah Tae Yang. Jadi, aku sangat meragukan kalau dia adalah otaknya," kata Evan


Emy mendesah. Ia masih cemas jika otak sebenarnya dari semua kekacauan ini masih lolos.


" Mana pengacara Oh?" tanya Emy dengan mata melihat ke pintu masuk. Evan melihat jam ditangannya.


" Iya, seharusnya dia sudah datang," kata Evan. Lelaki itu hendak mengambil ponselnya ketika sebuah suara menghentikannya


" Yang Mulia Hakim memasuki ruangan. Hadirin dipersilahkan untuk berdiri!" seru seseorang.


Emy dan semua yang hadir pun berdiri. Setelah Hakim memberi kode, mereka semua kembali duduk.


" Terdakwa dipersilahkan masuk!"


Tae Yang masuk dengan jas berwarna hitam dan kemeja putih tanpa dasi. Emy menatap suaminya. Senyumnya mengembang tapi air mata juga mengiringinya. Hatinya sudah sangat merindukan suaminya itu.


Tae Yang tersenyum hangat dan mengangguk. Dengan bibirnya, lelaki itu berucap " I Love You" tanpa suara.


Emy semakin menangis dan Evan memeluk dengan satu tangannya yang ia lingkarkan di bahu Emy.


" Tenanglah, Tae Yang pasti bebas hari ini," ucap Evan. Emy mengangguk dan menghapus air matanya


Tae Yang menatap sendu istrinya. Hatinya teriris karena ia selalu membuat istrinya itu menangis.


" Luther, mana Pengacara Oh?" tanya Tae Yang kemudian, karena kursi di sebelahnya masih kosong


Luther pun mengedarkan matanya. Ia juga tak tahu kenapa Pengacara Oh terlambat.


" Persidangan akan segera dimulai, Ada yang belum hadir?" tanya Hakim


" Pengacara Oh, Yang Mulia Hakim Ketua," jawab Luther.


" Saya beri waktu ..."


Brakk ...


"Saa yaa ..."

__ADS_1


Brukk ...


__ADS_2