
Mahendra diam tak bergerak. Masih pada posisinya menghadap Emy. Merasa janggal mobil belum bergerak, Emy mengalihkan perhatiannya dari benda kotak berukuran 12,9 inci dan berlambang apel tak utuh itu, dan melihat kedepan. Tapi, ia tak melihat apapun hanya jalanan dengan sedikit salju. Emy menyatukan alisnya dan menoleh kearah Mahendra.
“ Kak ... kak Mahendra ... Kak!” panggil Emy sembari melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Mahendra. Mahendra tersadar. Wajahnya memerah karena malu. Pelan-pelan ia memutar badannya dan kembali memegang setirnya dengan tergesa-gesa.
Ia melihat Mahendra menekan tombol mundur, lalu mengerem mendadak. Kemudian, ia melihat Mahendra menekan tombol untuk menyemprot kaca mobil, tapi menghentikannya lagi dengan cepat. Lalu, ia melihat Mahendra memasang lampu jarak jauh yang kemudian dia ganti dengan lampu sen. Keringat mengucur di kening Mahendra ketika ia melirik Emy dan memandangnya heran tak mengerti.
“ Kak, Kakak kenapa? “ tanya Emy polos dan memegang tangan kanan Mahendra ( di Korea setir berada disebelah kiri). Mahendra menoleh dengan cepat ke arah Emy dan tersenyum canggung lalu menggeleng.
Mahendra menarik nafas mengembalikan konsentrasinya. Mobil kembali melaju dengan mulus. Emy kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi penumpang dan mulai dengan aktivitasnya tadi, berselancar di dunia maya dengan Ipad lipatnya.
Akhirnya, setelah 30 menit mereka berkendara, Mahendra kembali berusaha untuk menarik perhatian Emy. Ia tak ingin melewatkan kesempatannya, karena besok malam ia sudah harus kembali ke Indonesia.
“ Ehem ... hem,” deheman Mahendra berhasil membuat Emy melihat padanya. Alis Emy terangkat melihat lelaki tampan disebelahnya.
“ Kak, Kakak lagi sakit tenggorokan?” tanya Emy dengan polosnya. Siku Mahendra yang tadi dengan tenang bertengger diatas setir, tergelincir. Namun Mahendra segera memposisikan duduknya kembali.
Tarikan nafasnya sedikit lebih cepat, bibirnya juga terkatup rapat. Emy masih menunggu jawaban Mahendra, dengan menatap Mahendra lekat. Mahendra sekilas melihat Emy yang menatapnya.
“ Hem ... sepertinya begitu.” Akhirnya Mahendra menjawab pertanyaan konyol Emy sekenanya.
Emy menganggukan kepalanya dan merogoh sesuatu dari dalam tasnya dan tersenyum ketika ia meraba benda yang dicarinya ada di dalam ransel bututnya itu. Emy menarik benda itu keluar dari dalam ranselnya dan menyodorkannya pada Mahendra dengan tersenyum.
Mahendra melihat Emy, ketika bahunya mendapat sentuhan dari Emy. Mahendra kembali melihat Emy sekilas tapi tak mengerti, dan kembali fokus melihat jalanan. Tapi Emy kembali menyentuh pundaknya.
Sekilas Mahendra melihat Emy kembali, ia melihat kode mata Emy. Lalu, ia melihat benda yang ada ditelapak tangan Emy. Permen pelega tenggorokan! Mahendra mengelap kasar wajahnya yang sudah bersih dengan satu tangannya.
__ADS_1
Dengan senyuman canggung, ia menerima permen yang Emy sodorkan padanya, ‘ Ya, Tuhan ... gadis ini memang jenius, tapi EQ-nya ... aku tak butuh pelega tenggorokan, Neng ... tapi pelega hati!’ batin Mahendra.
“ Udah Kak, makan saja. Aku masih punya banyak dirumah.” Kata Emy dengan senyuman tipis, ketika ia melihat Mahendra belum memakan permen itu. Mahendra hanya mengangguk pasrah.
“ Emy, hobimu apa?” Tanya Mahendra tiba-tiba. Emy membuka kembali matanya yang tadi sempat akan terpejam setelah ia menyandarkan kepalanya ke kursi.
“ Surgery and design.” Sahut Emy datar. Mahendra seperti tak percaya dengan jawaban Emy. Bagaimana mungkin operasi adalah hobinya.
“ Sur ... surgery? “
“ Yup ... why?” Emy melihat Mahendra dengan menyatukan alisnya, ia tak mengerti kenapa Mahendra mempertanyakan hobinya. Ia merasa tak ada yang aneh dengan itu.
“ Tidak apa-apa, hanya ... aneh saja. Aku pikir kamu suka menyanyi, jalan jalan, shopping atau apa begitu ...”
“ Hahaha .... buang-buang uang dan waktu, Kak. Banyak yang harus aku urus, jadi tak ada waktu buat itu.” Jawab Emy dan kembali memejamkan matanya. Mahendra melihat Emy sekilas karena ia sedang menyetir.
Akhirnya mereka sampai ditujuan. Perjalanan dari rumah Hannah ke Villa Tae Sang memakan waktu 1 jam 30 menit. Karena rumah Hannah terletak agak sedikit jauh dari kota. Emy memasukkan Ipadnya kedalam ranselnya.
“ Makasih Kak, hati-hati dijalan, ya ...” Kata Emy lalu turun. Wajah Emy sudah kusut karena mengantuk. Mahendra gemas melihat wajah bantal Emy.
“ Iya, sama-sama ... daaa ... Kakak pulang dulu, ya...” Pamit Mahendra tersenyum. Emy membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan. Dan mobil merah itupun melaju setelah melihat Emy telah masuk ke dalam.
Sepasang mata melihat interaksi Emy dengan pengemudi mobil dengan tatapan tajam membunuh, “ Dasar gadis murahan!” senyum seringai membuat wajah tampannya mengerikan.
Emy masuk kedalam rumah dengan lelah. Ia ingin segera ke kamarnya.
__ADS_1
“ Ooh ... ternyata kau masih kurang ya dengan uang kakekku?” perkataan Tae Sang membuat Emy terkejut. Ia tak menyangka jika orang yang paling membuatnya sebal itu tiba-tiba berdiri bersandar di kulkas dapur. Dengan menautkan alisnya, Emy menatap Tae Sang.
“ Apa maksud Anda, Presiden?”
“ Oh, masih pura-pura polos. Sudahlah, aku sudah tahu kebusukanmu! Dan itu membuatku bertambah jijik!”
“ Maaf Presiden, tapi saya tak mengerti apa yang Anda maksud!” Emy meninggalkan Tae Sang sendiri dan masuk kedalam kamarnya. Ia tak mau ambil pusing dengan perkataan tak jelas monster itu.
“ Kakek, apa aku bisa bertahan?” Gumam Emy. Ia teringat dengan permohonan kakek Kim beberapa waktu lalu.
Flashback on
Hari itu waktunya bagi Emy untuk pergi ke kediaman kakek Kim. Setelah menyelesaikan tugasnya di Rumah Sakit, Emy segera membawa Perawat Na ke kediaman Kakek Kim. Mereka disambut oleh pak Man Ho seperti biasanya.
Setelah 2 jam, Emy dan Perawat Na keluar dari ruangan Kakek Kim. Emy dan perawat Na menikmati kue dan jus yang disediakan pelayan untuk mereka. Ketika Emy hendak berpamitan, Pak Man Ho menghampiri Emy.
“ Nona, Tuan Besar ingin berbicara dengan Anda sendiri, perawat Na akan diantar oleh Paman Ong.” Ujar pak Man Ho sopan.
“ Baiklah, Perawat Na. Silahkan pulang dulu.” kata Emy
“ Baiklah, saya permisi dulu.” Setelah kepergian Perawat Na, Emy mengikuti pak Man Ho masuk kedalam ruang perawatannya itu.
“ Hai, Kek ... Ada apa? Apa Kakek ada keluhan?” Tanya Emy lembut.
“ Tidak, Nak. Duduklah disebelahku. “ Jawab kakek Kim lemah. Emy menurut. Ia menarik kursi penunggu yang ada disitu dan duduk.
__ADS_1
“ Nak, bagaimana ... kau ... dan ... Tae..Sang?” pertanyaan Kakek Kim, membuat senyum Emy memudar.
“ Nak ... aku tahu ... kau ... dan ... Tae ... Sang ... menikah ... karena aku ... bukan ... cinta ... tapi bisakah kau ... belajar men ... cintai ... Tae Sang ... dan ...meneri ... manya ... sebagai ... suami ... mu? ... hukk ... hukk ... hukk ...” Pak Man Ho memberi Kakek minuman dan mengelus lembut punggungnya, setelah membantunya untuk duduk.