
" Apa anda yakin, dok?" tanya asisten itu menatap lekat mata hitam dokter itu.
dr. Kalev mengangguk dan meneruskan tugasnya.
" Loop!" perintahnya kemudian. Dan saang perawat menurunkan kaca mata pembesar berbentuk silinder dari dahinya.
Tak lama kemudian, dr. Alfred menggantikan Kalev. Tanpa mengambil banyak waktu, Kalev berlari dan mencari Emy di ruang IGD.
" Dimana Emy?" tanyanya pada seorang perawat. Perawat itu menatap bingung dokter tampan itu. Tak mendapat jawaban, Kalev segera pergi ke ruang suster dan menanyakan keberadaan Emy. Setelah menerima informasi yang ia butuhkan, ia segera berlari dan menghampiri Emy yang masih memejamkan matanya.
" Emy... " tangan kecil dan jemari yang lentik, terus berada dalam genggaman tangan besar Kalev. Berulang kali ia mencium tangan wanita yang sangat ia cintai itu. Tubuh Emy bertambah kurus, walau setiap hari minum susu. Tapi, sayang setiap makanan yang masuk selalu keluar kembali. Dan semua Emy sembunyikan dari Kalev, hingga akhirnya tubuh lemahnya tak kuat lagi menahan.
" Kenapa kamu gak bilang, kalo kamu gak bisa makan? kamu harus sehat, supaya bayimu juga sehat. Emy... setelah sekian lama aku menjagamu, kenapa kamu masih saja belum terbuka sama aku?" ucap Kalev sedih. Diusapnya rambut Emy dengan lembut. Matanya telah berair sedari tadi. Tak ada yang dapat ia lakukan untuk wanita keras kepala ini. Ia hanya meminta dokter kandungan untuk terus memantau janin Emy.
3 hari berlalu, sebuah pergerakan mulai diperlihatkan Emy. Tangannya mulai sedikit bergerak. Kalev yang memang selalu menunggu Emy dan tak bekerja, segera mengambil stetoskop dan memeriksa Emy. Ia begitu bahagia, akhirnya wanita yang ia rindukan, akan segera sadar.
" Emy... Emy... sayang... bangunlah, Emy..." Kalev terus berbisik memanggil Emy di telinganya. Perlahan mata sayu Emy terbuka. ia mengerjapkan matanya. Kalev langsung memeluk Emy dan menangis bahagia.
" Emy... kau sudah sadar? " mata Kalev berbinar, melihat Emy yang sudah membuka matanya.
Wajah tampan dan manis Kalev, menjadi yang pertama dilihat Emy saat ia membuka matanya. Tatapan mata hangat yang membuat Emy tersenyum dan meraih tangan besar laki laki itu.
" Kalev... bagaimana bayiku? dia baik baik saja, kan?" tanya Emy lirih.
" Iya, tenanglah. Mereka baik baik saja..." Jawab Kalev dengan senyum seraya mengusap penuh sayang kepala Emy.
" Me...mereka?" tanya Emy bingung dan menautkan alisnya.
Kalev tersenyum dan mengangguk.
" Iya... kau akan punya 2 anak sekaligus... ahhh.. aku sudah gak sabar gendong mereka..hehe.. emm.. apa aku boleh menyentuhnya?" Mata berbinar Kalev berubah menjadi tatapan penuh harap. Emy tersenyum dan mengangguk.
" Sungguh?" Mata indah Kalev semakin berbinar ketika Emy mengijinkannya menyentuh perut Emy. Dengan perlahan ia mengusap perut Emy yang mulai membuncit.
" Anak anak... ini om Kalev. Om janji akan terus menjaga kalian dan mama ya... jadi bantu om ya... jaga mama, supaya mama selalu sehat, ya sayang..."
__ADS_1
Emy terharu mendengar ucapan Kalev. Ia menyentuh kepala Kalev dan tersenyum.
" Kalev, terima kasih banyak... aku tak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikanmu." ucap Emy menitikan air mata.
Kalev meraih tangan Emy dan menciumnya. Ditatapnya mata sayu Emy lalu menghapus air mata dari pipi tirus wanita yang ia cintai itu.
" Dengan kamu segera sehat, itu cukup buat aku... Aku... sangat mencintaimu Emy, dan aku akan lakukan apapun buat kamu, walaupun... kamu tidak dapat membalas perasaanku, aku gak apa apa... karena aku akan selalu mencintai kamu, bagaimanapun keadaanmu."
Emy semakin terisak. Kalev menarik Emy dalam pelukannya. Berulang kali ia mengecup puncak kepala Emy.
" Kalev... aku minta tolong sama kamu.." Tatap Emy pada Kalev setelah melepas pelukannya.
" Apa itu Emy?"
" Jika terjadi sesuatu denganku..." Kalev menggelengkan kepalanya, air mata turun membasahi pipinya. Ia menutup mulut Emy dengan tangannya yang besar. Namun Emy perlahan memegang tangannya itu, dan menjauhkannya dari mulutnya.
" Kalev... aku hanya katakan JIKA terjadi sesuatu denganku..."
" Tak ada yang akan terjadi padamu, selama ada aku disini!" potong Kalev dan segera berdiri meninggalkan Emy, tapi tangannya berhasil diraih Emy.
Emy menatapnya dengan tatapan memelas, akhirnya ia kembali duduk, namun ia tak dapat mengangkat wajahnya melihat Emy. Hatinya pilu. Ia tahu bahwa sesuatu memang akan terjadi pada wanita itu.
" Kalev, aku tahu kau pasti bisa menolongku. Hanya saja, jika terjadi kemungkinan terburuk, tolong bayi bayiku. Jangan lepaskan alat bantu nafasku dan beri aku nutrisi...agar bayiku tetap sehat. Biarkan mereka melihat dunia ini. Setelah itu, lakukan yang terbaik, apapun itu... untukku. Maukah kau melakukannya?..." Kalev hanya menatap mata Emy yang tak lagi bersinar seperti dulu. Berat untuknya menjawab permintaan Emy. Jika ia disuruh memilih, ia akan memilih menyelamatkan Emy, walau harus mengorbankan kedua janin itu.
" Kalev..." panggil Emy. Kalev hanya mengangguk lemah dan menghapus air matanya dan beranjak dari ruang rawat Emy.
Tanpa peduli sapaan dari perawat dan dokter yang ia lewati, Kalev terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit terbaik dunia itu, dan menuju tangga ke atap rumah sakit.
Sekuat tenaga ia berteriak, melepas sesak didadanya.
" Aaaaaaaaaa....." Nafasnya tersengal karena berjalan lewat tangga dan berteriak dengan sisa tenaganya. Buliran bening di matanya kembali menetes. Wajah tampan dokter 31 tahun itu, terlihat menyedihkan. Duduk bersandar pada pagar pembatas, Kalev menatap kosong ke depan.
Di lain tempat, beberapa lantai di bawah atap, tempat Kalev mengeluarkan rasa frustasinya,
seorang wanita sedang berjuang melawan maut. Dokter Alfred, yang saat itu sedang visite, mendengar panggilan Code Blue (Kode Biru) yaitu kode isyarat yang digunakan dalam rumah sakit yang menandakan adanya seorang pasien yang sedang mengalami serangan jantung (cardiac arrest), atau mengalami situasi gagal nafas akut (respiratory arrest), dan situasi darurat lainnya menyangkut nyawa pasien.
" Siapkan Intubasi!" Perintah dr. Alfred cepat. Tangan dr. Alfred begitu cekatan melakukan tindakan. Intubasi adalah tindakan medis berupa memasukan tabung endotrakeal melalui
__ADS_1
mulut atau hidung untuk menghubungkan udara luar dengan kedua paru. Pada penderita yang pernapasannya terganggu biasanya dilakukan tindakan ini untuk mengatasi jalan napas yang tersumbat
Ritme jantung Emy kian melemah dan berakhir lurus.
" Defibrilator! " teriak Dr. Alfred. Dengan cepat dan sigap para perawat segera mengambil dan menyiapkannya.
" 100 Joule!"
dr. Alfred menempelkan alat kejut jantung (Defibrilator) pada dada Emy dan dibawah payudara kirinya .
" Clear!"
Dup...
Tak ada reaksi. Masih sama. Monitor masih menujukkan garis lurus.
"120 Joule!"
Lagi dr. Alfred menempatkan alat kejut itu pada dada Emy dan bawah payudara kiri Emy.
" Clear!"
Dup..
lagi tak ada reaksi. Monitor ritme jantung masih lurus.
Tak ingin berlama lama meninggalkan Emy, Kalev segera turun. Namun langkahnya terhenti, ketika ia mendengar suara dr. Alfred.
***
Sayangku... semua pembaca setia Serpihan Hati, mana VOTE, LIKE, dan KOMEN nya?...
Jangan lupa ya say... biar terus semangat say nulisnya. Makasih banyak ya...
Terus jaga kesehatan, Jangan lupa selalu cuci tangan, makan makanan sehat dan diam di rumah ya saya sambil baca novel aku...hehehe..
yakinlah Wabah Virus Corona ini akan segera berlalu.
__ADS_1
Bagi keluarga Tim Medis dan semua yang telah menjadi korban wabah ini, Tetap bersabar dan kuat ya say... Percayalah semuanya pasti segera berlalu... Amiinn,,🙏🙏😘🤗