Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Malpraktek (3)


__ADS_3

Perkataan dr. Cha sontak membuat semua orang disana tak percaya. Inikah sikap dokter senior? Kepala Perawat yang melihat itu kesal dan marah.


Ia mendekat dan bertanya pada dr. Cha, ” dokter Cha, katakan sekali lagi... Apa benar tidak ada yang menghubungi Anda? Apa benar pihak IGD tidak memberitahu Anda??”


Dokter Cha melihat Kepala Perawat Moon dan mengangguk yakin, “ iya, Kepala Perawat Moon, benar. Saya tidak pernah dihubungi. Ini ponsel saya, silahkan di cek!” sambil menunjukkan ponselnya, dr. Cha berusaha meyakinkan orang disana dengan pembelaan dirinya. 


Kepala Perawat meraih hp nya dan membuka riwayat panggilannya, lalu menunjukkannya pada dr. Cha dihadapan semua orang. Disana terdapat 20 panggilan tertuju pada nomor ponsel dr. Cha dari jam saat Nona Kim So Yin masuk IGD.


Kemudian, asisten Kim Myung Suk, Dong Man, menunjukkan pula yang ada di ponselnya. Dokter Cha gelagapan, tak tahu apa lagi yang akan dikatakannya. 


“ Apa bukti itu kurang cukup bagimu, dr. Cha?“


Kali ini, dr. Kang yang berbicara dengan suara serak dan beratnya. Dokter Cha segera berdiri dan memegang lengan direktur Kang dengan memelas.


“ Direktur, sungguh saya tak menerima telepon dari IGD...” 


“ Apa perlu aku mencetak riwayat panggilan telepon di IGD, dr. Cha? Dan kalaupun IGD lalai, bukankah Anda seharusnya memang sudah ada di IGD, karena pagi ini adalah shift kerja Anda, dr. Cha?” Direktur Kang bertanya dengan geram.


Dokter Cha tertunduk dan mengepalkan tangannya. Ia tak berani berkata-kata lagi. 


“ Ke kantor saya segera setelah operasi Nona Kim selesai!” perintah dr. Kang kasar.

__ADS_1


Kim Myung Suk dan Nyonya Chae kembali duduk di sebelah putri mereka, Kim Sook Joo. Sementara dr. Kang, ia pamit kembali ke kantornya. Dokter Cha pun permisi entah kemana.


Kakek Kim sedang menikmati puding tawar yang Emy sarankan, Pak Man Ho masuk dan membawakannya berkas-berkas beserta pengacara. Setelah menghabiskan pudingnya, Kakek Kim menyuruh keduanya mendekat. 


“ Pengacara Oh, sekarang Tae Sang sudah menikah. Maka, aku mau kau berikan 10% sahamku pada istri sahnya, dr. Emy Sie, MD. Namun, jika sampai aku meninggal,  Tae Sang serta Emy bercerai, maka saham milik Emy Sie akan tetap menjadi miliknya...


Aku tahu cucuku itu tak menyukai pilihanku. Walaupun Emy sangat cantik dan baik, ia masih saja memilih wanita itu. Wanita yang sudah membuat aku kehilangan cucu perempuanku satu-satunya karena keserakahannya ... hehhh ... Man Ho, semua berkas-berkas ini, kau taruh saja disana.


Nanti aku akan tanda tangan, atau kau bisa kirim ke Tae Sang.” Kata Kakek, suaranya pelan karena tenaganya banyak terkuras setelah beberapa kali menjalani kemo.


“ Baik, Tuan Besar. ..Tuan Besar, kenapa anda tak mengatakan yang sebenarnya pada Tuan Muda?” tanya Man Ho yang ditambahi anggukan pengacara kepercayaan Kakek Kim.


Jika suatu saat, ia dan Sae Yang memutuskan bercerai, maka aku akan mengijinkannya.” Kakek Kim menghela nafasnya bersandar dan menutup matanya, tanda pembicaraan itu telah selesai. Pengacara Oh membereskan laptopnya lalu berdiri mengikuti Man Ho keluar. 


“ Tuan Oh, Tuan Besar ingin anda merahasiakan pembicaraan ini dari Tuan Muda, jadi saya mohon pada Anda.” Ucap Man Ho dan tak lupa membungkuk tulus.


Pengacara Oh tersenyum dan menyentuh pundak Man Ho. “ Saya tahu dan mengerti, Asisten Man Ho. Baiklah, saya permisi dulu.” Pamit Pengacara Oh.


Ketika sang pengacara keluar pintu utama, ia berpapasan dengan Asisten Byun Hyuk, mereka saling membungkuk menyapa. Pengacara Oh berlalu dan masuk mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu utama mansion Kakek Kim. Byun Hyuk terus memperhatikan pengacara Oh dan berpikir, kenapa pak Oh datang ke rumah Tuan Besar.


New York

__ADS_1


Dalam sebuah ruangan dengan view gedung gedung pencakar langit di malam hari, di salah satu gedung perkantoran paling bergengsi, tampak seorang laki-laki sedang duduk beradu argumen dengan seorang wanita berambut ikal sebahu, berwarna jagung.


Laki-laki itu tampak begitu santai menanggapi setiap ocehan dari si wanita. Wanita itu tampak begitu kesal lalu menghentakkan kakinya yang tadi dipangkunya, ke lantai dan berdiri. Lelaki bermata hijau dan tampak dewasa itu, masih dengan sikap tenangnya, mendengarkan setiap cecaran pertanyaan dan omelan yang terus menghujaninya. 



“ Semua Resources sudah kita gunakan Luther, dan kau masih mau meneruskannya? Dengar Luther, semua bukti mengarah padanya. Sedang, sampai kini kita masih tidak memiliki 1 saja bukti untuk menyanggah salah satu bukti dari mereka. Dan kau mengatakan padaku, untuk terus menggali? Kau tahu Luther, obsesimu itu akan membunuhmu perlahan. Dan saat itu terjadi, kau akan menyesal tidak mendengarkan aku!” Kata wanita lalu beranjak pergi dan membanting pintu mahoni itu dengan keras.


Semua mata menatap padanya, namun ia tak memperdulikannya dan berjalan kembali ke kantornya. 


Luther sadar akan posisinya saat ini. Ia menerima kasus yang bahkan orang yang terlibat sendiripun, belum memintanya untuk membantu kasusnya. Ia tahu dan sadar bahwa apa yang dikatakan rekannya, Nadine, adalah benar.


Luther adalah seorang pengacara terbaik di New York dan dia juga adalah seorang pengacara yang memiliki reputasi tinggi di dunia hukum dan para pengusaha. Tapi, ia bukanlah seperti para pengacara lain, yang hanya menggunakan hukum untuk mencari dollar tapi tidak keadilan. Ia selalu mengambil kasus dengan jeli dan teliti. Ia tak mau menjadi pengacara busuk yang menjebloskan orang tak bersalah, demi keuntungan pribadinya. 


Kali ini, ia mengambil kasus ini karena ia ingin membantu seseorang yang sangat penting dalam hidupnya. Ia ingin melakukan sesuatu untuk membuat seseorang itu tetap tersenyum dan tertawa ceria. Ia ingin menjadi bagian dalam hidup seseorang itu. Melepas beban-beban yang ditanggungnya dan mengambil alih untuk memikulnya.


Setiap kali seseorang itu merasakan secercah harapan dan kebahagiaan, badai itu selalu datang dan mengambil semuanya. Senyuman yang selalu ditampilkan bukanlah senyuman yang pernah ia lihat 10 tahun yang lalu. Senyum dan tawa ceria seorang anak yang begitu polos dan tulus. Desahan demi desahan keluar dari mulutnya yang seksi. Ia mengeraskan rahang tegasnya dan memijat pelipisnya.


**hmm...mass release hari ini cukup disini ya, saya akan kasi lagi, setelah view nya mulai nambah. jangan lupa Like dan Komen dong say....makasih ya...


jangan lupa subscribe / favorit - in ya novel aku ini. banyak cerita masa lalu yang akan terbuka, di episode episode berikut berikutnya**.

__ADS_1


__ADS_2