
Mentari kembali bersinar di ufuk timur. Suara burung bernyanyi indah, menyambut pagi. Embun pagi menetes di sela sela daun, menambah kesegaran di pagi ini.
Berbanding terbalik dengan sesosok pria yang meringkuk di atas kasur kecil, di sebuah ruang kecil dengan cat putih. Wajah kusut dan bulu bulu halus timbul diatas bibir dan dagunya. Rambut berantakan, mata yang sembab.
" ahh... sudah pagi..." Matanya mengedar ke seluruh ruangan yang 4 kali lebih kecil dari kamarnya.
" Inikah yang kau rasakan selama tidur kamar ini? " Ia mengusap hidungnya yang mulai berair. Karena semalam ia harus menahan dinginnya suhu ruangan karena tak ada penghangat.
" Tu..tuan... semalam tidur di situ?" Bibi Nam melonjak kaget mendapati Tuannya dengan penampilan acak acakan keluar dari kamar Emy.
Tae Sang tersenyum masam dan mengangguk.
" Bi, apa bibi yang membereskan kamar Emy?" tanya Tae Sang.
" Iya Tuan, saya dan Nona Emy yang membersihkan." Jawab bibi Nam. " Apa kurang bersih, Tuan? Saya akan membersihkannya lagi." lanjut bibi Nam cemas.
" Tidak, bi. Lalu korden dam seprei..."
" ah... sudah Tuan, sudah saya buang. Nona Sie bilang, anda tidak akan suka jika ada bekasnya di sini, jadi ia menyuruh saya membuangnya." Jawab bibi Nam dengan senyum.
Tae Sang segera beranjak dari sana dan berlari menuju ke kamarnya. Ia tak mau bibi Nam melihat dia yang menyedihkan dan memalukan.
" Ternyata kau begitu membenciku... aku pantas, aku memang pantas... huhuhu..."
Hari itu Byun Hyuk diminta Tae Sang menggantikannya menghadiri rapat. Tae Sang melajukan mobilnya ke kediaman kakek Kim. Saat sampai di sana, hanya kepala pelayan yang menyambutnya.
" Dimana kakek, paman Min?" tanya Tae Sang sesaat setelah memasuki mansion mewah itu.
" Tuan Besar sudah berangkat ke pulau, Tuan Muda." Jawab kepala pelayan dengan sopan.
" Jadi... tak ada siapapun disini? hanya kalian?" tanya Tae Sang lagi dengan lesu.
" Benar, Tuan."
" Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu." Tae Sang memutar badannya untuk pergi.
" Tunggu, Tuan Muda" cegah kepala pelayan.
__ADS_1
" ada apa, paman?"
" Ada titipan untuk Tuan Muda. Mohon tunggu sebentar." Tae Sang mengangguk, ia berjalan ke ruang keluarga, menunggu kepala pelayan yang pergi entah kemana.
Tak lama, kepala pelayan itu kembali dengan sebuah amplop coklat ditangannya.
" Tuan, ini dari Tuan Besar. Beliau meninggalkannya kalau sewaktu waktu anda mencari beliau." paman Min menyodorkannya pada Tae Sang.
Dibukanya amplop itu. Sebuah fotokopi surat perceraian dan informasi tentang siapa Emy Sie. Informasi yang belum ia terima dari Byun Hyuk. Tangan Tae Sang bergetar dan air mata mulai menetes tak terbendung.
" Tuan Muda... apakah Anda tidak apa apa?" tanya paman Min.
" Paman, apa paman tahu kenapa aku dan Emy... mm.. kakek ijinkan bercerai?" Tanya Tae Sang balik tak menghiraukan pertanyaan kepala pelayan Kakek Kim itu.
" Nona Sie yang datang dan membujuk kakek. Nona juga yang meyakinkan Tuan Besar, untuk membiarkan anda memilih sendiri calon istri anda." Jawab paman Min jujur.
" Dan kakek menyetujuinya begitu saja?"
" Awalnya Tuan Besar tidak menyetujuinya, tapi setelah tahu bahwa Anda dan nona tidak saling mencintai, dan Tuan Besar juga tahu sebelumnya bahwa...bahwa Anda sangat membenci nona Sie, akhirnya Tuan Besar meyetujui perceraian anda dan nona Sie."
Tae Sang mengangguk angguk lalu memalingkan wajahnya ke segala arah. Hatinya terasa sesak.
" Tuan Muda, kebodohan andalah yang membuat ini semua terjadi." ucap kepala pelayan Min lirih. Ia memerintahkan pelayan untuk tak pergi ke ruang keluarga dan menganggu majikannya.
Lelah karena menangis, Tae Sang duduk termenung memikirkan kesalahannya. Ia terhenyak ketika menyadari sesuatu. Ia berlari ke kamarnya di mansion itu, membersihkan diri dan berpakaian rapi. Dengan terburu buru, ia pergi dan melajukan kendaraannya.
Sampai di RS Emerald, Tae Sang segera memarkirkan kendaraannya asal dan berlari menuju ruangan Emy. Betapa terkejutnya ia ketika ruangan itu telah berganti pemilik.
" ehmm... lalu dokter Sie sekarang dimana, Nona perawat?" tanya Tae Sang pada seorang perawat yang berada di posnya.
" Kontrak kerja dokter Sie sudah berakhir 5 hari lalu, Tuan. Jadi sekarang dokter Sie tidak bekerja di sini lagi." keterangan dari perawat itu membuat Tae Sang menelan kekecewaan. Tanpa ucapan terima kasih, ia berlari menuju dimana mobilnya terparkir.
Kriingg...kriiingg...
"hallo, ya Tuan Muda ...."
" Hyuk...kirim padaku nomor ponsel Emy!"
__ADS_1
tutt..
Byun Hyuk yang sedang mengerjakan banyak dokumen, menggeram kesal karena ketidak sopanan atasannya itu.
Tae Sang menghubungi nomer Emy, segera setelah Byun Hyuk mengirimnya. Dan hanya operator yang setia menjawab panggilannya, ketika beberapa kali ia berusaha menghubungi nomor itu. Ia teringat dr.Lee dan Hannah, tapi ia sadar tak memiliki nomor mereka, akhirnya menelepon Byun Hyuk untuk menghubungi mereka dan menanyakan keberadaan Emy
Kriiing...kriiinng...
" Gimana Hyuk?"
" Nona Hannah nomornya tidak aktif, sedang dr.Lee ia tidak mau mengatakannya dan menutup telepon. Apa And..." lagi lagi Tae Sang langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak.
Tak tahu harus mencari kemana, Tae Sang akhirnya kembali ke Villa.
2 hari berikutnya, kabar Helena mendapat surat panggilan dari pengadilan karena pelecehan nama baik dan pelanggaran kontrak kerja, menggemparkan dunia entertainment. Helena dituntut untuk membayarkan denda pelanggaran kontrak sebanyak 1 juta dollar.
Akibat pemberitaan itu, Helena harus bertengkar hebat dengan Shin Ho.
Tok...tok.
" Masuk!" aura dingin, Byun Hyuk rasakan saat masuk ruangan besar itu.
" Ada apa?!" kata Tae Sang ketus.
" Tuan, saya rasa anda harus melihat ini." Jawab Byun Hyuk seraya menyodorkan map dengan menunduk.
" Apa ini?" Tanya Tae Sang. Ia segera membuka map itu. Bagai tersambar petir, hati dan kepala Tae Sang terasa sakit. Ia melempar map itu, wajahnya berubah memerah dan nafasnya memburu.
" Katakan... katakan... kapan kau dapat informasi ini?" tanya Tae Sang, mata dan wajahnya berubah mengerikan. Keringat dingin keluar di dahi Byun Hyuk, ia tak berani melihat atasannya.
" I..itu, sa..saya dapat ke...kemarin, Tuan." kata Byun Hyuk berbohong. ' Ya Tuhan, aku masih belum menikah, aku belum mau mati..." batin Byun Hyuk.
" Oke...oke... berani sekali mereka membodohiku. Sekarang buat Shin Group bangkrut. Dan blokir semua kartu kredit dan atm Helena. Mobil dan fasilitas yang aku beri, kamu ambil semua dan jual. Dia membuat aku jijik!" Geram Tae Sang.
Saat Byun Hyuk hendak keluar dan menarik pintu ruangan mewah itu, Tae Sang kembali memanggilnya.
" Ya, Tuan Muda?"
__ADS_1
" katakan dengan jujur padaku, Byun Hyuk..." Mata Tae Sang menatap asistennya itu lekat.