
" Hei! Looking for me (mencariku)?"
Kedua orang itu segera berbalik menghadap asal suara
Dorrr...dorrr
Dorrr ... dorr
4 tembakan terlepas
Brakk ... Bukk ... tak
Ceceran darah mulai memenuhi lantai kayu. Dua orang laki-laki berdiri menyeringai. Keduanya berjalan mendekat lalu
Bugh
" KAU SUDAH GILA, YA!!" seru seorang lelaki dan menatap tajam lelaki di depannya yang mengusap rahangnya karena mendapat bogem mentah gratis dari temannya
" Jangan pernah seperti itu lagi!" geram lelaki itu dan berlalu pergi dengan wajah memerah karena marah
" Hehehe ... Luther! kau mengkhawatirkanku, ya? Ouwww ... so sweeeettt!" goda Dennis dengan gaya sok imut
" Shut up (diam)!!" sergah Luther kesal dan mempercepat langkahnya menuju tempat Pengacara Oh disekap
" Hahahaha ... Paman Evan, Emy. Kau dengar itu, dia mengkhawatirkanku ... hahaha ..." kata Dennis dengan memegang satu telinganya
" Tidak lucu, Kak!"
" Wusss ... wah, kalian memang tak tahu terima kasih," ledek Dennis dan menggelengkan kepalanya
*Beberapa menit yang lalu*
Dennis sudah selesai membereskan 4 orang di dalam rumah
" Musuh arah jam 10 di ruangan kirimu, menuju persembunyian Luther," suara Evan di headset Dennis terdengar.
Segera, Dennis menuju ruangan di sebelah ruang makan. Disana, ia melihat dua orang mengendap-endap menuju pintu yang ada ujung.
" Hei! Looking for me?" teriaknya.
2 orang itu reflek berbalik dan melepas tembakan ke arah dennis
Dorr .. Dorrr ...
2 timah panas melesat. Dengan gerakan kayang seperti film The Matrix, Dennis menghindari 2 peluru tersebut, bersamaan dengan itu dua tembakan kembali terdengar
Dorr .. dorr ...
Peluru terlepas dari pistol Luther dan membidik tepat di punggung kedua orang penyusup itu.
Brakk ... bakkk ...
2 penyusup itu terkapar dengan mata membelalak. Luther berjalan dengan seringainya mendekati Dennis dan
Bugh ..
Bogeman keras Luther mendarat di rahang Dennis.
*Back to story*
__ADS_1
" Pengacara Oh, kau tak apa-apa?" tanya Luther sambil melepas ikatan lelaki berkacamata itu
" Saya tidak apa-apa, Tuan Howland, Anda sendiri?"
" Saya juga tidak apa-apa," jawab Luther
" Bagaimana dengan Anak dan Istrimu? Dimana mereka?" tanya Luther
" Mereka tidak berada disini. Mereka ada di Amerika sejak 3 tahun lalu," kata Pengacara Oh
" Jadi, Anda sendiri disini?" tanya Dennis
Pengacara Oh mengangguk.
" Tapi tetap Anak istri Anda harus dijaga. Mereka pasti akan melakukan apapun untuk mencegah bukti-bukti itu tersebar," ucap Dennis
" Jangan khawatir soal itu, Tuan Taylor sudah mengamankan mereka," ucap Pengacara Oh
" Wow ... Paman! Kau memang luar biasa ... hahaha ..." celetuk Dennis
Luther menggelengkan kepalanya mendengar ocehan Dennis
" Bagaimana dengan dokumen-dokumennya?" tanya Luther
" Aman. Saya sudah mengungsikan ke tempat yang aman," ucap Pengacara Oh
" Lalu, dimana 2 pengawal Anda?" tanya Luther, karena sedari tadi ia tak melihat
" Mereka ..."
" Jangan katakan kalau Anda ..." ucap Luther. Mata Luther dan Dennis membelalak. Dennis mengusap kasar wajahnya
" Anda serahkan pada mereka?!" teriak Dennis
" Anda ... bagaimana kalau mereka berkhianat atau tertangkap?" seru Luther
" Saya yakin tidak, Tuan-Tuan," sahut Pengacara Oh dengan senyum dan menyerahkan 2 kopi pada keduanya
" Tenanglah, dokumennya sudah ada padaku. Yang dibawa pengawal itu hanya kertas-kertas kosong,"
Suara Evan kembali terdengar di telinga mereka.
Luther dan Dennis bernafas lega.
" Baiklah, sebaiknya kita pulang," ujar Dennis. Luther mengangguk setuju
" Kami pulang dulu, Pengacara Oh," pamit Luther. Dennis hanya mengangkat tangannya dan diangguki Pengacara Oh
Mansion Kim
" Paman! Kenapa Paman menyuruh Anak-anakku lagi?" omel Emy
" Karena tadi kau masih di rumah sakit," ucap Evan
" Iya, tapi ..."
" Mommy, jangan marah sama Granpa. Mikha sama Micko sudah rindu Daddy. Jadi, biar Mikha sama Micko bantu tangkap orang jahatnya," ucap Mikha dengan mata mengantuk.
Emy menghembuskan nafasnya lalu mengangkat tubuh Mikha dan Evan mengangkat tubuh Micko
__ADS_1
" Ayo, tidur sayang. Ini sudah jam setengah 2 pagi," ucap Emy dan melirik tajam dan kesal pada Evan. Evan hanya menaikkan alisnya dan terus berjalan menuju kamar si kembar
Selesai menyelimuti keduanya, Emy dan Evan keluar.
" Paman! Katakan bagaimana kau tahu kalau Pengacara Oh dalam bahaya? Dan dokumen apa yang kalian maksud?" tanya Emy dengan tangan di pinggang dan mata yang tajam
Evan menarik tangan Emy dan mengajaknya kembali ke ruang kerja
" Ini adalah dokumen-dokumen ijin dan sertifikat tanah dan semuanya yang di sahkan pemerintah. Aku meminta Pengacara Oh mengumpulkan semuanya untuk berjaga-jaga jika sesuatu seperti yang baru saja itu, terjadi. Pengacara Oh memberikan dokumen ini padaku tadi sore. Karena ternyata ia juga memiliki pemikiran yang sama denganku, ia menaruhnya dibawah bagasi mobilnya," jelas Evan
" Tadi jam 12, saat kau baru saja datang, alarm dari jam yang aku kasih padanya menyala. Jadi, aku kirim Luther dan Dennis dan aku menjalankan HHD ( Human Heat Detector) dari sini, aku butuh Mikha dan Micko karena ada beberapa rekening yang harus aku bobol untuk mengambil datanya dengan cepat, agar Interpol dapat memudahkan kita mengatasi Hakim dan Jaksa yang tak jujur itu," lanjut Evan
Emy menghela nafas dan menggosok keningnya
" Fiuh ... semuanya sangat memusingkan. Baiklah, aku istirahat dulu. Paman kalau butuh bantuan untuk itu (sambil menunjuk komputer), bangunkan saja aku. Jangan Anak-anak. Nite, Paman," ucap Emy dan mengecup pipi Evan
" Nite, sayang," ucap Evan
Pagi-pagi, Emy sudah bangun dan menyiapkan banyak makanan. Ia ingin menjenguk suaminya. Beberapa hari ia tidak bisa menjenguk karena harus mengurus Ayahnya. Hari ini, Ayah Emy akan ditemani Lienda. Karena itu Emy bisa menjenguk suaminya. Emy sengaja berangkat sebelum si kembar bangun agar mereka tidak merengel ikut
Kejaksaan
" Maaf Nona, Anda tidak diijinkan bertemu," ucap seorang petugas
" Apa?! Saya ini strinya, kenapa tidak boleh?" geram Emy
" Maaf, tapi kami mendapat perintah seperti itu. Hanya pengacaranya saja yang bisa,"
" Kenapa? Apa alasannya?"
Brakk ...
" Katakan padaku, siapa atasanmu yang melarangku dan atas dasar apa ia melarang seorang istri untuk bertemu dengan suaminya yang sebenarnya belum resmi ditahan?" tanya Emy dengan mata yang tajam
" Eh ... itu .."
" Dengar, jika kau sengaja mempersulitku, jangan salahkan aku kalau aku akan menuntutmu,"
" Ya ... ya ... silahkan, Nona," jawab enteng petugas itu
Emy mengambil ponselnya yang ia taruh di atas meja pos jaga, lalu membuka kameranya
Klik
Petugas itu terkejut karena Emy mengambil foto mereka tanpa ijin
" Nona! Hapus! Anda tidak bisa seenaknya saja mengambil foto petugas," seru petugas itu geram
" Maaf! tapi Anda dalam mode Live, (streaming)" ucap Emy enteng dan segera pergi dari sana. Petugas itu menjadi panik dan tak tahu apa yang harus ia lakukan
Emy menekan nomor Evan, dan dalam satu kali dering, Evan mengangkatnya
" Bagaimana? Apa sudah dapat gambarnya?" tanya Emy
" Good! Perfect!" jawab Evan
" Tapi, aku tak bisa bertemu Tae Yang," ucap Emy dan mulai terisak
" Nak, bersabarlah, ya ..."
__ADS_1
Emy terus menitikkan air mata selama perjalanan kembali ke Mansion. Ia sudah sangat merindukan suaminya. Tapi pihak Kejaksaan menyulitkannya.
" Malam ini, kalian harus merasakan pembalasanku," gumam Emy