Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Buku Rekening


__ADS_3

" Man Ho! sekarang giliranmu mencari siapa tersangkanya!" perintah kakek Kim tiba tiba.


" baik, Tuan Besar!" pak Man Ho menatap televisi yang seukuran besar meja billiard itu dan mengangguk mantap. Ia bertekad mencari pengacau itu.


Di Konferensi Pers, Hannah masih dengan sikap angkuh dan jauh menjelaskan kedekatannya dengan Emy.


" Seluruh kehidupan Emy, saya tahu semuanya. Tapi tidak ada alasan buat saya membagi kenangan dan kehidupan Emy untuk konsumsi masyarakat." Hannah mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan.


" Ah iya, saya sudah membawa ini ke jalur hukum. Dan bukti bukti sudah saya serahkan ke Kejaksaan! TIDAK ADA YANG BOLEH BERMAIN MAIN DENGAN KELUARGA SAYA, SIAPAPUN ANDA, ANDA AKAN BERHADAPAN DENGAN SAYA! KELUARGA KANGHAE CORP!" Kata Hannah dengan tegas dan mata yang memerah menahan amarah dan rasa kantuk, karena semalam ia tak bisa tidur, memikirkan cara untuk membantu Emy.


" Untuk seluruh kebenaran lebih jelasnya anda bisa tanyakan pada Tuan Park dari TV Star." Setelah mendengar pernyataan Hannah, semua wartawan mengalihkan kamera dan tatapan mereka pada Wartawan Park.


Wartawan Park yang sedari tadi merasa gelisah dan berusaha bersikap tenang, kembali terkejut ketika namanya disebut sebut. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, tatapan menghakimi dan curiga terlihat jelas di wajah semua wartawan.


" Hei, Nona Kang! Apa maksud anda? Kenapa anda memfitnah saya?!" Dengan geram dan wajah yang sudah memerah wartawan Park berdiri dan menunjuk nunjuk Hannah.


" Baiklah, silahkan perhatikan layar LCD!" Ucap Hannah tenang dan menyesap jus jeruk yang disediakan untuknya di atas meja.


Layar LCD menampilkan screenshot atau tangkapan layar sebuah chat dan email beserta nomor rekening secara bergantian, dengan waktu yang cukup bagi para wartawan untuk membaca isi chat dan data transaksi di rekening.


" Tidak! Tidak! Itu bohong! Itu hanya rekayasa!" Teriak Tuan Park.


Tak lama...


Kriiingg....kriiing....


Suara deringan telepon wartawan Park berbunyi nyaring. Tuan Park dengan ragu mengangkat panggilannya.


" Ha...Hallo" jawab wartawan Park


" Hallo, wartawan Park!"

__ADS_1


Suara wartawan Park dan Hannah terdengar jelas di speaker. Semua menatap Hannah dan wartawan Park bingung tak mengerti.


" Bukankah itu nomor ponsel anda, Wartawan Park?" Tanya Emy sambil tersenyum tipis dan alis yang ia naikan satu.


" I..iya..a..apa hubungannya dengan itu?"


" Hahahaha... Saya men- dial nomor yang ada di layar sana ( Hannah kembali menunjuk layar LCD di sampingnya) dan anda mengangkatnya tanda apakah itu?" Tanya Hannah tenang namun dengan tatapan tajam pada wartawan Park.


Wartawan Park menelan ludahnya kasar. Ia lemas seketika. Hancur sudah karir yang sudah ia bangun selama ini. Hanya demi segepok uang, ia rela menukar berita lain dengan rumor karena iming iming seseorang.


" Dan ini adalah pemilik rekening yang bertransaksi dengan wartawan Park. Awalnya memang... Agak sulit, tapi saya berhasil mendapat akun rekening orang tersebut dan... Ini adalah nomor rekeningnya, sementara biodata.... Saya sudah serahkan ke Kejaksaan! Baiklah, sekian penjelalasan dari kami. Permisi dan Selamat malam!" Hannah segera berdiri dan meninggalkan hall.


***


Dalam ruangan yang didominasi warna abu dan putih, Seorang laki laki yang duduk dengan angkuh dan memangku satu kakinya, menatap layar tipis didepannya tak percaya. Tiba tiba saja ia berdiri dan mendekati meja kerjanya lalu memanggil asistennya.


" Byun Hyuk! Ambilkan buku rekening swissku sekarang!" Segera setelah memanggil asistennya lewat interkom, Tae Sang meremas jemarinya dan mengepalkan tangannya. Berjalan mondar mandir menunggu asistennya, menambah gusar hatinya, walau belum ada 5 menit ia memanggil dan menyuruh asistennya itu.


tok...tok...


Tae Sang segera melangkah menuju sofa. Ia mengulurkan tangannya, dan Byun Hyuk yang baru saja masuk, segera sedikit berlari dan menyerahkan buku tabungan di tangannya, yang langsung saja disambar Tae Sang.


Mata coklat Tae Sang melotot tak percaya. Tae Sang mengusap wajahnya dan membanting buku rekening ke meja kaca didepannya.


" Keluar!" Perintah Tae Sang, dan Byun Hyuk segera membungkuk dan pergi. Tae Sang berdiri dan berkacak pinggang.


" Aku tak percaya ini!" Tae Sang mengusap wajahnya dengan tangannya yang besar lalu berbalik dan menatap buku rekening yang ia banting tadi, dengan ekspresi yang tak dapat diartikan.


***


Dan seorang laki laki yang sedari tadi mengikuti jalannya konferensi pers dibarengi ber-gym, tersenyum bangga. Wanita pujaannya menunjukkan taringnya. Sekarang ia tinggal menunggu hasil.

__ADS_1


Dengan tersenyum ia mengelap keringat yang membasahi tubuh berototnya setelah berolah raga. Dengan tubuh bagian atas tetap tanpa busana, Ia berjalan ke balkon dan memandang jauh dimana banyak gedung pencakar langit, sudah mulai mengganti cahaya matahari dengan lampu lampu hasil temuan Thomas Alfa Edison.


" Emy, aku rindu kamu sayang." ia memejamkan matanya dan buliran air mats menetes membasahi pipinya.


" aku tahu, kau belum bisa melepasnya dan trauma yang kau alami. Tapi kumohon, ijinkan aku membuka pintu hatimu... beri aku kesempatan Emy..." ucap lirih laki laki itu.


***


Emy yang kini duduk sendiri didalam ruangannya, merenung kembali jalan kehidupannya.


" kenapa begitu sulit jalan yang harus kutempuh ini, ya Tuhan? Aku ingin sekali saja, Tuhan, untuk bisa bahagia. Tapi apa kebahagiaan itu?" gumam Emy. Matanya memandang kosong, hingga suara ketokan pintu tak ia dengar.


" hei! nglamun apa kamu?" Emy berjingkat kaget dan menepuk paha Hannah refleks.


" aww!!!" Hannah yang duduk diatas meja Emy kesakitan mendapat pukulan gratis Emy.


" salah kamu sendiri, kenapa coba ngagetin. ketok dulu gitu kalo masuk ruangan orang...yee.." runtuk Emy.


" eh dokter budeg! aku sudah ketuk ya, kamunya aja lagi kesambet hantu rumah sakit!"


" ceh... enak aja kesambet! kamu tuh yang dijitak hantu RS jiwa Gonjiam!"


" aaarrghhh...Emyyy... aduh! udah udah! hiiii...ngeri tau!" Hannah begidik ngeri mendengar nama Rumah Sakit Jiwa yang tekenal horor itu.


" hahahaha... tuh kan, habis marah terus merinding gak karuan gitu, tuh liat bulu di tanganmu juga berdiri...tuh..tuh...wah beneran kamu dah dijitak sama tuh setan!" goda Emy.


" aaaaa....Emyyyyy!!!" teriak Hannah dan memeluk erat Emy dan membuat Emy terus tergelak.


Kriiiinggg....kriiing....


Suara telepon di meja Emy berdering, menghentikan tawa dan tangis Hannah. Emy melepas pelukan Hannah, namun Hannah masih terisak dan tak mau melepas pelukannya.

__ADS_1


" Han! aku harus angkat telepon! aku masih kerja!" omel Emy, karena Hannah semakin mempererat pelukannya. Tak mau berdebat, Emy menyeret tubuhnya dengan susah payah, untunglah dia masih terduduk di kursi kebesarannya yang beroda.


" ya? dokter Sie disini." jawab Emy setelag telepon itu berdering kembali dan diangkatnya.


__ADS_2