
" Epinephrine 1mg!" Seru dr. Alfred. Perawat segera mengambil dan menyodorkannya pada dr. Alfred. Kalev tertegun melihat situasi di kamar rawat Emy.
Ada sedikit pergerakan, namun bertahan beberapa detik dan memghilang.
" Defibrilator!" Seru Kalev tiba tiba. Mengagetkan dr. Alfred dan perawat di sana.
" dr. Petrov! Tapi..."
" Defibrilator! cepat! apalagi yang kalian tunggu, hah?!" bentak Kalev tak memperdulikan perkataan koleganya itu. dr.Alfred menganggukan kepalanya pada perawat.
" 150 Joule!" teriak Kalev. Dan perawat itupun menurutinya.
" Clear!"
Dup...
Tak ada reaksi.
' Tidak... tidak Emy... jangan... gak boleh... Emy kumohon...' teriak Kalev dalam hatinya.
" 180 Joule!" perawat hanya bisa menuruti perintah Kalev dengan pasrah.
" Clear!"
Dup...
Tak ada reaksi. dr.Alfred menyentuh pundak Kalev.
" dr. Petrov, sudah cukup. Kasihan dia..." bujuk dr. Alfred. Namun Kalev tetap tak mau mendengarkan.
" Amiodarone 300mg!" seru Kalev, dan perawat segera mengambil obat itu dan memberikannya pada Kalev.
Ritme jantung mulai nampak. Sedikit lemah, tapi setidaknya masih terus bertahan dan tak berhenti setelah 10 menit ia menunggu. Kalev bernafas lega. Ia memeluk Emy dan mencium kening wanita yang membuat hidupnya berwarna.
" dr. Petrov, usahamu berhasil. Maafkan aku... aku tidak bermaksud..."
" Sudahlah, tak apa apa. Yang penting dia selamat. Terima kasih." Kalev memeluk dr. Alfred dan menepuk punggungnya.
" Aku tak melakukan apapun. Kau yang menyelamatkan dia. Dia beruntung memilikimu. Oke aku permisi." jawab dr. Alfred sambil tersenyum dan menepuk bahu Kalev lalu pergi disusul semua perawat.
__ADS_1
" fiuhh... Emy, kau mengagetkan aku. Cepatlah sadar ya... jangan terlalu lama tidur. Kau tahu.. kau akan membuat anak anakmu ini nanti jadi pemalas!" Kata Kalev, seolah berbicara dengan orang yang sadar. Kalev terus berbincang dan menceritakan apa saja pada Emy.
" oh.. aku harus suruh dr. Müller kesini." Kalev mengambil ponselnya dan menghubungi dokter kandungan Emy.
Dokter kandungan yang ditunggu tunggu datang. Pemeriksaanpun segera di lakukan. Kalev setia mendampingi Emy yang masih saja menutup matanya.
" Bagaimana dr.Müller? apa kandungannya baik baik saja?" Tanya Kalev tak sabar.
Dr. Alicia Müller tersenyum dan mengangguk.
" Iya bayinya semua baik baik saja. Dan sehat. Jangan khawatir dr. Petrov."
" Apakah ada kelainan ato apapun?"
dokter kandungan setengah baya, berpotongan cepak itu menautkan alisnya tak mengerti.
" ee... waktu dia pingsan dan saya bawa kesini, saya lakukan tes darah dan juga... PET- Scan. Saya tidak tahu kalo... kalo dia hamil..." Ujar Kalev sambil menunduk memandang wajah pucat Emy yang semakin mengurus.
" Oh... Tenang saja, tak ada kelainan. Saya bukan orang beragama, tapi saya percaya orang baik akan mendapat kebaikan dalam hidupnya. Tak selamanya ketidak beruntungan itu bersama orang baik." dr.Müller menepuk tangan Kalev yang berada di atas tangan Emy lalu pergi.
7 Bulan kemudian
Seoul, Korea Selatan
" Masuk!" setelah mendengar ijin dari dalam, seorang laki laki segera masuk dengan tergesa gesa.
" Tuan... Tuan Muda...fuh fuh..." Byun Hyuk mengatur nafasnya yang tersengal karena berlari.
" Ada apa sama kamu?" Tae Sang menatap dingin asistennya.
" Tuan... Tuan Muda, Nona Sie... dia..." Mendengar nama wanita yang selama ini ia cari, Tae Sang berdiri dan menghampiri asistennya yang masih membungkuk mengatur nafas.
" Apa kamu bilang?" dipegangnya pundak asistennya itu. Ia melihat Byun Hyuk yang masih kesulitan bernafas dan keringat yang mengucur. Tae Sang segera mengambil air minum diatas mejanya yang belum ia sentuh dan menyodorkannya pada Byun Hyuk.
Ragu ragu, Byun Hyuk mengambil gelas itu. Melihat anggukan atasannya, asisten bertubuh kurus itu segera menghabiskannya hingga tandas.
" Sekarang katakan!" Suara dingin Tae Sang kembali terdengar.
" Tuan Muda, saya sudah menemukan Nona Sie. Dia...dia ada di Jerman. Tapi..."
__ADS_1
" Kenapa, ada apa?" Tanya Tae Sang. Suaranya terlihat cemas dan takut.
" Tapi Nona Sie sekarang sedang koma, Tuan. Dia... mengidap Tumor Otak." Sahut Jung Hyuk lirih. Tubuh Tae Sang lemas dan hampir ambruk, jika tak ada meja di belakangnya.
" Tu...tumor otak?" Mata Tae Sang berair, menggelengkan kepala tak percaya.
" Siapkan jetku, kita kesana sekarang juga!" Perintah Tae Sang yang diangguki asistennya. Tanpa babibu, Byun Hyuk segera menyiapkan semuanya.
Tae Yang tiba di Berlin. Ia segera meminta untuk diantar ke RS tempat Emy dirawat.
RS Charite, Berlin, Jerman
Seorang perawat tergopoh gopoh berlari ke ruangan dr.Müller.
" Dokter Müller! Dokter...pasien koma yang sedang mengandung, pecah ketuban!" Serunya dari ambang pintu. Dokter kandungan yang ramah itu, akhirnya pamit pada pasien yang berkonsultasi dengannya.
" Siapkan ruang OPE! " perintah dr.Müller seraya berlari menuju ruang rawat Emy.
Ia segera memeriksa kandungan dan semua vital bayi dan ibu.
" Nyonya, Anda sudah sekian lama mempertahankan bayi bayi Anda, sekarang... tolong bertahanlah sedikit lagi untuk mereka, ya..." lirih dr.Müller, ketika ia melihat ritme jantung Emy yang mulai berantakan.
Anehnya, seperti mendengar ucapan dokter kandungan itu, Jantung Emy kembali normal. dr.Müller tersenyum senang dan menghapus air matanya. Ia tahu bagaimana pasiennya ini. Menolak pengobatan untuk penyakit yang did eritanya, rela bertahan dengan alat bantu nafas demi bayi bayinya.
" Terima kasih... terima kasih. Kau ibu yang luar biasa." dr. Müller memeluk Emy dan mengusap kepala pasiennya.
" OPE cepat!" perintahnya tak lama kemudian. Brankar Emy didorong cepat ke ruang OPE.
Lorong rumah sakit yang ramai dengan pengunjung, membuat lari seorang laki laki terhambat. Berulang kali ia mengumpat dan mendapat makian dari orang yang ia tabrak.
" Dimana Emy... dimana?" tak peduli peluh yang sudah membasahi baju dan wajahnya, ia mencari pemilik hatinya. Ruangan kosong tak nampak sosok yang ia cari. Ia mengusap kasar wajahnya frustasi. Kembali ia berlari ke pos perawat.
" Katakan, dimana pasien Emy Sie?" Wajah cemas dan rambut berantakan, mengagetkan perawat yang berada di situ. Karena selama ini, Kalev terkenal sebagai dokter paling bersih dan rapi.
" Emm.. dokter Petrov. Pasien Emy Sie, sekarang di ruang OPE." jawab seorang perawat. Kalev segera berlari menuju ruang operasi.
Setelah menelepon beberapa orang dokter serta perawat, lalu melakukan scrubbing (membersihkan diri sebelum masuk ruang operasi), Kalev segera masuk ke ruang OPE, dimana Emy terbaring. dr.Müller melihat Kalev masuk. Alisnya tertaut.
" dr. Petrov, ada apa ini?"
__ADS_1
" dr.Müller, kerjakanlah tugasmu. Selamatkan bayi bayi Emyku... " kata Kalev.
"dan saya mohon kepada semua yang ada di sini. Tolong rahasiakan kelahiran bayi bayi ini. Demi keselamatan mereka bertiga. Saya mohon...saya mohon...hiks hiks..." lanjut Kalev sambil berlutut menangis dan menundukkan kepalanya. Semua perawat dan dokter yang ada disana menatap iba pada Kalev. Mereka tak tahu alasan permintaan dokter bedah syaraf itu, tapi mereka bersedia melakukannya. Karena keyakinan mereka, bahwa nyawa bayi bayi itu benar benar terancam.