Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Bejat


__ADS_3

Tae Yang terus menutup hidungnya dengan saputangan. Ia tak dapat menikmati perjalanan itu. Sementara Mikha disampingnya sangat antusias melihat ke sana kemari, tak peduli asap berkebul dari Kopaja dan Metromini serta kendaraan yang mendahului mereka.


Emy duduk di Bajaj kedua yang berada di belakang Bajaj Tae Yang dan Mikha. Seperti halnya Micko, mata bocah 5 tahun yang akan berulang tahun 1 bulan lagi itu berbinar senang. Ia terus berteriak dan menarik perhatian banyak orang. Emy dan sopir Bajaj tersenyum melihatnya


" Maaf ya, Pak. Anak saya baru pertama ke Jakarta," ucap Emy sopan


" Wah, bisa bahasa Indonesia, Neng?" kata Pak Sopir


" Saya orang Indonesia, Pak. Tapi ... nama saya Emy, Pak, bukan Neng." jawab Emy


" Hahahaha ... Neng itu artinya eh ... eh ... apa ya Neng ..."


" Nama saya Emy, Pak," lagi kata Emy


" Hehehe ...iya Neng Emy,"


" Emy, Pak. Bukan Neng Emy,"


" Iya, saya tahu Neng,"


Emy mengerutkan alisnya, ' Kenapa orang ini selalu memanggilku Neng? kan aku sudah bilang namaku Emy,' gerutu Emy dalam hati


Emy memutuskan untuk diam. Pak sopir Bajaj menggaruk kepalanya yang tak gatal.


" Mommy! lihat! itu ... Micko mau naik itu!" seru Micko ketika netranya menangkap sepeda roda tiga dengan seseorang mengayuh di belakangnya.


" Itu namanya Becak, sayang," jelas Emy


" Micko mau naik Be ... be ..."


" Be - cak" eja Emy


" Be jak ..."


" Bukan Bejak sayang, tapi Be -cak,"


" Be jat,"


Emy menepuk jidatnya sendiri.


Lain Emy lain pula Tae Yang,


“ Daddy! Itu apa?” tunjuk Mikha pada sebuah bus berwarna orens


“ Bis,”


“ Bis apa? ” 


“Daddy tanya Mommy dulu,” kata Tae Yang seraya mengambil ponselnya


“ Ih, Daddy payah!” celetuk Mikha


Tae Yang tak memperdulikan perkataan anaknya. Telepon sudah terhubung dengan istrinya, “ Sayang, bis warna orens itu namanya apa?”

__ADS_1


“ Metromini,”


“ Oh, okay,” Tae Yang menutup ponselnya


“ Bis apa, Dad?” tanya Mikha


“ Petrukmini,” jawab Tae Yang


Mikha menganguk-angguk mengerti. 


Tak berapa lama, tiba-tiba saja Bajaj yang mereka tumpangi tersendat-sendat. Tae Yang memegangi Mikha dengan satu tangan dan satu tangan memegang pintu bajaj.


Trokthokthok ... thok ... throk ... thok ... (anggap saja suara bajaj ngadat ya...)


Sopir Bajaj menghentikan Bajajnya. Bajaj yang ditumpangi Emy juga berhenti. Emy melihat suaminya turun menggendong Mikha segera mengikutinya.


“ Sebentar ya, Pak,” kata Emy pada sopir Bajaj. Sopir itu hanya mengangguk saja


Emy segera berjalan menghampiri Tae Yang dan Mikha dengan Micko disebelahnya


“ ada apa, sayang?” tanya Emy pada Tae Yang. Tae Yang hanya menggedikkan bahu dan melihat sopir Bajaj terus berusaha menghidupkan mesinnya.


“ Pak, ada apa?” tanya Emy menghampiri sopir Bajaj


“ Ah, maaf Neng, mogok ini. Bagaimana?” kata sopir Bajaj


“ Oh, ya sudah. Kami di sini saja. Berapa, Pak?” tanya Emy


“ 100 ribu, Neng,” 


“ Oke, kalau begitu kita naik taksi sekarang,” kata Tae Yang


“ No, Dad! Micko mau Bejat!” seru Micko. Semua orang yang lewat melihat ke arah Micko. Bahkan sopir Bajaj Emy pun melihat ke arah mereka. Sementara Emy baru kembali dari membayar Bajaj Tae Yang.


“ Ada apa?” tanya Emy


Micko menunjuk beberapa Becak yang terparkir rapi di dekat mereka dan berlari mendekati para tukang becak


“ BEJAT!” seru Micko dengan menunjuk ke depan dimana ada seorang tukang becak sedang bersantai di atas becaknya. Mendengar ada anak kecil yang mengatainya, si tukang becak lalu berdiri dan menghampiri Micko


“ Hei! Bocah! Bilang ape lu barusan ( Hei anak kecil! bilang apa kamu tadi)?” seru si tukang becak dengan logat betawinya yang kental


“ BEJAT!” seru Micko dengan wajah berbinar


“ Wah ... sekate-kate lo ye ... masih bocah sudah pinter aje lo ngajak berantem ye ( Wah enak saja, masih kecil sudah pintar mengajak bertengkar) ...” kata si tukang becak. Micko terpingkal mendengar cara bicara si tukang becak


Emy segera menghampiri Micko diikuti Tae Yang dan Mikha. Micko menoleh dan melihat Emy.


“ Mommy! Bejat!” seru Micko dan menunjuk pada becak namun sayangnya di depan becak adalah si pemilik.


“ Oh ... jadi lo enyaknye? Heh ... ajarin anak lo, sekate-kate ngatain gue bejat (oh, jadi kamu ibunya? Heh, ajarin anak kamu, seenaknya saja bilang saya bejat),” geram si tukang becak pada Emy


“ Oh, maaf Pak. Anak saya tidak bisa bahasa Indonesia. Maksud anak saya, dia mau naik becak. Hanya dia belum bisa bilang kata becak,” jelas Emy

__ADS_1


“ Hah?” 


“ Iya, Pak. Anak saya baru pertama kali ke Indonesia. Dia ingin keliling naik becak,”


“ Bener? Lo kagak boongin gue biar kagak kena kepret, kan? ( Betul? Kamu tidak bohongin saya supaya tidak kena pukul, kan)?” 


“ Iya, Pak. Betul,” kata Emy dengan senyumnya 


“ Oh, okey dah. Untung situ cakep ( oh, ok deh, untung kamu cantik),” kata si abang becak


“ Hahaha ... makasih, Pak. Kami boleh naik?” 


“ Silahkan, Neng. Ayo! Naek .. naek ( naik)!” seru si abang becak. Emy menuntun Micko naik ke atas becak


“ Neng, mau 2 becak apa satu aja?” tanya si tukang becak


“ Kalau satu bisa?” 


“ Wah ... bener-bener si Eneng. Gini-gini abang mah jagoan kampung ...” kata si tukang becak dengan bangganya. Emy terkekeh mendengarnya.


“ Sayang, kita jadi satu aja, katanya dia bisa,” kata Emy pada suaminya. Tae Yang mengangguk dan sedikit memberikan senyumnya pada abang becak.


Akhirnya Emy duduk dengan Mikha di pangkuannya dan Micko di atas pangkuan Tae Yang. 


“ Jalaaaan!!!” seru si tukang becak dan mulai mengayuh becaknya. Mikha dan Micko bersorak gembira. Matanya terus berbinar senang dan menoleh kesana kemari bahkan tertawa dengan gembira. Tae Yang terus terdiam dan menutupi hidungnya dengan saputangan. Emy tersenyum simpul melihatnya


“ Daddy!!! Lihat! Itu Petrukmini!” seru Mikha ketika sebuah Metromini melewati mereka. Emy menaikkan alisnya dan melihat arah yang ditunjuk Mikha. Emy tertawa terbahak mendengar Mikha salah menyebut bis berwarna orens itu.


Saat di lampu merah, becak yang mereka tumpangi tak dapat lewat karena terhalang banyaknya kendaraan. Asap mengepul menyambut mereka. Emy segera menutup hidung dan mulut Mikha sedang Tae Yang menutup hidung dan mulut Micko.


Selama 1 menit mereka harus berada di posisi itu, wajah ganteng dan putih Tae Yang sudah mulai menghitam, demikian juga si kembar dan Emy. Tapi, si kembar tetap saja tak mau turun. 


“ Pak, tolong antar kami ke Kota Lama, ya?” kata Emy kemudian


“ Siap, Neng!” seru si tukang becak. Emy mulai mengerti arti “Neng” dan membiarkan mereka memanggilnya seperti itu.


“ Kenapa dari tadi dia memanggilmu dengan Neng?” tanya Tae Yang


“ Oh, artinya aku cantik,” jawab Emy menggoda suaminya


Tae Yang mendelik lalu menoleh dan menatap tajam si tukang becak. Abang becak menatap bingung tak mengerti


" Tae Yang-ssi!" seru Emy


Perlahan Tae Yang mengalihkan perhatiannya pada Emy yang menatapnya tak suka


“ Aku tak suka dia seenaknya saja dia memanggilmu begitu,” gerutu Tae Yang


****


Ahh ... untuk beberapa pembaca yang bertanya-tanya kenapa kok ada medis-medisnya lagi ... bersabar ya ... kehidupan dokter kan bukan hanya seputar obat dan suntik aja, bener gak?


Kisah ini akan segera berakhir pembaca tercinta. Mohon dukung terus ya ...

__ADS_1


Beberapa yang tak selesai di masa lalu akan dituntaskan di season 2 ini.


__ADS_2