Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Apes


__ADS_3

Emy berdiri dan memegang kepalanya yang terasa sakit. Tae Yang juga kesulitan menelan salivanya.


" Ekhem .. khem ... Ehm, Mikha Micko. Maafkan Daddy, ya sayang. Tapi, ehm ... dari mana Mikha sama Micko tahu itu?" tanya Tae Yang.


Mikha dan Micko tak lagi menangis berteriak tapi masih terisak dengan bibir masih ditarik kebawah. Tak ada jawaban keluar dari mulut keduanya.


" Ehm, sayang ... Mommy tidak apa-apa. Coba lihat, Mommy tidak apa-apa, kan?" kata Emy dengam senyum dan menunjukkan seluruh tubuhnya dengan kedua tangannya ia buka naik turun.


Mikha dan Micko mendongak melihat Mommynya.


" Mata Mommy seperti panda. Bibir Mommy bengkak," ucap Mikha dengan menunjuk mata dan bibir Emy.


Emy melipat bibirnya, Tae Yang mengusap wajahnya kasar.


" Sayang, bagaimana kalau malam ini, Mommy tidur dengan kalian?" saran Emy


Senyum terbersit di wajah si kembar. Tae Yang menatap istrinya horor.


" Yes!" seru Mikha dan Micko


" No!" seru Tae Yang.


Ketiga pria beda usia itu saling menatap. Tae Yang tak mau mengalah kalau masalah istrinya.


" Baiklah, Mommy akan tidur dengan Mikha dan Micko malam ini," kata Emy dengan senyumnnya


" Yeayyyy!!!"


" Horeee!!!"


Si kembar bersorak kegirangan dan turun dari sofa lalu melompat-lompat


" Nooooo!!!" Tae Yang mendelik dan meraih tubuh istrinya lalu memeluknya erat.


" Daddy!! lepas!!" seru Mikha


" Daddy!! gak boleh dekat Mommy!!" teriak Micko


Tae Yang semakin mengeratkan pelukannya


" Sayang, kamu tega sekali padaku," keluh Tae Yang


" Ck ... jangan begitu. Mereka sedang butuh aku, sayang," kata Emy


Mikha dan Micko sibuk menarik celana Daddynya agar dapat menjauhi sang Mommy


" Tapi aku juga butuh kamu .." rengek Tae Yang


" Tae Yang-ssi! kali ini biarkan aku tidur dengan mereka. Aku juga capek kalau setiap malam. Aku mau istirahat," protes Emy


" Tapi ... Aaaaa,"


Karena tak berhasil menarik Tae Yang menjauhi Emy, si kembar memutuskan mengambil pot bunga bonsai berukuran kecil, dan menjatuhkannya tepat di atas kaki sang Daddy, lalu berlari bersembunyi di belakang Emy.


Emy mengatup mulutnya dengan dua tangan dan melotot. Sebisa mungkin Emy menahan tawanya melihat kelakuan si kembar yang mulai barbar.


" Mikha Micko! Aaaa ... aduh sakit ... auuu ..." teriak Tae Yang kesakitan. Ia segera duduk di sofa melihat kakinya. Jempol dan 2 jari lainnya kelihatan merah kehitaman. Bisa dibayangkan rasa sakitnya jika hingga berwarna seperti itu, bukan?


" Ekhem ... Daddy, (seraya berjalan mengambil kotak P3K lalu berjalan kembali ke suaminya) ini kotak P3Knya. Aku ... antar Anak-anak tidur dulu, ya. Nite, sayang." kata Emy masih menahan senyumnya lalu mencium sekilas pipi suaminya.

__ADS_1


Tae Yang melihat tak percaya apa yang dilakukan istrinya. Mulutnya membuka dan kembali mengatup lalu mengeratkan giginya setelah pintu ruang kerjanya tertutup.


" Mikha Micko ... haduh ... aku seperti permaisuri yang dicampakkan demi selir ... haisshhh ..." gumam Tae Yang dan mengacak rambutnya kasar.


Selama seminggu, Tae Yang harus "menculik" istrinya di tengah malam, saat si kembar sudah tertidur.


Demi "keamanan", Tae Yang mematikan CCTV saat akan bergulat dengan istrinya, dan menyalakannya kembali saat akan beristirahat.


1 minggu berlalu setelah kejadian itu. Si kembar sudah tak mempermasalahkan lagi kalau Emy akan tidur dengan Daddynya. Tapi, Tae Yang kembali berwajah suram dan seram. Laporan Jung Hyuk 2 hari ini sungguh mengejutkan dan memancing emosinya


" Apa Hawk tahu siapa orangnya?" tanya Tae Yang. Mata elangnya membuat Jung Hyuk berkeringat dingin


" Be-belum, Tuan. Dia bilang, peretas itu pintar menyembunyikan IPnya (IP: alamat pemakai internet)," jawab Jung Hyuk gugup.


" Aku kasih waktu dia 48 jam. Jika dalam waktu itu dia belum bisa menemukannya, maka ... itu tandanya ia harus siap-siap diganti orang lain," kata Tae Yang dingin.


" Ba-baik, Tuan Muda."


" Bagaimana status hotel di Jeju dan Apartemen di Busan?" tanya Tae Yang


" Itu ... kami juga belum menemukan kenapa mereka mencabut ijinnya, Tuan,"


Brakkk ... klak (anggap kaca retak)


Meja kerja Tae Yang yang terbuat dari kaca tebal retak sekali terkena gebrak tangan besar Tae Yang.


" APA SAJA YANG MEREKA KERJAKAN?! SEBETULNYA MEREKA BECUS APA TIDAK BEKERJA?! HAHH?!!" bentak Tae Yang


Jung Hyuk semakin gemetar melihatnya. Kemejanya sudah basah dan menempel lekat di badannya. Sesekali ia menghapus keringatnya dengan saputangan.


" MEETING DALAM 10 MENIT!!" seru Tae Yang


" Ba-baik, Tuan Muda!" Jung Hyuk segera berbalik dan menyiapkan meeting dengan beberapa supervisor di Jeju dan Busan melalui Skype.


Lalu, setelah masalah kontraktor, pihak pemerintah tiba-tiba saja datang dan mengatakan bahwa tanah yang mereka gunakan, tak layak bangun. Belum selesai dengan masalah itu, perijinan juga dicabut seminggu sesudahnya.


Lain permasalahan di Busan lain pula di Jeju. Hotel World of Kimtae juga terancam ditutup karena dikatakan ada masalah dengan keamanan dan perijinan juga ditangguhkan karna masalah itu.


Tae Yang sungguh dibuat pusing karenanya. Semuanya baik-baik saja selama ini, hanya dalam waktu sebulan, semuanya kacau.


Tae Yang duduk di kursi kebesarannya dan menyalakan laptopnya. Jung Hyuk sudah menyambungkannya dengan kantor Jeju dan Busan.


" Aku mau dengar laporan kalian! Busan!" titah Tae Yang datar


" Tuan, seperti yang sudah kami kirim via e-mail. Kami tidak dapat menemukan kontraktor pengganti hingga saat ini. Tender sudah kami iklankan, tapi hingga saat ini, hanya vendor (penyedia layanan) kecil yang mengajukan proposalnya," kata Direktur Perencanaan cabang perusahaan Kimtae di Busan.


" Benar, Tuan. Kami juga baru saja menerima surat resmi dari pemerintah kalau tanah tersebut tak layak bangun," timpal wakil Direktur Perencanaan


Tae Yang mengepalkan tangannya dan menipiskan bibirnya. Aura dingin menyeruak di dalam kantor Tae Yang. Jung Hyuk yang duduk tak jauh dari Atasannya, begidik dan gemetar.


"Jeju!" seru Tae Yang kemudian


" Beberapa laporan kami terima dari customer (pelanggan), bahwa terdapat banyak sekali pecahan kaca di bibir pantai dan juga kehilangan benda-benda berharga mereka di dalam mobil yang terparkir di hotel. Lalu, Boat (perahu motor) juga ada yang tiba-tiba terbalik dan mengalami kerusakan mesin pada saat customer ada di dalamnya," lapor General Manager Hotel World of Kimtae di Jeju.


Tae Yang mengeraskan rahangnya. Matanya menatap tajam satu per satu bawahannya di layar laptop.


" SELAMA INI SEBENARNYA KALIAN ITU KERJA APA?! HAH?! KENAPA SEMUA KACAU SEPERTI INI?! APA GAJI KALIAN TERLALU BESAR SEHINGGA MEMBUAT KEPALA KALIAN TERTUTUP DENGAN SEMUA UANG ITU DAN TAK BISA BERPIKIR?!! HAH?!!" bentak Tae Yang.


Semua hanya bisa tertunduk pasrah. Mereka sungguh tak menduga kejadian seperti ini. Mereka sudah mengecek semuanya sebelum mulai pembangunan, lalu di Jeju petugas kebersihan juga selalu melakukan tugasnya. Petugas keamanan juga. Setelah banyak kejadian, mereka sudah menyelidiki, tapi belum mendapat titik terang.

__ADS_1


" Busan! bawa selidiki lebih rinci ke pihak kontraktor alasan ia memutus kontrak dan juga kirim orang untuk menyelidik surat itu. Jeju! tambah petugas kebersihan dan keamanan! saya tunggu laporannya seminggu lagi. Meeting hari ini selesai,"


titah Tae Yang lalu menutup laptopnya


Bukk ...


" Hyuk! bawakan aku kopi!"


" Baik, Tuan,"


Kriiiinggg .... kriiiinggg ...


Tae Yang meraih benda pipih di dekat laptopnya. Senyum pertama hari itu setelah hampir seharian emosinya meledak


" Hai, sayang," sapanya dengan lembut


" ........."


" Ah, iya benar. Baiklah, aku akan suruh Jung Hyuk menyiapkannya. Besok kita berangkat,"


" ........."


" Jangan kuatir, sayang. Aku juga lelah. Aku ingin berlibur dengan kalian,"


" ........."


" Bye, sayang. I love you too,"


Tae Yang menutup panggilannya dan segera memanggil Asistennya.


" Ya, Tuan," jawab Jung Hyuk sesaat setelah ia baru saja masuk kantor Atasannya dan meletakkan kopi buatannya di atas meja Tae Yang


" Siapkan jetku. Aku akan ke Indonesia. Handle pekerjaan di sini selama aku tak ada," titah Tae Yang dan memakai kembali jasnya dan menyesap kopinya beberapa kali


Jung Hyuk membulatkan matanya.


" Tapi, Tuan,"


" Aku pulang dulu," kata Tae Yang dan berjalan keluar kantornya dengan santai


" Apes ... apes! haduuuhh ... masalah segunung dianya pergi. Kalau aku juga pergi, bagaimana coba perusahaan ini? Tuan, untunglah aku ini orangnya sabar, pengertian, pintar. Kalau tidak, perusahaan Anda ini sudah lama hancur," kata Jung Hyuk dengan matanya menatap kursi kebesaran Tae Yang


" Benarkah?"


" Kkamjagiya!" seru Jung Hyuk," " Tu-tuan .. An-anda belum pergi?" Jung Hyuk menelan salivanya dan tersenyum terpaksa


" Ya ... begitulah. Untunglah ponselku ini tertinggal, jadi aku bisa tahu kalau ... perusahaanku sudah lama hancur jika bukan karena seorang yang sabar, pengertian dan pintar sepertimu," ucap Tae Yang tanpa melepas tatapannya pada asistennya.


Glek


" Hehehe ... Tuan, saya hanya bercanda ... hahaha ..."


" Benarkah? tapi sepertinya bukan candaan aku mendengarnya."


" Tu ..."


Tae Yang meletakkan jarinya di depan bibir.


" Aku serahkan perusahaan ini padamu. Seminggu lagi aku kembali, aku mau lihat bagaimana perusahaanku akan bertambah maju karenamu," kata Tae Yang dan melangkah pergi

__ADS_1


Jung Hyuk membuka tutup mulutnya seperti ikan mas koki.


" Tuan Mudaaaa!!! Apes! benar-benar apes! kalau bukan atasanku, Anda sudah saya gilas pake penggilasan baju Eomma! biar rata itu wajah Tuan, huhuhu ... padahal aku kan juga ingin ke Indonesia. Siapa tahu aku bisa ketemu yang namanya Roy Kiyoshi sama ondel-ondel, yang katanya Nona Muda mirip denganku, " rajuk Jung Hyuk dan terduduk lemas di lantai dan menangis tanpa airmata.


__ADS_2