
Ia mengingat saat itu sebelum ia mengoperasi Nona Kim, ia minum Soju bersama wanita selingkuhannya sekaligus perawat pribadinya saat ini. Mereka bersenang senang dalam sebuah hotel berbintang, yang dipesannya secara online.
Pagi hari, ia terbangun dengan deringan alarm lalu membersihkan diri dan kembali bersantai diatas ranjang empuk dan mewah, sambil meneguk wine merah. Wanita itu juga masih ada disampingnya tertidur pulas setelah pergulatan mereka semalam.
Menjelang siang, ia mendapat telepon dari Direktur Kang saat dirinya baru saja selesai dengan olahraga paginya di ranjang. Ia mandi, berganti pakaian dan pergi setelah memberi ciuman pada wanitanya itu.
Sampai di Rumah Sakit, ia merasa sedikit pusing karena pengaruh alkohol belum hilang dari sistemnya. Ia masuk ruang bedah setelah mendapat instruksi untuk mengoperasi keponakan pemilik Rumah Sakit.
Selama operasi, ia tak begitu konsen karena ia masih merasa pusing. Bahkan, pertanyaan dari Kepala Perawat tentang pilihan benangpun ia masih mengingatnya. Ia memarahi dan memaki Kepala Perawat saat itu juga karena menganggap Kepala Perawat itu sok tahu dan meragukan keputusannya.
Mengingat itu, dr. Cha memaki dirinya sendiri atas kebodohannya. Ia tak mungkin menyuap semua tim bedah saat itu. Ia juga tak mengingat semua kru, ia hanya ingat Kepala Perawat dan residen Ong serta dr. Ahn.
Lainnya? Ia tak tahu. Tapi, walaupun ia berhasil mengetahui mereka semua dan menyuap mereka, ada video yang tak mungkin ia ambil dari ruang berkas.
“ Aarrghhh... Kenapa kau tidak langsung mati saja So Yin! Kenapa juga dokter ingusan itu yang ada saat itu???....aarrghhh...”
Dokter Cha tak menyadari, walaupun bukan Emy yang bertugas menggantikannya saat itu, mereka juga pasti akan mengerti jika ada kesalahan pada prosedur operasi pertama sekali melihat hasil rekam medis.
Suara monitor terdengar nyaring dalam ruangan khusus dengan dinding kaca. Seorang ibu menangis terisak-isak di depan kaca itu dan seorang gadis mencucurkan air mata dalam diam. Sementara, laki-laki paruh baya itu memandang sedih menyaksikan putri tercintanya kini sedang berjuang melawan maut. Selang dan kabel terpasang di tubuhnya. Wajahnya pucat pasi, tak bergerak.
“ Ayah ... bagaimana ini? Kasihan Myung Ki ... hiks ... hiks...” isak ibu itu sambil memeluk lelaki paruh baya itu erat. Laki-laki itu mengecup puncak kepala istrinya dan membalas pelukannya erat.
“ Aku sudah minta So Nam untuk jaga Myung Ki sementara waktu.” Hiburnya.
“ Tapi ... So Nam kan harus ke kantor, ayah?” Ibu So Yin mendongakkan wajahnya melihat suaminya itu.
“ Dia sudah setuju menjaga Myung Ki sementara ini. Sekarang, ia sedang menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa jaga Myung Ki. Sebentar lagi dia juga datang.”
__ADS_1
“ Baiklah. Aku tak ingin laki-laki tak tahu malu itu mengambil cucuku!” Sahut ibu So Yin
“ Hmm... Akan kupatahkan tangan dan kakinya kalau dia berani!”
Tuk..tuk..tuk...
Suara sepatu menggema dilorong Rumah Sakit. Laki-laki gagah datang dengan seorang pria kurus dibelakangnya.
“ Tae Yang!” Seru Kim Myung Suk, ayah So Yin
“ Oppaa...” Kim Sook Joo langsung berlari berhambur ke pelukan Tae Sang, begitu ia mendengar ayahnya memanggil nama
Tae Sang, saudara sepupunya. Tae Sang hanya mengangguk dan memeluk Sook Joo yang mendekapnya dengan erat, menggunakan satu tangannya.
“ Paman!” Sapa Tae Sang sambil menunduk.
“ Ayo, duduklah...” Kim Myung Suk mengajak Tae Sang duduk di kursi tunggu yang ada di ruang ICU VIP, tempat So Yin sedang dirawat. Tae Sang mengikuti ajakan pamannya dan duduk menyilangkan kakinya.
“ Kau tahu, Tae Sang. Akulah yang membuat Putriku seperti ini. Aku yang menyuruhnya menikahi laki laki brengsek itu. Aku juga yang menyuruhnya untuk datang ke hotel tempat suaminya berselingkuh. Aku juga yang menolak dokter terbaik ketika hendak merawatnya...dan sekarang...Putriku....” penyesalan Kim Myung Suk, membuka pembicaraan.
Tae Sang menautkan alisnya,
“ Maksud Paman?”
Kim Myung Suk melihat Tae Yang dan menarik nafas dengan kasar.
“ Saat itu, perusahaanku kekurangan dana untuk proyek di Pulau Nami. Jadi, aku menyuruh So Yin, menikahi anak keluarga Baek. Aku tak tahu kalau ternyata laki-laki yang terlihat begitu sopan, ternyata brengsek. Beberapa bulan setelah mereka menikah, So Yin kembali dan menceritakan tentang suaminya itu. Tapi, aku tak percaya dan memarahi dia.
__ADS_1
Aku suruh dia pulang ke rumah suaminya. Beberapa bulan kemudian, aku menerima foto-foto laki-laki itu dengan selingkuhannya. Tapi, saat aku tahu dan menyuruh So Yin bercerai, ia tak mau karena sedang hamil. Aku serba salah. Sampai akhirnya, 5 bulan lalu. Aku terima kabar dari orangku, kalau orang brengsek itu sedang ada di hotelmu, jadi aku suruh So Yin kesana supaya aku juga bisa membuat bukti, dan So Yin juga mau bercerai.
Tapi ... aku tak menyangka, rencanaku membuat So Yin kecelakaan karena dia menyetir dan mengebut sambil menangis ... hiks ... hiks ... Lalu, aku menolak dr. Sie mengoperasi anakku. Dan akhirnya ... hiks ... hiks ... jadi begini ...” Sekian lama ia mengenal pamannya itu, baru kali ini ia melihat pamannya itu menangis.
“ Paman, bukankah sekarang So Yin sudah ditangani dr. Sie lagi? Apa yang paman kuatirkan?”
“ Menurut dr. Sie, So Yin koma dan tak bisa menentukan kapan ia akan bangun. So Yin juga mengalami kerusakan otak.” Jawab Kim Myung Suk lemah.
“ Kerusakan otak? Bagaimana bisa?”
“ Jantung So Yin sudah tak mampu lagi menyuplai darah ke otak karena ia mengalami pendarahan hebat. Aku juga masih menunggu Hyun Kwan untuk memberiku penjelasan, kenapa Putriku bisa pendarahan.”
“ Lalu, apa dr. Sie tidak memberi paman penjelasan?”
Kim Myung Suk menggeleng, “ dia hanya bilang, Direktur Kang yang akan memberi penjelasan.”
“ Paman, aku pergi dulu. “ Pamit Tae Sang. Kim Myung Suk mengangguk pelan. Dia tahu dan mengerti sifat keponakannya itu. Irit bicara dan sangat kaku.
Ruangan Emy
Emy memeriksa laporan hasil tes para pasiennya, ia juga mengecek hasil dari Kim So Yin beberapa kali, dan menghela nafas. Ia ingat kalau pasiennya itu punya seorang bayi, bagaimana dengan bayi itu, jika mamanya harus pergi selamanya? Hati Emy jadi gelisah memikirkan itu.
Ia berselancar di dunia maya, berharap menemukan kasus yang sama untuk menyelamatkan ibu muda itu. Ia tak ingin seorang bayi hidup tanpa ibu dan dirawat seorang ayah yang brengsek. Ia ingat, bagaimana suami So Yin saat istrinya sudah di IGD. Mengingat itu, Emy menjadi mual.
Ceklek...
Emy terkaget mendengar pintu ruangan dibuka tanpa ada suara ketokan sebelumnya. Sosok lelaki dengan tinggi hampir mengenai batas tinggi pintu memasuki ruangannya dengan wajah datarnya. Emy berdiri dan menyambutnya.
__ADS_1