Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Berkumpul Kembali


__ADS_3

" Saya tahu permintaan orang tua saya aneh, tapi ... saya mohon bantu Papi saya. Ia pasti akan sangat terpukul jika kehilangan kakinya,"


Yu Zhen mendongak dan dr. Lee melihat Dennis sudah berdiri dekat mereka. Yu Zhen menautkan alisnya dan menoleh melihat dr. Lee


" Dia kakak Emy, Dennis." kata dr. Lee pada Yu Zhen


" Waktu yang dimiliki Ayahmu hanya tinggal 3 bulan, Tuan Dennis," jawab Yu Zhen dalam bahasa Inggris pula


" Tak adakah cara lain?" tanya Dennis memelas. Dokter Lee dan Yu Zhen saling berpandangan dan menggeleng. Dennis tertunduk lesu.


" Dokter Lee! dr. Sie sudah siuman," lapor seorang perawat.


" Baiklah, aku akan kesana," kata dr. Lee dan segera beranjak.


" Aku ikut," kata Yu Zhen dan mengikuti dr. Lee. Dennis pun mengikuti keduanya dari belakang


" Em, kau sudah sadar? kepalamu masih sakit?" tanya Yu Zhen menyerobot dr. Lee dan membuat Ayah Eun Ha itu kesal


Emy hanya tersenyum dan menggeleng. Netra Emy menangkap sosok yang sangat ia rindu tapi juga ia takuti.


" Ka ... kakak ..." lirih Emy dengan mata berkedip cepat dan melipat bibirnya berusaha mengalihkan perhatiannya. Yu Zhen yang melihat itu memegang tangan Emy dan menenangkannya.


" Tenanglah. Tak akan ada siapapun yang bisa menyakitimu disini," ucap Yu Zhen dengan senyumnya. Emy memegang erat tangan Yu Zhen dan mengangguk.


Dennis mendekati Emy perlahan. Matanya menyiratkan kerinduan dan penyesalan.


" Em-Emilia ..." panggilnya. Wajah Dennis memandang Emy sendu. Emy menundukkan kepalanya dan sesekali melihat ke samping dimana Yu Zhen ada duduk di sebelahnya dan dr. Lee yang terus menatapnya penuh kasih sayang


" Em, aku ... aku minta maaf. Aku ... aku ..." Air mata Dennis kembali mengalir.


Ia tahu banyak kesalahan yang sudah ia buat terhadap adik kandungnya itu. Adik yang rela membanting tulang untuk membantu orantua dan dirinya. Adik yang seharusnya ia lindungi, justru dipaksa menjadi sapi perah bagi keluarganya. Adik yang tak memiliki kesalahan tapi harus menanggung banyak derita karena ulahnya dan Ayahnya.


" Em ... kakak, kakak tahu kau pasti marah sama kakak, kakak ..."


" Kak ... aku, aku tak apa. Jangan diteruskan," kata Emy tanpa melihat kakaknya. Ia juga berusaha menahan isaknya dan keinginan untuk memeluk kakak kandung satu-satunya.


" Nak, kakakmu menyesali perbuatannya. Ia juga yang mengusahakan agar Papi dan Mami datang kemari untuk menemuimu. Papimu ingin bertemu denganmu. Kami datang untuk meminta maaf padamu, Nak. Kami tahu banyak kesalahan kami padamu, karena itu ... maafkan kami ya, sayang," ucap Lienda dalam tangisannya


" Mam ... aku sudah memaafkan kalian. Aku tak pernah dendam pada kalian. Percayalah," lirih Emy dan mengambil tangan Maminya lalu memeluknya erat. Lienda mengusap punggung putrinya dan mencium puncak kepala putrinya lalu melepaskan pelukannya dan menatap Emy


" Nak, maukah kau ... memaafkan ..."


Emy mengangguk dan tersenyum kecil. Senyum wanita paruh baya itu merekah lalu mengulurkan tangannya pada Dennis yang masih berdiri di ujung bed rawat Emy.


Dennis segera menghampiri dan menghambur memeluk adiknya. Tangisnya seketika pecah. Di ujung bangsal itu, seorang laki-laki paruh baya tengah terduduk dan menutup mulutnya menangis tersedu.


Ia sudah banyak mendengar bagaimana kehidupan Emy di negeri orang dari Dennis, putranya. Ya, dia adalah Ayah kandung Emy. Yason Lumanauw. Entah darimana Dennis mengetahui kehidupan Emy, putranya tak pernah bercerita apapun padanya selain keadaan Emy


" Maafkan Papimu ini juga, Nak," lirih lelaki itu. Dokter Lee menangkap bayangan lelaki itu dari kaca jendela yang ada tepat di ujung sebelah kiri bed rawatnya.

__ADS_1


Yu Zhen mengikuti arah pandangan dr. Lee dan melihat ke arah kaca jendela. Ia mendesah. Sepertinya ia tak dapat memberi pelajaran pada keluarga Emy.


Emy melepas pelukannya dan menatap kakaknya lalu tersenyum tulus. Dennis menghapus air mata Emy dengan jemarinya dan tersenyum


" Bagaimana kakak tahu aku ... ada disini?" tanya Emy dengan suara serak


" Kakak bekerja ... (mendekat ke telinga Emy) di Badan Intelijen. Kakak juga bagian dari Interpol," kata Dennis dan berbisik pada bagian pekerjaannya lalu tersenyum manis


Emy terperarangah dan hendak berteriak, tapi tangan Dennis dengan cepat menutup mulut Emy dan satu tangan menaruh telunjuk didepan bibirnya, mengisyratkan Emy untuk diam


" Mami tak tahu?" bisik Emy balik. Dennis menggeleng dan tersenyum. Senyum Emy melebar.


" Kalian bisik-bisik apa, sih?" tanya Lienda yang terus memperhatikan interaksi kedua Anaknya. Emy dan Dennis sama-sama menatap Lienda dan berkata


" Rahasia, Mam!" jawab mereka lalu tertawa. Lienda bahagia, akhirnya ia bisa melihat keluarganya berkumpul kembali


" Ah, Oppa. Aku mau lihat Papi," kata Emy pada dr. Lee. Lelaki itu mengangguk dan Emy meminta kakaknya untuk membantunya turun dari bed rawat.


Perlahan Emy mendekat dengan Dennis yang berjalan sambil merangkulnya.


" Pa ... Papi," panggilnya ragu dan takut-takut. Yason mendongak dan melihat wajah putrinya yang sangat mirip dengan istrinya saat masih muda.


" E-Emilia ...." lirihnya. Emilia menatap Kakak dan Maminya. Keduanya mengangguk. Dennis membawa Emy ke depan sang Ayah.


" Emilia ... kem-kemarilah, Nak ... kemari ..." pinta Ayah Emy dengan merentangkan kedua tangannya. Dengan ragu dan takut Emy berjalan mendekat ke arah Papinya.


" Maaf ... maafkan Papi, Nak. Maaf .... huhuhu ... maaf, Sayang,"


Tangis Emy pun kembali pecah. Rasa bahagia menyeruak di dalam hatinya. Pelukan seorang Ayah yang selama ini sangat ia rindukan, kini ia mendapatnya.


" Pa ... Papi ..." gumam Emy tak melepas pelukannya.


Semua begitu terharu melihatnya. Seorang pasien yang ada di dekat pintu masuk, walau tak mengerti bahasa yang mereka gunakan, tapi ia merasa terenyuh mendengar tangis Emy dan Ayahnya.


Dokter Lee dan Yu Zhen pun yang sedianya menyimpan kekesalan terhadap Yason, ikut merasa terharu. Mereka sangat mengerti dan tahu kerinduan Emy terhadap Ayahnya.


Cukup lama Emy menangis dan memeluk Ayahnya. Yason tersenyum dalam tangisnya. Ia merasa bersalah atas perbuatannya. Ia menyesal karena sudah melewatkan masa Anak-anak putrinya.


" Hei!! Nona! apa kau masih mau terus menangis? lihat! matamu sudah mengalahkan bola pingpong," ledek dr. Lee


Emy melepas pelukannya dan menghapus airmatanya. Yason ikut menghapus airmata putrinya dan tersenyum


" Aduh, Pap. Delok'en anakmu wedok. Ayu-ayu raine mlembung koyok dientup tawon. Ngko' bojo e mblukek, piye ( Aduh, Pap. Lihatlah anakmu perempuan. Cantik-cantik wajahnya bengkak seperti disengat lebah. Nanti suaminya muntah, bagaimana)?" ucap Lienda dan membuat Yason sekeluarga terkikik. Sedang Yu Zhen dan dr. Lee hanya menaikkan alis karena Lienda memakai bahasa Jawa yang sangat asing di telinga mereka.


" Ehm ... Pap. Kapan terakhir Papi CT?" tanya Emy kemudian dan melihat lutut Papinya dengan seksama.


" Seminggu yang lalu," jawab Lienda. Emy mengangguk dan meminta stetoskop dr. Lee yang diberikan kepadanya dengan senang hati.


" Apa Papi ada keluhan lain?" tanya Emy seraya memeriksa dada Papinya. Kemudian dr. Lee menyodorkan senter kecil pada Emy dan wanita itu segera memeriksa mata Papinya.

__ADS_1


" Pap, aku akan mengajukan MRI. Aku mau lihat lebih jelas. Apa Papi pernah kemo?" tanya Emy


" Iya, tapi satu kali. Papi tak tahan, Nak," jawab Yason. Emy mengangguk.


" Baiklah, besok Emy akan lihat hasilnya dulu. Sekarang, Papi pindah kamar dulu, ya?" ucap Emy


" Pindah kamar?" tanya Yason.


" Iya atau Papi mau ke rumah Emy dan melihat cucu-cucu Papi?" tanya Emy dengan memegang tangan Papinya


" Ah, iya Nak. Mami mau lihat cucu-cucu Mami. Kata Dennis kau punya 2 Anak?" serobot Lienda


Emy tersenyum dan melihat Maminya," Bukan 2 Mi, tapi 3. Yang sulung 2 orang umur 6 tahun 10 hari lagi dan 1 masih 3 bulan," kata Emy


Mata Lienda berbinar demikian juga Papi dan Dennis.


" Kembar?" tanya Lienda. Emy mengangguk dengan senyumnya yang menawan terpatri di wajahnya yang sembab


" Kalau begitu ke rumahmu saja, Nak," jawab Yason semangat dan Lienda juga Dennis mengangguk cepat


" Ehem ... hem ... sepertinya kita jadi penganggu disini," sindir dr. Lee. Emy terkekeh mendengarnya.


" Oppa, aku akan bawa Papi ke rumahku setelah MRI. Apa Oppa bisa tolong bantu untuk MRI-nya?"


" Baiklah, Nona. Ternyata aku masih diperlukan," kata dr. Lee dan segera berlalu


Emy dan Yu Zhen terkekeh. Berganti keluarga Emy yang tak mengerti karena Emy memakai Bahasa Korea.


" Yu Zhen-a, apa aku bisa minta tolong padamu?" tanya Emy dengan mata penuh harap


" Hmm ... katakanlah,"


" Bisakah kau menolongku mengoperasi Papiku? Tapi ... aku mau kau menggunakan pendekatan AO (Arbeitsgemeinschaft fur Osteosynthesefragen /Asosiasi untuk Studi Fiksasi Internal)." kata Emy


Yu Zhen mengerutkan keningnya.


" Emy itu sangat mustahil," sahut Yu Zhen


" Tidak. Kau hanya perlu mengangkat tumor dan mempertahankan pembuluh darah pada tulang lalu menyemptot bagian yang terinfeksi dengan dengan cairan AO dan lakukan radiasi. Dengan kata lain, kita ambil langkah tambahan untuk mengambil tumor yang tertinggal. Mengingat ... amputasi akan sangat membebani pasien. Aku bicara bukan sebagai Anak tapi sebagai profesional," jelas Emy


Yu Zhen mengusap kasar wajahnya. Ia mendekati Papi Emy dan kembali melihat kondisi lututnya.


" Kalaupun itu berhasil, dalam 1 hingga 2 tahun tumor bisa kembali tumbuh," ucap Yu Zhen kemudian


" Apa kau bersedia? aku akan mendampingimu dan mengajari semuanya. Tapi, aku tidak akan bisa membantumu. Aku mohon," pinta Emy tak menggubris perkataan Yu Zhen tadi.


Yu Zhen menatap satu per satu keluarga Emy dan terakhir pada Emy. Dengan berat hati ia mengangguk. Emy tersenyum cerah dan segera berdiri memeluk Yu Zhen


" Terima kasih ... terima kasih," ucap Emy dan melepas pelukannya lalu kembali memeluk Ayahnya.

__ADS_1


__ADS_2