Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Goodbye... South Korea


__ADS_3

Emy sudah sampai di rumah Hannah. Ia segera mengemas pakaian dan dan barang barangnya. Ia bersyukur karena bibi Yim (pembantu Hannah yang menemani Hannah, karena ibunya sudah di Indonesia bersama suami barunya) tak ada dirumah.


Sebelum meninggalkan rumah itu, Emy berbelanja dan memenuhi semua kebutuhan rumah Hannah. menulis catatan pengingat untuk Hannah yang ceroboh.


Emy mengambil sedikit waktunya pergi ke makam Eomma dan Appanya. Ya, Eomma Emy sudah meninggal, saat Emy masih dirawat karena Trauma. Hanya Hannah, Luther, Evan, Mahendra dan dr.Lee juga perawat Na yang menghantarkan Eomma keperistirahatannya yang terakhir.


Malam saat bulan tak menyinari bumi, Emy dibantu sopir taksi memasukkan barang barangnya ke bagasi dan berangkat menuju bandara.


Dalam perjalanan, air mata tak henti hentinya menetes. Emy memandang lesu kota Seoul dan segala hingar bingarnya.


' Goodbye, Seoul...' lirih Emy dalam hati.


Sesampainya di bandara, Emy membalikkan badannya melihat terakhir kali pemandangan kota di sekitar Bandara Incheon. Perlahan ia berjalan memasuki pintu keberangkatan dan mematikan ponselnya, membiarkan banyak panggilan dan pesan untuknya, setelah tadi ia mengirim pesan pada dr.Kalev, temannya.


Sekali lagi Emy berbalik saat akan memasuki pintu keberangkatan.


" Goodbye... South Korea.." katanya lirih dan melanjutkan langkahnya. Air mata deras kembali membasahi pipinya, saat burung besi yang ia tumpangi, sudah berada tinggi diatas langit meninggalkan Negeri Ginseng dan sejuta kenangan pahit manisnya.


Sementara Media televisi dan Internet dihebohkan dengan skandal putri 3 pengusaha hotel dan Real Estate serta pengusaha restoran. Dimana ketiga wanita manja itu dengan gampangnya tidur bersama pria pria tak dikenal serta membully banyak wanita yang lebih cantik tapi lebih lemah dari mereka. Akibatnya, 3 pengusaha itu harus mengalami kebangkrutan.


2 hari berikutnya, Video pembullyan terhadap Emy juga beredar luas. Disusul foto ijazah dan berbagai bukti penghargaan Emy sebagai seorang dokter. Tidak lupa, tangkapan layar (screenshot) Website Universitas Harvard dan Oxford, yang menampilkan wajah Emy sebagai mahasiswi di sana.


Komen pedas membanjiri video pembulian Emy. Netizen mencela perbuatan ketiga wanita itu dan orang orang lainnya. Foto mereka yang menghina dan menertawakan Emy, terpampang jelas di sana. Tak pelak, mereka mendapat imbasnya.


Tae Sang begitu geram melihat berita itu. Ia tak menyangka Emy akan mengalami hal semacam itu di pestanya. Ia juga menghinanya, tapi ia juga merasa sakit saat melakukannya. Dan kini, ternyata istri kontraknya itu, mengalami yang lebih buruk.

__ADS_1


tok...tok...


" Masuk" seru Tae Sang tanpa mengalihkan pandangannya pada berita di layar komputernya.


" Tuan Muda, saya ingin memberikan ini." Byun Hyuk menyodorkan map, yang diterima dengan malas oleh Tae Yang.


" Apa ini?" alis Tae Sang mengeryit membuka map ditangannya.


" Informan yang membantu anda menemukan tikus tikus perusahaan anda adalah...Nona Sie, dan yang membuat rumor skandal tentang Nona Sie adalah Nona Helena." Jawab Jung Hyuk. Tae Sang terhenyak mendengar itu, ia terus membaca laporan di tangannya.


" adalagi Tuan. Informasi yang kakek anda berikan adalah benar. Nona Sie dari sejak ia kecil menggunakan uangnya untuk orang lain. Ia mendirikan perusahaan untuk membiayai 2 panti asuhan yang ia bangun dan juga 2 rumah singgah yang kini sudah berkembang menjadi 5. Nona Sie tidak pernah memakai laba dari perusahaannya untuk dirinya sendiri, tapi untuk membiayai anak anak yatim piatu itu, juga para gelandangan yang ia tampung." lanjut Byun Hyuk.


Tubuh Tae Sang terhempas lemas di kursi kebesarannya. Kilasan hinaan yang ia lontarkan pada Emy kembali terngiang di benaknya.


" Tuan...Tuan Muda...Anda tidak apa apa?" tanya Byun Hyuk. Dalam hati ia merasa senang, karena dapat mengungkap siapa Emy.


" ehmm..iya Tuan Muda, apa saya bisa melanjutkan?"


Dengan isyarat tangannya, Tae Sang menyuruh Byun Hyuk melanjutkan.


" Nona Sie, menyetujui menikah dengan Anda, karena kakek berjanji padanya untuk menjadi donatur tetap yayasan kanker milik Nona Sie yang saat itu kehabisan dana. Selama itu Nona Sie menggunakan seluruh uang gajinya untuk membiayai beberapa pasien kanker di Chicago...juga... karena umur kakek yang tak lama lagi."


" Apa kau bilang?" Tae Sang kembali merasakan sakit di kepalanya. Byun Hyuk menghampiri atasannya itu dan memberinya air minum dan aspirin.


" Tuan Muda, sebaiknya saya antar anda pulang..." Tae Sang mengangguk, dan Byun Hyuk memapah bos Kimtae itu untuk berjalan dan masuk dalam lift khusus CEO.

__ADS_1


' Tuan, belum seberapa informasi yang aku beri tentang Nona Sie, anda sudah seperti ini. Bagaimana kalau aku memberitahu anda, bahwa nona Helena sebenarnya telah menjadi istri dari kakak sahabat anda yang brengsek itu? Oh Tuhan... apa yang harus aku lakukan?' ucapan dan jeritan Byun Hyuk dalam hati, ingin rasanya ia ungkapkan di wajah atasannya yang keras kepala itu.


Byun Hyuk mengantar Tae Sang ke kamarnya, ketika mereka telah sampai di Villa Tae Sang. Dengan sabar ia merawat atasannya itu. Membuka sepatu dan jas serta menyelimutinya.


" Istirahatlah Tuan Muda. Saya permisi dulu." pamit Byun Hyuk.


Tae Sang menutup matanya dan tak bergeming. Kilatan perlakuannya terhadap istri kontraknya itu tak berhenti berputar bak rol film.


" Aarrrghhhhh...."


Byun Hyuk terhenti mendengar teriakan dari kamar Tae Sang. Ditatapnya pintu kamar Tae Sang saat ia sudah sampai di tangga.


" Apa anda menyesal sekarang, Tuan?" Helaan dan hembusan nafas kasar serta gelengan kepala, mengantar Byun Hyuk menuruni tangga. Saat sampai di anak tangga terakhir ia berbelok dan melihat pintu kamar Emy yang tertutup rapat.


" Nona, dimanapun kau berada, semoga kau berbahagia. Maaf karena saya tidak pernah membantu Anda. Saya menyesal, Nona. Tapi, amanat anda akan saya lakukan sebaik baiknya..." Bibir Byun Hyuk melengkung, ia tersenyum masam mengingat segala kejadian yang di alami dokter muda itu.


Di dalam kamar, Tae Sang sudah mengambil posisi duduk. Tetesan air mata merembes di sela sela matanya yag tertutup.


" maafkan aku, maaf... kumohon maafkan aku...huhuhu..."


Itulah penyesalan, selalu datang di ujung jalan. Setiap kali melakukan kesalahan, kita selalu berharap untuk dapat mengulang waktu dan memperbaikinya, tapi kita tak pernah sadar, waktu hanya bisa berlanjut.


Di tengah malam, Tae Sang keluar dari kamarnya dengan gontai. Menuruni tangga yang beralas karpet, Tae Sang berhenti di depan lorong samping tangga. Ia berbelok dan menuju kamar Emy. Gelap.


Ia mencari saklar dan menyalakan lampu. Kosong. Tak ada lagi barang barang Emy di sana. Lemari, meja, dinding semua kosong. Bahkan korden dan seprei telah berganti. Tak ada jejak dan bau wanita itu lagi. Tak bersisa. Bahkan sehelai rambut Emy pun tak ada.

__ADS_1


" Ia sudah pergi..." Badan Tae Sang lemas dan terduduk di lantai.


__ADS_2