
HAI SAYYYYY .....
MAAF YA, RIE TELAH UPDATE
MAKLUM EMAK-EMAK ... ADA AJA KALO ANAK-ANAK DIRUMAH ...
RIE AKAN KASIH CRAZY UP BUAT KOMPENSASI.
OH, YA... RANGKING NOVELNYA TURUN JAUUHHH... HUHUHU...đđđđ
MANA YA, VOTENYA? âšī¸âšī¸âšī¸
RIE IKLHAS BUAT PEMBACA BAYANGAN, YANG GAK TINGGALIN JEJAK... TERIMA KASIH YA MAU BACA NOVEL RIE YANG AMATIRAN INI
SELAMAT MEMBACA SAY....
đđđđ¤đ¤đ¤
" Mecinnya pintel kayak mommy ya, dad(mesinnya pinter kayak mommy ya, dad)?" Celetuk Micko
" Daddy juga pintar. Buktinya, Daddy bisa bikin anak ganteng kayak Mikha sama Micko, " ucap Tae Yang dengan senyum dan 2 alis terangkat.
" Ehm ... kalo gitu Uncle Yuk gak pintal (ehm ... kalo gitu gitu Uncle Hyuk gak pintar), Dad?" Tanya Mikha
Tae Yang mengerutkan alisnya tak mengerti.
" Cu Yang delek dadi Uncle dak pintal(Soo Yang jelek jadi Uncle Hyuk tidak pintar)," jawab Mikha dengan wajah polosnya
Tawa Tae Yang meledak memenuhi ruangan. Mikha dan Micko hanya tersenyum tak mengerti kenapa Daddynya tertawa.
" Anak-anak Daddy, memang pintar ... hahaha ..." Tawa Tae Yang masih susah untuk dihentikan
" Tapi, Dad ... kata uncle Yuk, kalna mommy pintal, makana Mikha cama Micko pintal (Tapi, Dad ... kata uncle Hyuk, karna mommy pintar, makanya Mikha sama Micko pintar)." Jawab Mikha polos sambil mengetuk-ngetuk dagunya mengingat perkataan asisten Ayahnya.
Tawa Tae Yang seketika berhenti. Ia mengeraskan rahangnya. Sepertinya dia harus memotong gaji asistennya.
Haciihh...
Jung Hyuk tiba-tiba bersin dan membuat berkas di tangannya terciprat dan titik-titik cipratan membuat jejak di kertas putih itu.
"Haduh, siapa yang sudah ngomong jelek dibelakangku, ya?" gumamnya.
Di rumah sakit, Emy mulai menjalankan tugasnya di IGD. Setelah mengantar Yu Zhen ke kamar rawatnya, Emy seperti biasa menangani pasien dengan cekatan baik saat ia harus melakukan konsul Poli Rawat Jalan maupun di IGD.
Siang selesai makan, Emy kembali ke ruang IGD. Baru beberapa saat ia mengambil berkas yang harus ia tanda tangani,
__ADS_1
seorang laki-laki muda masuk ke dalam ruang IGD dan berteriak,
" Dokter! dokter, tolong anakku ... dia terjatuh, Dok."
Emy segera menyuruh ayah muda itu membaringkan anaknya ke brankar. Perawat menyuruh ayah anak itu keluar dari ruang IGD dan menanyakan nama si anak.
Emy memeriksa luka di bagian kepala anak laki-laki yang sepertinya berusia sama dengan kedua putranya. Emy mengangkat baju anak itu, dam menemukan luka lebam di bagian dada dan perut. Alis Emy berkerut.
" Bawa untuk CT, sekarang!"
" Baik, dok!" Jawab seorang perawat dan segera mendorong brankar anak itu.
" Tunggu!" Seru Emy, kedua perawat yang mendorong brankar berhenti dan melihat Emy.
" CT seluruh tubuh dan ... Jangan sampai Ayah anak ini tahu," titahnya. Perawat yang ada disitu tak mengerti. Tapi Emy memberi tatapan meyakinkan dan mengangguk. Mereka menuruti perkataan Emy.
Emy bergelut dengan pikirannya. Hingga tak menyadari seseorang memanggilnya.
" Emy-a!" panggil orang itu lagi seraya menepuk bahunya. Emy terkejut dan menoleh.
" Sunbae!" serunya kesal
" Aku sudah panggil dari tadi, Bu Dokter ..." kata dr. Lee
" Ada apa?" tanya Emy dengan cemberut
" Ishh ... jangan bikin aku jijik, Sunbae! kau tak cocok melakukan aegyo!"
Dokter Lee mencebikkan bibirnya. Perawat yang ada di sana juga mengulum senyumnya melihat kelakuan Kepala Divisi Bedah itu.
" Ada apa?" tanya Emy
" Nanti ke kantor sebentar, ya."
" Hmm ... oke!"
" Kamu kenapa? Ada masalah?" tanya dr. Lee memperhatikan wajah Emy yang tampak khawatir.
" Oh, gak ada apa-apa. Tenanglah!" kata Emy.
Dokter Lee mengangguk dan meninggalkan IGD.
" Kepala Perawat Moon!" Panggilnya. Perawat berumur sekitar 50-an itu menghampiri Emy.
" Ada apa, Dok?"
__ADS_1
" Telepon polisi," kata Emy
Kepala Perawat Moon terhenyak.
" Tapi ... kenapa, Dok?" Tanya Kepala Perawat Moon
" Luka lebam pada Im Ha Joon, bukan luka lebam karena terjatuh. Itu seperti ... lebam karena terbentur benda keras," kata Emy
" Tapi ... itu belum menjelaskan bahwa itu karena dipukul, Dok." Ucap Kepala Perawat Moon.
" Kepala Perawat, bukankah aneh seorang anak terjatuh tapi tidak ada luka gores sedikitpun? Yang ada hanya lebam lama, lalu kepalanya saja yang berdarah karena ada luka menganga, dan ... lebam anak itu punya satu ciri yang sama,"
Kepala Perawat Moon mulai berpikir. Apakah benar perkataan dr. Emy, jika salah duga, akibatnya akan sangat fatal.
" Ehm ... sebaiknya kita menunggu hasil CT gimana, Dok?" saran Kepala Perawat
Emy mengerti kekhawatiran rekannya itu. Ia mengangguk setuju. Walaupun ia yakin, bahwa perkataannya benar.
Emy keluar menemui si Ayah. Ia melihat lelaki itu duduk dengan wajah cemasnya. Menutup wajahnya dengan kedua tangan yang ia tumpu di atas lututnya. Emy memperhatikan tangan lelaki itu dengan seksama.
" Ayah Im Ha Joon?" Panggil Emy. Lelaki itu mendongak dan menghampiri Emy
" Anak Anda masih harus menjalani tes CT karena luka di kepalanya cukup dalam," jelas Emy yang tanpa disadari oleh lelaki itu, Emy memperhatikan mata dan bibirnya.
" Baik, Dok. Saya akan menunggu di sini," jawabnya. Emy mengangguk dan berbalik masuk kembali ke IGD. Ia semakin yakin dengan perkiraannya.
20 menit kemudian,
" Dokter Sie, ini hasil CT Im Ha Joon," seorang perawat menyerahkan sebuah foto.
Tampak di sana, bukan hanya kepala bocah Ha Joon mengalami Hematoma (pendarahan dalam), tapi ada 2 tulang rusuk yang retak tapi tak mendapat pengobatan medis, dan sepertinya itu terjadi agak lama, lalu pada bagian betis juga ada hal yang sama.
Kepala Perawat Moon dan Emy saling menatap. Hati mereka berdesir kasihan pada si kecil Ha Joon dan merasa geram pada pelaku yang begitu tega melakukan hal itu pada anak kecil.
" Dokter, saya akan telepon polisi," ujar Kepala Perawat Moon.
Tak memerlukan waktu lama, Ayah si anak ditangkap polisi dengan tuduhan kekerasan pada anak. Emy mendapat umpatan dan ancaman dari laki-laki itu, tapi tak ada sepatah katapun yang ia balas.
" Pak, dia adalah pecandu. Sebaikanya Anda memeriksa rumahnya juga," kata Emy tiba-tiba pada seorang polisi yang mengucapkan terima kasih padanya dan para suster yang ada disitu.
" Ah, benarkah? Baiklah, kami akan periksa. Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya." Kata polisi itu. Emy hanya mengangguk.
" Baiklah, semua selesai. Terima kasih semuanya. Saya pulang dulu," pamit Emy juga pada rekan-rekannya. Semua mengangguk dan melihat punggung Emy yang semakin menjauh.
" Dia masih sama, jeli ..." Gumam Kepala Perawat Moon dengan tersenyum
__ADS_1
Emy tersenyum karena hari pertamanya bekerja sudah selesai dengan baik. Senyuman yang tak lama lagi akan menghilang dari wajah cantiknya.