Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Apa Ini Akhirnya


__ADS_3

" Eva, Sayang!" Tae Sang dan Eva menoleh dan melihat seorang laki-laki dengan jeans hitam, atasan rajut hingga leher warna abu dan jaket panjang abu kombinasi hitam, tersenyum sumringah dan membuka tangannya lebar-lebar.


Eva segera berdiri dan berlari memeluk erat laki-laki itu. Eva tersenyum dan laki-laki itu mencium kedua pipi Eva. Tae Sang mengepalkan tangannya. Sorot matanya tajam, si kembar menipiskan bibirnya dan mengepalkan tangan mereka. Mikha berlari lalu menyerobot masuk di tengah-tengah pelukan Eva dan laki-laki itu.


Laki-laki itu terpaksa melepas pelukannya dan melihat ke bawah. Di mana seorang anak laki laki ganteng sedang mendongak dan memandangnya marah.


" Jangan peluk-peluk, Mommy!" Pekik Mikha. Laki-laki itu dan Eva mengangakan mulut mereka. Mereka saling berpandangan, lalu tertawa bersama


" Ehm... nak, siapa namamu?" Mikha melipat tangannya lalu membelakangi laki-laki itu. Kekehan keluar dari mulut tipis laki-laki berparas mirip aktor Korea dalam drama " Crash Landing on You".


" Mikha, kenalkan, ini Om Mahendra, calon suami Mommy." Ucap Eva. Tae Sang terkejut. Kakinya serasa tak memiliki kekuatan, ia menahan badannya dengan tangan kanan pada meja kerja Eva. Micko yang berada di sisi Tae Sang, memeluk kaki Tae Sang.


" Daddy, Daddy kenapa?" rengek Micko, ia mulai takut melihat wajah Daddynya yang memucat. Tae Sang menata hatinya, menarik nafas dan menghapus titik air mata yang berusaha lolos. Ia membungkuk, lalu menggendong Micko dan mendekati Mikha yang masih bersama Eva dan Mahendra.


" Mikha, kita pulang ya, sayang." Tae Sang membungkuk lagi, dan menggendong Mikha.


" Saya permisi." Pamit Tae Sang tanpa mampu melihat Eva. Ia segera berlalu dari sana lalu menurunkan si kembar dan menggandeng mereka kembali ke penginapan.


" Daddy, kenapa kita gak tunggu Mommy?" tanya Mikha dengan matanya yang sendu.


" Mommy harus di sana, nak. Tapi kita harus pulang. Jangan nangis, ya?" Sahut Tae Sang dengan suara bergetar. Hatinya terasa sakit saat Emy tak mengenalinya, dan sekarang, Emy mengenalkan laki-laki lain sebagai calon suaminya di hadapannya dan anak-anak. Oh, hatinya terasa tercabik cabik.


Sesampainya di penginapan, Tae Sang memanggil Byun Hyuk untuk mempersiapkan diri kembali ke Korea.


" Kita tidak jadi mencari Nona Sie, Tuan Muda? " Tanya asisten setia Tae Sang.

__ADS_1


"Tidak!"


" Baik, Tuan Muda," Tae Sang berjalan ke balkon, mengeluarkan ponselnya dan melihat wajah cantik Emy, yang ia dapat dari internet kala Emy terlibat skandal. Air mata lolos meluncur bebas lagi.


" Apa ini akhirnya? Aku harus melepasmu?" Tiba tiba Tae Sang merasakan pelukan di kakinya. Ah, si kembar. Penyemangat hidupnya. Tae Sang berjongkok lalu memeluk kedua putranya.


" Sayang, kita pulang ke Seoul ya..." kata Tae Sang sembari melepas pelukannya. Jemari kecil menghapus air mata di pipi Tae S ang. Hatinya begitu haru melihat kedua putranya yang selalu menjadikan hatinya hangat.


"Daddy, angan angis...( Daddy, jangan nangis)" ucap Micko dengan mata yang sudah berkaca kaca.


**Cup


Cup**


" Iya, sayang. Daddy gak akan nangis. Sekarang kita siap-siap, ya?" Walau hati si kembar masih ingin menetap di desa itu dan tak mengerti kenapa mereka segera pulang, tapi demi Daddy-nya agar tak menangis, mereka bersedia untuk pulang.


" Oh, mereka itu wisatawan di sini. Anak-anaknya lucu, ya? Mereka tadi maksa panggil aku Mommy. Karena mereka tidak punya ibu." jelas Eva sambil mengetik sesuatu pada layar monitor.


" Ooh..."


" Kenapa? kamu marah?"


" Hah? oh, gak kok, sayang," ingin Mahendra berteriak kalau ia tidak menyukai panggilan itu tersemat pada calon istrinya. Karena hanya anak-anaknya dan Eva sajalah yang boleh memanggil dengan sebutan itu pada Eva.


Sebuah kantor bercat putih dengan banyaknya baju bergelantungan di sisi samping pintu kantornya, tampak sibuk seorang wanita dengan perut buncitnya memeriksa beberapa kertas dengan sketch-sketch baju.

__ADS_1


"Ah, design peninggalan Emy sudah mulai menipis. Bagaimana ini?" Pena di tangannya menjadi korban kepanikan wanita itu. Ia terus menggigit pena di tangannya sedang ia memutar otak.


"Ah, Xiao Lan!" Hannah segera menekan nomor nomor pada telepon genggamnya. Ia menunggu dan menunggu, tak ada yang mengangkat.


", Ah, Bodoh! Ini kan tengah malam di Shanghai," terpaksa Hannah harus menahan diri untuk menghubungi designer pengganti Emy, Xiao Lan. Karena design yang Emy tinggalkan untuk L'amour semakin menipis. Sebenarnya banyak sekali design yang Emy tinggalkan, tapi karena persaingan pasar yang ketat, maka Hannah memutuskan mengganti design tiap 3 bulan. Dan hasilnya, L'amour semakin terkenal dan peminatnya kian hari kian bertambah.


Sepeninggal Emy, Hannah membantu Evan dalam peran suaminya sebagai CEO, sedang Luther menjadi Direktur HRD dan Kepala Divisi Audit. Hannah memutuskan pindah ke Boston bersama Evan, karena seperti Eomma-nya yang rela meninggalkan Korea dan menetap di Indonesia bersama sang suami karena tak ingin berjauhan, Hannah juga tak mau berpisah dengan ayah dari anak-anaknya. Sementara perusahaan Kanghae kini berada dalam kendali Lee Kyong.


" Sayang, ayo makan siang dulu," Evan yang baru kembali dari meeting dengan kliennya di luar, menyempatkan kembali ke kantor demi menjemput istrinya. Hannah tersenyum melihat kedatangan sang suami. Ia segera menyambar tasnya, dan setengah berlari memeluk suaminya


" Hahahah... kamu sudah kangen, ya?" Goda Evan sambil mencolek hidung mungil istrinya. Pipi chubby Hannah merona. Evan tak habis pikir dengan istri kecilnya itu, sudah menikah hampir 3 tahun lebih, tapi istrinya masih saja bertingkah seperti ABG yang baru berpacaran.


" Ayo! Kita makan. Luther sudah menunggu di mobil sejak tadi," ajak Evan sambil memeluk mesra pinggang istrinya. Semua memandang pasangan beda usia itu, kagum. Karena jarang sekali mereka melihat keduanya bertengkar ataupun tak bersikap romantis.


" Luther, maaf ya, perutku berat, jadi jalannya lama hehehe," kata Hannah sambil perlahan menempatkan bokongnya di jok penumpang.


" Hei! Paman! Aku bukan sopir!" Protes Luther tiba-tiba ketika melihat Evan yang ikut masuk di kursi penumpang belakang bersama istri.


" Jangan protes! Kau beruntung jadi sopirku. Gak pernah kan kamu jadi sopir mantan gelandangan?" Hannah memukul paha suaminya dan mendelik. Sementara Luther mendengus kesal.


" Auww... sakit, Honey," rajuk Evan seperti anak kecil, membuat Luther tersedak salivanya sendiri.


Uhuk...uhuk...


" Yucks! That's gross! (ih, jijik banget!)" Luther berekspresi seolah ingin muntah dan mendapat hadiah timpukan tas Hannah. Membuat Evan tergelak. Luther hanya pasrah dan mengusap kepalanya yang lumayan terasa sakitnya.

__ADS_1


Di restoran Indonesia favorit Emy, ketiganya menikmati makanan dengan lahap. Setiap kali mereka makan, maka akan ada 1 kursi kosong di sana. Mereka menganggap bahwa Emy masih bersama mereka.


" Honey, bukannya itu..." mata Luther dan Evan memandang arah yang ditunjuk Hannah.


__ADS_2