Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Sahabat


__ADS_3

"Sahabat itu seperti kutukan. Iya, kutukan indah yang nggak akan pernah bisa dihapus dalam hidup."


Musim semi adalah musim yang paling menyenangkan. Indahnya bunga bermekaran dan cuaca yang tak terlalu panas dan dingin. Bahkan guyuran hujan mulai sering membasahi bumi, aroma tanah selepas hujan, menjadi daya tarik tersendiri bagi sebagian manusia. Salah satunya adalah Hannah. Ia begitu bahagia, jika hujan mulai turun.


Hujan selalu membawa kenangan dirinya dan sahabatnya Emy. Emy selalu menyukai hujan. Ia berkata bahwa hujan merupakan anugerah luar biasa. Tanpa hujan tumbuhan tak kan tumbuh dan tanpa hujan bisa dibayangkan, bagaimana panasnya bumi.


" Kau memikirkan dia lagi, sayang?" Sepasang tangan besar memeluknya dari belakang dan membelai lembut perutnya yang membuncit.


" Ah... Honey..." Hannah menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya. Evan terus mencium pucuk kepala istrinya yang kini tengah mengandung anak kedua mereka.


" Sudahlah sayang. Aku yakin Emy sudah senang di sana, bersama appa dan eommanya. Kau sedang hamil, jangan sampai dia seperti Emilia..". Evan mengingatkan istrinya dengan lembut. Ya, anak pertama mereka, Emilia, terpaksa lahir prematur karena emosi Hannah yang tak stabil. Hannah masih terus memikirkan adik angkat sekaligus sahabat karibnya, Emy.


Flashback on


Kepergian Emy, membuat Hannah terguncang. Bahkan pernikahanpun hampir ia batalkan, karena masih belum menerima kenyataan bahwa sahabatnya dari kecil itu, tak kan pernah ada mendampinginya di pernikahan dan hidupnya.


Kehamilannya yang pertama ia barengi dengan air mata. Dulu ia bermimpi untuk hamil bersama dengan Emy. Sama sama dengan perut membuncit, pergi berbelanja keperluan si jabang bayi. Tapi semua sirna tak berbekas. Setiap hari menangis menatap foto Emy.


Ditambah memikirkan kedua buah hati Emy yang ia serahkan pada Kim Tae Sang. Walau ia tahu ayah si kembar merawatnya dengan sangat baik, tapi ia masih terus memikirkan mereka. Bagaimana tidak, sejak umur 4 hari, si kembar ada dalam asuhannya. Ia selalu paranoid bila mengingat sikap Kim Tae Sang yang sempat ragu untuk menerima kedua bayi menggemaskan itu.


Hingga suatu hari, tiba tiba saja pandangannya menggelap dan harus dilarikan ke rumah sakit karena pingsan, ditambah pecah ketuban di jalan. Padahal kehamilannya masih belum 8 bulan. Malam itu, terpaksa Emilia harus lahir secara caesar.


Flashback off

__ADS_1


" Iya sayang, maaf". Lirih Hannah menunduk.


" Sayang... Gak usah minta maaf. Aku juga gak akan bisa melupakan Emy. Karena dia, aku dapat kehidupan kedua. Jadi aku mengerti. Tapi sekarang, kau fokuskan pada bayi kita ini, ya?" Ucap Evan menatap sayang mata istrinya yang melihatnya balik dengan posisi menoleh miring ke arahnya.


Hannah mengangguk setuju. Sekarang kehamilannya masuk 7 bulan. Ia tak mau terjadi sesuatu pada bayinya. Hannah mengingat sesuatu lalu berbalik dan menatap malu suaminya sambil mengulum bibirnya.


" Sayang, Apa Emilia sudah tidur?". Tanyanya pelan. Telinganya sudah memerah dan mata elang Evan melihatnya. Seringai muncul di bibir seksi merah Evan.


" Ehm... Mungkin, kenapa sayang?" Tanya Evan berpura pura bodoh.


" Benarkah? emm.. sayang, adiknya pingin dijengukin". Ucap Hannah malu malu sambil mengelus perut buncitnya lalu membalikkan badannya, membelakangi Evan lagi. Evan ingin tergelak mendengar perkataan Hannah. Tapi ia masih ingin menggoda istri kecilnya itu.


" Adik? Adik yang mana, sayang?". Hannah menarik nafas menahan emosi. Begitulah bumil, selalu saja gampang emosi. Hannah berbalik cepat, memicingkan matanya tajam pada suaminya lalu meninggalkan balkon kamar, meunju kasur Kingsizenya dan berbaring menutupi tubuhnya dengan selimut.


" Lho... Kok tidur? Katanya adik minta dijenguk?". Goda Evan. Hannah membuka selimutnya kasar. Matanya kaget melihat pemandangan indah di depannya. Perut kotak kotak seperti tahu, lengan berotot seperti Popeye, dan paha yang kokoh seperti kura kura ninja. Hannah menelan salivanya berat. Evan tersenyum lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Hannah


Di benua yang berbeda dengan kedua suami istri yang bergelut ria di atas ranjang, seorang wanita mengerjapkan matanya melihat langit langit yang tak asing buatnya.


" ah... aku pingsan lagi..." gumamnya dan berusaha untuk bangkit. Dua tangan tiba tiba masuk dalam pandangannya dan membantunya duduk.


" Bibi... maaf, aku bikin bibi cemas lagi ya...". Eva tersenyum kecut memandang bibi yang sedang mengambilkan air minum di atas meja.


" Sayang, aku ini bibimu. Jangan bilang seperti itu... Wajar kalo aku cemas. Nah ini, minum dulu ya ". Sofia menyodorkan gelas berisi air hangat ke mulut Emy.

__ADS_1


" Bi, ini jam berapa?". Tanya Eva sesaat setelah ia meminum air yang diberikan Sofia hingga tandas.


" ini jam 6 sore, sayang". Jawab Sofia sambil mengambil gelas dari tangan Eva.


' aku pingsan 3 jam' batin Eva.


" Bi, aku sudah baikan. Ayo pulang". Ajak Eva dan menuruni bednya.


" Lho... bener ya sudah baikan? Kita tunggu Kalev aja, gimana?". Saran Sofia. Eva mengangkat alisnya lalu menggeleng.


" Bi, aku gak apa apa. Tadi Kalev baru aja balik ke Bern. Jangan kasi tahu dia, ya bi?". kata Eva memelas.


" Kalev tadi telpon. Mungkin Clara yang kasi tahu. Dia udah perjalanan ke sini". Ujar Sofia.


" Haduh... kasian Kalev, Bibi telpon aja lagi. Bilang aku dah gak apa apa. Sekarang mau pulang. Apa dia lupa, kalo aku juga dokter?". kata Eva sambil tersenyum. Sofia akhirnya menuruti perkataan Eva. Ia segera menelepon Kalev dan mengatakan seperti yang Eva suruh.


Kedua wanita beda usia itu berjalan menyusuri jalanan desa. Eva lebih suka berjalan kaki, karena ia begitu menyukai alam. Walaupun Kalev sering melarangnya, tapi semua ia anggap angin lalu. Hasilnya? Kalev menyerah dan membiarkan Eva melakukan yang ia mau.


Kalev meneruskan perjalanannya kembali ke Lauterbrunnen, karena ia was was dengan keadaan Eva. Ia takut apa yang ia pikirkan terjadi. Tak ingin untuk egois, tapi ia berusaha melakukan yang terbaik untuk Eva. Alasan itu yang terus menguatkan hatinya.


3 tahun lalu, setelah Eva sadar dari komanya, Kalev membawanya ke desa Lauterbrunnen, salah satu dari 5 desa tercantik yang ada di Swiss.


Udaranya yang sejuk, bersih, segar, serta panorama alam yang mengagumkan, akan membuat semua orang jatuh cinta pada tempat ini. Inilah lembah paling indah yang ada di Eropa. Air terjun mengalir dari tebing batu yang tinggi, tepat di belakang rumah penduduk. Pilihan yang tepat untuk Kalev membantu pemulihan kondisi Eva pasca koma.

__ADS_1


Kalev tak menemukan Eva dan Sofia di klinik, sesampainya di Lauterbrunnen. Hatinya semakin cemas karena ponsel Sofia tak dapat dihubungi, sama halnya dengan milik Eva. Pikiran negatif yang sempat mampir di benaknya, kembali hinggap.


Rupanya, firasat Kalev tak salah. Karena sepasang mata tampak mengawasi dan mengambil gambar Eva dan bibi Sofia, tanpa disadari keduanya.


__ADS_2