
" Trus mana duitmu?"
" Saya gak pernah bawa cash, saya selalu bayar pake ini!" Keukeuh si Tae YlSang.
" Nah, kan...ngaku kalo gak punya duit," cibir ibu penjual. Tae Yang mengusap wajahnya kasar.
" Bu, ini namanya kartu kredit. Coba, bawa sini alat itu, bu," kata Tae Sang dengan kesabaran yang mulai menipis.
Si ibu penjual melihat arah yang ditunjuk Tae Sang.
" Ini?"
Tae Sang mengangguk. Tapi, perempuan itu justru melempar alat gesek kartu berlambang Bank of Korea itu ke bawah meja jualannya.
" Lho, bu!" Kesabaran Tae Sang sudah diujung tanduk.
Tanpa menjawab, ibu itu menghela nafas lalu mengambil benda tadi, menaruhnya di antara loyang jualannya lalu menaruh sebuah papan tipis bertuliskan "Jajanan Seolha" ditempat geseknya.
Tae Sang memijat pelipisnya. Ibu penjual memicingkan matanya.
" Itu tempat papan namaku," kata ibu penjual dengan santai
" Ya, ampun...itu alat buat kartu seperti ini, bu..." Kata Tae Sang dengan mengeratkan giginya.
" Hahaha...aku dapat itu dari sampah. Kalau dipake buat bayar, ngapain dibuang?"
" Ya, brarti rusak, bu!" Jawab Tae Sang kesal.
" Sekarang, kalo kamu bayar aku pake itu, aku dapat duitnya dari mana? Alat ini emangnya bisa ngeluarin duit? Kemarin aku bongkar gak ada isinya apa-apa. Cuma ada rongsokan kecil-kecil," ujar si ibu
" Ibu punya rekening bank?" Tanya Tae Sang.
__ADS_1
" Ya, punyalah. Biar saya orang desa, saya juga punya duit di bank!" Ketus ibu itu.
" Kasih nomor rekening ibu, saya transfer sekarang," ucap Tae Sang.
" Kasih kamu nomor rekeningku? Transfer?"
Tae Sang mengangguk, tangannya sudah berkacak pinggang. Kesabarannya sudah habis.
" Enak aja! Mau apa kamu? Gak! Enak aja!"
" Ibu mau di bayar gak!"
" Hei! Kok kamu yang marah! Kamu yang mau ngutang, kamu yang makan banyak dan kamu juga yang gak mau bayar, kok kamu malah marah!" Solot si ibu tak terima gara-gara dibentak Tae Sang
Emy melangkah masuk dan membuka dompetnya.
" Bu, berapa semuanya?" Tanya Emy ramah. Wajah si ibu berubah sumringah. Seakan ia tak pernah memarahi laki-laki di depannya.
" ₩28,780 nak," jawab ibu penjual. Matanya memicing ke arah Tae Sang ketika Emy sedang mengambil uangnya di dompet dan menghitungnya.
" Nak, kamu sudah menikah sama laki-laki ini?" Tanya ibu itu tiba-tiba. Emy mengangkat alisnya dan menatap si ibu.
" Nak, kalau belum, lebih batalkan aja. Dia cuma menang tampang. Kantongnya rata. Kamu nyesel nanti, nak. Rumah tangga gak cuma butuh cinta tapi ini juga( ibu itu menggabungkan ibu jari dan telunjuknya lalu menggesekkannya). Dia sudah gak punya duit, suka marah lagi...haduh...jangan sampe nyesel kamu, nak..." Ucap ibu itu mendramatisir.
Mata Tae Sang melotot tak terima. Emy mengulum bibirnya menahan tawanya lagi. Saat akan menjawab kata-kata si ibu, Emy menarik tangan Tae Sang mengajaknya keluar kedai.
Dari sejak saat itu, Tae Sang setiap pagi terutama saat ia akan keluar jalan-jalan dengan Emy, mengisi dompetnya dengan uang.
Kembali ke masa sekarang...
Tae Sang berulang kali mencoba membuka dengan menempelkan sidik jarinya tapi gagal karna Emy sepertinya mengunci aksesnya dari dalam. Ia berlari menuju laci di dekat tempat tidurnya dan mengambil kartu lalu memasukkannya di bawah alat scanner. Saat ia masuk matanya membulat sempurna melihat apa yang ditangan Emy sekarang.
__ADS_1
" Sayang, kamu kalo kangen aku, langsung ngomong aja. Aku sangat siap dan bersedia mengobati kangenmu," goda Tae Sang.
Emy mengerutkan keningnya. Ia mengikuti arah mata Tae Sang melihat.
" Aaahhh!!"
Emy terkejut melihat yang ia pegang dan membuangnya asal lalu begidik ngeri. Perlahan Emy mengalihkan pandanganya pada laki-laki di sebelahnya.
" Ehm...tadi aku...aku gak liat pas ambil. Waktu aku mau balikin, kamu masuk," terang Emy gugup.
" Benarkah?..." Mata Tae Sang menatap Emy mesum. Emy berjalan mundur setiap Tae Sang melangkah maju.
Sebenarnya Emy mengatakan yang sebenarnya. Karna gugup dan tak melihat, ia salah menarik laci pakaian dalam milik Tae Sang dan menarik boxer Tae Sang lalu memakainya. Ia sadar setelah ia pakai dan menjerit kaget.
Ia melepas kembali boxer Tae Sang lalu mengambil pakain dalamnya dan memakai piyama. Siapa sangka, saat ia mau mengembalikan ke laci, Tae Sang masuk.
" Sayang, apa...kamu mau sekarang, hmm?" Goda Tae Sang saat ia sudah berhasil memojokkan Emy di tembok dan melakukan Kabe don alias mengkungkung Emy dengan satu tangannya di tembok dan satu tangan mulai memegang pinggang ramping calon istrinya itu.
" Kamu cantik sekali sayang. Kau tahu kenapa aku sangat mencintaimu? Karena bukan hanya kau sangat cantik dan tubuhmu yang indah, tapi...hatimu juga cantik," ucap Tae Sang lalu mengelus lembut pipi Emy dan berakhir mengusap bibir menggoda calon istrinya itu.
Wajah Emy memerah. Ia tak berani menatap wajah laki-laki di hadapannya. Tae Sang memegang dagu Emy dan perlahan mendekatkan wajahnya hingga hanya tertinggal beberapa centi saja dari wajah cantik Emy yang memerah.
Tatapan Tae Sang tak beralih dari bibir merah muda Emy yang polos tanpa polesan lipstik. Ditatapnya sekilas mata Emy lalu mengecup bibir itu lalu lagi, lagi dan lagi hingga berubah menjadi ******* setelah merasa tak ada penolakan. Emy menikmati setiap ciuman Tae Sang dan membalasnya.
Tae Sang seakan melambung ketika ia mendapat balasan. Dengan berani, tangannya mulai bergerilya. Emy terbuai dengan setiap sentuhan ayah dari kedua putranya. Entah kapan Tae Sang melakukannya, saat ini Emy hanya memakai pakaian dalam dan berada dalam gendongan Tae Sang dengan kedua kakinya pada pinggang laki-laki itu. Desahan Emy membuat Tae Sang tak dapat mengontrol dirinya.
Perlahan dan pasti, tanpa melepas ciumannya, ia membawa Emy kembali ke kamar. Meletakkan tubuh kecil calon istrinya di atas kasur kingsize miliknya. Tae Sang mengakses setiap inci tubuh Emy dan meninggalkan jejak kepemilikannya.
Malam yang dingin kini berubah panas di dalam kamar utama keduanya. Menyatukan tubuh dan menyalurkan hasrat serta kerinduan. Emy sudah mulai menerima Tae Sang. Bahkan, hatinya sudah mulai terbuka untuk lelaki itu.
Tae Sang mengecup kening Emy dan tersenyum. Malam yang ia tunggu akhirnya tiba. Dipandanginya wajah ayu tunangannya yang sudah terlelap karena pergulatan panjang yang mereka lakukan. Malam yang indah yang tak kan ia lupakan.
__ADS_1
Ia tertawa sendiri mengingat kejadian tadi di kamar ganti. Ia sangat suka menggoda wanitanya itu, karena wajah Emy akan semakin menggemaskan ketika ia merasa malu.
" Terima kasih, sayang. Aku sangat mencintaimu. Aku percaya, kamu juga sama," ucapnya lirih seraya menyingkirkan anak rambut di wajah cantik wanitanya.