
Sorak kegirangan terdengar di ruang sidang. Luther sudah memeluk Emy yang menangis tersedu sedu, Keanan dan Evan juga berlari dan memeluk Emy. Mereka bertiga bergantian mencium kening dan pipi Emy. Mereka membawa Emy pulang dan menyajikan banyak makanan sedap.
Tapi ternyata badai itu tak berhenti sampai disitu. 3 bulan setelah Emy kembali bekerja, Emy mendapat kabar dr. Sie terkena Kanker limpa. Emy ingin kembali tapi dr. Sie melarang.
Akhirnya, Emy menggunakan sebagian besar waktunya, untuk penelitian membuat formula obat kanker dan juga membaca banyak artikel seputar kanker.
Untunglah, Emy sudah memperkerjakan designer, dari rekomendasi Keanan, jadi Emy sedikit banyak terbantu untuk urusan L'amour. Sedang Luther ia sudah kembali ke New York setelah sidang Emy berakhir.
Suatu pagi, Emy mendapat banyak sekali bunga dan cokelat, yang ia tak tahu darimana. Emy membagi semua cokelatnya dengan para perawat bahkan ia juga memberikannya ke rumah singgah dan Keanan. Hal itu berlangsung selama hampir 1 bulan.
Pagi hari, saat Emy selesai dengan shift malamnya, Emy berjalan sendiri ke rumah singgah yang jaraknya beberapa blok dari rumah sakit. Biasanya Evan atau Keanan menjemput, tapi saat itu Evan sedang keluar kota untuk mengurus rumah singgah yang akan dibuka, sedang Keanan ia tertidur setelah semalaman ia membuat proposal skripsinya.
Sebuah mobil berhenti didekat Emy, melihat seseorang yang ia kenal, Emy tersenyum dan mengiyakan ketika ia diajak masuk kedalam mobil sedan dengan lambang 3 lingkaran bergandengan itu. Emy menjadi begitu canggung berada semobil dengan orang yang selalu membuatnya risih itu.
" Emy, kau belum sarapan kan? kita makan dulu ya..." kata laki laki berkaos polo itu. Senyuman terukir diwajahnya yang lumayan tampan.
" Maaf Andrew, aku harus pulang, karena tak ada yang memasak di rumah singgah, paman Evan sedang pergi. Lain kali aja ya..?" tolak Emy dengan senyum indahnya.
Andrew mengatupkan bibirnya dan menghembuskan nafas kasar. Hidungnya terlihat mengembang kempis, cengkraman tangannya di kemudi menguat. Kemudian Emy merasakan mobil itu semakin kencang melaju.
Dalam kepanikannya, Emy memegang lengan Andrew dan memintanya menghentikan mobilnya. Andrew mendorong Emy dengan kuat dan menyebabkan kepala Emy terbentur kaca dengan keras. Emy meringis kesakitan dan terasa sangat pusing.
__ADS_1
Andrew terus melajukan mobilnya hingga didaerah terpencil. Emy melihat sekelilingnya dengan horor. Ia teringat kembali dengan traumanya. Andrew menarik Emy keluar mobil . Emy berontak dan berteriak histeris.
Dalam gendongan samsak, Emy terus memukul punggung Andrew. Di sebuah kamar tak berjendela, Emy dilemparkan keatas kasur yang tersedia disana. Tangisan dan teriakan Emy tak dihiraukan. Emy menggedor pintu dan berteriak-teriak tapi tak ada jawaban.
3 hari Emy mendekam dalam sekapan Andrew, dengan hanya makanan dan minuman yang tersaji lewat lubang kecil dibawah pintu.
" Aku akan memindahkan kamarmu setelah kita menikah besok." Setelah mengatakan itu, suara Andrew tak lagi terdengar. selama disekap, Emy hanya tertidur 2-3 jam saja. lingkaran hitam terlihat jelas dibawah matanya.
Emy meringkuk di ujung kasur singlesize nya. Air mata telah mengering dan asupan nutrisi sudah tak terpenuhi, karena selama 3 hari ini, Emy tak menyentuh makanannya. Andrew sepertinya mengawasi Emy lewat layar komputernya dan memperhatikan Emy lewat CCTV.
Andrew tak mau membuka pintu kamar Emy sebelum hari pernikahan karena takut tak bisa menahan nafsunya. Andrew sudah jatuh cinta dengan Emy, sejak pertama kali bertemu di rumah sakit, yaitu saat Emy memberinya pertolongan, ketika kakinya cedera akibat terjatuh dari sepeda motor kesayangannya.
Dengan kereta dorong makanan, penuh dengan berbagai jenis hidangan, Andrew membuka pintu kamar Emy dan membawa kereta itu masuk dan menutup kembali pintu kamar itu.
Andrew mendudukan Emy di pangkuannya dan mencedok sup lalu memaksa Emy memakannya. Sup belepotan di wajah Emy akibat penolakan Emy. Ia berhasil menyuapi Emy. Setelahnya, Andrew dengan sabar membersihkan wajah Emy dengan tisu basah.
Taman di Villanya sudah tertata baik dan indah. Ia juga sudah mengundang beberapa teman dekatnya dan juga kakaknya.
Keanan berhasil mendapat jejak Emy dan menyusun rencana dengan Evan. Evan dibantu teman mantan tentaranya, memimpin penyelamatan Emy. Untunglah mereka tak terlambat.
Karena tepat saat Emy dipapah salah seorang pembantu, Evan berhasil menghentikan pernikahan itu dan bertarung dengan Andrew dan teman temannya.
__ADS_1
Keanan berhasil menarik tangan Emy, saat Evan berdiri didepan Emy dengan temannya. Keanan berlari menuju pintu keluar, yang artinya harus masuk lebih dulu kedalam rumah.
Saat itulah kakak Andrew datang, dan melihat Keanan menarik pengantin Andrew. Kakak Andrew tak tahu, jika Andrew telah memaksakan kehendaknya, karena Andrew selalu bercerita bahwa, ia dan Emy saling mencintai.
Keanan bertarung dengan Adrian, kakak Andrew dan beberapa orang yang sedang bersama dengannya. Keanan akhirnya mendapat bantuan dari seorang teman Evan, dan pertarungan tak imbangpun terjadi.
Adrian yang adalah seorang anggota CIA, akhirnya mengarahkan pistolnya ke arah Keanan, ketika ia terjatuh akibat tendangan Keanan. Emy yang melihat itu langsung berlari dan mendekap Keanan.
Dorr..
Ahh...
Punggung mulus Emy tertembus timah panas dan membuatnya terjatuh dalam pelukan Keanan. Keanan berusaha membalas Adrian, tapi sebuah tembakan dari arah belakang, membuatnya terhempas ke lantai, disamping tubuh Emy.
Tetesan bening mengalir keluar dari pelupuk mata Emy. Ia melihat Keanan tergeletak dengan mata terbuka dan tangan yang terulur padanya, namun sayang, Emy tak dapat meraihnya karna pandangannya yang mulai menggelap.
Emy terbaring lemah tak berdaya dengan selang terpasang dimulutnya dan tangannya ditusuk jarum infus. Suara monitor pasien terdengar memenuhi ICU VIP, tempat Emy terbaring.
"Oppa, kau tahu saat itu aku sungguh tak berdaya melihat temanku. Baru beberapa bulan ia terbebas dari penjara, lalu ia harus mengalami kepahitan itu lagi," Kata Hannah dalam tangisnya. Tak lama kemudian, Hannah kembali melanjutkan ceritanya.
Evan menghajar Andrew hingga tak sadarkan diri, lalu Adrian, ia hanya pasrah ketika Evan memukul keras rahangnya. Evan mau membunuh kedua kakak beradik itu, tapi direktur rumah sakit menghentikannya, dan memberikan telepon dari dr. Sie yang memintanya, untuk tak melakukan sesuatu yang akan menambah beban Emy.
__ADS_1
Emy akan sedih jika Evan masuk penjara karena dirinya. Evan tak mau mendengar nasehat dr. Sie tapi setelah mendengar direktur rumah sakit mengatakan bahwa, jika Evan berbuat itu maka ia akan terpaksa memberhentikan Emy.