Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Perubahan Emy


__ADS_3

Hannah, mendekat untuk melihat ekspresi laki laki dingin itu. Hatinya perih membayangkan perlakuan yang diterima Emy selama ini. Tak mau lagi melihat manusia berhati batu di depannya, Hannah membalikkan tubuhnya dan berlari membuka pintu kamar di ujung lorong.


Hatinya tercabik melihat kondisi Emy. Dr.Lee menutup mulutnya yang terbuka dengan tangannya. Mereka berdua mendekati Emy yang nampak seperti mayat hidup. Pucat, kulit kering, lingkar hitam di bawah mata dan bibirnya yang dulu berwarna pink menggoda, kini memutih dan pecah pecah.


" Apa... apa yang terjadi denganmu Emy... Emy-a... ja.. jangan menakutiku... Emyyy... huhuhu..." Tangis Hannah pecah, dipeluknya sahabat sekaligus adik angkatnya itu erat. Ia melepas pelukannya dan memeriksa wajah Emy. Air mata deras membanjiri pipinya.


Dr. Lee menarik Hannah lalu duduk di sebelah Emy, memeriksa kondisi Emy. Air matanya pun jatuh. Ia tak menyangka, 2 hari 3 malam ia tak bertemu, kondisi Emy berubah seperti ini.


" Hannah, Emy... depresi. Bekas bekas luka ini, seperti..." dr. Lee tak sanggup meneruskan kata katanya. Lidahnya tercekat tak dapat mengeluarkan kata kata.


" Seperti apa... katakan... oppaaa... katakan seperti apa?!" tanya Hannah tak sabar, kepanikan mendera batinnya. Hannah mengguncang tubuh dr.Lee tapi sepupunya itu tertunduk.


" dia... seperti seorang wanita yang depresi karena... diperkosa." akhirnya kata kata itu keluar juga dari mulut dr. Lee. Ia segera berdiri dan melangkah lebar keluar dari kamar Emy. Amarah sudah memenuhi jiwanya. Air mata kesedihan dan amarah bercampur menjadi satu.


Hannah yang mendengar itu jatuh terduduk dan berlinang air mata. Matanya menatap Emy yang telah kehilangan semangat hidupnya. Trauma yang dulu Emy alami, kembali mendera sahabatnya itu. Dulu butuh waktu 2 bulan bagi Emy untuk pulih dengan bantuan Appa, Kenan, Luther, Evan dan Hannah. Sekarang, berapa lama Emy akan pulih? atau bisakah ia pulih? pikiran negatif terus berputar di kepalanya. Hannah berdiri dan memeluk erat Emy, ia takut kehilangan sahabat dan juga adik yang begitu disayanginya.


Brakk.. Praangg... Bugg.. Pyaaarr...


Suara gaduh di luar tak Hannah pedulikan. Ia masih tetap memeluk tubuh kecil Emy yang lemah. Beberapa saat kemudian, dr. Lee kembali ke kamar Emy dengan wajah lebam dan darah di sudut bibirnya. Tak usah ditanya, Hannah tahu apa yang terjadi.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun, Dr.Lee mengambil beberapa baju dan tas ransel kesayangan Emy, lalu memasukkannya ke dalam tas kecil yang ada di sudut ruangan.


" Han... kau bawa tas ini!" perintahnya, Hannah mengangguk menuruti laki laki itu. dr. Lee membungkus tubuh Emy dengan selimut dan menggendongnya. Hatinya tercubit sakit, merasakan betapa ringannya tubuh adik perempuannya itu.


Dr. Lee segera keluar dari kamar Emy dengan langkah lebar, diikuti Hannah di belakang membawa barang Emy.


" Kita belum selesai, Tuan Kim Tae Sang!" ucap dr.Lee dengan matanya yang tajam. Hannah terkesiap melihat Tae Sang yang penuh lebam dan darah di wajahnya. Tapi tak sekecilpun rasa iba dirasanya saat ini.


Bruk


Hannah melepaskan pegangan tas yang dibawanya dan melangkah mendekati Tae Sang yang berusaha duduk kembali ke sofa. Hannah menarik kerah laki laki itu, dan menatapnya dengan tatapan membunuh.


Simposium yang seharusnya dihadiri Emy, terpaksa digantikan dr.Lee. Kondisi Emy belum pulih. Ha Na terus saja.merawat Emy bersama dengan perawat Na. Bahkan, terapi kemo kakek, terpaksa digantikan dr.Lee dengan alasan, Emy harus menghadiri simposium. Untunglah kakek Kim mempercayai alasan dr.Lee tanpa bertanya lebih lanjut.


2 Bulan kemudian


Seorang wanita berbalut atasan hitam tanpa lengan, jeans pensil dan rambut terurai lurus dan berpoles make up natural - smokey, berjalan masuk area rumah sakit Emerald. Semua menatap kagum kearah wanita itu, tapi tak digubris. Wajahnya tak memancarkan keramahan. Banyak mata memandangnya dan ingin mendekati, tapi mata tajam dan aura dingin wanita itu, memperingati mereka untuk menjaga jarak.


__ADS_1


Sampai di ruangan yang lama ia tinggalkan, wanita itu menekan interkomnya memanggil asistennya.


" Perawat Na, tolong segera ke ruangan saya!" dan langsung memutus panggilannya. Tak berapa lama, perawat Na mengetok pintu dan masuk setelah mendapat ijin dari si pemilik ruangan.


" dokter Sie, kau sudah bekerja?" tanya perawat Na, ia terus melihat Emy tak berkedip. Ia masih ingat terakhir kali ia menjenguk Emy adalah seminggu yang lalu. Dan kondisi Emy masih belum banyak berubah. Hanya saja luka gores di tubuhnya sudah menghilang dan wajahnya sudah tak sepucat dulu.


" Perawat Na, aku minta laporan terakhir pasienku. Dan apakah ada konsul hari ini?" tanya Emy balik tak menjawab pertanyaan perawat Na. Wajah tanpa ekspresi, itu yang Perawat Na lihat kini. Hatinya begitu sedih, senyuman indah itu, keramahan itu sudah tak ada lagi disana.


" Perawat Na?! ada yang salah?" sorot tajam dan kata kata dingin Emy, membuyarkan lamunan perawat Na.


" ah..ah... iya ini. Hari ini konsul jam 11." dengan gugup perawat Na menyerahkan map ditangannya.


" kau boleh keluar sekarang." setelah mengangguk mendengar jawaban perawat Na, Emy membuka map dan mulai membaca dan menyuruh perawat keluar dari ruangannya tanpa melihat asistennya itu. Perawat Na membungkuk dan keluar ruangan Emy. Badannya lemas, hatinya sedih. Perubahan drastis Emy sungguh menyesakkan dadanya.


Emy menangani beberapa pasien tanpa banyak kata. Tak ada ajaran yang ia sampaikan kepada juniornya seperti dulu. Semua orang melihatnya canggung, tapi tak ada yang berani untuk bertanya. Mereka tak terbiasa dengan sikap jauh Emy. Biasanya Emy begitu baik dan ramah serta selalu mengajari mereka, tapi sekarang, tidak lagi.


Operasi yang dilakukan Emy, dikerjakan tanpa banyak kata, hanya perintah kecil pada asistennya dan perawat. Mulai dari membedah hingga menutup jahitan, dilakukannya sendiri. Masuk dan keluar ruang operasi tanpa sapaan dan hanya bungkukan hormat.


Hari itu, Emy baru saja menyelesaikan tugas akhirnya memeriksa pasien pasca operasi. Seperti biasa Emy, membersihkan diri dan mencuci rambutnya. Selesai dengan baju scrubnya, Emy berjalan hendak kembali ke ruangannya. Saat akan membelok ke koridor, tiba tiba saja

__ADS_1


bruk...


__ADS_2