
Serangkaian perubahan dilakukan Emy untuk mempertahankan usaha fashionnya, yang ia rintis sejak remaja itu. Banyak yang tak menyangka, bahwa seorang dokter terkenal dan belia itu, adalah bos L'amour sebenarnya.
Evan sudah beberapa hari ini menjadi penjaga dan chef bagi Emy. Penolakan Emy untuk dirawat bak anak kecil, tak membuat Evan mundur untuk menunjukkan kasih sayangnya pada anak babtisnya itu.
Ia selalu memasak dan membereskan apartemen Emy, ia juga berbelanja kebutuhan Emy lalu membantu Emy dengan berkas berkas Emy, yang berurusan dengan strategi marketing dan urusan kepegawaian.
Tengah hari di hari ke-8 Emy di Boston, seorang laki-laki bertubuh atletis dengan tinggi badan khas orang bule yang tinggi dan dengan wajah tanpa ekspresi, memasuki kantor berarsitektur tradisional Amerika, tempat kantor pusat L'amour bermarkas, bersama seorang laki-laki kulit hitam yang manis dan memiliki badan tak kalah seksi.
Kaum Hawa seakan mendapat udara segar. Ya, maklum saja, semua yang bekerja di L'amour adalah wanita dan laki laki gemulai yang tak bisa mereka jadikan penyegar mata dan obat galau.
tok tok...
"Masuk!"
Emy hanya sekilas melihat ke pintu ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.
" Nona Sie, pengacara anda sudah sampai," kata sekretaris baru Emy, Lucy, dengan sopan.
" Ah, baiklah. Suruh dia masuk dan bawakan kami kopi juga camilan, ya.." kata Emy dengan senyum dan kembali mengetikkan sesuatu di komputernya sembari menarik dan melirik dokumen disampingnya.
__ADS_1
" Selamat siang, Nona Sie!" Sapaan seorang laki laki bersuara baritone, menghentikan jemari Emy yang lentik menari diatas keyboard komputernya.
Emy mendongakkan wajahnya dan melihat seorang laki-laki yang tak asing baginya dan seorang laki-laki kulit hitam di belakangnya.
Emy diam dan menatap laki-laki bermata hijau itu sesaat sebelum ia memutuskankan tatapannya dengan menelan salivanya. Emy berdiri dan mengulurkan tangannya seperti seorang profesional
" Selamat datang! saya tak menyangka, pengacara saya adalah anda," senyum kecut menghias wajah cantik Emy.
Sedang laki-laki itu dengan senyum tulus dan mata yang sendu tetap manatap Emy sembari mengulurkan tangannya.
" Hmm..anda bisa menyuruh partner anda untuk menggantikan anda, saya sama sekali tidak keberatan." ucap Emy dan berhasil membuat laki-laki itu langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Emy dan laki laki itu berinteraksi melupakan laki-laki kulit hitam yang menatap keduanya dengan bingung.
"Ehm ... ehm .... apa kita jadi rapat hari ini?" pertanyaan itu berhasil menyadarkan Emy dan laki-laki kaukasia itu.
" Ah, maaf ... ehmm, nama saya Emy Sie, dan anda?" dengan senyuman yang begitu menawan, Emy mengulurkan tangannya pada pria kulit hitam itu.
" Ah, akhirnya anda mengingat saya ... hehehe ... saya Jeff Olsen, rekan Luther Howland..." Jeff dengan gigi hollywoodnya menyambut uluran tangan Emy dan menepuk pundak Luther.
Emy mengangguk dan membuka map yang sudah ia siapkan untuk rapat ini.
__ADS_1
lebih dari 3 jam mereka mendiskusikan tentang tuntutan de Ma Vie. Akhirnya pembicaraan itu selesai, dan Emy menyuruh Lucy mengantarkan keduanya keluar. Luther seakan enggan untuk beranjak, tapi melihat wajah dingin Emy, ia mengurungkan niatnya. Ia sadar, Emy belum memaafkannya.
Emy kembali ke apartemennya. ia makan dan mandi lalu berbaring. Evan tak banyak bicara, ia tahu hari ini Luther datang menemui Emy, dan membuat Emy menjadi diam. Evan juga membaringkan tubuhnya di kamar yang ada disebelah Emy lalu tertidur.
Luther dan Emy sering bertemu karena masalah de Ma Vie. Akhirnya sidangpun tiba. saat di pengadilan, tak banyak yang Luther lakukan. Ia hanya menyerahkan bukti ke tidak bersalahan L'amour dan mengungkap sejumlah fakta yang mencengangkan.
Dan hanya dalam 2x sidang, L'amour dinyatakan tidak bersalah, dan terbebas dari hukuman. Atas permintaan Emy, de Ma Vie tidak akan dituntut, dan Mike serta Marie tidak akan dipenjara. Tapi mereka harus membuat pernyataan tertulis bahwa L'amour sama sekali tidak bersalah dan harus meminta maaf didepan publik.
Itu adalah permintaan pribadi Luther pada Hakim, karena ia tahu bagaimana Emy. Emy akan memaafkan mereka dan tidak akan menghukum mereka. Tapi dengan jalan ini, secara tidak langsung, Mike dan Marie akan mendapatkan hukuman atau tamparan keras di wajah mereka.
Sehabis sidang, Emy segera berdiri dan berjalan untuk keluar diiringi Luther dan Jeff juga Evan.
" Tunggu! Emy!" suara wanita yang ia begitu kenal membuatnya menghentikan langkahnya. Tanpa berbalik, Emy hanya berdiri menunggu wanita itu ataupun suaminya berbicara.
" Emy, kenapa kau tak menuntut kami? dan sejak kapan kau tahu de Ma Vie adalah milik kami?" kali ini suara laki laki yang juga tak asing buat Emy, menyesakkan dadanya. Emy menutup matanya, membiarkan buliran bening jatuh membasahi pipinya.
" Emy! jawab kami!" wanita bernama Marie yang dulu begitu lembut pada Emy, sekarang menaikkan suaranya pada Emy.
Evan yang sedari tadi menahan diri dengan mengepalkan tangannya, ingin menonjok kedua pasang suami istri itu. Saat kakinya hendak melangkah, tangan kekar itu ditahan tangan kecil dan lembut milik Emy, Evan melihat Emy menggelengkan kepalanya. Dengan menghembuskan nafasnya kasar, Evan merenggangkan kembali kepalan tangannya.
Luther dan Jeff memandang Mike dan Marie dengan tajam tak bersahabat. Mike dan Marie tak memperdulikan keduanya. mereka masih menunggu jawaban Emy.
__ADS_1