Serpihan Hati: Cukuplah Sudah

Serpihan Hati: Cukuplah Sudah
Bandara - Season 2


__ADS_3

Emy dan Anak-anaknya, Luther, dan Evan mulai menuju arah Gate sesuai pengumuman pihak Bandara tadi.


" Em, paspormu sama Anak-anak?" pinta Luther menengadahkan tangannya pada Emy


" Oh, sebentar,"


Emy merogoh tasnya mencari buku identitas untuk perjalanan antar negara itu.


" Kenapa? tidak ada?" tanya Luther


Emy mengangguk dan terus mencari di dalam tasnya.


" Tadi aku sudah masukkan ke tasku," kata Emy seraya mengeluarkan isi tasnya.


" Ya ampun, jangan sampai ketinggalan," ujar Evan dan melihat jam di tangannya.


" Aku yakin, Paman. Aku tadi sudah masukkan ke tasku,"


Mikha dan Micko terus berlarian, Ji An dengan tenang terus mengawasi dan menjaga cucu Atasannya itu.


Tak menunggu Pak Jang sepenuhnya berhenti, Tae Yang sudah menerjang membuka pintu mobilnya lalu berlari dengan mata yang terus menjelajah sekelilingnya. Kepanikkannya tak membuatnya peduli dengan makian dan tatapan orang-orang yang melihatnya.


Tadi, saat ia baru saja keluar dari gerbang bandara khusus landasan pesawat pribadi, Tae Yang mengaktifkan ponselnya. Sebuah notifikasi menarik perhatiannya dari sekian puluh pesan dan panggilan tak terjawab.


Tanpa pikir panjang, ia segera meminta Pak Jang memutar haluan ke Bandara Incheon tujuan Internasional. Hatinya serasa diremas ketika mendapat pesan dari Paman Min, kepala pelayannya, bahwa Emy telah pergi dengan Anak-anaknya ke bandara beberapa jam yang lalu.


" Sayang ... sayang ... aku mohon, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi ... aku mohon ..." gumam Tae Yang dengan air mata terus mengalir, lelaki itu mencari keberadaan istrinya. Ia berlari kesana kemari seperti tanpa asa. Beberapa kali ia salah mengenali orang dan berucap maaf.


Badannya terasa lelah. Lelaki itu menunduk dan menopang badannya dengan kedua tangan ia tempatkan di atas lututnya. Matanya tetap mengedar mencari penghuni hatinya. Bagaiman tidak, Bandara Incheon yang sangat luas dan terdiri dari beberapa lantai dengan banyak elevator, sudah ia jelajahi dengan berlari.


" Aku mohon, sayang. Aku mohon maafkan aku ... tolong jangan pergi," lirih Tae Yang


" Sudah dapat?" tanya Evan. Emy menggeleng lemah.


Otaknya terus berputar untuk mengingat apakah ia benar-benar lupa. Tapi, nyatanya memorinya selalu menuntunnya kalau ia memang sudah menaruhnya di dalam tasnya yang tak bermerk tapi nampak bagus dan kuat.


Begitulah Emy, walaupun tak kekurangan uang, ia hanya akan berbelanja kebutuhannya jika memang ia perlu dan tak harus mahal. Walaupun tanpa merek, asal bagus dan awet pakainya, ia akan membelinya.


" Mikha, Micko!" panggil Emy, ketika ia melihat kedua putranya sudah duduk dan memainkan ponsel Luther dan Evan.


" Yes, Mom!" jawab keduanya serentak.


" Tadi, Mikha sama Micko lihat buku kecil-kecil warna hijau di tas Mommy, gak?" tanya Emy


Kedua bocah tampak mencoba mengingat benda yang di maksud Mommynya.


" Ah ... ya, Mom!" seru Micko


Kedua bocah itu segera berlari menuju tas Ji An, si pengasuh. Wajah Ji An seketika memucat. Ia berlari cepat dan bermaksud mengambil tasnya, tapi sayang, tangan mungil Micko sudah membukanya dan merogoh ke dalam.


" Inikah, Mom?" tanya Micko menunjukkan 4 Passport berwarna hijau pada Mommynya


Mata Evan, Luther dan Emy saling berpandangan dan beralih pada Ji An. Wanita berpostur tinggi dan ramping itu gemetar.

__ADS_1


" Katakan padaku, APA MAKSUD SEMUA INI?!" bentak Evan.


Oekk ... oekk ... oekkk ...


Baby Migu yang terlelap tersentak kaget dan menangis dengan kencang. Emy segera menghampiri Evan dan mengambil alih bayi mungil itu. Mata Emy tak lagi melihat melihat pengasuh bayinya.


Luther mendekati Ji An lalu menarik lengan wanita itu dan membawanya sedikit menjauh lalu dihempaskannya kasar.


" Apa yang kau lakukan?!" tanya Luther dingin


" Tu-tuan ... saya, saya hanya ..." pengasuh baby Miguel itu gemetar ketakutan. Ia sangat pandai beladiri, tapi ... dibanding dengan atasannya dan juga lelaki didepannya itu, keahliannya bisa dibilang jauh dibawah mereka.


" KATAKAN!!" bentak Luther dan membuat orang di sekitarnya kaget mendengar suara kerasnya


" Maafkan saya, Tuan. Saya hanya ingin Nona dan Tuan Muda bicara baik-baik dulu ... karena, karena bisa jadi semua salah ..."


" Salah paham maksudmu? hmm, iya?!" potong Luther dengan nada dinginnya


Ji An mengangguk cepat dan menyeka airmatanya.


" Tidak ada kesalahpahaman! Tae Yang sudah menyakiti Emy! Dan aku ... Luther, tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakitinya!" ucap Luther tepat didepan wajah Ji An dan menatap tajam wanita malang itu


" Tuan ... Tuan Muda, dia ..."


" STOP!!" bentak Luther lagi, " Jangan sekali-kali aku mendengar kau membela laki-laki brengsek itu! jelas?!"


Ji An terus menyeka airmatanya. Luther bertambah geram tak mendapat respon


" APA KAU JELAS?!" bentak Luther


Ji An mengangguk cepat, Luther melihat sinis ke arah Ji An dan segera kembali ke tempat mereka tadi duduk. Dimana, Emy, Evan dan Anak-anak sudah menunggunya.


Tae Yang melihat siluet lelaki yang sangat dikenalnya berjalan dengan langkah lebar.


" Luther!" gumamnya. Tae Yang segera berlari. Langkahnya terhenti karena sekumpulan peserta tour yang tiba-tiba saja lewat.


Tae Yang terus menyibak di antara kerumunan wanita-wanita yang tak lagi muda itu.


" Aduh ... ganteng sekali ... Aigoo ... cocok jadi cucu mantuku," kata seorang wanita seraya memegang lengan Tae Yang dan ditepis lelaki itu.


" Omo, omo ... dia pasti tak mau. Karna lihat dari mukamu saja, cucumu pasti sama denganmu," ejek seorang wanita disebelahnya.


" Kyaaa!!! bosan hidup kau ya!!" sergah wanita itu.


Tae Yang terus berusaha menyerobot keluar dari kerumunan para wanita yang berusia 2 kali lipat darinya itu, tanpa menggubris mereka yang beradu mulut karenanya.


" Maaf ... permisi, saya mau mencari istri saya," ucap Tae Yang sopan dan melangkah perlahan mencoba menyusup


" Ayaa ... kau sudah menikah?" tanya wanita lainnya


" Iya, jadi maaf, tolong beri jalan .." kata Tae Yang tak sabar, " istri saya marah dan membawa Anak-anak kami, saya mau menyusulnya, tolong ..."


Tae Yang memiringkan badannya dan mendorong tubuhnya maju agar terlepas dari para wanita tua yang genit itu

__ADS_1


" Aigooo ... kasihan sekali ... aku bantu," kata seorang wanita lain


" MINGGIIRRR!! SOS!! DIA MAU MENGEJAR ISTRI DAN ANAK! MINGGIRRR SEMUANYA!! AYO CEPAATT!!" seru wanita itu dengan lantang dan membantu Tae Yang membuka jalan. Wajah Tae Yang yang sembab menimbulkan belas kasihan para wanita itu.


" Aiya ... kasihan, semoga dia belum pergi, ya" kata seorang wanita


" Oo ... anak kuda eh muda, sabar ya ..."


" Pergilah ... pergilah ... cepat pergi, hmm,"


" Terima kasih," ucap Tae Yang


" Aigoo ... manisnya, baiknya ... sana, sana ... cepat susul istrimu," kata wanita itu seraya mendorong Tae Yang pergi. Tae Yang menunduk hormat dan mulai mengikuti arah terakhir ia melihat Luther.


" Kemana dia? Oh Tuhan ... tolong aku kali ini. Aku mohon, jangan pisahkan aku dengan istriku," doa Tae Yang lirih. Ia terus berjalan dan mencari.


" Mikha, Micko, ayo bawa tasmu, sayang," titah Emy lembut ketika ia melihat Luther, Evan dan Ji An sudah di antrian depan pemeriksaan


" Yes, Mom," jawab keduanya berbarengan lalu menarik tas mereka.


" Mom, apa kita pergi tanpa Daddy?" tanya Micko mendongak melihat Mommynya yang berjalan di sebelahnya.


" Iya, Mom. Kasihan Daddy kalau kita pergi," ujar Mikha.


Emy tersenyum paksa dan mengusap kepala kedua putranya.


" Pekerjaan Daddy banyak, jadi tidak bisa ikut, sayang," jawab Emy berbohong.


Si kembar menunduk sedih. Ini pertama kalinya bagi mereka pergi jauh tanpa sang Ayah. Ada rasa hampa di dalam hati keduanya.


" Jangan sedih, ya. Ada Grandpa dan Paman Luther, kan?" hibur Emy


" Grandpa sama Paman Luther tidak seperti Daddy, Mom." oceh Micko


" Iya, Mom. Grandpa sama Paman Evan belum sekolah. Memalukan, Mom," keluh Mikha.


Berhasilkah Tae Yang mengejar Emy?


Bisakah Emy memaafkannya?


Maaf para pembaca setia SHCS, karena Rie sering hanya 1 x Up.


Saat ini, Rie sedang kembali menulis Novel Rie yang lain yang sempat Rie anak tirikan,


Bila Cinta


Dan agar tidak asal tulis, Rie harus buka-buka buku lama lagi baca lagi. Jadi, sering kelelahan dan lupa Up.


Rie akan usahakan kembali on track jam 6 pagi dan 6 sore.


Dukung terus Rie, yaaa


Dengan Like, Vote dan Komen ...

__ADS_1


__ADS_2