
“ Aku tak suka dia seenaknya saja dia memanggilmu begitu,” gerutu Tae Yang
“ Jangan buat masalah, ada Anak-anak,” ucap Emy
Sampai di kota Lama si kembar turun dan langsung berlarian melihat berbagai model manusia yang memakai kostum aneh-aneh.
“ Nak, kalian tidak lapar?” tanya Emy pada si kembar
“ Lapar,” jawab Mikha
“ Baiklah, kita cari makan dulu,”
Emy mengajak si kembar menikmati jajanan yang dijual di Kota Lama. Kedua bocah kecil itu berjingkrak senang ketika menunggu dan melihat proses pembuatan telur gulung.
Keduanya bisa menghabiskan hingga masing-masing 10 tusuk. Emy pun sangat menikmatinya. Sementara Tae Yang ia terus mendengus dan mencium makanan yang Emy suguhkan padanya.
“ Makanlah. Ini sangat enak,” kata Emy
Si kembar kemudian berpindah lagi dan meminta Cimol demikian seterusnya. Mereka menikmati semua jajanan khas Jakarta hingga tak terasa hari mulai malam dan banyak patung jadi-jadian mulai datang dan menata kelengkapan mereka.
Si kembar dengan antusias berfoto dengan mereka. Namun, tak lama mereka berteriak histeris karena mereka melihat seorang wanita dengan dandanan hantu.
“ Baiklah, kita pulang, ya?” bujuk Tae Yang
Si kembar menggeleng dan meminta menaiki delman. Tae Yang menurutinya dan berpikir itu adalah akhir ia kan menaiki kendaraan aneh itu. Tapi nyatanya, selesai naik delman, si kembar meminta pulang ke hotel dengan Metromini. Alhasil, Tae Yang harus rela berdesak-desakan berdiri di atas Metromini yang selalu bergoyang dan tak nyaman karena bau keringat dimana-mana.
Si kembar yang mendapat tempat duduk dari seorang pemuda dan pemudi, berdiri di atas tempat duduk dan memegang kursi di depannya. Semua yang ada di Metromini begitu senang melihat ada dua bocah kembar berwajah kebule-bulean yang tak berhenti tersenyum ceria dan memakan roti.
Keduanya bahkan terkikik ketika sopir mengijak rem mendadak, yang mengakibatkan Tae Yang terhuyung dan mendorong penumpang-penumpang di depannya. Bau badan tercium hidung lelaki tampan itu. Seketika kepalanya terasa pusing.
Ada pula ibu-ibu genit dengan make up menor yang tak sesuai warna kulit dan bajunya, terus menempel di tubuh Tae Yang dan membuatnya risih. Emy sakit perut karena menahan tawanya. Tae Yang menatap kesal istrinya.
“ Ya, Tuhan semoga cepat berlalu cobaan ini,” gumam Tae Yang
Kurang lebih 2 jam kemudian, barulah mereka sampai di Bundaran Hotel Indonesia. Tae Yang bernafas lega. Jalanan Jakarta memang tak ada duanya, begitulah batin Tae Yang.
__ADS_1
Mikha dan Micko sudah tertidur dalam gendongan kedua orang tuanya. Keduanya berjalan memasuki hotel tua itu dengan lelah. Emy dan Tae Yang hanya mengangguk menanggap sapaan satpam yang melihat mereka heran. Bau menyengat dengan rambut sedikit berantakan, jangan lupakan wajah yang sedikit menghitam terkena asap.
Tae Yang segera masuk ke lift tanpa menghiraukan tatapan beberapa di sekelilingnya. Emy hanya tersenyum melihat tatapan mereka.
“ Sayang, aku sepertinya tak enak badan,” lirih Tae Yang, setelah ia membersihkan diri dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Emy memegang dahi Tae Yang dan benar saja, suaminya sedikit demam.
“ Sayang, aku pesankan bubur dulu lalu minum obat, ya?" Ucap Emy. Tapi tak ada respon dari suaminya. Tae Yang sudah menutup mata dan mendengkur halus. Emy segera menelepon meminta bubur pada petugas hotel.
Malam itu, Emy tak tidur dan harus merawat suaminya yang terkena demam tinggi. Paracetamol sudah ia beri, tapi tak kunjung turun. Emy akhirnya menelepon petugas hotel dan memintanya memintanya membeli obat-obatan yang ia tulis dan memberikan copy paspornya dimana disana terpampang jelas bahwa ia seorang dokter.
Karena ia tahu pasti, obat yang ia tulis tidak bisa dibeli tanpa resep dokter. Tapi, Emy tak membawa nota resep dan stempel dokternya. Jadi, ia hanya berharap dengan copy paspornya dan juga paspor asli dapat membuat si petugas hotel dapat membelinya.
Kriingg .... kriiinggg ....
Emy mengangkat ponsel Tae Yang yang terus berdering tanpa jeda.
“ Hallo?” sapa Emy
“ Nona Muda? Apa ini Anda?”
“ Nona, gawat. Hotel di Jeju ditutup dan orang-orang Kejaksaan memaksa masuk ke kantor Tuan Muda dan menyita banyak dokumen disana.”
“ Hah?! Kenapa bisa? Apa Tae Yang melakukan tindakan ilegal?”
“ Tidak, Nona. Kalaupun iya, saya pasti tahu. Cepatlah kembali, Nona.”
“ Baik, kami akan kembali. Kau tenanglah. Aku akan telepon Luther dan meminta bantuannya. Berikan aku semua kegiatan kerja Tae Yang selama ini. Aku akan mengeceknya. Mengenai masalah ini, aku yakin sudah sampai ke Media. Aku mau kau tetap tutup mulut sampai aku atau suamiku menyuruhmu. Mengerti?”
“ Mengerti, Nona.”
Emy menutup teleponnya dan menghela nafas.
“ Sepertinya ... aku masih belum bisa bertemu mereka,” gumam Emy
“ Ada apa, sayang?”
__ADS_1
Emy menoleh dan melihat suaminya sudah bangun dan berusaha duduk.
“ Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Apa kepalamu masih sakit?”
“ Sudah lebih baik, sayang. Ada apa? Tadi siapa telepon?”
“ Ehm ... sayang, kita harus segera kembali ke Seoul,” kata Emy. Tae Yang mengerutkan alisnya
“ Ada masalah apa?”
“ Kantor Kejaksaan menyita dokumen-dokumenmu. Tapi, aku belum tahu atas tuduhan apa,” ucap Emy. Tae Yang membulatkan matanya
“ Aku akan telepon Luther dan sebaiknya kau telepon pilotmu dan suruh ia bersiap,” lanjut Emy dan diangguki Tae Yang
Emy segera menelepon Ji An agar bersiap-siap lalu menelepon Luther dan menyuruhnya segera ke Seoul.
Tok ... tok ...
Emy segera berjalan dan membuka pintu kamarnya, “ Ji An, ada apa?”
“ Ada Tuan Taylor dan Nyonya Ha Na, Nona,” lapor Ji An
Emy segera keluar menemui Evan dan Ha Na. Emy masih sedikit kesal dengan keduanya karena tak berdiskusi dengannya dahulu tentang masalah membuka identitas dirinya kepada publik.
“ Hai ...” sapa Ha Na. Evan terus menatap Emy. Emy hanya mengangguk dan menyuruh mereka duduk
“ Emy, sayang. Maaf. Apa kau masih marah?” tanya Evan dengan mendekatkan dirinya pada Emy dan mengambil kedua tangan anak baptisnya itu. Emy hanya terdiam tak menjawab
“ Nak, aku tahu kau sangat tak suka ketenaran. Aku memahami itu. Tapi, aku tak rela kau di bully di negerimu sendiri. Aku tahu bagaimana Ayahmu dan Kakakmu juga para guru yang dulu menolak dan menghinamu saat kecil. Sayang, aku melakukan semuanya karena aku mau mereka yang sudah menghinamu tahu, kalau anak bernama Emilia Yolanda yang dianggap bodoh dan *****, sesungguhnya adalah seorang anak yang cerdas dan jenius dan sangat sukses ...”
“ Apa itu perlu, Paman? Apa semua itu berguna? Aku tak perlu mereka mengakuiku. Buatku yang terpenting adalah kalian keluargaku menghargaiku. Aku tak peduli kalau aku ...”
“TAPI KAMI PEDULI!” seru Ha Na tiba-tiba. Emy tersentak kaget karenanya. Ini pertama kalinya Ha Na membentaknya
“ Kau tak peduli, tapi kami sangat peduli. Kami tidak bisa dan tak mau Ayahmu menghina dan memarahimu, menghinamu dan menganggapmu anak tak berguna. Kami tak bisa, Em. Kami juga tak mau Kakak yang begitu kau sayangi itu terus-terusan mengejekmu. Kau pikir aku tak tahu ketika dulu masih bekerja di Emerald, kakakmu masih sering menghinamu?” sergah Ha Na
__ADS_1
Emy terdiam. Benar, 7 tahun lalu saat ia masih di Emerald dan menjadi dokter di sana. Dennis, kakak Emy selalu menjawab telepon Emy untuk Ibunya dan terus menghinanya.