
“ Sayang, kumohon jangan sakit, ya. Apa kau masih marah padaku? Apa kau masih belum bisa memaafkanku? “ Dilihatnya Emy dengan mata sendu.
Ting..tong...
Ia segera turun dan membukakan pintu. Di sana, telah berdiri seorang laki-laki kurus dan ber-ras campuran dan seorang laki-laki setengah baya. Sepertinya adalah seorang dokter. Ia mempersilahkan dokter itu masuk dan menunjukkan kamar Emy. Setelah ia diminta keluar oleh sang dokter, laki-laki itu memilih untuk berdiri dan melihat ke jendela luar yang ada persis di ujung samping kamar emy.
“ Pak! Kapan Anda berencana untuk kembali?” Tanya laki-laki kurus yang adalah asistennya itu.
“ Aku akan kembali setelah dia siuman.” Jawabnya singkat. Tak lama, dokterpun keluar. Ia segera menghampiri dokter dengan wajah kusutnya karena sudah 2 malam ia tak tidur menjaga Emy yang tak sadarkan diri.
“ Sepertinya, Nona Sie sedang mengalami masalah di bagian ususnya, itu sebabnya dia demam. Saya sudah memberinya suntikan penurun panas. Jika sampai malam ini belum sadar dan demamnya belum turun, tolong segera bawa ke rumah sakit.” Jelas dokter itu
“ Baiklah, dok. Terima kasih. Asisten saya akan mengantar Anda. Terima kasih.” Laki-laki itu berlalu dan masuk kamar Emy.
Ia melihat bagaimana Emy masih menutup matanya. Dikecupnya kening Emy, mengelus pipinya yang lembut dan merapikan rambut Emy.
“ Emy, kau tahu, inilah yang ingin aku lakukan dari dulu. Sebenarnya, saat Keanan menyentuh rambutmu dan memelukmu aku begitu cemburu. Karna aku sangat mencintaimu. Tapi kau tak pernah melihatku. Aku sungguh tak mengerti kenapa kau hanya bisa melihat Keanan, sedang aku...aku..bukankah aku memiliki wajah yang tak jauh berbeda dengan dia? Saat itu, saat aku marah padamu dan mengusirmu, bukan karena aku membencimu. Tapi, karena aku marah pada diriku sendiri. Keanan, dia berani mengorbankan dirinya untukmu, sedangkan aku...aku hanya pengecut yang tak berani menerima kenyataan, bahwa adikku satu-satunya harus pergi selamanya meninggalkanku dan kau...kau...huhuhuhu...” tangis Luther pecah. Ia menenggelamkan kepalanya dalam selimut Emy. Menangis terisak dan mencurahkan rasa sesak didadanya lewat tangisan diatas ranjang Emy. Sementara Emy, ia masih setia menutup matanya.
__ADS_1
Keesokan hari ketika langit tampak suram, Emy mulai membuka matanya. Ia sudah tak merasa pusing lagi. Badannya terasa lebih ringan dan bugar. Dilihatnya sekeliling, kamarnya tampak rapi. Hanya ada kantong obat dan minuman diatas nakas, disamping tempat tidurnya. Ia masih belum mengetahui, siapa yang telah merawatnya. Emy terduduk memikirkan berbagai kemungkinan, tapi semua ditepisnya, ia menyerah dan berdiri masuk ke kamar mandi, karena sudah merasa badannya lengket.
Selesai dengan ritual mandinya, Emy meraih ponselnya, betapa terkejutnya ia, melihat tanggal yang tertera, jam, dan juga banyaknya panggilan yang masuk. Emy segera berganti pakaian, menyambar tas dan jaket tebalnya, ia berlari menuruni tangga, mengunci pintu rumahnya dan pergi memanggil taksi. Ia tak menyangka kalau sudah 4 hari ia tak masuk kerja karna sakit. Sampai di Rumah Sakit, Emy segera memakai jas dokternya dan meminta rekam medis para pasiennya di stasiun suster.
“ Maaf ya...karena sudah membuat kalian repot.” Katanya sopan sambil menundukkan kepala kepada para suster yang ada di pos suster itu.
Para suster hanya tersenyum dan berkata, “ tak apa, sudah jadi tugas kami.”
Entah tulus atau tidak mereka berkata seperti itu, Emy tetap tersenyum dan memulai pekerjaanya kembali. Memeriksa pasien dan menentukan operasi. Banyak sekali jadwal operasi yang harus ia lakukan sebagai tebusan karena sudah 4 hari ia tak masuk, dan harus digantikan dokter lainnya. Sekarang, giliran Emy untuk bekerja lembur, dan dokter penggantinya mengambil libur.
Emy kini sudah mengumpulkan bukti-bukti bahwa ia tak melakukan plagiat. Kini, tinggal mencari pengacara. Ia sudah tak bisa lagi memakai tim legalnya, karena ada bukti bahwa salah satu tim legalnya, sudah membelot dan membocorkan sebagian rahasia perusahaannya. Ya, hanya sebagian, karena ia hanya memiliki akses terbatas.
Ia juga tak bisa percaya dengan Marie. Karena, saat ia menelusuri akun perusahaannya, ia melihat beberapa kejanggalan transaksi. Ia juga meretas rekening luar negeri yang mendapat sejumlah uang dari rekening L’amour sejak 4 tahun yang lalu. Awalnya, ia tak percaya tapi ketika ia meretas rekening tersebut, ia mendapati nama Marie Anderson disana. Bukan hanya itu, sebagian uang pajak yang dikatakan hilang, ternyata sebagian muncul ke rekening milik Mike J Collins.
Kedua rekening itu memang tidak menerima sejumlah besar dana, tapi itu berlangsung setiap bulan selama 4 tahun, sehingga jika di akumulasi dari rekening keduanya, bisa digunakan untuk mendirikan perusahaan.
Dulu, saat melihat perkembangan L’amour ditangan Marie, Emy akhirnya tak pernah ikut campur. Ia hanya menerima laporan keuangan saja dan tak mengecek hingga detail karena kepercayaan pada Marie. Setiap transaksi, Marie yang selalu menangani dan Emy tak pernah bertanya dengan keputusan Marie. Ia terlalu percaya pada orang yang katanya ”menyelamatkan nyawanya” itu.
__ADS_1
Flashback on
Emy meretas sistem komputer perusahaan yang menuntutnya. Ia berhasil menjebol firewall mereka yang lumayan ketat. Emy mendownload file yang ia butuhkan disana. Sementara menunggu, Emy membuka beberapa file dan menemukan data transaksi yang janggal karena ada rekening L’amour didalamnya.
Dengan cekatan ia menelusuri rekening tersebut. Dan, benar. Rekening itu terhubung dengan rekening L’amour sejak 4 tahun yang lalu. Emy kembali meretas sistem komputer bank untuk mendapat data pemilik rekening.
Tangan emy bergetar, air mata meluncur bebas di pipinya. Dengan cepat, ia menghapus air matanya dan seringai muncul di bibirnya, “ ternyata aku memang bodoh. Naifnya aku percaya kalian... Oh, Tuhan... Kenapa bebanku begitu berat, kenapa aku bodoh sekali?” Gumamnya. Air mata terus membasahi pipinya dan membuatnya lelah. Emy meletakkan laptopnya dan berbaring.
Flashback off
Malam hari, saat kembali dari rumah sakit, ia melihat Byun Hyuk memapah Tae Sang yang mabuk. Emy segera turun dari taksi lalu membantu Byun Hyuk membawakan tas dan jas Tae Sang. Sampai di dalam rumah, Emy meletakkan tas dan jas Tae Sang di sofa ruang santai dan segera berlari ke dapur membuatkan air madu hangat dan membawanya ke kamar Tae Sang.
Tok..tok..
Ceklek..
Asisten Byun Hyuk membuka pintu kamar Tae Sang dan menautkan alisnya ketika melihat siapa yang mengetok pintu.
__ADS_1