
Derap langkah menggema di sepanjang koridor rumah sakit malam itu. Dengan hanya menggunakan sandal rumah, 2 orang berlari tergopoh-gopoh dari arah berlawanan.
" Mana, di mana dia?" tanya lelaki itu
Si wanita sudah dipenuhi air mata dan memeriksa komputer rumah sakit, tak mau menunggu si petugas mencarikan untuknya.
" ICU!"
Si wanita segera berlari disusul lelaki berpostur tinggi.
Ceklek
" Yu Zhen!!" teriak wanita itu
" OMG! Yu Zhen! Siapa yang setega ini? Oh Tuhan!" seru lelaki itu menatap nanar dokter tampan yang terbaring lemah dengan perban menutupi area perutnya dan mata terpejam
" Emy-a, coba lihat ini," kata dr. Lee. Ya, lelaki itu adalah dr. Lee. Ia baru saja bersiap untuk tidur, ketika sebuah telepon dari rumah sakit mengabarinya soal Yu Zhen.
Tangan Emy menutup mulutnya melihat hasil rontgen dan rekam medis Yu Zhen.
" vulnus penetrosum (luka tusuk tembus abdomen/perut atau dada/thorax) pada ....Yu Zhen-a," Emy mengalihkan perhatiannya dari Ipad rekama medis dan menatap sendu sahabatnya.
" Bagaimana bisa?" tanya Emy terisak.
" Entahlah, apa mungkin ini ulah ..."
" Ulah siapa?" potong Emy
Doktet Lee melipat bibirnya. Selama ini ia tak pernah mengatakan apapun tentang keterlibatan Xiao Chen dalam penyiksaan Yu Zhen beberapa bulan lalu, karena ia tak mau membebani wanita itu.
" Katakan, dr. Lee Yeol!" kata Emy tegas.
' Dia benar-benar marah ... gawat!' batin dr. Lee
" Ehm ..."
" Katakan padaku, atau aku akan mencari tahu sendiri!"
" Baiklah, baiklah. Sebenarnya, Evan dan Jung Hyuk mengatakan bahwa ... pelaku ... penyiksaan Yu Zhen ... adalah ... ehm .."
" Dokter Lee Yeol!" bentak Emy. Dokter Lee terkejut mendengar Emy membentaknya. Ini pertama kalinya ia melihat kemarahan di wajah Emy.
' Emy-a jangan katakan kau ...' batin dr. Lee dengan alis bertaut
" Pelakunya adalah ... Xiao Chen," kata dr. Lee lirih namun masih dapat didengar Emy.
" A-apa? Xiao-Xiao Chen? Tapi .... kenapa?" tanya Emy. Ia tak dapat mengerti kenapa 2 orang sahabat yang ia tahu sudah seperti saudara melakukan hal ini.
__ADS_1
" Ka-karena Xiao Chen ... sakit hati padanya. Yu Zhen ... dia menolak Xiao Lan,"
" Hanya alasan itu?"
Dokter Lee hanya bisa mengangguk. Tak mungkin ia bercerita semuanya.
" Tidak mungkin. Aku tak percaya,"
Emy menggeleng tak percaya. Ia memang jarang bertemu Xiao Chen sejak ia menetap di Chicago, karena kesibukannya mengurus pasien yang terus datang seakan tanpa jeda. Hari libur pun tak dapat sepenuhnya ia nikmati karena kesibukan di rumah sakit itu.
" Kau tahu, seorang kakak pasti akan sakit hati jika adiknya disakiti orang. Mungkin itulah alasan Xiao Chen," kata dr. Lee meyakinkan
" Iya, tapi ... kenapa sampai harus seperti ini?" lirih Emy dan memegang tangan dingin Yu Zhen.
" Emy-a ... kau kelihatan lelah, aku akan ambilkan kau susu, lalu pulanglah. Aku akan menjaga Yu Zhen,"
" Tapi ..."
" Emy ... kau seorang ibu! Apa kau lupa itu?"
Emy mengangguk dan menakup wajahnya dengan tangan. Dokter Lee meraih tubuh kecil Emy dan mendekapnya.
" Lepaskan istriku," suara baritone dan tangan kekar yang berusaha melepaskan pelukan dr. Lee dengan paksa, mengejutkan keduanya.
" Honey," panggil Emy saat dirinya sudah berada di dada keras suaminya.
Sepanjang perjalanan pulang, Tae Yang dan Emy membisu. Emy masih dalam pergulatan pikirannya tentang Xiao Chen dan Yu Zhen, sementara Tae Yang terus berusaha menahan emosi.
Tengah malam, ia mendengar suara istrinya menerima telepon dari seseorang dan hanya dengan mengecup pipinya saja, istrinya pergi tergesa-gesa. Ketika ia melacak keberadaan Emy, ia mendapati istrinya di rumah sakit dan menyusulnya. Di sana, ia melihat istrinya menangis dalam dekapan laki-laki lain.
Sampai di depan pintu utama rumahnya, Tae Yang membuka dan menutup kasar pintu mobilnya dan masuk ke dalam rumah tanpa mengajak istrinya.
Lamunan Emy membuyar ketika ia mendengar suara bantingan pintu mobil. Masih belum menyadari suasana hati suaminya, Emy keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Sampai di kamar, Emy tak melihat suaminya. Segera Emy masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya. Menatap wajahnya sendiri di depan cermin, Emy berusaha menyingkirkan semua kemungkinan tentang Yu Zhen dan Xiao Chen yang menghantui pikirannya.
Hampir 30 menit Emy menghabiskan waktunya di kamar mandi. Saat ia masuk ke kamarnya lagi, ia tak melihat suaminya di sana.
Emy memakai kimono tidurnya dan keluar mencari suaminya di kamar baby Miguel dan si kembar. Tapi, lelaki itu tak ada di sana.
" Kemana dia?" gumam Emy. Saat akan kembali ke kamar, ia melihat cahaya dibawah pintu ruang kerja suaminya.
Emy berjalan menuju ruang kerja Tae Yang dan membuka perlahan pintu besar itu. Di sana, ia melihat suaminya tidur di sofa. Emy mendekati lelaki itu dan mencium keningnya.
" Sayang, kenapa tidur di sini? Ayo, kembali ke kamar," kata Emy lembut, tapi Tae Yang tetap tak bergeming
Emy menggoyang tubuh suaminya, berharap lelaki itu mau bangun, tapi ternyata suaminya hanya mengganti posisi saja.
__ADS_1
" Tae Yang-ssi, apa kau sudah tak mau tidur denganku, hm?" kata Emy dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Tae Yang bangun dan menepis tangan Emy yang berada di perutnya. Emy terkejut melihatnya
" Kau kenapa, sayang?" tanya Emy
" Kenapa? Kau tanya aku kenapa?" Tae Yang mengusap kasar wajahnya. Ia masih berusaha menahan emosinya dengan menarik nafas panjang.
" Iya, kau itu kenapa? Kenapa tiba-tiba kau marah?" tanya Emy kebingungan.
" Sekarang katakan ... kau malam-malam telepon dengan entah siapa, tidak pamit padaku, pergi ke rumah sakit untuk bertemu laki-laki lain, lalu kau menangis dalam pelukan laki-lain ... katakan, katakan padaku, apa aku harus bersikap biasa-biasa saja? hah?!," sergah Tae Yang dengan menatap lekat istrinya.
" Oh ... hehehe, kau cemburu, ya? hmm?" goda Emy. Tae Yang menipiskan bibirnya dan membalikkan badan serta berkacak pinggang.
" Jadi, karna kau marah, cemburu, jadi kau mau tidur sendiri di sini dan tak mau denganku, begitu?"
Tak ada jawaban dari suaminya. Emy menghela nafas lalu menaruh tangannya di dada
" Baiklah, kalau begitu, kau boleh tidur di sini, sampai emosimu reda. Aku mengantuk, selamat malam" kata Emy enteng lalu berdiri dan melangkah pergi.
Tae Yang menatap pintu yang tertutup.
" Aarrghhh ...."
Praanggg ...
Dengan kesal Tae Yang berteriak dan membuang vas yang ada didekatnya.
Emy yang baru beberapa langkah menjauh dari ruang kerja, berhenti.
" Dia benar-benar marah, fiuhhh ..." gumam Emy. Ia ingin kembali ke ruang kerja suaminya, tapi ia urungkan. Emy kembali ke kamarnya dan berbaring.
Pagi hari kembali datang, Mikha dan Micko melihat perubahan di wajah orangtuanya ketika mereka berada di ruang makan.
" Dad, Mom ... kalian bertengkar, ya?" tanya Micko
Tae Yang melirik istrinya yang sedang asyik menikmati sarapan kesukaannya, bubur ayam Jakarta buatannya sendiri.
" Ck ... kalian berdua seperti anak kecil ...ckckck ..." celetuk Mikha.
Tae Yang dan Emy mengangkat alisnya menatap putra sulungnya.
"Kalau marah itu, gak usah saling diam," kata Micko. Bocah yang segera akan berulang tahun 2 bulan lagi itu, menghampiri Daddynya
" Dad, ini" kata Micko dengan memberikan sendok nasi dalam genggaman Daddynya, yang ia ambil di atas meja. Lalu mendekati Mommynya.
" Mom, ini," kata Micko dan memberikan sendok sayur besar.
__ADS_1
" Sekarang, silahkan beradu di sini. Micko sama Mikha akan jadi wasitnya," kata Micko