
" Baiklah, kamu catat saja apa saja yang dia ambil. Jangan kuatir. Aku yang tangani." Ucap Hannah. Ia berdiri dan segera pergi ke kantor Evan.
Ceklek
" EMY!"
Hannah segera berlari menghampiri tubuh Emy yang tergolek lemas di lantai. Pemandangan yang tak ia sangka saat membuka pintu kantor suaminya.
" Ya, Tuhan. Kamu kenapa? Emy, Emy?" panggil Hannah panik dan menepuk-nepuk pipi Emy.
" Maryyyy!!! Maryyyy!" Teriak Hannah. Air mata deras mengalir di pipinya. Memang ia tak menyukai sosok Emy yang baru, tapi tetap saja, ia tidak mau kehilangan sahabatnya lagi.
" Madam!!! Oh my God!" Mary datang terburu-buru ketika mendengar atasannya berteriak memanggilnya. Ia memandang kaget karena atasannya menangis histeris memanggil nama Emy yang tergolek tak berdaya dengan kepala di pangkuan Hannah.
Mary segera menghubungi 911 dan memanggil ambulance.
" Tolong, kirim ambulance ke L'amour 300 Boylsten street. Tolong segera. Terima kasih."
" Ya, Tuhan, Hannah! Emy kenapa? O, God... Emy!" Evan yang akan masuk kedalam kantornya membulatkan matanya kaget melihat istrinya memangku kepala Emy dan menangis. Tanpa berkata-kata lagi, ia segera mengendong tubuh lunglai Emy lalu membawanya turun, diikuti Hannah yang dibantu oleh Mary, karena badan Hannah yang lemah. Di sana ambulance baru saja datang dan para medis sudah mulai berlari. Ketika mereka melihat Evan membopong Emy, mereka segera mengeluarkan brankar dan Evan segera meletakkan tubuh Emy di sana.
Evan dan Hannah segera naik ke dalam ambulance. Wajah Emy begitu pucat. Tangannya terasa dingin. Hannah terus menangis dalam pelukan suaminya.
" Sayang, sudah jangan menangis. Ingat, kamu sedang hamil..." Evan terus mencium pucuk kepala Hannah. 10 menit kemudian mereka tiba di RS Boston Medical Center.
" Mohon tunggu diluar." ucap seorang perawat yang segera membawa Emy masuk dalam ruang IGD.
30 menit kemudian, Dokter syaraf Madeline yang selama ini memberi perawatan jalan Emy, keluar dari ruang IGD.
" Tuan Taylor, putri Anda... emm.." Dr.Madeline menekuk bibirnya ragu.
" Dokter, dokter... katakan ada apa dengan putriku?"
" Putri Anda, saat ini... koma tuan..." jawab dr.Madeline lemah. Evan yang menerima kabar itu langsung lemas karena shock.
Brukk...
" Hannah" teriak Evan lemah, ia tak sempat memegangi istrinya karena tubuhnya terasa lemas, hingga Hannah terjatuh bebas ke lantai.
" Brankar! Cepat!" seru dr. Madeline. Dengan sigap perawat sudah mengangkat tubuh Hannah dan meletakkannya di atas brankar.
" Panggil dr. Kohl! Sekarang!" perintah dr. Madeline.
Karena kepanikan dan pikiran Evan yang kacau, ia lupa menjemput putrinya di Taman Bermain.
Si sebuah Taman Kanak-kanak di pusat kota, seorang anak kecil berlari mendekati gurunya.
__ADS_1
" Miss, papa mana?" tanya seorang anak kecil berwajah imut pada gurunya.
" Mungkin sebentar lagi, sayang," sahut gurunya menenangkan. Ia sudah mencoba menelepon Ayah Emilia, tapi tidak ada jawaban. Tak lama ia melihat Emilia tertidur karena lelah menunggu Ayahnya selama 2 jam dan tak kunjung datang.
Luther segera menyusul ke RS Boston Med Center, demi di dengarnya tentang Emy yang tak sadarkan diri ketika ia baru saja memasuki kantor L'amour.
" Paman! Bagaimana Emy?" Tanya Luther dengan raut wajah cemas. Dari ekspresi dan keadaan Evan yang kacau, ia tahu sesuatu yang buruk terjadi.
" Paman!" Panggilnya lagi sambil menggoyangkan tubuh Evan.
" Luther!..." Mata tajam Evan berubah sendu. Air mata sudah terkumpul di sana. Luther menggelengkan kepalanya. Pikirannya kembali negatif.
" Tidak, Tidak! Tidak! Ja-jangan katakan... ka-kalo..."
" Emy koma!"
Luther terduduk lemas. Baru seminggu ia bertemu wanita yang ia cintai dengan keadaan sehat dan ceria, sekarang...
" Dan, Hannah... " Lagi Luther menoleh cepat melihat Evan.
" Kenapa Hannah? Paman! " teriak Luther tak sabar.
-
-
-
16 jam kemudian, mereka telah sampai di bandara Soekarno-Hatta. Rombongan Tae Sang telah dijemput oleh sopir anak perusahaan Tae Sang yang berada di Jakarta dan mengantarkan mereka ke sebuah hotel yang berada di depan sebuah bundaran yang terkenal dengan kemacetannya, di jalan Thamrin.
" Istirahat dulu, besok biar sopirku antar kamu ke apartemen Mahendra. Kamu tahu alamatnya, kan?" Ucap Tae Sang saat mengantar Eva dan bibi Sofia ke depan kamar mereka.
" Iya!" Jawab Eva penuh semangat dan tersenyum. Tae Sang mengangguk dan pamit kembali ke kamarnya.
Eva kagum dengan interior kamar yang mewah. Sama halnya dengan bibi Sofia, karena ini kali pertama ia bisa ke luar negeri dan tidur di hotel.
Pemandangan di luar jendela yang menyajikan Monumen Selamat Datang. Yaitu Monumen berupa patung sepasang manusia yang sedang menggenggam bunga dan melambaikan tangan, berdiri tegak di tengah bundaran dengan air mancur.
" Bi, bagus ya?" ucap Eva tersenyum dan diangguki bibi Sofia.
Sofia segera mengambil remote TV. Ia tak mempunyai TV seperti itu di rumahnya. Yang ada hanya sebuah TV lama dengan tabung dibelakangnya.
klik
__ADS_1
Bibi Sofia terus mencari channel yang ingin ia tonton. Sementara Eva, ia masuk ke kamar mandi dan mulai berendam di dalam Bathtub menikmati pemandangan kota Jakarta karena jendela yang berada tepat di samping Bathtubnya.
Tok..tok...
" Eva! Eva!"
Lamunan Eva membuyar seketika. Dipakainya kimono mandi dan membuka pintu kamar mandi.
" Ada apa, bi? Ada apa?" Tanya Eva. Nafas bibi Sofia tersengal, tak dapat meneruskan kata-katanya. Ia hanya menunjuk arah televisi. Eva menautkan alisnya dan memandang Sofia tak mengerti. Karena Eva tak kunjung mengerti maksudnya, Sofia segera menyeret Eva dan menunjuk ke arah TV.
Deg
" A-apa ini? Bi... I-ini... " Air mata jatuh begitu saja di pipi halus Eva. Ia terus menggelengkan kepalanya tak mau mempercayai matanya.
tok...tok...
Sofia membuka pintu kamarnya. Disana, telah berdiri laki-laki yang telah membawa mereka ke tanah asing ini.
" Bibi!" Sapa Tae Sang dalam bahasa jerman, yang merupakan salah satu dari 4 bahasa resmi Swiss selain bahasa Romans, Perancis, dan Italia.
Bibi Sofia mengangguk dan mempersilahkan Tae Sang masuk.
Eva masih dengan kimono mandinya terduduk di depan ranjang dan terlihat shock. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh menatap Tae Sang dan memicingkan matanya. Berdiri perlahan mendekati Tae Sang.
Tae Sang tak bergeming. Ia tahu, Eva salah paham padanya. Tapi ia masih menunggu apa yang akan dikatakan Eva padanya. Ia juga tak menyangka melihat berita itu saat tanpa sengaja dan karena bosan menghidupkan TV di kamarnya.
Ia segera menelepon Han, dan menanyakan kebenaran berita itu. Dan hasilnya ternyata benar. Berita itu bukan hoax.
Yang membuatnya heran, tak ada rasa bahagia yang seharusnya ia miliki.
*
Bagaimana kabar Hannah?
Berita apa yang membuat Eva shock?
Tunggu kelanjutannya ya say... bagaimana tindakan Tae Sang dalam menemukan kebenaran tentang Emy.
Benarkah wanita yang bersama dengan Hannah dan Evan adalah Emy?
ataukah ia adalah seorang penipu?
__ADS_1
Lalu siapa Eva?